Susur

Reads
515
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 51. AKHIR PETUALANGAN



Ali menghela napas, Ipan pun tercenung. Sebenarnya mereka berdua tahu apa yang sudah terjadi. Dari balik steling kedai kopi, Ali bisa melihat dan mendengar semuanya. Ipan sempat berniat mendatangi Marzuki, tetapi Ali tak setuju. Akankah lebih baik membiarkan Mamat menenangkan hatinya dahulu. Mungkin bocah itu merasa belum siap bertemu sang ayah.

"Yakin kau mau pulang sekarang, Mat?" tanya Ali, saling melirik ke Ipan.

"Hum." Bocah kelimis mengangguk pasti. "Mamat kangen Ninik," ulangnya lagi.

Ipan merogoh kantong celananya. "Duit masih banyak, nih. Macam mana kalau kita mabok-mabokan dulu?" Dikibas-kibas uang hasil nguli di dermaga.

"Argh!" Kepala Ipan sontak mendongak, meringis menahan sakit, rambutnya dijambak Ali.

"Mabok, mabok! Nanti saja maboknya di warung es punya mamakmu! Biar dipotong lehermu sekalian sama mamakmu. Kita semua belum pada makan. Malah mikirin mabok," hardik Ali, menyentak rambut ikal itu sebelum melepaskannya.

"Tarung babanam! Bisakah kau tak main jambak lagi, hah?!" tanya si empunya rambut ngegas, bibir mewek.

"Bisa, kalau gondrongmu itu digunduli."

"Mana bisa?! Kata mamak, aku bakal sakit kalau kepalaku digundul."

"Resiko kalau macam tu."

"Resiko apanya?!"

"Rambutmu bakal kujambaki terus." Mulut Ali maju.

"Bungul! Kelahikah kita?!" Ipan kian ngegas.

"Hayuk! Siapa takut?"

"Sementang kau pintar kelahi. Jangan kau pikir aku takut melawanmu! Hiyaaah!" Ipan melebarkan kedua kakinya. Tangan menyilang ke depan dada. Siap tempur.

Leher Ali kemudian menoleh-noleh, menyadari kalau bocah kelimis tidak ada lagi di dekat mereka, yang sedari tadi sibuk beradu mulut. "Heh, mana si Mamat? Dia tak ada."

Keduanya celingukan, batal berduel, sebelum kemudian menemukan bocah itu sedang berjalan tergesa keluar dari area taman. Lagi-lagi mereka harus mengejarnya.

"Mat, mau ke mana kau?!" Ali berhasil menyusul langkah cepat si bocah bermata sipit.

"Ulun mau pulang. Kasihan Ninik sendirian," sahut Mamat, seraya tetap melanjutkan langkah. Tujuannya saat ini hanya satu, bertemu Ninik Rahma. Membayangkan raut cemas perempuan tua itu sedang menunggu.

"Tunggu dulu, Mat! Kita pulang sama-sama. Jangan main tinggal begitu, ah! Kau tak kasihan sama si Ipan? Dia bakal digantung sama mamaknya kalau pulang tak bareng sama kau," papar Ali.

"Iya kah?" Mulut Mamat membulat, menghentikan laju kaki. Dia merasa sudah terlalu banyak merepotkan Ali dan Ipan. Tak mau menjadi beban mereka lagi.

Cetak!

Satu jitakan mendarat ke pucuk kepala, membuat Mamat meringis. Siapa lagi kalau bukan Ipan pelakunya?

"Dasar kekanak habang! Memangnya kau tahu arah jalan pulang?! Kau tu bakal bikin kita berdua tambah repot, tauk?!" bentak Ipan kesal.

"Ampun, Kakak." Mamat menunduk dalam, tak berani menatap mata Ipan.

"Pergi bertiga, pulang pun harus bertiga. Mengerti kau?!" tambah Ipan lagi.

"Inggih mengerti, Kakak."

"Pulang naik apa kita, Pan? Naik kapal lagi, apa naik bis saja?" tawar Ali, mengalihkan pembicaraan mereka.

"Naik bis. Kapok aku lihat sungai. Siapa tahu zombi-zombi itu muncul lagi di sana. Mati kita."

