7: Jangan Ada Dona Di Antara Kita
[Jumat, 16 September 2022 / 09.14 WIB]
SMA Negeri 21. Bukan sekolah primadona, bukan juga sekolah buangan. Kalau bukan karena sistem zonasi, Dona mungkin lebih ingin masuk ke SMA negeri lainnya yang lebih bonafit. Dia pun sempat mempertimbangkan untuk lanjut SMK saja, mengambil jurusan tata boga. Namun ketika orang tuanya lebih setuju kalau dia di SMA, ada satu keputusan yang langsung dia ambil.
Pokok waktu penjurusan nanti, dia maunya masuk IPS. Dari masih SMP, Dona termasuk murid yang kepalanya berasap kalau dihadapkan mapel mafia (matematika, fisika, & kimia). Supaya hidupnya tidak harus deg-degan mulu tiap ujian, Dona yakin kalau jurusan IPS adalah tempatnya, dan setelah satu tahun lewati, Dona kini menginjak tahun keduanya di SMA.
“Nggak bisa... Sorry ya. Sorryyy banget...”
“Yah, Dona ih. Udah jarang-jarang ikut kalo weekday, sekalinya anak-anak pada ngebisain weekend masih tetep nggak bisa,” kata seorang gadis yang berdiri pas di samping bangku tempatnya duduk.
“Dadakan sih. Kalau mau mah ngajak dari kemarin-kemarin, masih bisa cancel jadinya.”
“Lagian mau ke mana sih?” Lanjut tanya gadis teman sekelas Dona itu.
“Nothing fancy, main ke alun-alun aja. Paling habis itu keliling kota, terus yang pasti ya makan. Sekeluarga mau ngerayain adikku juara lomba nyanyi di sekolahnya. Lagian Papaku udah janji dari lama makan-makan di luar.”
“Yah, kalau acara sama keluarga mah nggak bisa dilawan udah... Ya okelah, next janji ikut tapi ya!”
“Janjiii... nggak deng, nggak janji. Tau ah, liat nanti gimana. Pokok jangan mendadak!”
Secara sosial, Dona bukan anak yang nge-‘geng’ seperti umumnya remaja cewek. Bukan berarti dia nggak punya teman ya, Dona itu lebih seperti bunglon. Dia bisa bergabung ke tongkrongan manapun dan nyambung diajak ngobrol siapapun. Karena itulah, justru sebenarnya dia punya banyak teman, tapi tidak ada yang akrab aja.
Selain sifatnya yang ramah dan supel ke siapapun, predikatnya sebagai penjual donat murah tapi enak juga mempengaruhi namanya di sekolah. Ya, di semester awal kelas 11, Dona mencoba mulai menjajakan donat ke teman sekelasnya. Bermula dari iseng membawa lebihan donat buatannya untuk dibagikan cuma-cuma ke teman-teman sekitar bangkunya. Tapi karena saking enaknya, hampir semua anak di kelasnya jadi notice dan menggandrungi donat buatan Dona. Bahkan minggu depannya, tidak sedikit anak dari kelas sebelah yang ikut icip-icip karena penasaran.
Momen inilah yang memantik jiwa entrepreneurship Dona. Gara-gara hampir setiap hari diberondong pertanyaan, “bawa donat nggak?” Dona pun mulai meladeni permintaan tersebut. Dia rela bangun sedikit lebih pagi untuk membuat donat dengan bantuan ibunya. Lalu tiap jam istirahat, donat-donat tersebut dia tawarkan dengan sistem siapa cepat dia dapat. Dari yang hanya 10 pcs, jadi 20 pcs, dan akhirnya jadi 25 pcs tiap harinya. Bahkan, beberapa gurunya pun mendengar dan menyukai donatnya.
Salah satu pelanggan tetapnya adalah Pak Broto. Kata guru favorit Dona ini, usahanya harus diapresiasi dan didukung penuh. Tidak banyak anak remaja yang sudah tertarik dan menjalankan kegiatan wirausaha dari usia muda. “Kalau ditekuni, bukan nggak mungkin Dona ini bisa jadi pengusaha toko donat terkenal nantinya,” ucap beliau ketika memberi testimoni kepada koleganya di ruang guru.
