BAB 49 MOMEN YANG DITUNGGU
Setelah itu Muya tak bergerak lagi. Dengan hati-hati, Tambi membalik tubuhnya yang terkapar dengan posisi tiarap.
"Dara!" seru Tambi. Gemetar tangan tuanya menyentuh kedua pipi tirus anak angkatnya.
Wajah perempuan iblis kini sudah berubah kembali menjadi wajah manis gadis belia. Namun, dengan kondisi terkulai lemas, tak sadarkan diri. Seluruh kulitnya terlihat sangat pucat, menyedihkan.
"Parang Hitam sudah keluar dari tubuhnya," cicit Tambi lagi.
Netra Tambi dan Adaw beralih pada benda yang tadi keluar dari mulut Dara. Benda kaku sebesar kepalan tangan berwarna cokelat tua kehitaman itu tergeletak di lantai tak bergerak. Bentuknya mirip sebuah boneka kecil, tetapi sama sekali tidak lucu. Wajahnya tampak mengerikan layaknya monster, mulut bertaring serta kuku kaki dan tangan panjang melingkar-lingkar melilit tubuh.
Benda itu adalah iblis Parang Hitam yang kembali menjadi Jenglot. Seperti yang sudah terjadi pada Muya, rambut jenglot pun terlihat cepak. Butuh waktu yang sangat lama bagi Jenglot Parang Hitam untuk memanjangkan kembali jimatnya.
"Kita harus mengembalikannya lagi ke Bukit Paing, Daw! Malam ini juga, sebelum matahari muncul di ufuk Timur!" tegas Tambi pada anaknya. Adaw mengangguk keras.
****
Pagi. Di tepian sungai yang tenang. Pantulan cahaya matahari tampak berkilauan di atas permukaan air.
"Brrr ... ssshh ..." Mamat menggigil sembari mendesis kedinginan. Tubuh mungilnya terbaring meringkuk.
Kicau burung terdengar sangat dekat di telinga. Kening bocah itu bertaut tanpa berniat membuka mata. Sebenarnya dia sangat mengantuk. Cuaca pun terasa begitu dingin. Satu tangan Mamat meraba-raba ke sekitar, mencari letak selimut. Tapi, tidak menemukannya.
"Ninik minta selimut ...." Mulut mungil Mamat menggumam, lalu mengucek-ngucek kedua mata yang buram. Masih terbawa mimpi, merasa seolah berada dalam kamar tidurnya.
Setelah membuka mata lebar-lebar, Mamat harus menerima kenyataan, kalau saat ini dia berada sangat jauh dari rumah. Di atas kepalanya, tampak burung-burung kecil yang berlompatan pada dahan pohon Rambai, sedang asyik sarapan serangga.
Bocah bermata sipit itu lalu duduk, mengamati alam di sekeliling. Beberapa meter di depan sana terlihat aliran sungai yang cukup lebar. Arus airnya tenang.
Ternyata bukan cuma Mamat yang ada di situ. Tak jauh darinya ada dua tubuh pemuda kurus tengah bergelimpangan di atas tumpukan daun kering. Keduanya diam tak bergerak. Entah mereka sedang tidur, entah pingsan, entah....
Oh, Tuhan! Mamat menatap cemas.
Heran Mamat, kenapa mereka bertiga tiba-tiba sudah berada di tempat itu. Bukankah tadi malam jukung mereka dikejar-kejar banyak hantu, lalu semuanya terjatuh ke dalam air terjun?
Mamat lalu bangkit mendekati dua pemuda itu. Dingin pada tubuhnya berangsur-angsur berkurang, tersisa rasa kaku pada sendi-sendi.
"Kak Ali, bangun, Kak!" Tangan Mamat menggoyang-goyang pelan bahu Ali, yang terbaring memunggunginya.
Sengaja Mamat memilih membangunkan Ali lebih dahulu. Membangunkan Ipan resikonya bakal dikemplang.
"Humm ...." Ali menghela napas dalam, lalu menggeliatkan tubuh, seraya menoleh dan membuka separuh mata. "Kenapa, Mat?"
"Kita di mana, Kak?"
Bola mata Ali memicing beberapa saat, mengumpulkan nyawa, sembari mengingat-ingat.
Tadi malam mereka melewati kejadian luar biasa horor. Sontak pemuda itu duduk, membeliakkan mata.
Ajaib! Mereka sudah berada di tepian sungai yang tenang. Jukung kayu pun tampak terongok di atas rerumputan.
"Pan, buka mata kau, Pan! Lekas bangun, Pan! Kita masih hidup, Pan." Dengan hebohnya Ali mengguncang keras tubuh Ipan di sampingnya.
"Warik!" Ipan mengumpat kesal. Tapi hanya sebentar. Begitu matanya terbuka, langsung melongok tak percaya melihat sekeliling.
"Kenapa kita betiga bisa ada di sini?"
"Entahlah. Mungkin kita tebawa arus air," jawab Ali asal.
Mulut Ipan membulat, mata mendelik-delik mencoba berpikir. Jangan-jangan mereka semua sudah berubah jadi zombie. Eh, tapi kalau jadi zombi harusnya tak bisa lagi bicara normal. Bawaannya juga pasti pingin menggigit orang, pikir Ipan.
Plakk!
Sebuah tamparan keras diberikan Ali untuk kawannya yang tak berhenti mangap. Ipan sampai terjengkang.
