Filosofi Donat
Cahaya menyelimuti ruangan begitu saklar ditekan. Nayla bersandar di sofa. Badannya masih terasa pegal karena sepanjang siang mondar-mandir di rumah sakit menemani Ibu merawat Bapak. Ia membalas beberapa pesan pelanggan yang baru masuk. Ada juga pesan dari orang-orang yang senasib dengannya. Mereka terkesan dengan Nayla yang membuang gengsi, bahkan ada yang mulai berjualan karena terinspirasi dengan ceritanya.
Setelah lelahnya reda, ia bergegas mengambil alat tempur, membawanya ke ruang tamu. Aroma manis margarin dan gula mulai meruap, menenangkan pikirannya. Mixer berdengung lembut, mengantarnya ke masa kecil. Dulu ia senang membantu Ibunya, mencomot donat yang baru saja diolesi topping, masih hangat, meruapkan aroma bahagia. Waktu itu ia belum pernah mengenal perbandingan yang membuatnya berkecil hati. Ia suka memamerkan bekal donat buatan Ibu di sekolah, dan teman-temannya berebutan mencicipi. Tapi lama-lama, aroma itu terasa getir, ketika ia mulai mengerti Ibu melakukannya untuk menambah uang makan. Ia tak lagi menyebut-nyebut pekerjaan Ibunya, malah cenderung menyembunyikannya.
Ah, kenapa ia malu dengan hal yang membantunya hidup?
Derit pintu terdengar. Alya menuju kamar, mengganti baju, dan duduk dekat kakaknya, mengulangi gerakan yang sudah mereka hafal, kali ini dengan penerimaan.
Adonan yang tadinya lembek sebelum diputar-putar itu, kini ditarik Nayla yang memastikannya tidak robek. Ia mencubit sebentuk adonan. Menekan-nekan, menghimpitnya di antara kedua tangan. Mencubit lagi, menekan lagi. Meletakkannya di baki, menusuknya dengan cetakan untuk membentuk lubang. Ia akan mendiamkannya, membiarkan ragi bekerja mendorong-dorong adonan dari dalam sampai mengembang, sebelum berdiam di kulkas. Besok pagi adonan itu dicemplungkan ke minyak panas yang akan mengubah bentuk, rasa, dan warnanya. Setelah itu, barulah donat siap dihias. Mirip hidup, pikir Nayla. Setelah melewati berbagai tempaan, manusia akan menemukan versi dirinya yang lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya. Ia merasa, ia sedang berjalan menuju ke sana.
Other Stories
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...
Namaku May
Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Tes
tes ...