BAB 48. RAMBUT MUYA
Naluri manusia yang tersisa di hati Dara membuatnya berontak melawan Parang Hitam. Dara menolak membunuh Tambi Balau, perempuan tua yang telah sangat berjasa menyelamatkan hidupnya. Namun, Parang Hitam keukeh ingin menghabisi Tambi karena dendam masa lalunya.
Sekarang Parang Hitam memilih tampil dengan wujud aslinya sebagai Muya. Wujud seorang perempuan cantik berkulit seputih kapas, serta rambut yang sangat panjang hingga semata kaki. Namun, masih hitam legam tanpa hiasan uban. Usia jin perempuan itu sudah ratusan tahun, tetapi jauh terlihat masih muda, layaknya perempuan berumur tiga puluh tahunan.
Dengan wujud Muya, raga Dara bisa dia dikuasai. Sehingga lebih leluasa untuk menyerang dan membunuh Tambi Balau.
Walaupun wajah Muya sangat cantik, tetapi ekspresi dingin serta bola mata yang hitam kelam itu, membuatnya tampak menakutkan. Senyum dari bibirnya yang semerah darah lebih mirip sebuah seringaian. Ditambah dengan taring panjang yang menyembul pada kedua sudut bibir Muya. Memastikan kalau dia bukanlah manusia.
Parang Hitam adalah julukan Muya jika berwujud monster besar berbulu dengan sayap lebar. Akibat ilmu hitam yang melampaui batas, perempuan itu menjelma menjadi makhluk yang mengerikan. Ratusan tahun lalu, Pangkaliman Aluy, leluhur dari Tambi Balau adalah musuh terbesar bagi Muya. Sampai akhirnya dia serta pasukannya harus kalah dalam sebuah pertarungan sengit.
Ratusan tahun pula Muya tak berdaya dalam penjara Bukit Paing yang dibuat oleh lelaki itu. Tak hidup tak juga mati, betapa sangat menyiksa. Dan sekarang keturunannya masih saja turut campur urusannya. Tak bisa ditawar lagi, dia harus membunuh Tambi Balau. Tak boleh ada lagi darah Pangkaliman Aluy yang hidup di muka bumi.
Malam merangkak pelan. Di bawah rinai gerimis yang masih berjatuhan, di antara batang ilalang yang telah basah, Tambi dan Muya sama-sama dalam posisi bertahan. Saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
Tubuh mungil Tambi Balau telentang di tanah, serta Muya yang melayang hanya beberapa inci di atas tubuhnya. Masing-masing bisa saling menghancurkan hanya dalam sekejap. Cakar-cakar hitam Muya telah menempel ke urat nadi leher Tambi Balau, sedangkan ujung tumbak milik Tambi pun telah menekan dada Muya.
Dapat Muya rasakan energi besar dari ujung tumbak, yang terus mengeluarkan asap kebiruan. Tangan Tambi Balau sampai gemetaran menahan kuatnya senjata bertuah yang sangat bernafsu merobek dada Muya.
Sebenarnya Muya sendiri merasa gentar, sebab tumbak itu adalah senjata milik Pangkaliman Aluy yang pernah membuatnya lumpuh. Namun, dia sangat pandai menutupi ketakutannya. Berbeda dengan Tambi yang sepertinya sama sekali tidak takut mati. Perempuan tua itu sudah siap menghadapi kematiannya.
"Tegakah kau menghunjamkan tumbak itu ke jantung gadis lugu yang malang ini, Tambi? Gadis yang menyayangimu, sampai dia berani melawan Parang Hitam. Khiiihihihiiiy ...."
Muya sengaja mempermainkan perasaan Tambi. Wajahnya berubah lagi menjadi raut polos Dara yang memelas. Sementara jiwa Dara yang sebenarnya tengah tersudut tak berdaya dalam raganya sendiri.
Muya si Parang Hitam bisa membaca kalau Tambi Balau ragu menancapkan ujung tumbak ke jantungnya. menusuk jantungnya sama halnya Tambi menusuk jantung Dara. Pasti sekarang perempuan tua ini dilema, pikir Muya.
"Kau sudah tertidur ratusan tahun, Muya. Percuma kau bangkit kembali. Dunia sekarang sudah berubah. Kesaktian bukanlah segalanya," gumam Tambi lirih. Tak yakin jika Muya akan paham dengan maksudnya.
"Sudahlah ninik peot, terima saja ajalmu! Biarkan cakar-cakarku ini memutus aliran darahmu!" lirih Muya, tersenyum culas.
"Bila kau tancap juga cakarmu itu ke leherku, maka hulu tumbakku pun akan mencucuk jantungmu hingga tembus ke punggung. Hehehe ...." Tambi Balau masih bisa terkekeh mengejek. Padahal kondisinya sudah tak keruan. Darah, keringat dan air hujan membaur membasahi tubuh kurusnya.
Tiba-tiba ....
Brazzz ....
Sebuah serangan yang tak disangka-sangka oleh Muya, datang menyerangnya dari arah belakang.
"Hoaaaaaarghh!" Mulut Muya yang penuh taring seketika melolong. Suaranya menggema hingga terbawa jauh oleh angin.
Sebilah Mandau pusaka yang sangat tajam, telah membabat habis rambut panjangnya. Rambut itu kini digenggam kuat oleh Adaw. Rambut panjang Muya adalah letak kekuatan sekaligus kelemahan si iblis perempuan.
