BAB 43. SEMBILAN BOCAH
"Akhirnya tamatlah riwayat tambang minyak itu, semua orangnya menghilang, mayatnya tak satu pun ketemu. Hanya didapati banyak ceceran darah. Tak pernah lagi ada yang berani datang ke sana. Pulisi juga sudah angkat tangan." Tambi Balau mengusap sudut mata yang basah. Perempuan tua itu bercerita sambil air matanya mengalir.
"Astaga! Jadi begitu ceritanya?!" Ipan menggumam dengan mulut membulat, sepasang kening naik, tak mampu membendung rasa terkejutnya.
"Begitu pula kampung kami, Muara Bukit, tak lepas dari sasaran. Untungnya, sebagian sempat menyelamatkan diri lewat sungai. Tersisa orang-orang tua renta, yang tak mampu lagi ikut perjalanan jauh. Itulah sebabnya Adaw sering ke sana menaruh bangkai-bangkai binatang.
Bau busuk bangkai tu, guna menyamarkan bau darah manusia yang masih tinggal di sana. Tak banyak, hanya beberapa orang sepuh. Begitu pun pagar kaleng bekas yang kupasang di perbatasan. Benda tu untuk mengetahui kedatangannya," lanjut Tambi lagi.
Ipan dan Ali mengangguk-angguk paham. Pantas saja mereka sempat bertemu nenek dan kakek yang sangat tua pada salah satu rumah, serta pasangan suami isteri di kebun singkong. Ternyata Adaw bukan seorang psikopat. Tapi, bangkai-bangkai binatang yang disebarnya di desa Muara Bukit bertujuan untuk melindungi warga yang tersisa.
"Tapi ..., Tambi. Kenapa Dara bersikap baik pada kami waktu di mess? Dia terlihat sangat normal. Bahkan sembunyi ketakutan waktu pertama bertemu kami. Padahal kan bisa saja dia langsung membunuh kami?" tanya Ali heran.
"Entahlah. Aku tak tahu persis alasannya. Mungkin masih ada sisi manusia dalam diri Dara. Dia hanyalah gadis belasan tahun seumuran kalian. Mungkin dia sedang butuh teman. Mungkin dia ... kesepian ...." Tambi terisak lagi. Dia ingat betul, Dara seringkali mengeluh tak punya teman sebaya di Muara Bukit, yang bisa dijadikannya teman bermain.
"Aku yakin masih ada sisi manusia di lubuk hatinya. Buktinya dia tak pernah menyentuh aku juga Adaw. Dan sekarang kami sengaja pindah ke bukit ini, membuat pondok sekedarnya untuk melanjutkan hidup. Sementara, tempat ini adalah tempat yang paling aman. Bukit Tipau paling dihindari Parang Hitam, karena leluhur kami penguasa bukit inilah yang dulu berhasil mengalahkannya," terang Tambi.
"Tambi tak ada niatan kah untuk pergi dari sini?" tanya Ali lagi, dengan nada hati-hati.
"Aku telah bersumpah untuk mati di tanah leluhurku. Adaw kubebaskan jika ingin pergi. Tapi, dia tak mau."
Mendengar jawaban Tambi, Ali menunduk, menggeleng-geleng kepala, sembari menghela napas berkali-kali.
Sama sekali tak terbersit di benak Ali, kalau gadis selembut Dara bisa menjelma jadi makhluk iblis. Dara terlihat sangat normal seperti gadis lain. Diapun teman bicara yang menyenangkan. Dendam dalam hatinya telah menghancurkan dirinya sendiri.
"Apa ada hubungannya dengan manusia zombie, ya, Li? Orang-orang pucat yang pagi itu ada di luar mess. Jangan-jangan mereka semua penghuni yang sudah mati," bisik Ipan di telinga Ali. Diapun teringat lagi kuku-kuku jari yang berusaha keluar dari bawah lantai gudang.
"Hum, mungkin juga."
"Tambi!" Ali mengangkat wajahnya ke arah Tambi Balau yang termangu.
"Anu, Tambi ...." Ali lalu menceritakan perihal yang baru dikatakan Ipan, pagi itu di luar mess tiba-tiba banyak orang aneh bermuka pucat yang ingin menyerang mereka. Setelah berhasil keluar dari situ, mereka hanya berhasil menemukan Dara di hutan. Dara pun ikut bersembunyi ketika muncul serombongan suku Punan Kaki Merah, sebelum racun sumpit membuat keduanya tak sadarkan diri.
"Bisa jadi itu ilmu Cuca Mayat. Dia memanfaatkan tubuh-tubuh korbannya, menjadikannya mayat hidup," gumam Tambi mengerutkan bibir, mengusap gusar wajahnya.
Masalah tampaknya bertambah pelik. Tentang Dara yang menghilang saat mereka bertemu suku Punan Siau. Mungkinkah iblis Parang Hitam kini lebih tertarik pada suku berkaki merah itu, dari pada mengejar Mamat?
"Daw, banyak kah anak kecil di tempat orang Punan Kaki Merah tu?" Tatapan Tambi beralih pada anaknya yang sedari tadi hanya jadi pendengar.
Adaw mengangguk cepat. Mengangkat satu telapak tangan kanan, dengan kelima jari yang mengembang. Kode kalau ada lima orang anak kecil yang ada di goa tempat tinggal Punan Kaki Merah.
Tambi Balau membuang napas kasar. "Gawat! Kenapa bisa kebetulan kayak ini? Berarti jumlah anak yang dia butuhkan sudah tersedia di sini. Kita harus mengejar waktu, Daw!" sentak Tambi pada Adaw, dengan bola mata membeliak.
