10: Ada Apa Dengan Lidia
[Selasa, 18 Februari 2025 / 18.11 WIB]
“Jadi itu dia guys kelebihan dan kekurangan smartphone ini. Next, kamu mau request apa lagi nih? Tulis di kolom komentar ya.” Entah sudah berapa hari dan berapa puluh video review yang ditonton, Dona sampai sekarang masih belum bisa menentukan smartphone mana yang paling pas untuk adiknya.
Sebenarnya dia sudah punya tiga kandidat kuat, tapi makin pilihan dikerucutkan, Dona ternyata malah tambah ragu. Sambil menghabiskan makan malamnya, dia lanjut scroll layarnya mencari-cari rekomendasi dari channel-channel lain. Setelah memilih satu video baru dan memasukan suapan terakhir dari piring, tiba-tiba dia dikejutkan suara panggilan seorang perempuan, “permisi, Donaaa?”
Mendengar panggilan ini, Dona langsung berdiri dari kursinya dan berjalan ke pagar rumahnya. “Iya sebentar,” ucapnya agak keras untuk mengabari tamu. Namun begitu kakinya menginjak halaman depan dan melihat sosok di balik jeruji pagarnya, Dona langsung menyesali keputusannya.
Yang sekarang berdiri di hadapannya, sekali lagi, seperti siang kemarin... Lidia. Raut wajah Dona yang ramah mendadak jadi kecut dan geram. Tidak hanya karena dia kaget bahwa Lidia bisa tahu alamatnya, namun juga karena dia tidak pernah sekalipun membayangkan kalau manusia jahanam ini bertamu ke rumahnya.
“Halo, Don. Sorry ganggu ya,” sapa Lidia dengan senyuman canggung.
“Tahu alamatku dari mana?”
“Mami aku masih kepala sekolah. Ngecek biodata murid di arsip jadinya nggak susah.”
“Mantan... murid!”
“Iya, maaf.” Kalau dihitung dari kemarin siang, entah sudah berapa kali Lidia mengucap kata maaf. Bahkan, kesannya ‘maaf’ sudah jadi ciri khasnya. Andai ada ungkapan yang bisa dipakai di atas kata maaf, mungkin kosa katanya bakal lebih bervariasi waktu bertatap muka dengan Dona. “Boleh aku masuk? Sebentar aja kok, aku janji nggak lebih dari 10 menit,” tanya Lidia.
Dona menghela nafas. Rasa enggan untuk menjamu tergambar begitu gamblang di setiap senti wajahnya. Namun karena sudah diberi jaminan tidak akan lama-lama, Dona mau tidak mau meladeni tamu dadakannya ini. Dengan terpaksa, dia buka pagar rumahnya, lalu tangannya mengayun agak kaku sebagai gestur mempersilahkan Lidia masuk. Sang tamu kontan berjalan masuk dengan langkah kecil.
Begitu sampai di pintu, Lidia langsung disambut oleh ruang tamu kecil. Ruangan 2x2 meter persegi itu diisi sofa kayu berbentuk L yang melintang di sisi kiri menempel tembok, serta sebuah meja yang juga terbuat dari kayu di depannya. Kalau jalan lurus beberapa langkah dari posisi pintu, ruangan berubah menjadi dapur yang menyatu dengan ruang makan.
Satu hal yang Lidia sadari begitu menapak masuk ke ruang tamu itu, interior rumah Dona terasa sangat sepi. Tidak banyak ornamen, aksesoris, pajangan, atau apapun. Dari bentukannya, Lidia nampaknya tahu kalau ini bukan disengaja, bukan konsep ala-ala rumah ‘minimalis’. Terbukti dari noda kusam di tembok, serta rak susun yang melompong tanpa isi.
“Mau aku persilahkan lagi, atau mau langsung duduk sendiri?” Tanya ketus sang tuan rumah melihat Lidia yang mematung di pintu dengan perasaan sungkan.
