BAB 45. DIKEJAR HANTU
"Ya, Leluhur, lindungi lah anak- cucumu ini dari kehancuran! Sertai kami menghadapi iblis Parang Hitam! Kalahkan dia sekali lagi, sampai tak mungkin untuk bangkit," sengau Tambi Balau. Menatap nanar bintang-bintang yang berkelip di langit temaram.
"Kaaak... kaaakk...." Seekor gagak berbulu hitam, tiba-tiba muncul dari kegelapan, sembari berkauk-kauk nyaring memecah sepi. Sepasang sayapnya mengepak cepat ke arah Tambi Balau.
Satu lengan Tambi terulur ke depan, memberikan tempat untuknya. Hinggap ke lengan Tambi, hewan berparuh itu kian berisik berkauk. Menyampaikan berita tentang yang dia lihat barusan di lereng bukit Tipau. Kepalanya kadang mengangguk-angguk kadang menggeleng.
"Hu' um, hu' um ...." sahut Tambi berkali-kali, menatap lekat kedua mata hewan peliharaannya, lalu kembali melihat ke langit.
Sebelah Utara langit, tampak gumpalan awan hitam yang bergerak mendekat ke Bukit Tipau, diiringi nyala kilat yang bercabang-cabang membelah angkasa.
Tambi menggumam resah. "Akhirnya dia punya nyali datang ke Bukit Tipau. Kekuatannya hampir pulih sempurna ...."
"Kusat, cepat kau susul anak-anak itu ke sungai! Jagalah mereka sekuat kau bisa!" titahnya pada burung gagak hitam, yang ternyata bernama Kusat.
"Kaaakk... kaaakk...." Bola mata Kusat tiba-tiha menyala kemerahan, lalu segera mengepakkan sayap, terbang meninggalkan majikannya. Menjalankan tugas yang baru.
Gegas kedua kaki kurus Tambi berlari kecil ke dalam gubuk, tak berselang lama dia kembali lagi berdiri di tanah lapang penuh ilalang itu, dengan segala benda magis yang melekat pada tubuhnya. Ikat kepala merah dengan hiasan bulu burung, gelang manik-manik serta kalung Penyang Hampatong pada lehernya.
Satu tangan Tambi kini memegang tumbak panjang dengan hiasan surai hitam. Tumbak yang diwariskan turun-temurun dari para leluhur. Dia berdiri tegak membusungkan dada, dengan tatapan tajam lurus ke depan. Tak boleh terlihat lemah jika berhadapan dengan Iblis Parang Hitam.
Perempuan tua itu telah siap bertempur. Namun, sudut lain hatinya, Tambi Balau menangis, karena iblis yang akan dia hadapi ada dalam tubuh Dara.
DUAAARR!!
Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan yang sangat keras, disusul percikan api serta kepulan asap hitam yang membumbung tinggi ke angkasa. Tambi terhenyak, matanya membelalak. Pagar gaib yang terpasang tampaknya sudah dilewati makhluk itu.
"Errghh ...."
"Hmmrrgh ...."
'Ghhhzz ...."
Suara-suara rintihan aneh serta langkah-langkah kaki yang terseret lamat terdengar. Parang Hitam ternyata membawa serta pasukan mayat hidupnya.
Wuuuzzzhh ....
Angin semakin kencang bertiup. Menerpa semua yang dilewatinya, membawa serta gumpalan kabut putih. Dedaunan serta ranting kering tampak beterbangan. Batang ilalang sekitar Tambi Balau sampai rebah menimpa tanah. Namun, perempuan tua itu tetap tegak berdiri. Rambut panjang keperakan miliknya turut berkibaran hebat.
"Khiiihihihihiiiiy... ternyata ada anak-cucu Pangkaliman Aluy di sini ...." Sosok hitam bersayap lebar muncul begitu saja di hadapan Tambi Balau. Tersenyum menyeringai, menelengkan kepalanya.
Tambi Balau sontak menggeram. "Aku tak perlu basa-basimu! Lekas katakan apa yang kau mau, hingga berani datang
ke mari!"
