BAB 1. ANAK LOTEK
Siang, panas.
Cukup lama Sum berdiri di sana, dinaungi daun-daun lebar pohon pisang. Matanya yang bulat dan besar menatap nyalang belokan jalan. Gegas dia beranjak, melihat kemunculan bocah perempuan berseragam merah putih.
Terhalang perawakan tinggi besar, si bocah mendongak. Sejenak diamatinya wajah kusam penuh flek hitam milik Bude Sum. Kulit gelap berkeringat mengkilap tertimpa terik matahari. Jilbab instan hijau pupus terpasang asal-asalan, seperti dipakai terburu. Banyak anak rambut yang dibiarkan mencuat keluar. Daster jumbo lengan panjang, warna merah cabai, motif bunga kangkung. Winarti hapal betul daster yang selalu dipakai tetangganya itu tiap keluar rumah.
Tanpa persetujuan, Bude Sum menyeret lengannya. Langkah yang lebar membuat Winarti sedikit kewalahan. Tak berani protes soalnya Bude jutek.
Budek Sum memang suka begitu. Tak bilang mau ke mana, langsung main seret kayak penculik. Tapi, dalam hati Winarti senang. Kalau begini biasanya Budek membawanya ke acara makan-makan di salah satu rumah tetangga, entah syukuran kelahiran, nikahan, tahlilan atau apalah.
Hitungan menit, mereka sudah tiba ke tujuan. Kali ini rumah milik pak RT. Leher bocah perempuan itu memanjang, mengawasi meja yang masih kosong di dalam sana. Menelan ludah Winarti membayangkan segelas teh manis meluncur keluar dari pintu, lalu hinggap ke tangannya, disusul sepiring nasi urap lengkap dengan telur rebus. Menu yang paling sering disediakan setiap ada warga hajatan. Namun, sampai para tetangga berdatangan memenuhi ruang tamu, harapan Winarti tidak terpenuhi.
Pintu rumah terbuka lebar. Orang-orang duduk lesehan di lantai. Winarti terpekur memeluk lutut, sembari memerhatikanĀ anak balita pak RT yang sedang main boneka. Langit di luar mulai redup. Perut Winarti sudah keroncongan tetapi semua orang termasuk Bude Sum hanya sibuk bercakap. Entah apa yang mereka bicarakan, Winarti tak paham. Hanya saja namanya sering disebut-sebut.
"Apa ada yang tahu bapak sama ibu Winarti sekarang tinggal di mana?" tanya Pak RT.
Lelaki berperut buncit itu mengedarkan pandangan pada semua yang hadir. Tampaknya tidak ada yang tahu pasti keberadaan orang tua Winarti. Masing-masing enggan angkat suara. Saling melempar mata satu sama lain. Sebenarnya malas terlibat urusan beginian. Mereka datang atas desakan salah satu ras terkuat di bumi yaitu Bude Sum.
Mereka sadar tak punya kemampuan membantu kehidupan Winarti yang malang. Rata-rata hanya buruh tani harian. Buat makan saja pas-pasan, boro-boro memikirkan nasib orang.
Rapat siang ini pun atas usul Bude Sum. Agenda utama membahas tentang nasib bocah perempuan tetangga mereka. Sebelumnya Winarti tinggal berdua dengan Mbah Darso, sang kakek. Terhitung satu bulan sudah Mbah Darso meninggal mendadak saat bekerja di ladang.
Masalah saat ini adalah kedua orang tua Winarti entah ada di mana, setelah mereka bercerai dua tahun yang lalu.
Bukan apa-apa, sebagai tetangga paling dekat Bude Sum tak tega membiarkan anak sekecil itu sebatang kara. Dia sendiri janda beranak lima yang sering kekurangan tak bisa berbuat banyak.
"Kalaupun bapak ibunya masih ada, aku gak setuju kalau anak ini tinggal dengan mereka lagi ," lugas Budek Sum, diamini oleh beberapa warga.
"Terus dia musti tinggal di mana? Dari semua yang hadir apa ada yang bisa menampung Winarti?"
Pertanyaan Pak RT kontan membuat ruang menjadi hening. Saling tatap, saling toleh.
"Kenapa gak di rumah Pak RT aja?" celetuk salah seorang.
"Kamu pikir jadi RT otomatis banyak duit kayak anggota dewan? Situ ajalah jadi RT!" Buk RT berkecimus kesal.
"Antar ke panti!"saran perempuan tua yang duduk di pojok.
"Ngawur!" Sekarang Budek Sum yang berang.
"Emang bapak sama ibunya kenapa toh?" tanya satu-satunya orang yang sedari tadi bingung, tak tahu tentang cerita di balik sikap warga desa yang terkesan antipati pada kedua orang tua Winarti.
"Pssst!" Bude Sum meletakkan jari telunjuk di depan mulut, dengan tatapan penuh arti.
