5: Famili Meletus
[Minggu, 16 Februari 2025 / 17.53 WIB]
CEKLEK... KREEETT... DUG. Pintu rumah Dona tergolong yang agak berisik kalau dibuka dan ditutup. Entah karena tipe engselnya, atau berat pintunya, tiap senti gerakan pintu itu menggema ke seisi rumah. Dona dan Rona sendiri sepakat kalau saking berisiknya, mungkin suara pintu rumah mereka bisa kedengaran oleh orang dari luar pulau.
Dari pintu depan, Rona berjalan masuk ke area meja makan di mana kakaknya terlihat sedang menata meja untuk makan malam mereka. Tapi begitu matanya memandang hidangan yang tidak biasanya tersaji, refleks dia bertanya, “tumben... apaan nih?”
“Perayaan kecil-kecilan! Kakak tadi beliin coto Makassar, kan Kakak nggak bisa bikin sendiri. Mumpung ada uang lebih, jadi sesekali lah kita order makan enak.”
“Wooowww... padahal aku udah expect makan nasi sama sambal teri kaya kemarin lho,” balas Rona dengan mata berbinar. Memorinya langsung berjelajah, kalau tidak salah ingat, terakhir kali dia menyantap coto Makassar itu awal tahun lalu. Hampir setahun sendiri dia absen menyantap makanan favoritnya sejak SD ini. “Lancar pesenan tadi Kak?”
“Lancar dong. Besok siang balik lagi buat ambil wadah box.”
“Kereenn... ini kita nggak nunggu apa-apa lagi, kan? Bisa makan langsung, kan?”
“Iya, langsung makan. Cuci kaki tangan dulu tapi sana. Btw, tumben itu gitar sekolah kamu bawa pulang?”
“Iya... disuruh bawa pulang aja buat latihan kata anak-anak,” balas Rona selagi menaruh ransel dan tas gitar besar yang dari tadi menggantung di pundaknya ke kasurnya, sebelum kemudian berlari kecil ke kamar mandi.
“Emang mau perform lagi?”
“Eeehhmm... nggak sih, cuma persiapan aja. Buat ikut lomba, soalnya bentar lagi banyak kompetisi band. Tahun sebelumnya sih begitu,” jawab Rona dari dalam kamar mandi sambil sesekali menjulurkan lehernya ke arah pintu.
“Oh gitu... terus, hari ini lancar?”
“Lancar juga aku Kak. Harus encore lho kami tadi. Nambah dua lagu, improv di luar playlist!” Balas Rona dengan sisa semangat yang masih menggebu setelah menggenjreng gitar setengah jam lebih di atas panggung. “Oh, oh, oh! Kakak inget Pak Broto, guru favorit Kakak? Guru penjas? Beliau tadi di depan panggung persis, mimpin sesi karaoke dong! Murid-murid lain pada ngikutin!”
“Kalian bawain lagu apa sih emang? Kok beliau ngerti lagunya?”
“Kebanyakan lagu Dewa, sama lagu-lagu Indo yang trending akhir-akhir ini lah. Sampe angkat-angkat tangan, teriak-teriak gitu nyanyinya Pak Broto, Kak.”
“Aktif bener emang itu guru satu ya. Kalau suaranya serak besok, baru tahu rasa tuh.”
“Tapi emang masih seger gitu sampai sekarang Kak. Badannya itu tegap nggak kaya kebanyakan guru penjas. Atlet bukan ya beliau dulu? Lempar lembing?”
“Yoi, pernah ikut PON tahun 93, kalau nggak salah. Syukurlah kalau masih segar bugar. Kakak nggak kernah ketemu lagi semenjak keluar.” Sembari asyik ngobrol, kakak beradik ini sudah duduk di kursi ruang makan. Dalam posisi berhadap-hadapan, mereka pun mulai menyantap coto Makassar yang tersaji dalam mangkuk dan nasi putih yang ditaruh di piring sebelahnya.
“Ooohh... it’s sooo gooodd!! Kangen banget aku makan coto astaga!” Ucap heboh Rona setelah menyeruput kuah dan menyuapkan sepotong jeroan ke dalam mulutnya. Saking nikmatnya, Rona sampai tepuk tangan sendiri ketika mengunyah potongan babat yang lembut. “Thank you banget udah beliin ya Kak.”
