Viral

Reads
218
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Fira Meutia

Netizen Maha Tahu Segalanya

Ada video dirinya. Video bergerak menampilkan deretan pedagang jajanan yang dikerubungi pembeli, lalu berhenti dan fokus di mejanya yang sepi. Meja itu diselimuti banner taplak meja motif kotak warna pink-putih, bertulis Donat Aroma Bahagia. Menerima pesanan, WA: 08xxxxxxxx. Nayla tengah berdiri sedikit membungkuk, tampak kurus di balik kaus dan celana panjang biru tua. Mulutnya terkatup dan matanya redup seperti lampu yang hampir kehabisan energi. Rambut lurus sebahunya terjatuh tampak selemas dirinya. Payung besar yang menaungi membuat Nayla tambah terlihat kecil. Tertulis di sana, “Kita sering jajan di brand gede, padahal masih ada pedagang kecil yang butuh kita. Kasihan banget, dari mukanya aja keliatan capek. Mana masih muda lagi. Ramein guys!” dan emoji pinpoint beserta lokasi stasiun. Video itu baru diunggah dua hari lalu, sudah dihujani 10.000 views dan ratusan interaksi.

Hiruk pikuk deru kendaraan, derap langkah dan teriakan tukang parkir memudar saat ia memeriksa kolom komentar. Matanya nanar begitu melihat komentar teratas: “Lah ini mah temen SMA gue! Ga nyangka. Dia juara 1 loh dulu.”

Dadanya terus ditusuk rasa malu seiring jarinya menggulir layar, menyibak komentar-komentar dari orang yang bahkan tidak pernah bertemu dengannya.

“Spill akun mbaknya dong.”

“Itu temen kantor w dulu.”

“Dia dilayoff ya?”

“Padahal dia lulusan akuntansi.”

“Kalau pinter beneran, ga mungkin jualan di pinggir jalan sih.”

“Bukti nyata juara 1 nggak menjamin sukses.”

“Namanya doang Aroma Bahagia, mukanya ditekuk gitu.”

Hanya sedikit komentar yang membelanya.

“Yang penting kerja halal.”

“Bagus, mbaknya nggak gengsi.”

“Ini gara-gara negara ga bisa nyediain lapangan kerja!”

“Aku juga sekarang jualan nasi, abis diPHK. Semangat mbaknya.”

“Gue udah beli donatnya, enak kok.”

Sebaris pesan menyembul di grup alumni. Ada foto dirinya menunduk, tampak dihimpit pembeli, beserta tulisan: serius Nayla jualan doang?

“Ini donat yang di video kan?” Suara pembeli menarik kesadarannya kembali. Nayla merogoh tas selempang, mencari masker yang sialnya akhir-akhir ini tidak ia pakai. Tak ketemu. Mendadak berpasang-pasang mata di hadapannya serasa menembus tulang-tulangnya, menyisir setiap gerak dan raut wajahnya.

***

Nayla menjatuhkan dirinya di kursi besi minimarket. Setelah menyesap seteguk kopi botolnya, ia lantas memeriksa ponselnya.

Wajahnya terpantul di layar hitam, tumpang tindih dengan logo not musik yang muncul sesaat. Ada rasa penasaran bercampur cemas, seperti menunggu halaman pengumuman ujian CPNS terbuka sepenuhnya–ia pernah gagal 2 kali. Ia mengetik kata kunci, mencari tahu video-video terkait dirinya. Di sana wajah-wajah asing berbicara lantang seakan tahu segalanya.

“Dari juara 1 jadi jualan di pinggir jalan?! Hidup itu emang banyak plot twistnya. Ini 10 soft skill yang harus kamu punya selain akademis…”

“Gelar akademis nggak jamin finansial. Yuk belajar cara investasi biar nggak keteteran kayak mbak ini…”

“Juara 1 pun bisa gagal kalau skill-nya nggak nyambung. Upgrade diri kamu, yuk ikut bootcamp…”

“Kalau cuma jualan donat tanpa diferensiasi, ujung-ujungnya jadi usaha kaki lima biasa. Nah, gini caranya bikin branding yang kuat…”

Suara itu berkejaran, terputus-putus sebab Nayla terus menggulir tanpa pernah melihat satu pun video sampai akhir. Ia terus menggulir, walau setiap gerak ibu jarinya hanya menimbun rasa malu.

Ia kembali membuka video yang menyebabkan semua kehebohan ini. Sudah bertambah 7.000 views. Bahkan ada beberapa akun lain yang mengunggah ulang video itu, dengan kata-kata menyakitkan. Membuat ia merasa layaknya aset yang mengalami depresiasi: nilai dirinya terjun bebas, jauh lebih cepat.

Ia mengetik pesan untuk si pengunggah, halo Kak Sasa. Aku Nayla, orang di video itu. Sebelumnya makasih simpatinya. Tapi tolong videonya dihapus Kak. Ngerekam orang lain tanpa izin itu melanggar privasi loh.

Pesan itu menggantung di layar, menunggu jawaban. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai, berlomba dengan derit pintu minimarket dan rentetan deru kendaraan di jalanan. Jalan itu kontras dengan rumah yang sebentar lagi harus ia hadapi: rumah kecil di gang sempit, bau minyak kayu putih, dan Bapak yang menunggu dipapah ke kamar mandi.

Nayla kembali menyesap kopinya, seteguk demi seteguk, seolah menunda hukuman yang sudah pasti menunggunya di balik pintu rumah. Hanya ini waktunya menyendiri tanpa ikut menanggung lelah Ibu mengganti pampers, menyiapkan makanan, menyuapi, memapah Bapak, menahan frustasi setiap kali Bapak mengomel untuk hal kecil. Lagipula ini masih jam 10 siang, 2 jam lebih awal dari waktu biasanya ia pulang.


Other Stories
Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Haura

Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

O

o ...

Download Titik & Koma