Semua mata kemudian tertuju ke anak perempuan berwajah kuyu, yang duduk di depan pintu. Winarti hanya bisa mengeluh dalam hati. Jari-jari berkuku kehitaman meremas gelisah tali tas sekolah. Puluhan pasang mata seakan sedang menguliti dirinya hidup-hidup. Ini bukan kali pertama Winarti menerima nyinyiran tentang kedua orang tuanya. Dika-- anak lelaki Bude Sum yang pengangguran itu bahkan paling keras mengolok Winarti.
"Ngapain sekolah, anak lonte?" ledek Dika, melihat Winarti berangkat sekolah.
"Apa? Lotek?" tanya Winarti dengan raut polos. Mengucapkan istilah lonte pun jadi lotek membuat tawa Dika semakin keras.
Gara-gara Dika pula teman satu sekolah tahu kalau dirinya anak lotek. Kerap kali dia dijadikan bahan ejekan. Ingat itu Winarti menghela napas gusar. Seperti apa pekerjaan ibunya hingga orang lain begitu merendahkan?
Orang-orang masih sibuk beradu kata, tidak ada yang menyadari jika Winarti sudah beranjak pergi dari situ. Gadis kecil itu tampak melangkah tergesa menapaki jalan kecil menuju kebun. Sesekali tangannya menyeka mata yang basah. Perut Winarti lapar. Semoga ada sesuatu yang dia dapat di kebun si Mbah. Sebongkah singkong, mungkin?
****
Pemuda berkulit gelap mengendap-endap di pekarangan belakang rumah mungil dengan dinding bata merah. Lepas Maghrib keadaan sudah sepi. Sejenak dia celingukan mengawasi situasi. Bibir lalu tersenyum lebar. Aman, tidak akan ada yang mengetahui rencananya sebentar lagi.
Dia berhasil masuk setelah mencongkel pintu belakang dengan sebilah linggis, lalu mengendap-endap lagi. Sesuai rencana, dalam kamar matanya menemukan Winarti sedang berbaring. Gadis kecil itu tengah membaca buku yang dipinjamnya di perpustakaan sekolah. Kebiasaan yang Winarti lakukan untuk mengisi waktu sebelum kantuk datang.
Terkesiap Winarti ketika merasakan mulutnya tiba-tiba dibekap kuat sepasang tangan kekar. Tambah membeliak matanya setelah mengetahui siapa orang yang melakukan. Saking ketakutan, tubuhnya mendadak dingin gemetar. Firasatnya mengatakan jika orang itu akan berbuat jahat. Boro-boro berontak, berteriak minta tolong saja tidak bisa. Tenggorokan Winarti mendadak beku.
"Heh, anak lonte, kubunuh kalau berani teriak!" ancamnya, seraya mencengkeram leher kurus Winarti.
Cukup lama Sum berdiri di sana, dinaungi daun-daun lebar pohon pisang. Matanya yang bulat dan besar menatap nyalang belokan jalan. Gegas dia beranjak, melihat kemunculan bocah perempuan berseragam merah putih.
Terhalang perawakan tinggi besar, si bocah mendongak. Sejenak diamatinya wajah kusam penuh flek hitam milik Bude Sum. Kulit gelap berkeringat mengkilap tertimpa terik matahari. Jilbab instan hijau pupus terpasang asal-asalan, seperti dipakai terburu. Banyak anak rambut yang dibiarkan mencuat keluar. Daster jumbo lengan panjang, warna merah cabai, motif bunga kangkung. Winarti hapal betul daster yang selalu dipakai tetangganya itu tiap keluar rumah.
Tanpa persetujuan, Bude Sum menyeret lengannya. Langkah yang lebar membuat Winarti sedikit kewalahan. Tak berani protes soalnya Bude jutek.
Budek Sum memang suka begitu. Tak bilang mau ke mana, langsung main seret kayak penculik. Tapi, dalam hati Winarti senang. Kalau begini biasanya Budek membawanya ke acara makan-makan di salah satu rumah tetangga, entah syukuran kelahiran, nikahan, tahlilan atau apalah.
Hitungan menit, mereka sudah tiba ke tujuan. Kali ini rumah milik pak RT. Leher bocah perempuan itu memanjang, mengawasi meja yang masih kosong di dalam sana. Menelan ludah Winarti membayangkan segelas teh manis meluncur keluar dari pintu, lalu hinggap ke tangannya, disusul sepiring nasi urap lengkap dengan telur rebus. Menu yang paling sering disediakan setiap ada warga hajatan. Namun, sampai para tetangga berdatangan memenuhi ruang tamu, harapan Winarti tidak terpenuhi.
Pintu rumah terbuka lebar. Orang-orang duduk lesehan di lantai. Winarti terpekur memeluk lutut, sembari memerhatikanĀ anak balita pak RT yang sedang main boneka. Langit di luar mulai redup. Perut Winarti sudah keroncongan tetapi semua orang termasuk Bude Sum hanya sibuk bercakap. Entah apa yang mereka bicarakan, Winarti tak paham. Hanya saja namanya sering disebut-sebut.
"Apa ada yang tahu bapak sama ibu Winarti sekarang tinggal di mana?" tanya Pak RT.