“Kembali kasih. Btw, utang kita ke Tante Mirna sisa lima bulan lagi lho.”
“Oh ya? Hari ini jadwalnya bayar ya... Ih, nggak kerasa sisa lima bulan ya. Dari dua tahun lalu lho!”
“Kamu nggak ikut bayar mah nggak kerasa! Iya sisa lima bulan lagi. Begitu full lunas, kita bisa bebas!”
“Akhirnyaaa... berarti nanti uang Kakak bisa dialihin buat ‘itu’ dong?”
“Hp baru?”
“Nooo... nggak dong Kak. Hp kan udah ada tabungannya sendiri. Itu lho. You know... your dream! Usaha kue, yang proper... bikin toko kue?”
“Ah, nggak lah Ron. Bikin usaha kan nggak gampang. Tetep suatu saat Kakak wujudin, cuma nggak dalam waktu dekat deh. Kan perlu banyak persiapan dulu bikin usaha tuh.”
“Selama dua tahun ini kan selalu Kakak persiapan. Emang aku nggak tahu ide donat dan kue-kue lain yang Kakak riset di kamar? Denah toko aja udah Kakak coret-coret, kan?”
“Iya itu kan ngayal-ayal aja, Ron. Pas lagi senggang, aku iseng bikin,” tampik Dona dengan nada tidak PD. Meski Dona tertarik dengan dunia wirausaha, dan banyak video entrepreneurship bisa ditemukan di riwayat tontonannya di YouTube, dia merasa ide bisninya masih sekadar angan-angan. Tidak masuk akal baginya kalau di posisinya saat ini bisa merintis usaha layaknya anak muda lain yang punya privilege atau tidak punya tanggungan beban di usia belia. “Lagian modalnya kan belum ada juga kalau mau beneran buka toko. Tempatnya di mana juga? Depan rumah gitu? Kamu ngerti sendiri rumah kita masuk banget ke kampung, nggak strategis. Yang jaga juga siapa?”
“Oke, fair point. Tapi kan bisa mulai via online dulu, Kak? Nggak usah toko kue yang ada bangunan fisik deh. Promosi aja, terima orderan pakai medsos. Pasti laku! Yang order hari ini aja kan segitu ketagihannya sama donat Kakak. Itu udah jadi bukti kalau donat mini Kak Dona itu segitu menjualnya, dan potensi bisnisnya gede banget!”
“Aduh... online mah kesannya gampang, Rona. Jalaninnya tapi bisa stress sendiri lho. Pilihannya antara mau posting tiap hari, yang mana berarti harus nyisihin waktu mikirin ide konten dan syuting, atau mau ngiklan, yang artinya harus siap boncos kalau iklannya nggak laku.”
“Yah... Kakak mah kalau fokusnya ke negatifnya mulu, sampai jadi nenek-nenek nanti juga nggak bakal jalan, Kak! Begitu nanti nggak perlu mikirin utang, itu kan kesempatan buat fokusin uang Kakak jadi modal usaha. Masa mau selamanya titip ke Bang Jajang? Potensinya besar lho, Kak! Lihat opportunity-nya lah...”
“I know opportunity-nya menggiurkan, Rona! Kakak paham! Tapi... realitanya kan bikin usaha itu nggak semudah balik telapak ta—“
“Terus... Kakak nggak mau wujudin mimpi Kakak? Mimpi Mama?”
Padahal awal percakapan tadi mereka bisa ngobrol sambil makan dengan lahap. Tapi begitu terpercik perbedaan pendapat, pelan-pelan intensitas suapan mereka jadi berkurang. Sendok dan garpu masih ada di tangan mereka masing-masing, tapi baik Dona maupun Rona sama-sama mendiamkan alat makan mereka, dan lebih lama menyimak balasan lawan bicara yang duduk di seberang satu sama lain.
“Mau Rona... cuma nanti dulu setelah persiapannya matang. Setelah benar-benar siap. Nggak perlu tergesa-gesa. Lagian Kakak nggak ada yang bantu. Nanti misal buat kelola sosmed, masa belum apa-apa udah gaji karyawan?”
“Kan ada aku...”
“Noo... Kamu fokus sekolah aja Rona. Nikmatin masa remaja kamu. Kamu nggak harus mikirin yang belum jadi tanggung jawa—.”