“Iya, sorry,” lagi-lagi Lidia mengucap mantranya sambil duduk dengan gelagat seperti anak kecil yang sedang dihukum. Kaos branded dan waist pants mahal yang ia kenakan tampak begitu kontras dibandingkan cat dan dekorasi rumah Dona yang sederhana.
“So... ada perlu apa?” Lanjut tanya Dona dengan sewot sambil berdiri dan menyilang tangannya erat-erat di seberang Lidia. Meja kayu kecil jadi pembatas di antara mereka.
“...Apa kabar Don?“
“Lidia... aku baru selesai makan,” respon Dona dengan tangan kanan yang awalnya dilipat jadi diangkat membentuk gestur menyetop Lidia. Dia melanjutkan, “tolong jangan bikin aku kesel sampai muntahin semua makananku ke mukamu. Nggak usah basa-basi, to the point aja.” Seakan raut wajah dan intonasinya tidak cukup ekspresif, kini kedua tangannya ikut bergerak ke sana ke mari untuk menyalurkan emosinya.
“Aku serius Don. Apa... kabar? Gimana kamu?”
Apa-apaan pertanyaan itu? Responnya dalam batin ini tentu tidak sama dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. “Lid... kamu ribet-ribet cari alamatku, niatin dateng ke rumahku malem-malem, sekadar buat nanya apa kabarku?! Dah gila kamu, iya?!”
“Habis kamu keluar dari sekolah, kita belum pernah ketemu lagi. Nggak salah aku penasaran kabarmu, kan?”
“Ngapain juga kita ketemuan?! Dulu akrab aja juga nggak, temen pun bukan. You bullied me, Lidia! You bullied me every day! Kamu lupa?! Kamu lupa juga aku di-DO gara-gara kamu?!”
“Itu poinnya Dona. Aku... aku... aku minta maaf. Aku beneran minta maaf. Aku nggak bermaksud bikin kamu sampai dikeluarin. Aku ngerasa bersalah, dan aku tahu aku salah, Don.”
“Bullshit! Simpen aja rasa bersalahmu! Emang kamu nggak mikir apa sanksi yang bakal dikasih ke anak yang ngunci ketua OSIS-nya semaleman?! Lagian bukan aku juga pelakunya!”
“Aku nggak expect kamu bakal sampai dikeluarin, Don! Aku kira cuma teguran atau paling mentok ya skorsing aja. Aku nggak tahu Mami aku bakal sampai drop out kamu.”
“Kenapa juga harus aku yang kena getahnya?! Pelaku aslinya... kamu sama temen-temen kamu kan?” Mengingat sifat bossy dan tukang bully Lidia dan geng-nya, Dona sudah tahu soal kebenaran ini dari awal dia dengar kabar insiden Kak Rio. Hanya saja, dia tidak pernah punya kesempatan untuk membuktikannya. “Bukannya mau ngaku, malah ngelimpahin kesalahan ke orang lain! Enak emang ya jadi anak kepala sekolah, gampang kongkalikong di rumah buat ngeluarin orang yang nggak disuka di sekolah.”
“Nggak gitu Don! Kejadiannya nggak gitu—“
“Kamu mau bilang pelakunya bukan kalian?!” Sentak Dona dipicu jawaban Lidia.
“Iya... pelakunya aku sama Mia dan yang lain-lain, itu betul. Cuma aku nggak ada janjian atau minta Mami aku spesifik ngeluarin kamu Dona. Kami waktu itu panik dan nggak mau ketahuan, jadi ya udah... akhirnya aku ngide buat bikin kesaksian palsu sama anak-anak. Aku akui itu salah banget. Aku terpukul karena kejadian itu, Don.”
“Aku nggak peduli itu semua deh, Lid. Persetan udah sama detailnya. Yang aku tahu, hidupku, masa mudaku... hancur karena kelakuanmu!”
“Aku minta maaf, Dona.”
