Donatoli: Pergumulan Montir Cantik Penjual Donat

Reads
581
Votes
0
Parts
17
Vote
Report
Donatoli: pergumulan montir cantik penjual donat
Donatoli: Pergumulan Montir Cantik Penjual Donat
Penulis Wicaksono Bagus Dewandaru

Prolog: Kamu Adalah Perempuan Paling Antik

[Senin, 3 Februari 2025 / 11.54 WIB]

“Jadi ini kenapa, Mbak? Eh... Kak? Apa yang diservis berarti ya?”

“Ya itu tadi, Pak. Kan katanya motornya brebet-brebet ya kalau digas. Gitu tuh biasanya kalau nggak injektornya kotor, ya filter udaranya. Tapi sekilas saya cek sih nggak ada masalah sama injektornya, ini yang di samping nih. Jadi kelihatannya yang kotor filternya, harus saya oprek dulu tapi ini buat ngecek. Paknya nggak buru-buru kan?”

Sebenarnya siapa yang tidak harus buru-buru sih di kota metropolitan yang penuh hiruk-pikuk dan tuntutan ini. Kalau bukan karena motor bebeknya ngelawan sewaktu digas dan bikin tidak nyaman berkendara, pria paruh baya ini tidak mungkin menyempatkan jadwalnya narik penumpang untuk ke bengkel terdekat.

Bengkel motor ini tidak berbeda dari kebanyakan bengkel pada umumnya. Setengah bagian depan beralaskan paving dengan lebar yang hanya muat tiga motor berjejer, malah mungkin bisa cuma dua kalau yang parkir Harley Davidson. Lalu setengah bagian belakangnya beralaskan ubin, dan di atasnya terpajang sebuah meja kaca panjang dengan puluhan sparepart motor di dalamnya untuk dijual. Di balik meja itu, pria ini bisa melihat ada seorang nenek-nenek beretnis Tionghoa sedang menulis. Dari awal datang, ia sudah tahu kalau nenek ini jelas pemilik bengkelnya.

Agak aneh ya? Bos bengkelnya perempuan! Tapi, keanehan nggak hanya cuma itu. Karena selain pemilik bengkel, si montir yang sekarang mau servis motornya juga seorang perempuan, tapi muda, cantik, jelita! “Pak? Gimana? Ini kurang lebih 15-30 menitan benerinnya. Bapak keburu nggak ya, apa mau ditinggal dulu terus baru nanti diambil?”

“Kak... Apa dik saya manggilnya ya? Umurnya berapa ya? Kok kerjanya benerin motor sih?”

Terlepas dari niatan sekadar bercanda garing atau memang penasaran, pertanyaan barusan selalu bikin si montir cantik ini tidak nyaman.

Apa salahnya perempuan servis motor? Memang cewek kalau di dunia otomotif harus jadi SPG atau model doang? Respon ini langsung melintas kencang layaknya Ducatti di lintasan MotoGP dalam kepalanya. Tapi karena ini bukan kali pertama, dan malah hampir tiap hari masuk ke telinganya, sang montir pun sudah tahu caranya merespon dengan santun. “Kok jadi ganti nanya saya, Pak? Hehehe... saya tahun ini umur 18. Emang dari kecil hobinya otak-atik motor, jadi ya sudah kerja di bengkel aja biar tiap hari deket sama mesin,” responnya seramah mungkin dengan jawaban template andalannya.

“Waaduhh! Muda banget yak, masih remaja dong. Lagi ranum-ranumnya ini, sayang dong kalau tangannya mulus gitu belepotan oli.” Reaksi ini spontan membuat si montir tersinggung dan makin tidak nyaman. Tidak banyak konsumen yang berani merespon dengan gombalan atau rayuan ofensif seperti ini. Tapi itu, masih setengahnya. “Nggak cari kerja lain aja, jaga toko gitu? Atau kalau nggak mah nikah aja dik biar dirawat, bisa Tiktok-an di rumah nggak capek panas-panas ngadepin asap motor. Saya duda lho,” lanjut si pria berkumis ini sambil mengedipkan matanya dengan jari menjulur maju untuk menowel si montir.

“Hehe... nggak Pak, saya nyaman di bengkel sini. Kalau TikTok-an mah sambil kerja juga bisa kok.” Si montir sekarang menjawab dengan senyuman setengah terpaksa karena emosinya yang makin kepatil. Kalau saja bukan pelanggan, mungkin kumis pria ini sudah dia jambak pakai tang.

“Ah jangan malu-malu gitu lah, saya makin kesemsem lho kalau kamu senyum manis begitu. Namanya siapa dik? Boleh minta nomernya ya?”

Keadaan jadi makin awkward. Si montir jadi tambah tersinggung dan emosi, bahkan mungkin di titik yang kelewat terbendung karena lagi-lagi tangannya coba dicolek. Di ujung kerongkongan, dia bisa merasakan amarahnya mau meledak untuk menyentak pria genit di hadapannya. Tapi sepersekian detik berjalan, ada sentakan lain yang justru muncul dari belakangnya.

“PAAAHHH! ADA ORANG MAU GANTI FILTER ANGIN INI LHO. JANGAN LAMA-LAMA KALAU MAKAN TOH!”

Baik si montir maupun pelanggan sama-sama terkejut. Ya gimana tidak? Nenek yang dari tadi sibuk menghitung stok sparepart dan mencatat tanpa suara tiba-tiba berteriak ke arah pintu kayu di samping kanannya. 

