Donatoli: Pergumulan Montir Cantik Penjual Donat

Reads
575
Votes
0
Parts
17
Vote
Report
Donatoli: pergumulan montir cantik penjual donat
Donatoli: Pergumulan Montir Cantik Penjual Donat
Penulis Wicaksono Bagus Dewandaru

6: Usaha Terkadang Mengkhianati Hasil

[Senin, 17 Februari 2025 / 11.51 WIB]

Meskipun Rona masih kesal dengannya dan sampai pagi tadi mereka masih belum saling mendiamkan, keberhasilan orderan pertama Dona bikin dia menjalani awal minggu dengan sumringah. Sesuai kesepakatan, waktu istirahatnya di hari Senin ini akan dia pakai untuk mengambil wadah box di rumah keluarga Damar.

Terik matahari sudah pasti menusuk kulit setiap orang yang memadati jalanan siang ini. Dona sendiri sebenarnya sempat berpikir untuk naik ojol saja, tapi mengingat prinsip penghematannya, dan terlebih karena rasa gembira akan kemajuan usahanya yang masih menggebu-gebu, pada akhirnya jalan kaki di siang bolong tidak jadi masalah baginya.

Lokasi kompleks rumah keluarga Bapak dan Ibu Damar semakin lebih dekat kalau dari bengkel, sehingga tidak sampai sepuluh menit, Dona sudah kembali sampai di depan pagar rumah yang dituju. “Permisiii... Bu Damar?”

Persis seperti kemarin sore, sang pembeli dengan sigap keluar tak lama setelah panggilan Dona. Terlihat beliau membawa kresek merah berisi box yang akan Dona ambil. Bedanya tapi, waktu kemarin ia menghampiri Dona, wajahnya terlihat sangat cerah. Kali ini, raut mukanya lebih ditekuk dan cukup serius, seperti sedang banyak pikiran. 

“Habis semua Bu donatnya?” tanya Dona selagi Bu Damar membuka gembok pagarnya.

“Iya habis... orang dibuang,”

.

.

.

“Hah?”

Tentu Dona tidak mengucapkan suara barusan terang-terangan. Tapi itu respon pertama yang ia rasakan dalam hatinya. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Senyum lebar Dona mendadak memudar dan mengerut, dahinya mengerut, lalu tanpa sadar lehernya miring 45° pertanda jelas dia kebingungan dan heran. “Lho... kok dibuang Bu?”

“Donatmu kan saya pesen karena empuk dan membal-membal toh Dona, ini kok saya pesen malah keras! Kemarin nggak sampai sepuluh biji yang dimakan, ya wajar, anak-anak pada nggak doyan! Sampai semua pada pulang, masih sisa banyak. Ya udah saya buang orang nggak enak dimakan.”

“Kok... bisa keras ya Bu,” respon Dona sekenanya. Dia merasa tetap harus merespon komplain pembeli, meskipun jujur, dia sendiri baru tahu kalau donatnya bermasalah. Kalau dihitung kasar, ada lebih 1000+ pcs donat yang sudah Dona buat untuk jualan selama dua tahun ini. Dari semuanya, tidak pernah sekalipun dia mendapati donat buatannya bantet atau gagal. Entah kenapa dan bagaimana, justru ketika akhirnya dia mendapat pesanan khusus, malah bisa-bisanya produknya mengecewakan.

“Ya nggak tahu dong! Kok tanya saya! Rugi saya pesen di kamu, tahu nggak?!”

“Mohon maaf Bu Damar, seharusnya nggak jadi begitu hasilnya. Bahan dan cara masaknya nggak ada yang beda dari biasanya kok, Bu.”

“Saya nggak peduli urusan itu, Don. Pokok yang saya tahu, donatmu kemarin mengecewakan! Dan saya juga kecewa! Saran saya, karena kata kamu saya pemesan pertama, jualan kamu itu dicek dulu kualitasnya sebelum dikasih ke pembeli. Kalau begini, orang nggak ada yang mau beli dari kamu!”

