4: Bersakit-sakit Dahulu, Antar Pesanan Kemudian
[Minggu, 16 Februari 2025 / 13.54 WIB]
Gaji bulanan Dona itu setara UMK. UMK Salatiga tapi ya, alias dua juta setengah. Untuk di kota besar, angka ini tentu hanya cukup untuk hidup serba ngepas. Pengeluaran bulanannya yang paling besar adalah untuk kontrakan rumah, yang meskipun dibayar tahunan, uangnya berasal dari gaji bulanan yang ia sisihkan. Sebenarnya selain untuk sewa, biaya tiap bulan untuk utilitas, makan, dan keperluan hariannya tidak terlalu besar, dan sangat mungkin dikumpulkan di rekening tabungan... andai tidak ada utang.
Bicara soal utang, tidak terasa hari ini datang juga. Tanggal 16 setiap bulan jadi hari di mana Dona harus membayar cicilan utangnya, atau lebih tepatnya utang keluarganya.
Tek! Tek! Tek! Suara gembok yang dibenturkan ke pagar terdengar keras siang itu. Karena tak kunjung ada yang keluar, Dona mengetuk kembali gembok alumunium perak itu.
Tek! Tek! Tek! Tek! Tek! Panggilan yang lebih panjang ini mendapat jawaban. Dari dalam rumah besar berwarna putih dengan garasi yang diblok mobil Alphard dan sedan keluaran BMW, seorang perempuan keluar menghampiri Dona. Wanita itu menghampirinya tanpa berkata apa-apa, Ekspresi wajahnya sangat lempeng, dan sorotan matanya juga tidak kalah datar.
“Misi Tante, ini buat bulan ini ya,” ucap Dona sambil menyodorkan segepok uang ratusan ribu lewat sela-sela pagar.
“Pas?”
“Iya pas kok Tante.”
“Oke... pas! Sisa lima juta lagi,” ucapnya tegas sehabis menghitung lembaran kertas berharga berwarna pink tersebut.
“Iya Tante, tahun ini pasti Dona lunasin.”
“Papa kamu nggak ada kabar?”
“Nggak Tante. Nggak pernah kontak sama sekali.”
“Ya sudah.” Tanpa basa-basi, wanita tersebut langsung masuk lagi ke dalam rumahnya, meninggalkan Dona yang sudah biasa diperlakukan demikian dan hanya merespon, “Dona balik dulu ya Tante Mutia,” sebagai bentuk hormatnya kepada tantenya sendiri.
Ya, wanita barusan adalah adik kandung dari ayah Dona. Sewaktu Dona kecil, dia tak pernah membayangkan kalau hubungannya dengan keluarga besar akan seperti di sinetron, di mana seorang bibi dengan sadar dan sengaja berlaku sinis kepada keponakannya sendiri. Wajar kalau Dona berpikir demikian, karena waktu ayah Dona belum menghilang dan hidup mereka masih normal, Tante Mutia tidak bertingkah seperti sekarang. Sifatnya ke Dona dan Rona ya layaknya bibi yang baik dan ramah pada umumnya.
Tapi, tidak heran kalau kemudian sikapnya berubah 180° menjadi dingin dan datar. Sekarang gini, kalau ada orang pinjam duit 100 juta, nunggak waktu jatuh tempo, ngehindar pas ditagih, dan ngilang gitu aja tanpa bisa dihubungi, mau itu saudara kandung sendiri, pasti bakal geram juga, kan? Ya itulah yang terjadi dua tahun lalu ketika ayah Dona kehilangan kerja dan ngutang sana-sini, termasuk ke adiknya sendiri.
Memang, secara ekonomi Tante Mutia ini tergolong kaya raya. Tampaknya keberuntungannya seumur hidup langsung terpakai ketika berhasil menikahi seorang kontraktor gaet yang membuat hidupnya jadi bergelimang harta dan kenyamanan. Namun tetap saja, 100 juta itu material, sehingga walaupun krediturnya kakak sendiri, ia tidak sedikitpun ragu untuk mengabaikan hubungan darah demi uangnya kembali. Sekarang, karena ayah Dona pergi entah ke mana, yang kena getahnya jadi anak-anaknya.
Untuk nilai utangnya sendiri, per Februari 2025 ini sudah tersisa lima juta. Dalam hitungan bulan semuanya akan lunas, dan Dona akhirnya bisa lepas dari jeratan utang yang membelenggunya selama dua tahun. Garis finish di depan mata inilah yang menguatkan Dona untuk terus membuat donat tiap harinya, untuk mencari uang tambahan demi segera bebas dari utang.
Ngomong-ngomong soal donat, jangan lupa kalau hari Minggu ini adalah hari yang spesial bagi Dona. Perkara bayar utang ke tante judes sudah selesai, dan kini, Dona bisa fokus mengeksekusi pesanan donat pertamanya yang ditunggu keluarga Damar nanti sore. Dari kompleks perumahan elit tempat tantenya tinggal, Dona harus jalan kaki sekitar 20 menit untuk kembali ke rumahnya. Agak melelahkan memang, belum lagi gerah dan keringatannya. Tapi baginya, itu tidak terlalu jauh, dan selama rute yang harus ditempuh masih manusiawi, Dona pantang naik ojol. Kalau bisa gratis, kenapa keluar uang?
Setelah bergegas pulang menghajar siang yang terik, akhirnya Dona sampai di rumahnya. Dia paham betul, meski habis panas-panasan, dia tidak punya waktu untuk berleha-leha seperti hari Minggu biasanya. Enam jam lagi, pesanannya harus sudah dikirim. Karena Rona juga sedang perform bersama band-nya di acara ulang tahun sekolah, Dona bisa fokus mengerjakan pesanan.
