BAB 52. EPILOG
Padang Keramunting yang luas dan sepi. Hanya terdengar gemerasak daun serta derit ranting-rantingnya yang diterpa embusan angin. Seseorang tampak diam tak bergerak dalam rimbun tumbuhan perdu itu. Berkamuflase bagaikan Bunglon. Hela napasnya tenang dan teratur, mempersiapkan sebuah serangan tak terduga. Menunggu dengan sabar sasaran yang sebentar lagi akan lewat.
Sebelah matanya kini telah memicing. Membidik sasaran di kejauhan yang bergerak semakin mendekat ke arahnya. Sambil menahan napas, satu tangan itu meregang kencang pemicu ketapel. Detik demi detik yang sangat mendebarkan. Kini adalah saat yang tepat.
Cetakk!
Biji ketapel melesat dengan tepat.
"Aaarrgh!" Terdengar jeritan besar seorang laki-laki. Biji ketapel berupa batu kerikil itu, seketika membuat dahinya kemerahan.
"Ic-Icaaa!" Lelaki itu meneriakkan sebuah nama, mata menatap liar ke sekeliling. Dia bisa menebak siapa orang yang melakukannya. Ini bukan yang pertama kali.
"Hah, ketahuan!" gumam si pemilik biji ketapel, dengan mata melebar, mulut membulat panik.
Tali ketapel gegas dikalungkan pada leher, lalu tubuh langsingnya tiarap, merayap di antara batang-batang keramunting. Bermaksud untuk menghindar pergi.
"Ic- Icaaa!" Lelaki itu terus meneriakan namanya.
"Pa-pasti k-kau kan itu?!" ujarnya lagi dengan suara tergagap.
Gadis bernama Ica semakin panik. Dia dapat mendengar bunyi jejak kaki yang berlari cepat ke tempat dia sedang merayap. Juga bunyi gemerasak semak keramunting yang disibak-sibak. Sepertinya tidak mungkin lagi merayap. Dia bakal ditemukan kalau tidak bertindak cepat.
"Harus lari kayaknya!" Raut polos Ica menegang. Namun, sempat-sempatnya tangannya merenggut tergesa beberapa buah keramunting di dekat wajah. Memasukkan ke mulut, lalu mengunyahnya.
"Umm .... " Gadis itu mengemut rasa manis dan segar dalam mulutnya, sambil celingak-celinguk takut tertangkap.
Krossakk!
Tiba-tiba dia melompat keluar dari persembunyian, lalu berlari kencang bak burung Kaswari.
"Ic-Icaaa!" Orang yang menjadi korban biji ketapel kini sudah melihatnya.
"Ic-Ica, ke-kemari kau! Ja-jangan lari kau! Awas kau!"
Gadis yang dipanggilnya Ica dikejar. Keduanya tampak berlarian di atas bukit yang ditumbuhi semak tinggi keramunting. Burung-burung kecil tampak beterbangan, di bawah warna langit yang bersemu jingga kemerahan.
Ica terus berlari menerabas apa pun yang menghalangi. Tubuh langsing itu melompat lincah layaknya kelinci. Melewati hutan karet, kali kecil, padang ilalang, lalu tiba ke sebuah jalan setapak, dengan lelaki besar yang tak berhenti mengejar di belakangnya.
"Aaahahahaha ... aaahahaha ...!" Kini Ica malah tertawa-tawa lepas, di antara napasnya yang tersengal. Menikmati keseruan yang sedang dia lewati.
"Tambiii ... Tambiii ...." Ica memasuki halaman luas sebuah rumah panggung, sambil memanggil-manggil seseorang.
"Sampai kapan kau terus mengganggu Mamang-mu?" celetuk perempuan tua, yang sedang duduk bersila, menikmati sejuk angin pegunungan.
Ica gegas sembunyi ke balik punggung kecil Tambi Balau.
"Habisnya, Mamang Adaw tak pernah mau bawa Ica pergi berburu ke hutan." Ica mendengkus pada lelaki besar, yang sedang melangkahkan kaki memasuki halaman.
"Kalau kau ganggu terus, gagap Mamangmu tak bakal sembuh-sembuh. Kau tak kasihan padanya?" Tambi memasukkan gumpalan tembakau ke mulut, menggosokan pada gusi serta giginya yang berwarna kehitaman.
"Huh, biarin! Biarin Mamang gagap terus selama-lamanya! Habisnya Mamang pelit," sahut Ica mendelik-delik.
"Ka-kasih tahu di-dia, Mak!" ucap Adaw terengah-engah. Menunjuk wajah gadis di belakang Tambi.
"Sekali-sekali kau bawa saja Ica beburu, Daw! Kalau betemu suku liar di hutan, lalu ada yang mau meambil bini. Kasihkan saja!" goda Tambi.
"Tambi, Ica mau belajar beburu menjangan. Ica tak mau kawin," protes Ica cemberut.
"Hehehe .. hehehe ..." Tambi terkekeh, menoleh pada Adaw yang ikut terkekeh-kekeh.
Ica menatap kesal pada keduanya. "Tambi sama Mamang nakal!"
Gadis itu lalu merajuk seraya menggigiti ujung ketapel yang sengaja dibuatkan Adaw untuknya.
Ica dan Dara adalah orang yang sama. Tambi Balau sengaja mengganti namanya, juga menghapus semua ingatan masa lalu, yang hanya akan membuat gadis itu terpuruk. Begitu pula dengan ingatan bahwa dia pernah bersekutu dengan iblis.
Lihatlah kini penampilan gadis itu. Dara begitu terobsesi jadi pemburu handal seperti Adaw. Ikut-ikutan berpakaian layaknya pemburu, lengkap dengan ikat kepala berhias bulu burung, kalung jimat serta gelang manik-manik. Namun, hingga sekarang Adaw hanya memperbolehkannya memiliki senjata ketapel.
Dara layaknya terlahir kembali menjadi gadis ceria bernama Ica. Cucu kesayangan Tambi Balau. Keponakan nakal Adaw.
Memang luka hati sulit disembuhkan. Jika tak mungkin memaafkan tak perlu memupuk dendam. Dendam hanya akan membuatmu kehilangan kebahagiaan.
T A M A T
Other Stories
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
The Unkindled Of The Broken Soil
Tak semua yang berjalan memiliki tujuan. Tak semua yang diam itu hampa. Dan tak semua ki ...
Kau Bisa Bahagia
Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...