Namun meski semua terasa indah, namanya hidup pasti ada saja masalahnya, apalagi kehidupan remaja yang penuh dinamika dan drama tiap harinya. Dona memang cukup disukai dan punya banyak teman, tapi bukan berarti dia tidak punya musuh...
Senin setelah Dona menghabiskan weekend-nya bersama keluarga datang terasa berjalan normal awalnya. Guru killer, teman terlambat, pelajaran membosankan, rutinitas pelajar lah. Di tengah jam pelajaran ketiga, Dona sempat ke toilet. Ketika dia balik ke kelas dan duduk ke kursinya, tiba-tiba ada asap putih mengepul dari tempatnya duduk. Sadar akan keanehan ini, Dona baru sadar kalau kursinya ditaburi tepung! Saking banyaknya, bagian belakang rok abu-abu Dona jadi terblok warna putih.
Tanpa harus mencari, pelakunya sudah bisa tertebak. Duduk dua kursi di sisi kanannya, Lidia dan anak geng-nya kelihatan jelas sedang menahan tawa sambil melirik-lirik ke arah Dona. Entah kapan dan bagaimana mereka bisa menaburkan tepung begitu banyak di tengah jam pelajaran tanpa ketahuan siapapun.
Lidia Syifasena. Tipikal anak orang kaya belagu dan haus perhatian. Bersama ketiga temannya, dia terkenal bossy dan suka mengganggu anak-anak lain. Dona sendiri tidak pernah menantang mereka, tapi namanya tukang bully narsistik, nggak usah dipancing pun mereka sendiri yang bakal bikin gara-gara.
Dona jadi diganggu karena kejadian sepele. Di suatu hari Kamis saat jam istirahat, Lidia yang sedang ulang tahun berniat memamerkan kado-kadonya ke anak kelas. Dari iPhone edisi terbaru, deretan gelang emas, sampai tiket konser K-Pop di kelas VIP. Sebagai anak parlente, dia punya kesenangan tersendiri untuk bikin orang lain iri akan harta benda yang dia miliki. Meski sudah tahu kalau doyan flexing, anak-anak sekelasnya, terutama yang perempuan, dengan senang hati mendengar kesombongan Lidia. Mereka terang-terangan memuji dan bilang kalau ingin juga diberi kado seperti dirinya.
Namun di tengah pameran kado ini, tiba-tiba ada teriakan yang mencuri perhatian semua orang di kelas. “Oke guys! Yok, siapa cepat dia dapat!” Dari sisi seberang, ternyata Dona mulai menjajakan donatnya. Cara jualannya cukup simpel, dia hanya perlu memajang donat-donatnya yang ditaruh dalam wadah box ke atas mejanya.
Dalam hitungan detik, sekumpulan murid pasti langsung bergerombol di sekitar mejanya seperti sedang antri sembako gratis, termasuk anak-anak yang awalnya mengerumuni Lidia. Begitu pengumuman Dona berkumandang, mereka langsung berpaling dan segera menyerbu kue-kue manis di sisi lain ruangan sambil merogoh uang dari kantung mereka. Terkecuali Lidia dan anak geng-nya, setiap orang di kelas seakan ditarik oleh magnet bernama Madona Damara Arisha, si bocah penjual donat.
Karena kejadian inilah, Lidia merasa perhatian dan kekaguman orang-orang akan dirinya direnggut oleh penjual donat ini. Dia merasa iri. Dia kesal ada orang lain yang lebih dikagumi di ruangan itu ketimbang dirinya yang padahal ketua kelas. Sepele? Jelas. Disengaja oleh Dona? Tentu tidak, dia hanya menjajakan dagangan yang diminta teman-temannya. Namun pikiran Lidia sempit, matanya gelap. Di titik inilah, Lidia mulai tidak senang dengan keberadaan Dona.
Keesokan harinya, Dona dimulai dibully. Lidia dengan tiga kroconya selalu mencari cara mengerjai Dona. Mulai dari disandung waktu jalan, dicecar pertanyaan ketika presentasi, diabaikan kalau ada voting kelas, dan beragam gangguan lain baik secara verbal maupun mental terus dilayangkan. Mau di kelas, di kantin, di gerbang sekolah, setidaknya satu kali sehari, pasti geng anak NPD ini akan punya cara untuk mempermalukan Dona.