Lelaki berperut buncit itu mengedarkan pandangan pada semua yang hadir. Tampaknya tidak ada yang tahu pasti keberadaan orang tua Winarti. Masing-masing enggan angkat suara. Saling melempar mata satu sama lain. Sebenarnya malas terlibat urusan beginian. Mereka datang atas desakan salah satu ras terkuat di bumi yaitu Bude Sum.
Mereka sadar tak punya kemampuan membantu kehidupan Winarti yang malang. Rata-rata hanya buruh tani harian. Buat makan saja pas-pasan, boro-boro memikirkan nasib orang.
Rapat siang ini pun atas usul Bude Sum. Agenda utama membahas tentang nasib bocah perempuan tetangga mereka. Sebelumnya Winarti tinggal berdua dengan Mbah Darso, sang kakek. Terhitung satu bulan sudah Mbah Darso meninggal mendadak saat bekerja di ladang.
Masalah saat ini adalah kedua orang tua Winarti entah ada di mana, setelah mereka bercerai dua tahun yang lalu.
Bukan apa-apa, sebagai tetangga paling dekat Bude Sum tak tega membiarkan anak sekecil itu sebatang kara. Dia sendiri janda beranak lima yang sering kekurangan tak bisa berbuat banyak.
"Kalaupun bapak ibunya masih ada, aku gak setuju kalau anak ini tinggal dengan mereka lagi ," lugas Budek Sum, diamini oleh beberapa warga.
"Terus dia musti tinggal di mana? Dari semua yang hadir apa ada yang bisa menampung Winarti?"
Pertanyaan Pak RT kontan membuat ruang menjadi hening. Saling tatap, saling toleh.
"Kenapa gak di rumah Pak RT aja?" celetuk salah seorang.
"Kamu pikir jadi RT otomatis banyak duit kayak anggota dewan? Situ ajalah jadi RT!" Buk RT berkecimus kesal.
"Antar ke panti!"saran perempuan tua yang duduk di pojok.
"Ngawur!" Sekarang Budek Sum yang berang.
"Emang bapak sama ibunya kenapa toh?" tanya satu-satunya orang yang sedari tadi bingung, tak tahu tentang cerita di balik sikap warga desa yang terkesan antipati pada kedua orang tua Winarti.
"Pssst!" Bude Sum meletakkan jari telunjuk di depan mulut, dengan tatapan penuh arti.
Semua mata kemudian tertuju ke anak perempuan berwajah kuyu, yang duduk di depan pintu. Winarti hanya bisa mengeluh dalam hati. Jari-jari berkuku kehitaman meremas gelisah tali tas sekolah. Puluhan pasang mata seakan sedang menguliti dirinya hidup-hidup. Ini bukan kali pertama Winarti menerima nyinyiran tentang kedua orang tuanya. Dika-- anak lelaki Bude Sum yang pengangguran itu bahkan paling keras mengolok Winarti.
"Ngapain sekolah, anak lonte?" ledek Dika, melihat Winarti berangkat sekolah.
"Apa? Lotek?" tanya Winarti dengan raut polos. Mengucapkan istilah lonte pun jadi lotek membuat tawa Dika semakin keras.
Gara-gara Dika pula teman satu sekolah tahu kalau dirinya anak lotek. Kerap kali dia dijadikan bahan ejekan. Ingat itu Winarti menghela napas gusar. Seperti apa pekerjaan ibunya hingga orang lain begitu merendahkan?
Orang-orang masih sibuk beradu kata, tidak ada yang menyadari jika Winarti sudah beranjak pergi dari situ. Gadis kecil itu tampak melangkah tergesa menapaki jalan kecil menuju kebun. Sesekali tangannya menyeka mata yang basah. Perut Winarti lapar. Semoga ada sesuatu yang dia dapat di kebun si Mbah. Sebongkah singkong, mungkin?
****
Pemuda berkulit gelap mengendap-endap di pekarangan belakang rumah mungil dengan dinding bata merah. Lepas Maghrib keadaan sudah sepi. Sejenak dia celingukan mengawasi situasi. Bibir lalu tersenyum lebar. Aman, tidak akan ada yang mengetahui rencananya sebentar lagi.
Dia berhasil masuk setelah mencongkel pintu belakang dengan sebilah linggis, lalu mengendap-endap lagi. Sesuai rencana, dalam kamar matanya menemukan Winarti sedang berbaring. Gadis kecil itu tengah membaca buku yang dipinjamnya di perpustakaan sekolah. Kebiasaan yang Winarti lakukan untuk mengisi waktu sebelum kantuk datang.
Terkesiap Winarti ketika merasakan mulutnya tiba-tiba dibekap kuat sepasang tangan kekar. Tambah membeliak matanya setelah mengetahui siapa orang yang melakukan. Saking ketakutan, tubuhnya mendadak dingin gemetar. Firasatnya mengatakan jika orang itu akan berbuat jahat. Boro-boro berontak, berteriak minta tolong saja tidak bisa. Tenggorokan Winarti mendadak beku.
"Heh, anak lonte, kubunuh kalau berani teriak!" ancamnya, seraya mencengkeram leher kurus Winarti.
Other Stories
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...