Ternyata sebuah keputusan yang salah bagi Muya, memilih bertarung dengan wujud aslinya. Rambut sekaligus jimat itu bisa dengan mudah ditebas oleh musuh. Tentu saja musuh yang sudah mengetahui titik kelemahannya.
"Lari, Daw! Lariii!" Serak suara Tambi.
Tapi, Adaw masih terdiam takjub. Raut wajah meringis geli merasakan rambut Muya yang berdenyut dalam genggamannya. Rambut yang hidup itu pun tampak meliuk-liuk seperti cacing. Sekali lagi Tambi harus meneriakinya agar segera bertindak.
"Grrrhh ...!" Muya menggeram murka dengan tubuh menggeliat, mata kelamnya berkilat-kilat menatap benci pada Adaw. Sekarang dia lebih bernafsu membunuh Adaw dari pada ibunya.
Menahan rasa geli Adaw berlari sambil mengangkat tinggi rambut dalam genggaman. Menantang Muya untuk mengambil rambut itu dari tangannya.
Syuuuhhh ....
Si iblis perempuan melayang terbang mengejar Adaw ke gubuk rumbia. Gaun hitam Muya yang lebar dan panjang tampak berkibaran tertiup angin. Gerakan Muya kini tak secepat sebelumnya.
Brakk!
Adaw sudah melewati pintu gubuk.
Dalam gubuk itu, Muya mendapati Adaw sudah berdiri dekat tungku perapian yang tengah menyala.
"Mau apa kau? Jangan coba-coba! Kembalikan padaku!" Muya melotot, melihat tangan Adaw membawa rambutnya ke atas perapian.
Mulut Adaw mengatup rapat. Sorot matanya menatap dingin pada Muya. Sejenak si iblis perempuan termangu memindai Adaw. Cahaya dari perapian menerangi seisi gubuk, juga memperjelas raut wajah laki-laki berperawakan besar yang telah merenggut rambut jimatnya.
Tampaklah raut wajah Adaw yang memiliki bentuk rahang tegas, hidung besar, serta kedua alis hitam yang lebat. Adaw mengingatkan Muya pada seseorang yang pernah menghabisinya ratusan tahun silam, yaitu Pangkaliman Aluy. Apalagi penampilan Adaw yang berpakaian layaknya seorang pemburu. Pangkaliman Aluy seakan hidup lagi di hadapan Muya.
"Jangan lakukan!" hardik Muya. Mata hitam kelam itu kian melotot panik melihat rambutnya sendiri yang menggeliat berontak dari tangan Adaw, lalu berjatuhan ke api yang sedang membara.
Blarrr!
Api seketika menyambar, lalu menyala semakin membesar, mendapatkan bahan bakar dari bagian tubuh iblis. Hawa panas seketika menyebar. Tubuh besar Adaw sampai terjengkang ke lantai.
"Hoaaarrrgh!" Muya melolong kepanasan, kedua tangan bercakar panjang itu memegangi kepalanya.
Tak menyia-nyiakan kesempatan. Tambi Balau yang sudah berada di belakangnya, menempelkan Penyang Hampatong yang menggantung pada kalungnya ke punggung Muya, seraya mengucapkan kalimat mantra.
Tubuh Muya mendadak bergetar, berkelojotan persis orang yang tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Cahaya merah berpendar dari seluruh tubuhnya.
Muya alias iblis Parang Hitam rupanya lupa sedang berhadapan dengan siapa. Pangkaliman Aluy bukanlah manusia yang bodoh. Anak cucunya telah dilatih cara menghadapi iblis yang bangkit dari persemayaman, seperti dirinya. Jimat-jimat pembunuh iblis pun telah dipersiapkan dengan baik. Muya terlampau percaya diri.
Sebelumnya, sekembali dari mengantar tiga anak kampung ke sungai, Adaw mengendap-endap sembunyi dalam rimbun semak. Cukup lama dia menyaksikan dua perempuan beda alam, tengah bergelut tarung di atas padang luas ilalang.
Adaw berusaha menahan dirinya untuk tetap diam sembunyi. Kedua tangan Adaw mengepal, melihat tubuh sang ibu sudah banyak terluka karena serangan Parang Hitam.
Namun, tidak ingin bertindak gegabah. Dia menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Dan ketika Parang Hitam merubah diri menjadi sosok Muya, Adaw bersorak girang dalam hati. Mandau yang terselip di pinggang perlahan ditariknya keluar dari sarung, mengincar rambut panjang Muya yang tampak berkibaran tertiup angin.
Kesempatan emas akhirnya datang. Ketika Muya benar-benar sedang lengah, Adaw berlari cepat ke arahnya, lalu membabat habis rambut panjang itu hingga cepak.
Cahaya merah dari tubuh Muya kemudian perlahan-lahan memudar, tubuhnya akhirnya tersungkur jatuh ke lantai gubuk yang hanya terbuat dari tanah.
"Khokk! Kekkhokk! Hoeeekh ...." Muya bersuara mirip orang keselek. Mulutnya menganga maksimal, saat keluar sesuatu sebesar kepalan tangan berwarna kehitaman.
T
Other Stories
The Fault
Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Blek Metal
Dahlia selalu dibanding-bandingkan dengan sepupunya karena terlalu urakan dan suka musik m ...