Segala gangguan barusan masih remeh menurut Lidia dan teman-temannya. Belum di level yang ‘parah’. Mereka sering mengganggu Dona, karena dia dianggap hama yang lucu kalau dikerjai. Namun selain dimusuhi oleh gengnya Lidia, Dona tidak ada masalah dengan siapapun. Malah, dia makin dikenal dan disukai banyak orang. Anak-anak dari kelas lain pun juga makin banyak dan sering yang datang sekadar untuk beli donat atau ngobrol dengannya. Salah satunya Rio, senior kelas 12, yang juga adalah ketua OSIS SMAN 21.
Dari titel barusan, bisa terbayang betapa populer dan diseganinya dia, kan? Untuk gambaran, Rio adalah jawara taekwondo yang juga rupawan dan top ranking seangkatan. Ketika dia berjalan, setiap anak perempuan di sekitar pasti kesemsem melihat rupanya, sudah seperti adegan di film romance gitulah. Lidia sendiri sudah lama kepincut dengan Rio ini. Jadi ketika dia melihat sang kakak kelas idamannya tiba-tiba datang ke kelas, lalu bukannya menghampiri mejanya seperti yang ia mimpikan, namun malah mencari si penjual donat,
“Kalau cuma spotlight-ku yang dia curi, aku masih bisa terima deh. Tapi kalau Kak Rio pun direnggut, ini kelewatan!” kata Lidia ke teman-temannya dengan rasa cemburu dan emosi yang menggebu. Kebencian Lidia akan Dona makin meledak. “Padahal itu anak nggak lebih cantik dibanding aku! Modal senyam-senyum sama jualan kue aja dia bikin orang-orang jadi buta dan suka sama dia.”
Namanya teman satu geng, ketiga teman Lidia jelas bertingkah supportif, atau lebih tepatnya justru jadi kompor.
“Enak banget mereka ngobrol santai di tengah kelas!”
“Kayanya sih ya, Kak Rio itu punya hati deh ke Dona.”
“Gak cukup gangguan kita kayanya, guys? Setuju nggak sih, Lid?”
Alhasil, gangguan yang dialami Dona jadi makin ekstrim. Selain ditaburi tepung, kursinya juga pernah ditarik waktu dia mau duduk, lalu seragamnya pernah disiram air dengan alasan tidak sengaja ketumpahan. Bahkan suatu hari sehabis pelajaran olahraga, salah satu sepatunya pernah disembunyikan di gudang waktu sedang ganti baju.
Meski terganggu dan tertekan, Dona tidak pernah mencoba melawan. Teman-temannya pun ada juga yang jadi saksi langsung perundungan ini. Masalahnya, mereka tahu betul kalau semua trik-trik Lidia sudah dirancang sedemikian rupa, sehingga kalau mereka mengadu, para guru tidak akan mudah percaya karena alibi mereka sangat kuat. Belum lagi Lidia ‘di-backing’ langsung oleh petinggi sekolah. Tidak ada jaminan kalau begitu dilaporkan, masalah bakal selesai begitu saja.
Setiap hari, ada saja cara Lidia dan geng-nya untuk mengganggu Dona. Namun... semua terasa belum memuaskan. Semua gangguan ini belum cukup. Kata Lidia, “nggak bisa cuma Dona yang perlu kita hukum. Kak Rio... si Rio itu, juga perlu kita kasih pelajaran!”
Harus digarisbawahi, geng empat orang yang dipimpin Lidia ini bukan tipikal anak blangsak yang petentang-petenteng dan ngelawan kalau diatur. Gina, Mia, dan Sherly, tiga anak kaki tangan Lidia adalah anak-anak pintar dan tergolong tipe anak teladan. Ini berarti, menyusun dan mengeksekusi rencana untuk mengerjai Rio bukan masalah sama sekali.
Satu hal yang lebih berbahaya dari sekumpulan cegil dengan niat jahat, adalah sekumpulan cegil dengan niat jahat dan otak brilian, yang juga punya kesabaran dan ketelitian untuk mengusili orang yang tidak mereka suka.
Other Stories
DIARY SUPERHERO
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Hold Me Closer
Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...