Tak! Tak! Tak!
Tambi Balau menghentakkan ujung tumbaknya ke tanah yang berbatu hingga berbunyi. Menunjukkan kalau dia tak takut sama sekali.
Mata sekelam malam melirik sekilas pada tumbak milik Tambi Balau. Sedikit gentar melihat hiasan surai pada besi tua itu, tampak melambai. Surai rambut milik Pangkaliman Aluy yang sengaja diabadikan oleh anak cucunya. Lelaki hebat yang ratusan tahun lalu pernah berhasil mengalahkan banyak iblis, termasuk Parang Hitam.
"Tampaknya kau sudah mengenaliku dengan baik. Tak usah pura-pura bungul! Kau pasti tahu kalau aku ke mari hanya untuk mengambil anak kecil yang diam-diam kau curi dariku. Serahkan anak itu! Maka, urusan kita selesai."
"Hahahaha!" Tambi terbahak. "Siapa yang sebenarnya jadi pencuri di sini? Lalu bagaimana dengan nasib Dara anak asuhku yang telah berhasil kau perdaya? Lekas lepaskan dia!" Tambi memelototi Parang Hitam.
"Hhh ..." Bibir lebarnya tersenyum miring. "Dara telah memilih jalan hidupnya sebagai pengikutku. Tak ada urusan dengan kau!"
"Dasar licik! Kau pikir aku tak tahu? Kau sedang menjadi parasit di tubuhnya untuk memulihkan kekuatanmu. Dan setelah kekuatanmu kembali, maka Dara hanyalah tubuh tak berguna yang siap kau campakkan. Kau yang akan mengendalikan semua. Bukan Dara. Kau harus tahu itu Dara!" Tambi menyelipkan pesan pada Dara dalam kalimatnya.
"Tutup mulut keriputmu! Kalau kau tak mau menyerahkan anak itu, aku terpaksa harus membunuhmu Tambi Balau!"
"Hah! Terpaksa kau bilang? Walaupun aku menyerahkan anak itu, kau pun pasti masih bernafsu membunuhku. Bukankah kau pernah bersumpah, akan membunuhi semua keturunan Pangkaliman Aluy begitu terbebas dari penjaramu, Muya?"
Tambi sengaja menyebut 'Muya,' nama asli Parang Hitam, untuk mengingatkannya pada sejarah masa lalu.
"Dan sekarang kau mencari-cari alasan untuk bisa membunuhku. Sedang pasukan mayat hidupmu yang tadi menyaru jadi kabut, sudah berangkat mengejar anak-anak itu ke sungai. Dasar Iblis pengecut! Siasatmu penuh kepura-puraan."
"Khiiihihihiiiy ... kau terlalu banyak tahu, Tambi Balau. Kalau begitu tunggu apa lagi? Kali ini keturunan Pangkaliman Aluy harus musnah. Khiiihihihiiiy ...."
Parang Hitam mengangkat tinggi kedua sayapnya. Mata yang tadi hitam kelam berubah merah menyala. Gigi-gigi taring keluar berlesakkan. Siap menyerang Tambi Balau.
"Tidaaak ... aku tidak mau menyakiti Tambi. Tidak mauuu!" Tiba-tiba mulut iblis Parang Hitam mengeluarkan jerit suara Dara. Jiwa Dara sedang berusaha berontak dalam tubuhnya sendiri.
"Dara?" Raut Tambi yang tadi menatap garang pada musuhnya, kini berubah sendu.
"Lawan dia, Dara! Kau bisa melawannya!" teriak Tambi.
Kedua sayap lebarnya lalu mengepak. Makhluk hitam berbulu itu terbang tinggi berputar-putar di atas kepala Tambi Balau, yang terus berusaha mengawasinya. Tampaknya terjadi pergelutan jiwa dalam tubuh Dara.
Syuuuhh ....
Tiba-tiba Parang Hitam menukik secepat kilat ke arah Tambi Balau yang sedikit lengah. Perhatian Tambi sedang terpecah ke arah rumpun semak yang bergerak. Ada seseorang yang sedang bersembunyi di situ.