Tercatat dari pukul setengah tiga, ia memulai proses masak dengan menyiapkan bahan-bahan terlebih dahulu: tepung terigu, ragi, gula, garam, mentega, susu, telur, dan minyak. Satu hal yang ia syukuri dari berjualan donat ketimbang jenis kue lain, bahan-bahannya tidak terlalu banyak dan ribet. Selain bahan dasar, dia juga menyiapkan topping seperti meses, kacang tanah, gula palem, keju, krim, dan ragam selai. Untuk takaran, Dona sudah bisa mengira-ngira masing-masing berapa gram yang harus ia kurangi untuk jadi 50 pcs, dibandingkan biasanya 80 pcs.
Karena sudah jadi rutinitas jualan, meja dapur rumahnya dipenuhi dengan jejeran toples-toples berisi bahan-bahan memasak seperti ragi, kayu manis, tepung terigu, tepung beras, dan banyak lainnya. Semua toples berwarna putih polos dengan ukuran yang sama tinggi dan lebarnya. Supaya tidak tertukar, Dona memberi label di atas masing-masing tutupnya.
Begitu semua siap, Dona mulai mengolah semua bahan ini. Tepung terigu, ragi, gula, dan garam ia campurkan untuk jadi adonan kering. Sedangkan mentega, susu, dan kuning telur juga disatukan sebagai adonan basahnya. Sesekali ketika proses mengadon dan mencetak bisa ditinggal, Dona menyambi untuk persiapan yang lain. Misalnya mencari box plastik di lemari dapur, menuang minyak ke wajan, atau mengganti-ganti lagu dari hp-nya untuk menemani memasak.
Waktu terus berjalan, dan tidak terasa, jam di dinding menunjukan pukul empat lebih dua belas menit. 50 pcs donat sudah jadi dan tertata rapi dalam box, lengkap dengan berbagai topping warna-warni yang bikin lapar mata. Selesai menyiapkan semua, Dona bergegas untuk mandi dan berpakaian dulu sebelum jalan keluar mengantar pesanannya ini.
Alamat keluarga Damar tidak jauh dari rumah Dona. Dari begitu alamatnya disebutkan dua hari lalu via telepon, Dona sudah terbayang lokasinya di mana serta rute jalan kakinya bakal seperti apa. Begitu sudah wangi, rapi, dan siap berangkat, Dona masukan box bening ke dalam kantong kresek besar berwarna merah, sebelum kemudian berangkat menuju rumah keluarga Damar yang terletak di sebuah hunian cluster berjarak 13 menit dari rumahnya.
“Permisiii...” Panggil Dona sesampainya di depan pagar rumah sang pembeli. Tanpa menunggu lama seperti siang tadi, dari dalam rumah langsung muncul seseorang perempuan muda dengan rambut bondol yang menghampirinya dengan senyuman lebar serta kunci pagar di jari-jemarinya.
“Dona ya?” Tanya basa-basi sang pembeli sembari membuka pintu pagar.
“Betul. Dengan Bu Damar sendiri, ya?”
“Iya Mbak. Wah ekspres pengirimannya ya, masih jam lima kurang lho ini.”
“Hehe...,” respon singkat Dona yang merasa sukses melayangkan first impression positif. Setelah mengambil dan mengecek sekilas isi kresek merah tersebut, Bu Damar kemudian merogoh kantong celananya untuk mengambil uang.
“Ini uangnya ya Don, makasih banyak,” ucapnya sambil masih tersenyum lebar dan menjalin kontak mata dengan Dona.
“Saya terima uangnya ya Bu... ini sih saya yang makasih. Saya baru pertama ini ada orang khusus mau pesen donat, jadi terima kasih banyak Bu.”
“Oh gitu... selama ini berarti titip-titip aja di warung berarti jualannya ya? Ya sudah kalau gitu, semoga laris manis ya...,” balas ramah Bu Damar sembari mendorong pintu pagar. Namun baru sebentar tangannya bergerak, ia baru sadar soal satu masalah minor. “Ngomong-ngomong ini untuk box-nya, gimana ya?”
“Bawa dulu aja nggak papa Bu. Ibu pakai dulu aja sampai pestanya selesai. Besok pagi saya ambilnya ya?”
“Nggak papa nih?”
“Iya nggak masalah Bu. Nggak saya pakai kok.”
“Oke deh kalau gitu... Besok kamu ambil kemari ya, makasih ya Dona. Hati-hati baliknya. Ini kamu jalan kaki?”
“Siap Bu. Iya jalan saya Bu, biar sehat, hehehe... Titip salam buat suami, sekalian selamat ulang tahun buat anaknya Ibu ya. Mari Bu Damar.”
Pesanan pertama, sukses! Sepanjang jalan pulang, Dona senyum-senyum sendiri mengingat semua interaksinya barusan. Dari respon-respon Bu Damar, dia bisa merasa kalau sang pembeli puas dengan layanannya. Selain itu, dia pun yakin kalau donat-donatnya bakal jadi snack favorit anak-anak di pesta. Rasa bahagia dan bangga dalam dirinya benar-benar tidak bisa digambarkan. Saking girangnya, sebenarnya kalau tidak sedang di tengah umum, dia mau teriak “YES!” sekencang mungkin sambil lompat-lompat. Karena tingkahnya yang menyeringai sendiri di pinggir jalan, rasanya beberapa pengendara mengira dia orang gangguan mental yang lagi keluyuran.
Walau siang tadi mood-nya sempat muram karena berurusan dengan Tante Mutia, sisa harinya terasa jadi sangat melegakan dan membahagiakan. “Mumpung ada duit lebih, bikin perayaan kecil-kecilan kali ya sama Rona,” pikirnya sembari memikirkan lembaran uang di saku celana jeans-nya.
Other Stories
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...