“Terus yang tanggung jawab semuanya harus Kakak sendiri gitu?! Mau bikin donat, mau buka usaha, semua yang berjuang untuk kita cuma Kakak?! Aku nggak boleh?” Respon Rona kali ini dengan cukup nyolot.
Dona tahu betul adiknya ini bisa cukup eksplosif kalau sudah emosi. Mungkin faktor keturunan. Karena itu, begitu mendengar Rona menaikan suaranya, Dona menghela nafas pendek dulu sebelum kemudian menjawab, “Mama sama Papa sudah nggak ada, kamu cuma punya Kakak. Sudah jadi tanggung jawab Kakak ngurusin dan menghidupi kamu, kan?”
“Dari aku kecil, Kakak selalu nemenin aku. Mau kita main masak-masakan, mau bantuin aku ngerjain PR, mau ikut lomba di sekolah, Kakak sudah selalu ngurusin aku! Sekarang dengan kondisi kita kaya gini, Mama udah meninggal, Papa jadi Bang Toyib, Masa nggak boleh sih aku bales semua yang udah Kakak lakuin? Masa nggak boleh aku bantuin Kakak?!”
“...Memang itu tugas Kakak, Rona. Itu kewajiban seorang kakak. Ngejaga dan ngerawat adiknya. Kamu bisa bales semuanya dan ikut bertanggung jawab, tapi nanti waktu udah dewasa, ketika udah kerja. Sekarang kamu masih SMA, fokus aja nikmatin dan jalanin masa muda kamu. Belum saatnya mikir yang berat-berat.”
“Oh! Terus berarti Kakak udah? Udah saatnya mikir berat? Kakak beda empat tahun doang sama aku! Kakak juga masih remaja! Anak-anak seumuran Kakak having fun, nongkrong, shopping, nonton konser. Sementara Kakak, 24 jam waktunya habis buat ngehidupin kita berdua! Kakak skincare-an aja jarang kan akhir-akhir ini karena saking capeknya kalau malam?!” Segala bantahan dan jawaban Dona yang mencoba memberi pengertian justru jadi bensin yang mengguyur percikan api. “Nyadar nggak sih... Kak Dona bilang aku cuma punya Kakak. Ya Kakak sendiri juga cuma punya aku kan?! Kakak nggak harus nanggung semua sendirian lho! Kita bisa bagi bebannya berdua, berjuang bareng, kaya dulu kita main sama-sama waktu kecil!”
Dona paham kalau kemarahan adiknya ini bersumber dari rasa sayang dan khawatir terhadap dirinya. Dia pun mengapresiasi kesadaran Rona untuk mau meringankan bebannya. Namun dalam dirinya, sudah terpatri janji kalau sang adik tidak boleh ikut menderita dan kehilangan masa mudanya. Mau seperti apapun persuasi Rona, pendiriannya tidak akan berubah. Setelah memberi jeda sekian detik dari terakhir Rona bicara, Dona menatap dalam ke mata sang adik tercintanya, lalu dia membalas, “nggak Rona. Makasih ya, tapi Kakak nggak akan biarin kamu ikut menanggung masalah keluarga kita. Cukup di Kakak saja.”
Ada setengah bagian dalam hati Rona yang sudah tahu kalaupun mulutnya sampai berbusa, Dona kekeh tidak mau mengerti perasaannya. Tapi tidak bisa dipungkiri, ada juga setengah bagian lain dari hatinya yang berharap kalau sang kakak bisa melunak dan mau merubah cara pandang yang menurutnya sangat masokis itu. Sayang, ternyata bagian perasaan yang kedua memang tidak terjawab. Rona pun tidak tahu apakah akan bisa terjawab.
Sempat meledak-ledak, Rona akhirnya menyerah juga. Merasa mood-nya jadi berantakan, dia memutuskan untuk beranjak dari kursinya, membawa mangkuk dan piring makanan di kedua tangannya menuju kamar, dan menutup percakapan dengan datar, “terserah lah Kak... capek ngomong. Batu banget.”
Dona hanya bisa terdiam melihat adiknya melangkah pergi dari ruang makan. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Tidak ada hal yang menurutnya pas diucapkan untuk menenangkan atau menghibur Rona. Kakak beradik ini pun menyantap makan malam mereka di tempat yang terpisah. Satu di kamar, satu di ruang makan. Coto Makassar yang tadi hangat dan lezat, sekarang jadi dingin, dan terasa hambar.
Other Stories
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...