BAB 44. MENYELAMATKAN DIRI
Meskipun berjarak cukup jauh dari gubuk, telinga seorang Tambi Balau mampu menangkap bunyi khas pagar jimat buatannya.
Pagar tali yang digantungi kaleng-kaleng bekas itu terlihat lebih mirip mainan anak-anak. Dipasang pada beberapa titik tempat yang menuju ke gubuk. Siapa sangka benda yang terlihat remeh, ternyata bisa mendeteksi kedatangan Iblis Parang Hitam. Bunyinya akan menggema jauh hingga ke telinga Tambi, jika makhluk yang tak diinginkan itu mulai mendekat.
****
Menuju sungai, mereka melewati hutan yang gelap. Berjalan di antara semak pakis yang tumbuh subur. Kabut pun turun perlahan menutupi pandangan. Satu tangan Ali mengangkat lampu kapal berbahan bakar minyak tanah itu lebih tinggi dari kepalanya, agar situasi di depan bisa terlihat dengan jelas. Kiri dan kanan jalan yang mereka lalui tumbuh rapat pohon-pohon besar dengan sulurnya yang menjuntai. Ipan bergidik ngeri membayangkan ada ular berbisa yang sedang tertidur dalam rimbunnya pakis yang mereka lalui.
Udara lembab dan dingin. Terdengar bunyi gemerasak setiap kaki mereka berpijak pada tanah yang tertutup daun-daun kering. Derik jangkrik mengiringi sepanjang perjalanan. Lolongan serigala hutan terdengar dari kejauhan. Suasana semakin mencekam.
Adaw melangkah tangkas, berjalan paling depan. Memanggul Mamat yang masih tidur dengan nyaman di pundaknya. Bocah itu tak sadar jika dirinya sudah berada di alam bebas.
Sebelumnya Mamat sempat bingung dan ketakutan, tiba-tiba dia sudah berada di tempat tinggal ninik berambut panjang yang pernah mengejar-ngejar mereka. Tapi, perempuan tua yang minta dipanggil Tambi itu ternyata sangat baik. Mamat diberi makan bubur singkong serta buah-buahan segar. Gubuknya sejuk, kasur kapuknya empuk, membuat Mamat terus mengantuk ingin tidur.
"Kak Ipan sama Kak Ali, mana, Tambi?" Mamat sempat menanyakan dua pemuda kawan perjalanannya pada Tambi Balau.
"Sebentar lagi mereka akan datang. Kau tidurlah dulu anak pintar! Tidurlah ... tiduuur ....," jawab Tambi waktu itu, seraya meniupi kedua kelopak mata Mamat. Rasa kantuk yang amat sangat seketika menguasai bocah di hadapannya.
Akan lebih baik kalau Mamat tertidur, dari pada terus terjaga. Tambi mulai kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Mantra pemberi rasa kantuk ditiupkan Tambi, hingga Mamat langsung terlelap setelah selesai makan.
Burung hantu berkukuk dari atas dahan sebuah pohon besar. Lehernya berputar mengawasi gerak langkah tiga anak manusia di bawahnya.
"Woy, Ali! Tangan sama lututku gemetaran, kayaknya aku tak bakal kuat mengayuh jukung. bhuhuuu ...." Ipan mulai terisak, memegangi ujung sarung Ali dari belakang, sedang mata berpendar pada bayangan hitam pepohonan besar yang tegak di sekeliling mereka.
"Jangan kau angkat macam tu sarungku! Nanti buritku kelihatan." Ali dengan gusar menepis tangan Ipan. "Kau lupa kalau kita bedua tak pakai sempak, hah?!" bentaknya.
"Mana jua kelihatan, gelap begini! Hantu ja palingan yang bisa lihat buritmu. Pelan dikitlah jalanmu, Li! Licin benar tanah di bawah ni ...." Telapak kaki Ipan yang telanjang merasakan tanah basah. Ditariknya lagi ujung sarung Ali sebagai pegangan.
"Warik! Kau dengar sendiri kan, Tambi tadi bilang kalau kita sedang dikejar waktu? Kita mesti cepat bawa Mamat pergi. Mau kau mati dihisap iblis tu?" Ali tak habis pikir dengan kawannya yang satu ini.
"Bhuhuhuuu ... tapi, tapi aku tak bakal kuat mendayung. Percuma ja kita kabur, kalau hantunya bisa terbang. Macam anak piak dikejar burung Halang kita, Li. Sakali sambar habislah kita. Mati kitaaa! Bhuhuhuuu ...." Ipan terus mencerocos. Saat ini dia merasa putus asa.
