Susur

Reads
498
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 46. KEKUATAN BERLIPAT



"Hantunya banyak! Hantuuu! Hantuuu!" Tidak biasanya bocah pendiam itu berteriak-teriak histeris sampai suaranya serak.

Tapi, Ipan sudah terlanjur tak percaya padanya. Ringan telapak tangan Ipan kembali melayang ke kepala si Bocah Kelimis.

Plakk!

"Ngelindur menakuti orang saja kerjamu!" rutuk Ipan kesal. Mamat sukses menambah kacau suasana hatinya. Jantung Ipan jadi berdegup tak karuan.

Mulut si bocah terpaksa bungkam, kapok kepalanya sudah dikemplang Ipan berkali-kali. Dadanya tampak turun naik dengan napas yang memburu, menatap tegang pada sesuatu yang ada di belakang punggung Ipan. Puluhan meter dari jukung mereka, makhluk-makhluk bermuka pucat, sedang berenang semakin mendekat. Beberapa di antaranya tampak berlompatan ke udara layaknya ikan lumba-lumba.

Ali sibuk dengan dayungnya. Arus sungai cukup deras, tidak perlu banyak tenaga untuk mengayuh. Hanya saja harus selalu waspada pada tikungan, serta menjaga badan jukung agar tidak membentur batu atau pun dahan pohon yang kadang menjorok ke sungai.

"Grrrh ...." Ipan menggeram, seraya memasang mimik bengis pada Mamat. "Awas kalau kau coba menakutiku lagi!" ancamnya, mengacak-acak rambut si bocah dengan gemas.

"Pan, kudengar ada suara gagak di belakang kita. Gagaknya Tambi kah itu, Pan? Coba kau tengok ke belakang!" pinta Ali dengan suara nyaring karena harus beradu dengan bunyi arus sungai.

"Tarung babanam! Mana bisa aku membedakan tu gagaknya Tambi atau bukan. Kecuali gagaknya betahi lalat segede panci," gerutu Ipan. Dengan tenang dia lalu memutar leher ke belakang.

Glekh! Beberapa detik Ipan lupa cara bernapas. Mata membeliak, tubuh langsung kaku gemetaran. Sambaran cahaya kilat yang menerangi sesaat semakin memperjelas penglihatan.

"Huwaaahh! Hantuuu!"  Pemuda ceking itu berteriak nyaring sampai urat lehernya bertonjolan, matanya melotot-lotot.

Mamat menutup kedua telinga dengan telapak tangan, suara Ipan nyaris memecahkan gendang telinganya.

Jantung Ipan hampir lepas dari rongga dada, menyaksikan begitu banyak makhluk yang berenang di belakang jukung. Penampakan mereka serupa manusia, namun sepucat mayat, dengan ekspresi wajah yang beringas kelaparan. Salah satu yang berenang paling depan seluruh wajahnya mengelupas, tinggal mulut yang mangap-mangap.

Brukk!

Tubuh kerempeng Ipan malah menggelosor tak sadarkan diri, kemudian terkapar menimpa Mamat. Teriakannya yang membahana, tak ayal membuat Ali berpaling ke belakang. Dia pun tak kalah terkejut mengetahui situasi sangat buruk, mulut Ali membulat takjub.

"Waluh bajarang ... benar si Mamat, banyak hantu." Ali menelan ludah tercekat.

"Pegang kuat-kuat sampanmu, Pan! Pukul mereka dengan sampanmu!" Ali belum menyadari kalau kawannya sudah terkapar pingsan. Matanya terlalu fokus menatap sekeliling.

"Kaaakk... kaaakk...." Kusat terbang mengitari jukung. Matanya menyala-nyala. Kusat bukanlah sembarang burung gagak. Dia penjelmaan jin penjaga bukit Tipau berumur ratusan tahun, sahabat Pangkaliman Aluy semasa hidup. Tidak tinggal diam, satu per satu mayat hidup itu pun diserangnya. Kusat mematuk-matuki kepala mereka hingga hancur.

Byurrr!

Bunyi gebyar air di samping jukung.

Muncul sebagian tubuh laki-laki berkulit pucat tanpa hidung dan mata. Kedua tangannya menggapai-gapai tubuh Mamat yang kesulitan bergerak, akibat tertindih tubuh Ipan.

"Heeerrghh ... hmmhh ... eughh ..." Mulut mayat hidup itu mengeluarkan suara mengerang yang aneh.

Dengan sigap Ali menghantamkan sampan pada pucuk kepalanya. Dia sudah tak peduli jukung akan mengarah ke mana. Biarlah larut mengikuti arus.

Bagk-bugk! Bagk-bugk!

Bunyi sampan kayu yang beradu dengan batok kepala si mayat hidup.

Krakk!

Kepala lelaki tanpa hidung dan mata itu pecah menghamburkan semua isinya yang berbau busuk. Beberapa saat Ali mengernyit heran, merasakan tenaganya yang lebih kuat berkali lipat dari biasanya. Dia memukul kepala hantu layaknya kerupuk.

Byuuurrr ...!

Byuuurrr ...!

Byuuurrr ...!

Air sungai sekeliling jukung menggebyar-gebyur heboh bercipratan. Berlompatan lagi mayat-mayat hidup lainnya, keluar dari dalam sungai, menaiki jukung kayu itu. Mereka semua mengincar darah anak kecil yang akan menyempurnakan kekuatan Tuannya, Iblis Parang Hitam.