“Iya Bu, saya mohon maaf. Lain kali saya cek.”

“Kalau dari saya sih nggak ada lain kali ya... Emang bener mending beli dari bakery aja kalau pingin beli kue. Udah ya, saya masuk dulu. Makasih buat box-nya,” kata Bu Damar sembari menyodorkan kresek berisi box yang langsung diambil oleh Dona.

“Mohon maaf, Bu. Saya minta maaf.” Ini kali pertama dia bertatap muka menghadapi keluhan pembeli. Sebelumnya memang pernah ada beberapa komplain donatnya terlalu manis, tapi itu disampaikan oleh Bang Jajang sebagai perantara. Sudah bingung kenapa donatnya gagal, dia pun tambah bingung harus bersikap seperti apa untuk bisa tulus menunjukan permintaan maafnya. Dona hanya bisa meminta maaf dengan membungkukkan badannya, seperti orang Jepang yang menyesali perbuatannya.

Berbeda dari waktu berangkat, kini Dona murung dan kebingungan sepanjang perjalanannya balik ke bengkel. Dia tidak habis pikir, kenapa bisa tepung donatnya kali ini jadi keras. Padahal, itu satu aspek yang selalu dia banggakan. Dari awal belajar membuat donat, ibunya selalu menekankan pentingnya membuat adonan yang tidak bantet supaya nikmat saat dikunyah.

Sesampainya di bengkel, Dona masih kepikiran dan tidak langsung makan. Begitu duduk di sofa ruang tamu Engkong Liong, dia langsung sibuk membuka Google dan ChatGPT untuk mencari 'kenapa donat bisa keras' dan 'apa alasan donat bantet'. Satu demi satu penyebab dia baca, dan dia yakin betul, tidak ada satupun yang miss waktu dia memasak kemarin siang.

Dalam hatinya, Dona tidak hanya merasa bingung, dia juga mendadak tertekan. Tertekan oleh realita bahwa pesanan pertamanya yang dia sangka sudah sempurna dan sukses, tiba-tiba berubah jadi masalah besar. Ibarat dalam perlombaan lari, Dona langsung jatuh keseleo setelah selangkah melaju dari garis start. Pikirannya jadi kemana-mana. Kalau pesanan pertama gagal, siapa yang mau pesan donatku lagi? Nggak bakal punya pembeli lagi dong aku.

“Lu udah makan belum, Don? Sibuk banget hp-an dari tadi?” Suara Emak Ing tiba-tiba menyadarkan Dona dari kemelut di kepalanya. Emak Ing sendiri sudah dua kali keluar-masuk rumah, dan dari tadi, dia bisa lihat karyawatinya ini tidak bergerak sedikitpun dan perhatiannya sangat terpusat ke gadget kecil di tangannya.

Mendengar pertanyaan barusan, Dona mengangkat wajahnya. Matanya menatap Emak Ing yang berdiri sekian langkah darinya di sofa. “Pesenan pertamaku... gagal Mak. Pembelinya barusan komplain donatnya bantet.”

“Lah? Kok bisa? Lu ada rubah resepnya?”

“Nggak Emak. Beneran Dona lakuin semua proses sama kaya biasanya. Bahan-bahanpun nggak ada yang beda, cuma takarannya aja disesuaikan. Tapi ngubah takaran tuh nggak mungkin bikin hasilnya jelek, Mak. Kenapa ya...” Buntu dengan jawaban dan dilanda gelisah, Dona tanpa sadar berkeluh kesah kepada sosok yang jadi pengganti figur mendiang ibunya. “Ini pesenan pertama masalahnya... Emak tahulah, step pertama kan penting banget. Ini kalau dari awal aja udah salah-salah, bikin konsumen marah, kaya gimana ke depannya, Mak? Belum lagi kalau orang-orang pada tahu kesalahan ini.”