“Maafmu nggak mengubah apapun, Lidia! Kamu dan semua temen-temen kamu sekarang bisa enak lanjut kuliah. Sementara aku?! Jangankan kuliah, ijazah SMA aja nggak punya!”
Sempat cekcok, mereka berdua kemudian saling membisu untuk beberapa saat. Ruang tamu yang kecil itu jadi makin pengap dan mencekik. Keduanya mulai sama-sama menyesali pertemuan malam. Dona berpikir memang betul harusnya dia tidak menjamu pembully-nya, sedangkan Lidia sembari tertunduk berpikir seharusnya kata-katanya bisa lebih punya empati dan tahu diri.
“Makanya... aku mau coba perbaikin itu semua,” lanjut bicara Lidia memecah keheningan. “Aku nggak minta pengampunan kamu Dona. Berharap kita temenan pun nggak. Aku paham kamu sangat berhak buat benci dan dendam sama aku. Tapi... aku nggak bisa terus hidup dengan rasa bersalah ini... dan, aku nggak bisa juga hidup dengan utang budi karena kejadian kemarin.”
“Ya Tuhan! Kan udah kubilang, perkara kemarin nggak perlu dibahas la—“
“Dengerin dulu sebentar Dona, please... Aku bisa kebayang gimana kondisi ekonomi kamu. Aku bisa nebak juga gaji kamu kerja di bengkel cuma berapa, aku juga ngerti kalau adik kamu masih sekolah, So... aku mau balas budi ke kamu. Tolong ijinkan aku seenggaknya meringankan beban ekonomimu.... Sebut berapa uang yang kamu mau?”
“Hah?”
“Kamu nggak salah denger. Tentu tapi nominalnya nggak bisa yang gede banget, mungkin maksimal 50 juta, tapi harapanku itu bisa cukup buat bantu kamu. Kamu perlu berapa, Dona? Aku bisa minta ke Papi buat dikirim ke kamu.” Lidia berusaha keras mempersuasi dan menawari Dona dengan bantuan yang ia tahu sangat sulit untuk ditolak. “Kamu masih jualan donat kaya dulu? Aku baca cita-cita kamu di biodata... kamu pingin buka bakery sendiri, kan? Aku bisa bantu wujudin Don! Atau mungkin adikmu ada barang yang kepingin dia beli, atau kamu punya utang yang harus dilunasin. Apapun kebutuhan ekonomi kamu... ijinkan aku setidaknya menebus semua kesalahanku dengan ini.”
Mendengar tawaran panjang kali lebar Lidia, Dona termenung cukup lama. Tidak bisa dipungkiri, kepalanya langsung dipenuhi dengan semua masalah ekonomi yang bisa selesai kalau punya 50 juta di rekening. Entah apa Lidia ini stalking, atau hanya sekedar asal ngomong, tapi semua masalah finansial yang barusan diebutkan memang nyatanya adalah pengganjal kehidupannya. Dengan bantuan Lidia, semua ganjalan itu bisa langsung teratasi, dan mungkin mimpi-mimpinya bisa terwujud.
Tapi tidak disangka-sangka, Dona merespon begini, “caramu menebus kesalahan... dengan uang? Kamu udah ngancurin masa mudaku, bikin aku nggak punya masa depan, dan solusinya adalah dengan... uang, Lidia?! Enak banget emang intan payong ya. Semua-semua tinggal minta papi-mami, beres udah.”
“Dona... maaf kalau cara bicaraku bikin kamu tersinggung. Tapi maksudku nggak gitu Dona. Niatku baik, aku tulus mau minta maaf dan ngebales utang budiku.”
“Kamu pikir aku serendah itu, Lid?! Pikirmu aku bisa dibayar dan disogok gitu aja?! Mau kamu kasih 50 milyar pun, aku nggak akan sudi terima bantuanmu!”