Sedetik kemudian, pintu itu kemudian terbuka. Dari dalamnya, seorang kakek-kakek yang juga beretnis Tionghoa muncul menjawab panggilan barusan. Pria tua ini adalah suami dari si nenek, yang juga sama-sama pemilik bengkel ini. Hanya dengan singlet putih, celana pendek, sandal selop putih lusuh, serta rokok di sela jari-jarinya, tampilannya yang padahal kurus jadi sangat mengintimidasi ala pendekar di film KungFu Hustle.

“Barusan selesai minum lho. Sabar toh. Dona, udah gantian lu makan siang dulu, aku urusinnya ganti filter ini,” kata si kakek.

“Oke, Kong,” jawab montir cantik itu sembari berjalan masuk ke arah pintu meninggalkan si pelanggan yang kini sadar waktunya untuk bergombal ria terpaksa berakhir karena harus berhadapan dengan final boss.

“Filter anginnya mau diganti? Udah dicek belum tadi?”

“Belum Pak. Nggak lama kan ya?” Percakapan normal di bengkel akhirnya terjadi.

Sementara itu, si montir cantik yang bernama Dona itu kini berjalan santai setelah lepas dari jeratan buaya untuk menikmati istirahat 30 menit-nya. Tapi belum sempat tangannya memutar gagang pintu kayu tadi, tiba-tiba ada pelanggan lain yang datang. Dua pelanggan baru yang berboncengan ini memarkir motornya tepat di luar bengkel. Ini tandanya, mereka mau isi angin. Sebenarnya, motor yang datang ini tipe ‘motor laki’, sehingga tentu cocoknya diisi nitrogen di pom bensin. Tapi namanya ban kempes, pokok ada pompa angin terdekat mah dihajar aja, kan?

“Doonn! Sebentar, ini bantu dulu ada orang isi angin,” panggil si kakek yang sudah sibuk mengerjakan motor pelanggan pertama. Dari posisinya menservis, ia bisa tahu kalau pelanggan baru ini adalah sepasang kekasih muda. Tanpa menunggu helm full-face mereka terbuka, ia bisa menyimpulkan demikian karena pasangan ini langsung cekcok sesampainya mereka di depan bengkel. Tentu sebagai orang yang sudah puluhan tahun menikah, perdebatan yang memekakkan telinga ini bukan hal asing baginya.

“Kamu kenapa nggak tadi pagi isi angin sih?! Udah dibilang juga dari tiga hari lalu bannya kempes kok. Mepet kelas ini jadinya kan! Sulit banget kayanya dengerin aku ya?!”

“Ah elah drama bener dah. Isi angin nggak sampai lima menit lho. Nggak usah jadi kemana-mana deh! Jangan bikin badmood siang-siang!”

“Lah kamu yang bikin badmood duluan! Mesti nggak percaya kata-kataku! Eh... lho... Dona?”

Adu mulut yang lumayan bising itu tiba-tiba berhenti dan berubah jadi keheningan yang canggung. Si pelanggan cewek yang dibonceng dan sedang tantrum ke pacarnya itu terkejut ketika melihat si montir cewek yang baru keluar dan berniat menyapa mereka. Dari panggilan di akhir, bisa disimpulkan gadis ini kenal dengan Dona, yang tidak kalaah terkejut dan mendadak membisu setelah melihat wajah orang yang menyapanya tanpa helm.

“Halo Dona. Kamu... kamu kerja di sini?”

Semua orang yang saat itu ada di bengkel hanya menyimak adegan di depan mata mereka. Dari interaksinya, mereka semua sepakat kalau ini adalah reuni antara dua teman lama. Tapi kelihatannya, asumsi mereka salah. Selesai mendengar pertanyaan barusan, Dona bukannya membalas sapaan atau melempar senyum, dia justru berbalik badan secepat kilat dan berjalan masuk kembali ke dalam bengkel sembari menghentakan langkahnya, meninggalkan begitu saja dua pelanggan baru yang menunggu ban mereka dipompa. Dona bahkan tidak bersuara dan merespon sedikitpun, malah jelas terlihat raut wajahnya kesal plus tertekan.

“Don? Dona? Teman-mu, bukan? Donnaaa?” Si kakek yang tengah membongkar jeroan motor jadi bertanya-tanya melihat tingkah laku karyawannya. Sedangkan si nenek yang dari tadi fokus dengan catatannya ikut kebingungan dan mencoba mengajak Dona bicara, apalagi setelah Dona membanting pintu dengan cukup keras.

Pintu kayu itu adalah penghubung antara rumah pribadi kakek-nenek pemilik bengkel dengan tempat usaha mereka. Meskipun karyawan, Dona sendiri memang selalu diperbolehkan untuk bersantai dan makan di ruang tamu mereka di waktu istirahat. Namun bukannya duduk di sofa dan memakan bekalnya seperti biasa, kali ini Dona berjalan cepat ke arah kamar mandi. Dia langsung ngeluyur masuk sehabis memukul saklar lampu cukup keras.

Begitu langkahnya berhenti di depan bak mandi, dia ambil air dengan kedua tangannya, lalu dia lemparkan air itu ke wajahnya. Sebuah guyuran yang diniatkan bukan untuk mencuci muka, namun lebih untuk membasuh perasaannya dari kenangan pahit yang kembali muncul setelah melihat wajah ‘teman’-nya barusan.


Other Stories
Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Kau Bisa Bahagia

Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...

Percobaan

percobaan ...

Download Titik & Koma