Sindiran Guru
Setelah menyuapi Bapak makan sore, Ibu mendekati Nayla di ruang tamu. Ia sedang menyiapkan adonan untuk digoreng besok pagi. Ibu menatap anak perempuannya itu, bibirnya rapat tanpa senyum, mencubit-cubit adonan tanpa tenaga. Sesekali matanya melirik ponsel di sebelahnya.
“Nay, Ibu tadi dikasih lihat sama tetangga. Kamu lagi banyak dibicarain orang ya?”
Nayla mendongak. Jadi tetangga udah tahu? Kemudian ia menekuri adonan yang sedang dibentuk di tangannya. Belum bulat sempurna, “I… iya…”
“Ibu tahu kamu pasti sedih. Tapi … orang ngomong apa aja, biarin. Kamu kan, berusaha halal, nggak ngemis ke siapa-siapa. Lagipula viral cuma sementara,” Ibu meletakkan adonan bulat di baki, lanjut menimbang adonan lain sebelum dibentuk, “Kalau kamu mau istirahat jualan dulu, nggak apa-apa.”
Nayla dengan cepat menggeleng. Ia masih bisa pakai masker seperti biasanya. Oh, dia akan pakai topi juga.
“Kalau ada yang datang beli gara-gara viral itu, ya kita syukuri. Kalau nanti sepi lagi, ya kita hadapi bareng-bareng. Kamu nggak sendirian kok.”
Derit pintu terbuka membuat mereka menoleh. Alya, adik Nayla baru saja pulang. Langkahnya tergesa menuju kamar.
Tak lama kemudian terdengar suara Bapak menggeram. Ibu meletakkan adonan di baki, “Al, tolong bantuin Kakakmu dulu, kalau udah nggak capek.”
Sepuluh menit, saat 1 baki sudah penuh, tak ada tanda-tanda Alya keluar kamar.
“Bantuin, dong.” Nayla bersandar di pintu, melihat adiknya masih bersetelan putih-abu, tengah berbaring sambil bermain ponsel.
Alya menoleh dengan bibir mengerucut, “Arghh,” ia terbangun, menggerutu pelan agar suaranya tidak menembus tembok, “Lo kapan sih kerja lagi, Kak?”
“Ini juga masih nyari-nyari,” balas Nayla. Lo ga tahu gue apply berapa loker sehari?! batinnya.
“Gara-gara lo, gue dicengin temen sekelas, tau nggak,” omel Alya.
Nayla menatap ujung kuku yang kotor oleh tepung. “Dicengin apa?”
“Dih, lo masih nanya? ‘Eh, kakak lo juara satu, kok jualan donat?’ Terus pada ketawa. Malu tau!” Alya mendengus, meraih bantal, memeluknya.
Nayla menghela napas, berharap itu bisa melegakan dadanya.
Alya menunduk sebentar, kembali mengomel, “Makanya, beliin gue HP baru lah, Kak! Biar gue bisa buktiin ke mereka, gue nggak semelas itu!”
Nayla terdiam. Di kasur, ponsel Alya tergeletak dengan layar retak serupa jendela pecah. Retak yang memantulkan kembali sindiran guru bertahun-tahun lalu di hadapan teman sekelas, “Yang juara 1 belum tentu sukses. Bisa jadi hidupnya nanti lebih susah!”
Other Stories
Flower From Heaven
Setelah lulus SMA, Sekar Arum tidak melanjutkan kuliah seperti dua saudara kembarnya, Dyah ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...
Autumn's Journey
Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...