"Jalan ke terminal dulu kalau gitu, sekalian cari makan siang. Dekat terminal makanan lebih murah. Masih sekilo dari sini, lumayan jauh," saran Ali.

"Kau masih kuat jalan kaki, Mat?" Ali menoleh ke Mamat.

"Kuat."

"Ah, yang benar kau? Kau kan belum makan." Ali menatap Ipan penuh arti.

"Apa? Kenapa kau melihatku begitu?" Dagu Ipan naik.

"Si Mamat belum makan, kau gendong saja dia, Pan!" Si jiwa pemimpin mulai mengatur.

"Aluh Bohay! Kenapa bukan kau saja yang menggendong si Kelimis?" protes Ipan dengan kening bertarung.

"Kau kebanyakan makan gorengan di kedai kopi. Biar perut buncitmu yang macam hamil lima bulan tu cepat susut!" ledek Ali, menepuk perut penuh Ipan.

Si rambul ikal berdecak kesal. Tapi, kemudian membungkukkan badan di depan Mamat, menepuk punggungnya. "Naiklah kau cepat!"

Mamat menatap ragu. Ipan pernah menggendongnya sewaktu mereka kabur dari tempat judi ayam. Tapi, karena gelap serta ketakutan, sama sekali tidak menyenangkan. Sudah sejak lama Mamat ingin tahu seperti apa rasanya jalan-jalan sambil duduk di punggung orang dewasa setinggi Ipan. Seperti Apis yang sering digendong abahnya setiap ikut ke ladang.

"Hayuk naik, Mat! Jangan kuatir! Ipan sudah jinak! Nih, lihat!" Ali menyentil dahi kawannya yang langsung mendelik jengkel.

"Biar kurus, si Ipan ini tulang besi, sekuat Power Ranger."

"Sok tahu! Tulang besi tu Gatot Kaca." protes Ipan.

Tersenyum simpul Ali melihat Mamat akhirnya mau menaiki punggung Ipan. Raut sendunya seketika berubah ceria. Pantas saja si Apis suka digendong abahnya, ternyata memang menyenangkan duduk di punggung orang dewasa setinggi Ipan. Rasanya seperti sedang terbang, Mamat membatin. Bibir mungil itu terus tersenyum. Kadang kedua lengannya direntangkan seolah sepasang sayap. Kebahagiaan sederhana seorang bocah kecil.

"Sejak kapan kau juga suka sama si Asmah, hah?" tanya Ipan sambil melangkah, muka merengut.

"Bicara apa kau?" Ali pura-pura tidak paham. Tubuhnya melompat tinggi, menjangkau ranting pohon yang mereka lewati.

"Tak usah pakai ngeles! Waktu kita dikejar zombi di sungai. Kau bilang mau mengawininya kalau aku mati malam tu. Pasti kau diam-diam suka padanya. Iya, kan?"

Ali mengendikkan bahu. "Terserah kau lah mau bicara apa," sahutnya santai, sambil terus mengayun langkah. Netra menikmati pemandangan sepanjang jalan. Lalu lintas di samping mereka tidak seberapa ramai.

"Awas saja kalau kau coba-coba dekati Asmah! Kita harus kelahi sampai K'O." Ipan mendengkus.

"Siap Komandan!" Ali terkekeh-kekeh mendengar omelan kawannya.

Meski kelakuannya rada aneh dan menyebalkan, Ipan adalah sahabat terbaik bagi Ali. Kegilaan yang sering dibuat pemuda berambut ikal itu malah sangat menghibur. Ali bisa sejenak melupakan masalah-masalah yang dihadapinya.

Di depan sana cahaya matahari menyilaukan mata. Dua pemuda terus melangkah lebar menapaki trotoar berpaving. Meninggalkan bayangan memanjang di belakang tubuh jangkung mereka. Sepanjang jalan, masing-masing terus bicara saling menimpali. Kadang terdengar umpatan-umpatan konyol, kadang terdengar gelak tawa. Mengakhiri petualangan menyusur keberadaan abah dari teman kecil mereka.





Other Stories
Petualangan Di Negri Awan

seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Jika Nanti

Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Download Titik & Koma