Susur

Reads
528
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 50. BERTEMU




"Um ... anu, Cil. Ca- cari Marzuki, Cil," sahut Mamat, gugup. Kedua tangan saling meremas gelisah.

"Marzuki? Marzuki nama temanmu kah?" tanyanya tersenyum, merasa ada yang lucu.

Mamat menggeleng pelan.

"Di rumah ini tidak ada anak seumuran kamu. Ada yang namanya Marzuki, tapi itu nama suami Acil," ujarnya lagi, seraya terkekeh geli.

Mamat sontak mengangkat wajah, menatap nanar pada perempuan berhijab kuning serta balita lucu dalam gendongannya. Abah Mamat ternyata sudah memiliki keluarga baru.

"Itu, anak Acil kah?" tanya Mamat menunjuk balita laki-laki berkulit putih bersih. Hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri.

"Iya. Kenapa?"

"Lucu." Mamat tersenyum canggung.

"Namanya Ferdi. Namamu siapa?" Perempuan berhijab kuning balik bertanya.

Belum sempat Mamat menjawab, bunyi nyaring mesin motor memotong pembicaraan mereka.

Brumm ... brumm ....

Sebuah motor bebek hitam memasuki halaman rumah, lalu berhenti. Seorang lelaki gemuk mengenakan jaket bomber biru Dongker turun seraya melepas helm berkaca gelap di kepalanya. Mamat menelan ludah. Wajah itu sangat mirip dengan foto yang pernah Dara perlihatkan. Hanya saja tubuh Marzuki kini terlihat lebih gemuk.

"Eh, Abah sudah pulang." Si isteri segera menyambut.

Kedua tangan Marzuki mengambil alih balita dari gendongan perempuan itu. Dicium pipi yang montok penuh kasih sayang, sembari bercakap dengan isterinya. Sesekali keduanya tertawa berderai mendengar ocehan tak jelas dari mulut si anak.

"Siapa, Mak?" Marzuki melirik sekilas kepada Mamat. Baru menyadari kehadiran seorang bocah lelaki di dekat mereka.


Mamat menunduk. Tanpa mengucap sepatah kata, kedua kaki kecilnya melangkah, berlalu menjauhi halaman rumah itu. Dadanya mulai terasa sesak.

"Tak tahu, katanya tadi mencari Marzuki. Kawannya mungkin. Nama kawannya mirip sama nama Abah, hehehe ...." Telinga Mamat masih bisa menangkap jawaban isteri Marzuki.

Perempuan itu kemudian masuk lebih dahulu ke dalam rumah, sedangkan Marzuki masih berdiri terpaku di luar, kening mengernyit lalu memalingkan tubuhnya. Cukup lama dia menatap punggung kecil Mamat yang berjalan semakin menjauh.

Merasakan mata yang mulai menghangat, bocah lelaki itu memacu tungkainya terburu. Semakin lama semakin cepat. Mamat tak ingin siapa pun melihat bulir-bulir bening yang sesaat lagi akan berjatuhan. Dia terus berlari di atas trotoar kota kecil yang tampak lengang. Melepaskan rasa yang dia sendiri pun tidak mengerti bernama apa.

Sedih kah? Kecewa? Atau marah? Ah, entahlah. Rasanya sesak sekali.

Sosok abah yang sangat dirindukan ketika jauh, tiba-tiba terasa asing begitu dia sangat dekat. Abah tidak mengenali Mamat, bahkan mungkin telah melupakannya. Lelaki itu sudah bahagia dengan keluarganya yang baru. Sepertinya abah tak akan membutuhkan kehadiran Mamat.

Ada rasa khawatir yang tiba-tiba mendera dada bocah kecil itu. Khawatir harus menelan kecewa, jika abah ternyata tidak menginginkan pertemuan dengannya. Takut abah sudah lupa kalau pernah punya anak bernama Muhammad Insan.

Selama sekian tahun Marzuki tak pernah datang menjenguk Mamat. Sekadar berkabar lewat surat pun dia tidak bisa. Padahal rumah Ninik Rahma masih di tempat yang sama, tidak pernah pindah-pindah.

Kalau memang abah masih ingat pada anaknya, kenapa tak pernah lagi datang?

Kenapa?

Tak sayang kah abah pada Mamat?

Sepertinya semua pertanyaan Mamat hanya akan menggaung dalam kepalanya sendiri.

.
.

Pluk!

Sebuah batu kerikil jatuh ke air. Menciptakan percik serta riak kecil sesaat, kemudian tenggelam, menghilang tanpa bekas.

Matahari mulai condong ke Barat. Mamat tampak duduk sendiri menghadap sebuah kolam mungil yang ada di tengah taman kota. Tanpa rencana, kaki telah membawanya ke tempat itu. Dia sedang butuh waktu sendiri untuk merenung. Bunyi suara mesin mobil yang melintas dari jalan aspal, masih terdengar dari sana.

