Susur

Reads
514
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 47. AIR TERJUN



"Mana bisa kau melarang, kalau kau sudah mati?! Pokoknya pulang dari sini aku langsung melamar Asmah."

"Jahat kau! Kawan macam apa kau ini?!" Ipan sungguh tak terima. Perkataan Ali berhasil membakar hatinya.

"Dari pada dia kawin sama orang lain. Lebih baik kawin sama aku," cetus Ali cuek. Tak peduli mata Ipan yang berapi-api menatapnya. Dia memang sengaja ingin membakar hangus hati kawannya itu. Tampaknya cuma cara itu yang bisa membuat Ipan mau bergerak melawan mayat-mayat hidup.

Mereka terus bicara saling berteriak dengan napas ngos-ngosan. Ali menatap liar pada hantu mayat hidup yang seolah lahir dari dalam sungai, tak ada habisnya. Badannya berputar sambil mengayunkan sampan pada hantu yang mendekat.

"Gila! Pabila habisnya hantu-hantu niiiiii ...?!" pekikan Ali menggema ke angkasa.

Ipan yang tersulut emosi, kini sudah berdiri siaga. Dia harus hidup, kalau tak mau membiarkan Ali yang mengawini Asmah si kembang desa. Walaupun dia sendiri tak yakin gadis cantik itu kelak mau dengannya.

"Kaaakk... kaaakk...." Kusat hinggap di samping Mamat, menjaga bocah itu dari tangan-tangan yang bertambah banyak menggapai tubuhnya. Mayat-mayat hidup sudah mengelilingi jukung, bergumpal-gumpal layaknya cacing tanah yang diternakkan.

Ipan mulai bisa diandalkan. Sampannya membabi buta menghantam hantu-hantu mayat hidup, seraya terus berteriak memaki-maki Ali. Hatinya sedang emosi membayangkan Ali benar-benar melamar Asmah. Tak peduli kalau kawannya itu lebih jago bela diri darinya. Jika selamat, Ipan ingin mengajaknya duel sampai K'O.

Tarrr! Tarrr!

Bunyi petir menyalak. Kilat menyala-nyala membelah angkasa. Desau angin dingin datang menyapu semesta. Gerimis tipis berjatuhan. Ali dan Ipan mulai kewalahan menghadapi mayat-mayat hidup. Sesekali mereka tampak terjungkal jatuh.

"Qul a'ụżu birabbin-nas ... malikin-nas ... ilahin-nas ...." Mulut bocah kecil yang duduk di tengah-tengah jukung terus melantunkan ayat suci dengan suara dan tubuh gemetar.


****

Di tempat lapang Bukit Tipau, yang ditumbuhi ilalang tinggi. Gerimis pun mulai berjatuhan membasahi batang-batang ilalang. Angin pegunungan berembus lirih.

Tambi Balau masih harus berjibaku melawan satu sosok iblis berbulu hitam, bersayap lebar. Dalam hatinya, Tambi sangat berharap, pasukan mayat hidup yang mengejar ke sungai tidak akan berhasil merebut Mamat dari kedua pemuda jangkung itu.

Besar harapan Tambi masih bisa mengalahkan Parang Hitam yang kekuatannya belum pulih sempurna. Sebaliknya, jika pasukan mayat hidup berhasil mendapatkan Mamat, maka itu adalah bencana bagi semesta.

Sebagian besar energi magis yang dimiliki Tambi sudah dia pindahkan ke tubuh Ali dan Ipan. Tambi ingin mereka bisa bertahan dari serangan pasukan Parang Hitam. Sama hal dengan Tuannya, pasukan mayat hidup itu pun belum pulih sempurna dari kekuatannya, sebelum mereka genap mendapatkan sembilan darah anak tak berdosa.

'Semoga saja Ali dan Ipan berhasil membawa Mamat sejauh mungkin dari perbukitan Meratus,' harap perempuan Balian itu dalam hati.