“Tapi Don—“
“NGGAK ADA TAPI-TAPI! Aku nggak butuh bantuanmu! Aku bisa berjuang sendiri, aku bisa selesaiin masalahku sendiri! Kalaupun perlu bantuan, kamu orang terakhir di muka Bumi ini yang bakal aku datangi! Nikmati aja itu rasa bersalah lah, utang budi lah. Bodo amat aku dengan itu semua!”
Respon Dona yang terus meledak-ledak membuat Lidia kehabisan akal. Apa memang semua ucapannya segitu kelirunya? Apa memang kesalahannya tidak bisa diperbaiki sama sekali? Dia sadar kalau permintaan maaf saja jelas tidak akan cukup untuk menebus kesalahannya. Karena itulah, dia mencoba menawari pertolongan yang sekiranya diperlukan Dona. Namun ternyata, idenya ini justru membuat Dona makin terbakar emosi setiap detiknya.
“Dona... aku...”
“Udah 10 menit. Time’s up. Silahkan pulang kalau nggak ada yang mau kamu sampein lagi.” Dari tadi, Dona memantau jam di dinding. Durasi 10 menit yang dijanjikan memang sudah habis. Meski begitu, Lidia masih berharap bisa berbicara dan mempersuasi Dona lebih lama lagi. Tapi sang tuan rumah yang murkanya tak terbendung langsung membentak, “KELUAR SEKARANG, LIDIA!”
Hardikan Dona barusan menggambarkan jelas kesabarannya sudah habis. Lidia yang sadar akan hal tersebut akhirnya mengangkat badannya dari sofa, dan berjalan keluar dengan patah hati. Kakinya sudah melangkah melewati kusen pintu, tapi karena masih ada yang mau ia sampaikan, Lidia memakai satu kesempatan terakhirnya untuk melontarkan pertanyaan.
“Kemarin siang... boleh tahu nggak kenapa kamu bantu aku?”
Dona hanya menatap tajam Lidia yang wajahnya terlihat ketakutan, sungkan, namun juga penasaran. Tanpa menjawab sepatah kata, Dona memberi respon menohok akan pertanyaan tersebut, gagang pintunya langsung dia raih, lalu dengan ayunan kencang, dia banting daun pintu rumahnya. Suara menggelegar sekaligus hembusan angin kencang menjadi jawaban Lidia. Di dalam rumah, Dona langsung bersandar ke pintunya sembari memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Meski sulit, dia mencoba mengatur kembali emosinya yang meledak-ledak selama sekian menit.
“Aku janji Don... aku bakal nebus kesalahanku.” Tiba-tiba suara Lidia terdengar dari balik pintu. Dona hanya diam mendengar sumpah serapah barusan. Dia sudah terlalu lelah untuk marah-marah. Beberapa saat kemudian, terdengar Lidia keluar dari pagar dan pergi meninggalkan rumahnya.
Setelah merasa kedamaian mendatangi rumah kecilnya itu lagi, Dona pun membawa badannya duduk di sofa ruang tamu. Nyatanya, bohong kalau Dona tidak ada penyesalan waktu menolak tawaran Lidia. Kalau dipikir baik-baik, bantuan itu bakal sangat melegakan kondisi keuangan Dona. Tapi hatinya yang selalu lebih dominan memang berkata bahwa penolakannya barusan adalah hal yang tepat.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba hp Dona yang ditinggal di meja makan berbunyi. Ada nada dering telepon masuk memanggilnya. Begitu dia melihat siapa yang menelepon, identitasnya menuliskan nomer asing yang tidak ia simpan. Karena dari nomer yang tidak dikenal, Dona otomatis mengabaikan panggilan tersebut. Sedari awal punya hp, dia punya kebijakan pribadi untuk tidak menjawab telepon asing supaya terhindar dari penipuan. Apalagi dengan situasi malam ini, meladeni scammer malah bakal makin merusak sisa harinya.
Other Stories
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...