"Aargh, Aluh Bohay! Apa-apaan kau pakai main tampar segala?! Mau kelahikah?!"berang Ipan, mengusap-usap rahangnya.
"Biar kau lekas sadar. Kau tak sedang mimpi. Kita betiga selamat." Ali memasang wajah tak berdosa.
"Kita selamat?! Tak jadi mati dimakan hantu?!" Kedua kening Ipan naik.
"Hum!" Ali mengangguk cepat.
"Aku tak jadi mati, kau tak jadi menggantikanku kawin sama Asmah?!"
"Hum!"
"Bisa besaung ayam lagi!"
"Hum."
"Bisa malak anak sekolahan lagi!"
Tak insaf juga ternyata si Ipan. Keduanya lalu tertawa terbahak sambil melompat-lompat layaknya anak kecil. Mamat ikut tertawa senang melihat kegembiraan mereka.
Tak satupun yang mengira kalau semua berkat Kusat, si gagak hitam. Ketika Muya berhasil dilumpuhkan, pasukan mayat hidup yang sedang mengejar Mamat ikut musnah kembali ke alamnya. Kusatlah yang memindahkan ketiga anak kampung itu ke daratan yang lebih aman.
Tok-kotok-kotok... kotok-kotok....
Bunyi berisik mesin kapal terdengar mendekat.
Sebuah kapal Kelotok melintas pelan di sungai, di depan mereka. Beberapa orang yang duduk dalam kelotok tampak menahan senyum melihat pada Ipan dan Ali. Kedua pemuda kampung itu balas tersenyum, melambaikan tangan seraya menyapa sok akrab. Rupanya tempat itu sudah tak jauh dari pemukiman.
"Orang gila ... orang gila ... tidak becelana! Hahahaha!" sorak beberapa bocah, yang duduk di bagian pojok kelotok, sambil tertawa-tawa lepas.
Senyum di bibir Ali dan Ipan seketika pudar. Keduanya terdiam mematung beberapa saat. Wajah ceria tadi berubah pucat, lalu sama-sama menatap diri sendiri. Sarung kurung yang sebelumnya menutupi bagian bawah tubuh ternyata sudah tidak ada. Terlepas saat mereka jatuh ke air terjun. Tersisa kaos kedodoran milik Adaw yang melekat di tubuh masing-masing. Benar apa yang dikatakan anak-anak di kelotok tadi.
"Huwaaahh!" Serempaklah dua pemuda itu menjerit histeris menahan malu.
****
Perjalanan selanjutnya tidaklah mudah. Apalagi tanpa uang sepeserpun. Jangankan uang, sempak pun Ipan dan Ali sudah tak punya. Terpaksa mereka memanfaatkan daun-daunan yang ditemukan, untuk sekedar menutup aurat selama perjalanan.
Untung saja masih ada jukung kayu pemberian dari Tambi. Mereka pun bisa melanjutkan perjalanan lewat sungai. Tiba di sebuah dermaga perkampungan yang cukup ramai, jukung itu terpaksa dijual. Lumayan bisa untuk membeli makanan serta baju bekas.
Beberapa hari Mamat beserta dua pemuda kampung bertahan di dermaga, sekaligus pasar kecamatan itu. Sementara Ali dan Ipan harus bekerja jadi kuli angkut. Mereka butuh ongkos cukup untuk bisa melanjutkan perjalanan.
Ali dan Ipan juga telah sepakat, jika Mamat tetap akan bertemu dengan Abahnya, mereka harus menemukan alamat lelaki itu, agar perjalanan tidak sia-sia.
****
Momen yang ditunggu itu akhirnya datang. Walaupun alamat Marzuki yang pernah dicatat pada kertas telah hilang, tetapi ingatan Mamat merekam semua huruf dan angkanya dengan baik. Hari ini mereka sudah menemukan alamat rumah Abah Mamat di sebuah kota kecil.
Rumah semen sederhana cat hijau muda, yang lumayan nyaman untuk ditinggali. Pelatarannya tampak teduh oleh rimbun pohon mangga yang tumbuh di halaman. Mamat kini sudah berdiri menghadap rumah itu. Sorot matanya terlihat ragu, merasakan ujung-ujung jari yang mendadak terasa dingin.
Di seberang jalan aspal, Ipan dan Ali menunggunya dalam sebuah kedai kopi. Mereka sengaja membiarkan Mamat sendiri mengunjungi Marzuki. Tak ingin mengganggu pertemuan abah dan anak, yang telah terpisah sekian tahun. Tentu akan sangat mengharukan.
Dari balik steling kedai kopi Ali terus memantau. Cukup lama dia memperhatikan bocah kecil itu berdiri diam di halaman rumah. Berbeda dengan Ipan yang tak begitu peduli, sibuk sendiri, melahap bermacam gorengan yang tersaji.
Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Seorang perempuan berhijab kuning keluar sambil menggendong anak balita laki-laki. Satu tangannya yang lain memegang sebuah handphone. Tampak sibuk bertelepon dengan seseorang. Pergelangan tangan serta jari-jari itu dihiasi dengan logam emas, Menandakan status ekonomi yang bagus.
"Cari siapa, ya, Dek?" Perempuan berhijab kuning, baru menyadari kehadiran bocah laki-laki di depan rumahnya.
To be continued....
__________________________
Other Stories
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Pintu Dunia Lain
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...