Apakah Juara 1 Itu Kutukan?
“Nanti kami hubungi lagi ya,” ujar Ibu HRD, setelah memindai sekilas sheet excel yang dikerjakan Nayla dalam tes.
Begitu keluar, matanya langsung bertemu dengan Annisa, di antara lautan kubikel. Perempuan itu beranjak dari kursi, menghampiri Nayla dengan langkah selincah kelinci. Setengah berlari, kegirangan bertemu teman lamanya.
“Lancar, kan?” Annisa menggamit lengan Nayla, “Semoga tembus interview sama user, ya. Biar kita bisa bareng lagi!”
Nayla hanya tersenyum tipis, “Amiin.”
Ia sempat menoleh ke cermin panjang di dinding, menatap bayangan dirinya. Setelah interviewnya terlalu sederhana: celana hitam dan blus putih. Beda dengan Annisa yang tampak manis dengan blus pink dan celana highwaist warna krem. Nayla jadi makin merindukan hari-hari saat ia melintas di deretan komputer dan wangi kertas, dengan pakaian lucu dan parfum teh kesukaannya.
Annisa menemaninya di lobi sampai ojek pesanannya datang.
“Jadi, donat yang suka lo bawa dulu, itu bikinan lo?”
“Bikinan Ibu sih. Gue cuma bantu-bantu,” Nayla membuka tas ransel, menyodorkan plastik yang isinya segera dicomot temannya.
“Ih, makasih!” Annisa mulai melahap donat bertopping green tea itu, “Jadi, Ibu lo yang jualan awalnya? Lo tega sih, kita sebangku mulu, tapi lo gak pernah cerita. Kalo gitu kan gue bisa pesen! Enak tau, donatnya.”
Nayla meringis. Sulit baginya untuk menceritakan kehidupannya pada orang lain. Mulutnya lebih sering terkatup, seolah jika terbuka sebentar saja, rahasianya meluncur keluar.
Rahasia itu adalah rasa malu. Ia mengenalnya saat kelas 4 SD. Setelah beberapa kali bermain di rumah teman-temannya, ia menyadari bahwa dirinya berbeda. Rumahnya bercat hijau kusam, tanpa pagar. Hanya ada 2 kamar: 1 kamar orangtua, 1 kamarnya bersama adik. Ada ruang tamu penuh barang: lemari plastik, TV, dan sofa yang warnanya kusam dan hampir ambrol. Dapur mereka mirip lorong dengan perabotan warna-warni, dan alat masak tanpa merk. Tidak pernah ada buah di meja makan, dan kulkas mereka tidak pernah penuh.
Rumah teman-temannya lebih besar, dengan pagar, dan yang paling membuat iri: mereka punya kamar sendiri. Ada ruang tamu dengan gorden, sofa dan meja berwarna senada, membuat betah berlama-lama. Lalu ada ruang tengah dengan TV, karpet, dan sofa. Dapur mereka diisi dengan alat masak yang terlihat kokoh, dengan berbagai bumbu berjejer: saus tiram, minyak wijen, kecap asin, kecap inggris, kecap ikan, dan lainnya. Beberapa kali Nayla pernah melihat ayah atau ibu mereka pulang dengan setelan kemeja dan celana yang rapi, turun dari mobil, membawa cemilan seharga 2 hari makan keluarganya.
Tidak ada yang bisa dipamerkan dari dirinya. Wajahnya pun biasa-biasa saja. Maka mati-matian ia mengejar ranking. Ia ingin dipanggil ke panggung setiap pengumuman juara, sesaat menikmati tatapan kagum berpasang-pasang mata. Ia menikmati perhatian guru-guru untuknya, dan momen teman-teman merubung mejanya, minta diajari matematika.
Annisa menatap Nayla lama, matanya menyipit sedikit. “Lo nggak apa-apa, kan?”
Nayla mencoba tersenyum, tapi cuma seujung bibir. Ia menunduk, jemarinya sibuk memilin resleting tas. “Nggak apa-apa.”
Annisa mendengus, menyilangkan tangan di dada. “Gue juga dulu juara 1, lo tahu lah. Dan gue heran banget, kenapa sih orang-orang suka banget ngeremehin juara 1? Kayak, ‘ah juara 1 belum tentu sukses’, atau, ‘temen kalian yang dulu juara 1 sekarang jadi apa?’ Nadanya tuh nyebelin.”
Nayla menghela napas panjang, pundaknya jatuh lelah. “Ya udah lah, Nis. Biarin aja. Mungkin mereka bener. Toh hidup gue sekarang begini.”
Annisa langsung menggeleng keras, poni tipisnya ikut bergoyang. Ia condong ke depan, telunjuknya teracung setengah. “Bukan gitu, Nay. Emang apa salahnya jadi juara 1? Kalau dulu kita ngejar ranking, itu kan karena kita punya tujuan. Kenapa pencapaian orang lain harus diremehin?”
Mata Nayla bergetar, mulutnya terkunci.
Annisa mendesah, lalu tersenyum miring dengan nada setengah bercanda. “Atau jangan-jangan mereka bitter. Orang yang suka ngejek juara 1 tuh mental kepiting. Nggak bisa liat orang lain pernah usaha lebih, jadi ditarik ke bawah biar sama.”
Nayla menunduk lagi, lalu menggumam, “Ah iya, ya. Mungkin…”
Annisa menepuk tangan Nayla, kali ini suaranya lebih lembut. “Juara 1 itu bukan kutukan, Nay. Itu tetap bukti kalau lo bisa. Lagian masalah lo sekarang bukan karena juara 1. Tapi karena lo lagi jatuh aja. Bedain.”
Nayla mengangguk-angguk.
“Itu ojek lo ya?”
“Eh, iya,” Nayla bangkit, “Makasih ya, infonya.”
“Santai,” balas Annisa, “Kalo ada apa-apa, cerita ya. Gue jitak kalo diem-diem aja!”
Nayla tertawa kecil, melangkah pulang.
Other Stories
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...