Namun, inilah konsekwensi dari energi magis yang berkurang, Tambi Balau tak bisa maksimal menghadapi iblis di hadapannya. Lengah sedikit saja dari serangan, tubuh kecil Tambi sudah oleng. Tambi sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi pada dirinya. Jatah hidupnya telah banyak, dia merasa sudah sangat tua. Tak apa kalau malam ini adalah malam terakhir untuknya bisa bernapas. Setidaknya bisa berbangga mati dengan terhormat

"Hanya inikah kemampuan anak cicit Pangkaliman Aluy?" ledek Parang hitam dengan pongah, mengepakkan sayapnya turun kembali ke padang ilalang, setelah puas menyerang perempuan tua dari udara.

"Hehehe ...." Tambi Balau balas tertawa terkekeh, walaupun tubuhnya sudah berdarah-darah. Susah payah dia bangkit berdiri, bersangga pada tumbak besi.

"Beh,bungul! Kalau aku punya sayap sepertimu, tak mungkin kau bisa mencakariku dengan mudah. Kau sudah menyerang perempuan tua ini dengan cara culas."

"Alasan! Bilang saja kau memang tak sehebat Datukmu! Aku tak akan buang waktu lagi. Mati lah kau Tambi Balaaau!" Parang Hitam tiba-tiba berkelebat sangat cepat

Syuuuhhh ....

Namun, tumbak di tangan Tambi tiba-tiba mengeluarkan cahaya kebiruan, seiring dengan mantra-mantra yang mengalir dari mulutnya.

Dua pancaran energi beradu kuat. Parang Hitam terus berkelebat bak sebuah bayangan yang mencari celah untuk menyerang. Tambi masih gesit menangkis dengan cepat, tubuhnya bergulung-gulung di atas tanah, sambil berusaha menyerang balik dengan ujung tumbaknya yang kini terlihat mengepulkan asap berwarna kebiruan.

Tubuh kurus Tambi sudah basah oleh darah dan keringat. Namun, masih cukup tangguh beradu kekuatan dengan makhluk iblis, di atas hamparan ilalang itu.

"Aaargh, hentikaaan!" Parang Hitam mendadak menjerit seraya surut mundur menjauh.

"Tambi, cepat pergi Tambi! Selamatkan diri Tambi dari aku!" Sosok iblis berbulu hitam itu kini telah berubah menjadi gadis belia bergaun hitam, lebar. Berdiri puluhan langkah dari Tambi Balau. Rambut hitam Dara yang sebelumnya hanya sebahu, kini terlihat sangat panjang semata kaki.

"Dara ...." Bola mata Tambi seketika berkaca-kaca menatapnya.

"Tambi, cepatlah pergi dari hadapanku. Aku tak mau menyakiti Tambi. Cepat pergi!"

"Dara, lepaskan dirimu darinya, Nak! Berhentilah bersekutu dengannya! Lupakan dendammu, Sayang! Lupakan Jaya Herlambang!" pinta Tambi Balau tergugu.

"Aku tak bisa, Tambi ... aku tidak bisa." Dara menggeleng lemah.

"Kau harus tahu, Dara! Aku dan Adaw sudah sangat menyayangimu. Kau bagian dari kami, keluarga kami. Pulanglah, Nak! Uuhuhuhuu ...." Tangis Tambi akhirnya pecah, kedua bahu kurus perempuan tua itu berguncang.

"Tambi ...." Dara pun ikut terisak. Kedua lututnya jatuh menimpa tanah. Wajahnya menunduk, air mata berjatuhan.

"Dara, maafkan Tambi-mu ini, yang pernah ikut membakar dendam di hatimu. Tambi sudah melakukan kesalahan besar, Dara. Tambi menyesal. Dendam hanya akan menghacurkan dirimu sendiri. Berhentilah mengejar Jaya Herlambang!" Perlahan Tambi memberanikan diri melangkah mendekati gadis itu.

"TIDAK! AKU ADALAH PENGIKUT IBLIS! DENDAM HARUS TERBALAAAS!" Tiba-tiba Dara mengeluarkan suara besar yang menggelegar. Wajahnya yang tadi menunduk, mendongak menatap Tambi Balau dengan mata merah menyala.

Tarrr!