Crassh!
Cakar tajam makhluk iblis berhasil melukai leher Tambi Balau.
"Aaargh!" Perempuan tua itu berteriak kesakitan.
Tubuh Tambi Balau sontak sempoyongan hilang keseimbangan, lalu terduduk di atas tanah. Serangan Parang Hitam yang tiba-tiba di luar perkiraannya. Tak ayal luka gores pada leher itu mengucurkan darah segar. Sementara Parang Hitam kembali terbang tinggi, mengambil ancang-ancang menyerang ulang. Kedua cakarnya tampak mengembang. Bau darah segar Tambi, membuatnya semakin beringas.
****
Percikan air serta hentakan gelombang sungai yang dilalui jukung, membuat Mamat terjaga. Bocah itu menggeliatkan tubuh, hingga sarung yang membungkusnya terlepas. Saat terbangun, Mamat mendapati Ipan yang terpejam, duduk di ujung kakinya, sambil komat-kamit meracau tak jelas. Berpegangan pada sisi jukung, Mamat berusaha bangun.
"Kak, Ipan. Kita di mana ini, Kak?" tanyanya bingung. Mata Mamat menyipit melihat ke air sungai di sisi kiri dan kanan. Sontak pemuda yang disapa membuka mata.
Plakk!
Spontan kepala Mamat dikemplang.
"Tarung babanam, bangun juga kau akhirnya! Kita ni lagi di warung kopi, kekanak habang' ay. Gara-gara kau, kita betiga dikejar hantu," sahut Ipan setengah berteriak. Menyesal dia kini, kenapa mau saja disuruh Mamaknya mengantarkan Mamat.
"Dikejar hantu?" desis Mamat. Mulutnya mengerucut, mata melebar menatap ke belakang tubuh Ipan. Pada gumpalan kabut yang sedang mengejar jukung mereka.
Gumpalan kabut itu terlihat janggal. Berkali-kali Mamat mengerjapkan mata, lalu mengucek-nguceknya dengan satu tangan. Barangkali matanya yang buram akibat baru bangun tidur.
Di mata bocah yang memiliki kemampuan mata bathin terpendam itu, kabut yang sedang mengejar jukung mereka lebih mirip orang-orang yang sedang berenang sangat cepat.
"Hantunya banyak," gumam Mamat tanpa sadar. semakin membulat bola matanya melihat jarak mereka bertambah dekat.
Degh!
Ipan menelan ludah gugup. Antara percaya dan tidak, menoleh juga dia ke belakang. Tapi, yang tampak olehnya hanya gumpalan kabut yang tertiup angin.
Plakk! Sekali lagi Mamat dikemplang.
"Hantu-hantu! Kecil-kecil sudah pintar bedusta kau!" dengkus Ipan.
"Apa sih kau itu, Pan?! Biarkan saja dia! Mungkin Mamat masih tebawa mimpi," sahut Ali sambil terus mengayuh sampan, tanpa menoleh ke belakang.
"Kaaakk... kaaakk...." Kusat, gagak hitam milik Tambi Balau akhirnya berhasil menyusul mereka.
Burung itu terbang seraya mengibaskan sayap-sayapnya ke atas gumpalan kabut, yang mulai bergerak menyebar, membentuk formasi mengepung jukung. Kibasan sayap Kusat seketika membuat gumpalan kabut berubah wujud, menjadi sosok-sosok mayat hidup.
"Mamat kada bedusta, Kak. Lihat sekali lagi ke belakang! Kita lagi dikejar hantuuu!" seru Mamat panik, menunjuk lurus ke belakang.
"Hantunya banyak! Hantuuu! Hantuuu!" Tidak biasanya bocah pendiam itu berteriak-teriak histeris sampai suaranya serak.
To be continued....
Catatan kaki :
* penyang hampatong = jimat dari patung kayu.
* kekanak habang = anak ingusan
Other Stories
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...