"Mamak... anakmu ni bakal mati malam ni, Mak. Tak sempat kawin Ipan, Mak. Mati muda Ipan, Mak... huwaaa!" Air matanya kini merebak.
Entah kenapa baru sekarang Ipan merasakan takut yang amat sangat. Padahal, sewaktu di rumah Tambi, dia masih bisa tenang.
"Berhenti kau berisik, Pan! Suaramu bisa mengundang hantu. Kalau kau tak mau mendayung, biar aku sendiri yang nanti mendayung. Kau cukup duduk manis," sahut Ali tambah kesal.
Bunyi gemericik arus air sudah terdengar. Jalan semakin menurun. Adaw menghentikan langkahnya, lalu menunjuk ke bawah. Mereka sudah sampai di atas tebing sungai, tampak jalan curam, di mana ada sebuah jukung yang bersandar.
"Astaga, sungainya be'arus! Kita mau arung jeram malam-malam?" ucap Ipan tercekat. Matanya membeliak melihat jalan menuju ke bawah yang cukup curam. Bunyi arus sungai terdengar sampai ke atas tebing.
Tanpa sepatah kata Adaw memanjat turun lebih dahulu, dengan Mamat yang masih menempel di bahunya. Berpegangan pada bebatuan serta akar pohon pada tebing sungai.
"Kau mau turun atau mau tinggal di sini? Aku tak akan memaksa. Cepatlah! Tak usah banyak bacot kau!" bentak Ali. Kedua keningnya bertarung menatap Ipan. Satu tangan masih memegang cantolan lampu kapal.
"Huh! Muka kau mirip Tambi kalau begitu. Keriput! Bhuhu ...," ejek Ipan sambil mewek. Mau tak mau dia pun turun ke bawah menyusul Adaw yang sudah mencapai jukung. Sambil mulutnya tak berhenti mengeluh.
Terdengar bunyi kecipak, ketika sepasang kaki Adaw masuk ke dalam air. Tubuh Mamat diletakkannya di tengah jukung panjang itu, Badan jukung yang masih sangkut dengan daratan, didorong Adaw lebih ke tengah.
"Mang Adaw, makasih atas semua bantuannya, Mang." Ali menyodorkan tangan kanannya pada lelaki besar itu, sebelum menaiki jukung. Dalam hati menyesali tak sempat mengucapkan terima kasih pada Tambi. Mereka semua terlalu terburu.
"Hum." Adaw hanya menggumam dengan raut datar, tanpa menyambut tangan Ali.
"Makasih, Mang!" ulang Ali, menyambar tangan Adaw, lalu menempelkan pada dahinya.
Bagi Ali, Adaw dan Tambi memiliki hati mulia. Sulit menemukan orang yang mau menolong tanpa pamrih seperti mereka, di jaman seperti sekarang.
"Kalau umur kita panjang, kita bisa bersua lagi suatu saat nanti. Ali janji akan membalas semua kebaikan Mamang sama Tambi," ucap Ali menepuk pelan dadanya.
Ipan pun tak mau ketinggalan, ikut mencium tangan besar milik Adaw. Lelaki itu termangu, tak menyangka akan mendapat penghormatan dari dua pemuda yang telah ditolongnya. Adaw lalu melepas tergesa gelang Bahar berbahan akar kayu yang membelit kedua pergelangan tangan. Memasangkan benda itu ke tangan Ali dan Ipan sebagai tanda persaudaraan.
Satu per satu, pemuda kampung menaiki jukung kayu. Adaw gegas melepas tali penyangga jukung yang terikat pada batang pohon.
"I-ikuti a-arus! Ka-ka-kayuh! Hati-hati!" titah Adaw tergagap sebelum melempar tali jukung ke arah Ipan yang duduk di belakang.
"Siap, Mang!" sahut Ali.
Kedua tangan Adaw memberi dorongan pada badan jukung, merelakan sebagian tubuhnya berendam dalam dinginnya air. Lalu melepaskan jukung saat sudah benar-benar masuk ke tengah ruas sungai.
Jukung bergerak menjauh. Ipan yang tidak percaya diri dengan kekuatannya, enggan mengulurkan dayung ke air. Malas-malasan dia memegang gagang dayung, mendekapnya ke dada dengan mata terpejam. Membiarkan Ali mengayuh sendirian.
Sedikit terheran Ali dengan gerakan jukung yang terasa ringan, meskipun yang mengayuh hanya dia seorang. Perahu mereka melaju di atas arus sungai. Lampu kapal yang berada di depan Ali menjadi penerang di tengah kegelapan.
Catatan kaki :
* Burit => bokong
* Anak piak => anak ayam
* Burung Halang => burung elang
Other Stories
2r
Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...