"Hyaaaaaahh!" Ali berteriak garang. Berdiri di atas jukung dengan kedua kaki mengangkang, mempertahankan keseimbangan.

Sampan pada tangan Ali layaknya  sebuah tongkat baseball yang membabi-buta, memukuli tubuh serta kepala mayat-mayat hidup itu hingga hancur. Mereka berjatuhan lagi ke dalam air. Jumlahnya ternyata sangat banyak. Jika dihitung mungkin setara dengan satu kampung.

Seisi jukung kini sudah basah kuyup, dikotori serpihan tubuh mayat yang bau busuk. Mamat yang terhimpit di bawah tubuh Ipan tampak menggigil kedinginan, bercampur ketakutan. Gigi-giginya terdengar gemerutuk beradu. Mulutnya komat-kamit mengucap doa-doa yang pernah diajarkan Ninik Rahma.

"Pan! Bungulnya si Ipan, taunya dia pingsan." Ali meringis, begitu melihat kondisi kawannya yang tak bergerak. Bakal kewalahan dia kalau harus sendirian menghadapi makhluk-makhluk beringas itu.

Plakk! Plakk! Plakk!

Ditampari Ali wajah Ipan bertubi-tubi dengan keras, hingga langsung terjengkit bangun.

"Han-hantuuu!" teriak Ipan begitu melihat lagi mayat-mayat hidup di air.

"Lekas bangun, Pan! Bantu aku hadapi hantu-hantu itu, kalau kau tak mau mati muda!" teriak Ali di telinga Ipan.

"Uuhuhuhu ... banyak banar, Li Hantunya. Mati ja gin aku sudah, Li. Uuuhuhuhu ...."

"Waluh bejarang!" Ali tak tahu lagi harus berkata apa, menghadapi kecengengan Ipan.

Mamat yang duduk di antara kedua pemuda itu, meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Mata sipitnya waspada mengawasi mayat-mayat hidup yang telah mengepung mereka dari segala arah. Kusat, si gagak hitam, tampak terbang ke sana-ke mari mematuki batok kepala yang ada di atas air hingga hancur.

Mayat-mayat hidup itu tidak memiliki kemampuan yang sama rata. Ada yang hanya mampu berenang dan merayap, tapi di antaranya ada pula yang bisa bergerak lebih cepat, melompat keluar dari air hingga dengan mudah bisa naik ke atas jukung.

"Huwaaah!" Ipan menghentak-hentakkan kakinya yang ditarik satu tangan pucat dari dalam air.

"Pukul dengan sampanmu!" Ali sengaja tak mau membantu. Membiarkan Ipan berjuang sendiri.

Byuuurr ...!

Byuuurr ...!

Byuuurr ...!

Berlompatan lagi mayat-mayat hidup yang lain. Seolah mereka tak ada habisnya. Jukung dibuat oleng bergoyang-goyang. Situasi benar-benar menegangkan.

Ali berusaha untuk tetap waras. Gerakannya masih gesit dan terkendali. Tak sempat para hantu menyentuh Mamat, sampan di tangannya sudah membabat musuh hingga berjatuhan. Dia kini tak meragukan jika tenaganya memang berlipat-lipat. Ali pun tak mengerti sebabnya. Seolah ada baterai super power yang dipasang dalam punggungnya. Sementara Ipan menangis-nangis memukuli tangan mayat hidup yang masih menarik-narik kakinya.

"Uy, Pan! Kau masih kepingin kah kawin sama si Asmah?" tanya Ali iseng, sambil memukul kepala-kepala yang muncul dari dalam air. Sedang jukung mereka terus bergerak mengikuti arus.

"Kenapa memang? Uuhuhuhu ...." Dia menyahut sambil menangis.

"Kalau kau mati malam ni, biar aku yang mengawininya. Aku yang bakal meneruskan hajatmu. Hiyyaaaah ... haaaargh!" Sambil bicara Ali terus berkelahi dengan mayat hidup yang berusaha menaiki jukung.

Rahang Ipan mengeras. "Enak saja! Kada bisa! Aku yang akan kawin sama si Asmah! Kelahikah kita?"

"Kalahkan dulu hantu-hantu ni! Baru kita kelahi. Hyaaaaaah! Huuuh!"

"Bunguuul! Asmah tak boleh kawin sama ... khheeegkh!" Kalimat Ipan terhenti, matanya tiba-tiba melotot kesulitan bernapas.

Sebuah lengan pucat membelit kuat leher Ipan dari belakang.  Ternyata ulah satu mayat hidup perempuan yang baru naik dari samping Ipan. Tubuh dan rambutnya basah kuyup menetes-netes. Mulut bergigi hitam itu menganga siap menggigit leher Ipan. "Khaaahh ... euuughh ... khhhrr ...."

"Hyaaahh!" Ipan berteriak panjang, kedua tangan menyentak keras, seraya berdiri. Tubuh perempuan di punggungnya seketika terlempar jauh ke sungai.

Byuuurrr!

"Wariiiik! Kubunuh kau kalau berani kawini Asmah!" Ipan sangat murka dengan pernyataan Ali. Tak sempat menyadari betapa kuatnya dia saat melempar perempuan hantu tadi.




Other Stories
Dari Luka Menjadi Cahaya

Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Cinta Satu Paket

Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...

Flower From Heaven

Setelah lulus SMA, Sekar Arum tidak melanjutkan kuliah seperti dua saudara kembarnya, Dyah ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

7 Misteri Di Korea

Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...

Download Titik & Koma