Bunyi petir yang menggelegar, menyahuti ucapan Dara. Tiupan angin kencang menerbangkan rambutnya yang sangat panjang hingga berkibaran ke udara. Iblis Parang Hitam kembali menguasai tubuh Dara. Penampakannya kini berubah menjadi sosok Muya, perempuan cantik berwajah pucat dengan mata yang hitam kelam.

"Ya, Leluhur, apa yang bisa kulakukan?" Tambi menggumam putus asa.

"Khiiihihihiiiy, dia tidak akan pernah bisa lepas dariku. Dia milikku, Tambi Balau. Khiiihihihihiiiy ...!" Tawanya melengking mengerikan.

Syuuuhhh ....

Makhluk iblis itu tiba-tiba melesat ke arah Tambi Balau. Kedua cakar hitam dan panjang, tampak sudah mencengkam leher kurus Tambi yang berada di bawahnya. Namun, masih tak mau kalah, ujung tumbak besi milik Tambi pun, mengarah ke jantung Muya. Posisi mereka kini hampir seimbang. Hanya saja tangan Tambi yang memegang tumbak sudah gemetar hebat, napasnya pun tampak tersengal, kehabisan tenaga.

****

Di saat yang sama, dua pemuda bertubuh jangkung sedang berjuang mati-matian menghadapi serbuan mayat hidup, yang terus berdatangan. Melaju di tengah derasnya arus sungai, beberapa kali jukung yang membawa mereka oleng, nyaris terbalik.

Ipan sudah percaya diri dengan kekuatannya. Tak cuma memukul menggunakan sampan, kadang dia pun menggunakan kaki dan tangannya. Hampir pemuda itu tak percaya dia ternyata bisa juga sejago Ali. Mungkin gara-gara memakai jimat akar kayu pemberian Adaw, pikirnya memandangi benda hitam yang melingkari pergelangan tangan.

"Warik! Sampai kapan begini?! Mereka tidak habis-habis! Dasar hantu gila! Gilaaa!" Ali berteriak-teriak frustasi.

Mamat hanya bisa memejamkan mata, tubuhnya kian lama kian menggigil kedinginan. Membayang wajah Ninik Rahma di pelupuk matanya. Mamat kangen pada perempuan tua itu. Muncul rasa sesal dalam dada, tak pamit sewaktu pergi dari rumah.

Sebenarnya memiliki Ninik seorang pun sudah cukup bagi Mamat. Tak ada abah, tak ada mamak tak mengapa. Asalkan Ninik Rahma selalu ada untuknya. Orang lain lah yang suka nyinyir memperolok hidupnya yang kekurangan.

"Qul a'ụżu birabbin-nas ... malikin-nas ..." Tak henti Mamat melantunkan. Ninik mengajarkan untuk membacanya, jika Mamat merasakan ganguan dari makhluk jin seperti sekarang.

Gerimis tipis berangsur-angsur menjadi butiran besar air hujan yang sangat lebat. Cuaca bertambah dingin menggigit. Langit kian gelap gulita. Gemuruh arus sungai terdengar semakin nyaring. Jukung yang membawa mereka terasa melaju sangat cepat. Mata Ali melebar, raut wajahnya berubah tegang, lalu sontak menoleh ke arah hilir sungai.

"Gawat! Sepertinya kita akan bertemu air terjun!" pekiknya.

Byuuuurrr!

Belum sempat berpikir apa-apa, jukung telah meluncur jatuh di ketinggian air terjun, bersama derasnya air sungai, bersama seluruh penumpangnya. Tubuh ketiga anak kampung itu telah masuk jauh ke kedalaman air yang dingin dan gelap.

Blub ... blub ... blub ....

Gelembung-gelembung kecil udara keluar dari lubang hidung serta mulut mereka.

Qul a'ụżu birabbin-nas ...

malikin-nas ...

ilahin-nas ...

min syarril-waswasil-khannas ...

allażi yuwaswisu fī ṣudụrin-nas ...

minal-jinnati wan-nas ...."

Di kedalaman air sungai yang dingin, di antara kesadaran yang mulai menghilang, hati dan pikiran Mamat masih mengiangkan lantunan ayat suci itu.





Other Stories
Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Kesempurnaan Cintamu

Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...

Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Pada Langit Yang Tak Berbintang

Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...

Download Titik & Koma