Jari-jari mungilnya memungut lagi beberapa kerikil dekat kaki. Lalu melemparnya bertubi ke tengah air kolam.

Pluk! Pluk!

Riak-riak kecil bertebaran kembali di permukaan air kolam. Menghibur lara hati seorang bocah lelaki yang sedang menyepi. Air kolam memantulkan biru langit serta putih awan-awannya. Kemudian membayang wajah orang yang selama ini begitu tulus mengasihi. Raut wajah Ninik Rahma.

Mamat kangen Ninik. Ingin segera pulang memeluk kakinya. Mamat kangen rumah, kangen harum bunga kaca piring di halaman, kangen melihat nyiru-nyiru kerupuk singkong yang dijemur, kangen berlari kencang di jalanan desa, kangen semuanya. Mamat mau pulang.

Ditariknya napas dalam, mengembuskan perlahan. Kini Mamat menyadari, Niniklah orang yang paling berarti dalam hidupnya. Niniklah yang selalu ada untuknya. Ninik lah kebahagiaannya. Mamat tak butuh yang lain.

Namun, Mamat tidak juga menyesali perjalanan penuh liku mencari abah. Setidaknya dia tahu, kalau orang yang dia rindukan masih hidup dan sekarang telah berbahagia.

Itu sudah cukup.

Angin bertiup lembut, mempermainkan anak-anak rambut bocah kecil yang masih tenggelam dalam lamunan. Mengabaikan sepasang kupu-kupu bersayap indah yang sedang bercengkrama di atas bahunya, lalu terbang berkejaran di antara lotus merah yang tengah bermekaran.

"Ciyuk ... baaa! Hiiihihihi ...." Satu kuntilanak bergaun putih kotor, mendadak muncul di depan wajah Mamat. Tubuhnya menggelantung pada dahan pohon tempat Mamat duduk berteduh. Posisi kepalanya di bawah. Rambut yang gimbal panjang menjuntai hingga menyapu tanah.

Mamat cuek, memutar sedikit tubuh, mengalihkan pandangan. Sudah biasa menghadapi makhluk usil seperti ini. Di antara mereka ada saja yang menyadari kalau Mamat bukan anak biasa, lalu tertarik untuk coba bermain-main.

"Hihihihi ... ciyuuuk-baaa!" Si Kunti iseng belum menyerah, kembali menutupi pemandangan Mamat dengan ekspresi konyolnya. Cengar-cengir tak jelas. Muka jeleknya penuh koreng mengelupas.

Mamat mengalah. Memutar lagi tubuhnya menghadap kolam.

Kuntilanak gabut masih penasaran.

Hup!

Melompatlah dia turun dari atas pohon, lalu jongkok di depan Mamat. Tersenyum sangat lebar sampai gigi taring menyembul panjang. Tampaknya punya ide lain yang lebih cetar.

"Fuuuhh ...." Mulutnya sekonyong-konyong menyemburkan udara busuk ke wajah Mamat, membuat si bocah harus menahan napas dengan mata terpejam. Penasaran sekali rupanya si Kuntilanak, pada aura yang memancar dari tubuh anak kecil di hadapannya.

Mamat mulai kesal. Dipungut sebuah kerikil. "Bismillah ....," ucapnya pelan, kemudian meniup batu kecil sebesar kelereng itu.

Pletak!

Batu dilempar dengan tiba-tiba tepat ke jidat si Kuntilanak.

"Jiaaahh!" Jin perempuan kurang kerjaan bergaun putih kontan menjerit kesakitan. Tubuhnya doyong-doyong ke belakang, kemudian melesat terbang sambil mengaduh-aduh memegangi dahinya.

"Nakal, sih." Mamat terkikik-kikik geli menyaksikan.

Ipan dan Ali yang sedang sembunyi di balik rumpun Bougenville saling menatap heran. Ada apa dengan Mamat? Tadi menangis, sekarang tertawa. Mamat membuat mereka khawatir.

"Mat! Ngapain kau di sini?" tanya Ali. Dia dan Ipan kini sudah berdiri di belakangnya.

"Kakak?" Mamat segera bangkit dari duduk. "Maaf, Kak. Ulun cuma mau main." Dia merasa bersalah sudah pergi tanpa izin pada mereka.

"Kau sudah bertemu abahmu?" tanya Ali lagi.

"Sudah," jawabnya singkat, menundukkan wajah, menyembunyikan kebohongan di matanya. Jari-jari meremas ujung kaos.

"Kok, sebentar? Kau tak mau menginap dulu di rumahnya?" Ipan menatap iba.

Si bocah menggeleng lesu. "Mamat mau pulang."




Other Stories
Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Bisikan Lada

Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Download Titik & Koma