Emak Ing paham betul ketakutan yang dirasakan Dona. Bahkan rasanya, semua orang yang merintis usaha punya kecemasan seperti ini. Takut efek domino terjadi, satu kesalahan di awal jadi menutup pintu-pintu rejeki yang tersedia di depan mata. Mengerti kalau karyawatinya sedang terpuruk, Emak Ing ikut duduk di sebelah Dona.

“Lu tahu nggak Don. Dulu Emak sama Engkong pertama kali buka bengkel, langsung harus ganti rugi motor orang lho.” Dona menatap Emak Ing dengan ekspresi yang masih murung sekaligus kaget dan penuh tanya. “Iyaa... dulu pertama buka, mirip kaya lu kasusnya. Pelanggan pertama dateng, motornya mogok dituntun masuk sini. Engkong coba benerin, bukannya nyala malah berasep mesinnya.”

“Pernah gitu Engkong, Mak?”

“Ya lu kan tahu dia belajar mesin dulu otodidak. Asal bongkar mesin orang, pake insting aja benerinnya, malah tambah rusak yang ada. Amsyong!” Bukan berniat adu nasib, tapi Emak Ing berharap pengalaman pribadi barusan bisa memberi perspektif baru dalam kepala Dona, terlebih untuk mengasah pola pikirnya sebagai seorang wirausaha. “Poinnya Don... nggak papa kalau bikin salah atau gagal di awal. Justru karena masih baru mulai, lumrah kalau lu bikin salah. Yang penting, gimana lu kembangin dan belajar lebih baik ke depannya. Mau dalam hal apapun ini, Don! Apalagi bisnis ya, emang nggak bakal semulus itu.”

“...Gitu ya Mak?”

“Jangan lu jadiin pikiran!” lanjut nasehat Emak Ing sambil mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Dona dengan lembut. “Itu salah satu skill jalanin usaha! Kalo ada masalah, kalo ada yang salah, jangan dipikirin mulu! Mikir cari solusi, iya. Cari cara buat perbaikin yang kurang, iya. Tapi jangan dijadiin beban kepala kelamaan! Fokus aja sama apa yang bisa lu kerjain ke depannya, kalo nggak, stroke lu nanti umur 25.”

“...Iya ya, Mak. Mungkin Dona yang terlalu overthinking kali ya.”

“Itu bahasanya anak sekarang? Apa... oper-kelingking?”

Overthinking, Mak. Bahasa Inggris itu, over itu berlebihan, thinking itu berpikir.”

“Iya itulah, paham kan lu pokoknya ya,” jawab Emak Ing yang selalu kebingungan mengikuti kosakata generasi muda.

“Eh bentar... ini aku baru sadar. Emak sama Engkong mau keluar?” Tanya Dona ketika melihat bosnya berbalut kemeja rapi dan rok terusan. Berbeda jauh dengan pakaian sehari-harinya kalau di bengkel yaitu daster.

“Iya Don, Emak sama Engkong mau akupuntur. Kamu jagain bengkel ya.”

“Lho... tumben siang-siang, Mak? Biasanya sore habis tutup bengkel?”

Engkong Liong tiba-tiba ikut muncul dari dalam rumah dan menjawab pertanyaan barusan, “dokternya nanti malem mau ke Taiwan. Jadi kalau mau hari ini, ya udah siang aja katanya. Baru balik Indonesia 2 bulan lagi,” kata bosnya yang satu lagi ini dengan balutan kemeja kotak-kotak dan celana panjang. Meski rapi begini, aura pendekar KungFu Hustle-nya tetap terpancar.

“Oh gitu... iya aku jagain. Nggak sampai sore kan harusnya, ya? Hati-hati, Emak, Engkong.”

Setelah pasutri lansia ini berangkat dengan motor mereka, Dona resmi menjaga bengkel seorang diri untuk keempat kalinya. Tiap mereka ada urusan mendadak seperti harus ke puskesmas atau ke bank, bengkel tetap mereka biarkan buka dan Dona yang bisa diandalkan selalu dipercaya mengurus usaha mereka. Menjaga di sini tentu bukan seperti security saja ya, tapi juga melayani pelanggan, servis motor, atau terima uang ketika ada yang datang.

Setelah diberi wejangan, atau ‘business advice’ (biar kesannya bisnis banget) oleh sang mentor, kepala Dona yang dari tadi gaduh akan masalah jadi mereda. Dia bisa melihat sisi terang bahwa memang satu kegagalan di awal tidak sama dengan kiamat bagi usaha donatnya. Sekarang, karena ada mandat dari bos dan kepalanya sudah dingin, Dona kembali menjalankan tugasnya sebagai montir. Tiap sedang menunggu pelanggan, dia pasti duduk standby di kursi kayu panjang yang melintang di sisi kiri bengkel sambil bermain hp.

Baru sekian menit ditinggal, langsung saja datang pelanggan yang mau isi angin bannya. Dengan gercep dan ramah, Dona melayani permintaan tersebut. Tepat waktu lututnya menyentuh tanah untuk membuka pentil ban belakang, tiba-tiba dia dikejutkan raungan mesin dari serombongan motor besar. Menggelegar dan menyentak jantung bak sound horeg, Dona menyaksikan sekumpulan anak motor melintas di jalan depan bengkelnya seperti di tengah balapan.

Sempat berpikir kalau gerombolan barusan mungkin hanya anak motor yang lagi touring, ternyata waktu Dona sudah selesai memompa dan mengambil kembalian dari laci kasir di meja bengkel, segerombolan anak motor lain melintas dengan jauh lebih ugal-ugalan dan arogan dari yang pertama. Sekilas memandang gerombolan pria-pria berjaket hitam itu menggeber-geber mesin motor mereka sambil teriak-teriak, Dona langsung membuat kesimpulan, jangan-jangan, dua geng motor barusan sedang bertengkar.

“Berisik banget siang-siang...,” kata abang-abang pelanggan bengkel yang ban motornya sudah tidak kempes lagi.

“Iya, ya Bang. Bikin sakit kuping. Tapi kayanya itu geng motor lagi berantem deh. Abang hati-hati ya.”

Transaksi selesai. Dona masuk ke dalam bengkel dengan niatan kembali duduk di kursi kayu. Tapi sekian langkah dia berjalan, Dona mendengar suara lagi. Kali ini, ada suara langkah kaki orang berlari menghampirinya dari belakang. Ketika langkah itu berhenti, Dona bisa tahu orang itu nampaknya berhenti di depan bengkel. 

Dia pun langsung balik badan untuk menyapa orang tersebut, tapi sedetik persis setelah Dona melihat wajahnya... Dona kaget, dan lebih-lebih, dadanya terasa sesak dengan kemarahan dan kenangan pahit yang tiba-tiba muncul. Orang di hadapannya ini, sangat familiar. Malah, tak hanya familiar, tapi sangat dia benci dan ingin dia lenyapkan dari pandangannya.

“Lidia... ngapain lagi ke sini?” Ya. Perempuan yang minggu lalu datang bersama pacarnya dan disangka adalah temannya Dona itu bernama Lidia. Seakan tidak puas sudah menghancurkan hidup Dona dua tahun lalu, kini Lidia kembali muncul di hadapannya.

Dengan nafas terengah-engah, kaki yang kelelahan, dan gelagat yang sangat panik, Lidia tidak menggubris pertanyaan Dona barusan. Malah, dia memelas dengan penuh harap, “Dona, aku minta tolong. Sembunyiin aku, please. Aku minta tolong banget!”


Other Stories
Kala Cinta Di Dermaga

Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Hati Yang Beku

Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Download Titik & Koma