"Ta-ta-tapi, Mak. A-a-anak-aaa-anak Punan ja-jarang keluar go-goa, Mak." Akhirnya mulut Adaw yang rapat itu mengeluarkan suara cempreng sekaligus gagap.
"Semoga saja yang kau katakan tu betul," sental Tambi.
Ali dan Ipan saling tatap tak percaya. Lelaki segagah dan sesangar Adaw ternyata punya masalah gagap bicara. Kini mereka baru tahu alasan Adaw mengunci mulutnya. Ipan pingin ketawa, tetapi takut. Apalagi saat satu tangan Ali menarik rambutnya dari belakang, sebuah ancaman agar dia tidak bertindak konyol.
"Beh, kau langgar lagi pantanganmu!" Tambi menepuk keras pundak Adaw dengan wajah masam. Baru sadar kalau anaknya sudah melanggar syarat. "Adaw ni lagi penyembuhan gagap, selama pengobatan dia punya pantangan tak boleh bicara," terang Tambi pada kedua tamunya.
"Ooohh ...." Serentak mulut Ipan dan Ali membulat.
"Hhh ... harus diulang lagi ritual pengobatanmu, Daw." Tambi menepiskan satu tangannya.
Tangan Adaw mengepal lalu meninju lantai, kesal sudah keceplosan. Sudah berkali-kali pengobatan gagapnya gagal.
"Dengar baik-baik kau semua! Kita sedang dikejar waktu. Cepat atau lambat dia pasti akan menyusul ke mari, mencari Mamat. Iblis yang baru bangkit tu kekuatannya belum sempurna.
Parang Hitam butuh sembilan darah anak tak bedosa agar kekuatannya bisa menyeberang lautan, menyusul Jaya Herlambang ke pulau Jawa. Di mess tambang dia tak mendapatkan anak kecil. Di desa Muara Bukit pun hanya tiga anak yang sempat dia dapat." Tambi bicara cepat sambil tersengal-sengal. Tangannya tampak gemetaran.
"Kalau betul yang dikatakan Adaw, orang Punan punya lima anak di goa mereka. Maka, Mamat bisa jadi yang ke sembilan. Ya, Leluhurku kenapa bisa kebetulan seperti ini?" Perempuan tua itu mengangkat kedua tangan lalu menelungkup ke lantai, berulang-kali.
"Kita musti bagaimana, Tambi?" celetuk Ipan.
"Kita harus cepat bergerak. Bawa pergi Mamat dari sini!" Dia menoleh pada Adaw. "Lekas antar mereka ke perahu, Daw. Semoga Parang Hitam masih sibuk dengan orang Punan. Cepatlah!"
Buk! Dipukulnya keras bahu Adaw sampai berbunyi.
Tergopoh Adaw bangkit dari duduknya, melangkah pergi, mengambil Mamat yang masih tertidur dalam bilik.
Raut Ipan dan Ali menegang. Tak menyangka akan secepat itu mereka harus pergi. Sedang berjalan saja keduanya masih sempoyongan. Harus mengayuh jukung pula malam-malam?
"Tarung babanam," gumam Ipan lesu, kedua bahunya melorot ke bawah.
Tambi Balau menengadah seraya memejamkan mata, kedua tangan memegang ujung daun telinganya. "Tak ada tanda dia melewati pagar kaleng yang kupasang menuju pondok ni. Masih ada waktu buat kau betiga pergi dari sini," ucapnya berbisik tanpa membuka mata. Dia yang dimaksud Tambi yaitu iblis Parang Hitam.
Walau kalimat yang diucap Tambi terkesan ingin menenangkan. Namun, dua pemuda di depannya sontak menelan ludah gugup. Ketegangan sangat terasa, jantung terus berdebar. Mereka sedang berkejaran waktu dengan iblis yang haus darah. Iblis yang sempat bertemu dengan mereka dalam wujud manusia.
"Kau bedua bersiaplah! Ikuti Adaw ke sungai! Ada jukung panjang di situ." Tambi melempar dua helai kaos yang baru diambilnya dari dalam sebuah keranjang, ke arah dua pemuda itu.
"Cuma ada baju ni buat kalian pakai. Punya Adaw. Sejak kecil dia tak suka pakai baju. Biar buat kalian saja. Lekas pakai!" desak Tambi.
"Inggih, Tambi," sahut Ipan, seraya mengenakan kaos berukuran jumbo itu. Kini giliran Ipan dan Ali yang mengenakan kaos kedodoran. Bawahnya tetap pakai sarung kurung yang diikat pada bahu.
Kedua pemuda kampung menurut saja, ketika diminta Tambi untuk berdiri membelakanginya. Telapak tangan Tambi lalu menempel ke punggung Ali dan Ipan.
"Lastapulas ... jutjut ... bakarujut jutjut ...." Kalimat mantra mengalir dari mulut seorang Tambi Balau. Kedua tangannya tampak mengeluarkan cahaya yang memancar ke tubuh Ali dan Ipan. Mengalirkan energi untuk kedua pemuda itu.
Srookk!!
Bagai terkena aliran listrik, beberapa detik rambut keduanya mendadak berdiri tegak. Namun, tak satupun yang menyadarinya. Hanya merasakan hangat, serta tubuh menjadi lebih nyaman.
Adaw keluar dari bilik dengan memanggul tubuh Mamat yang masih tertidur. Bocah kecil itu sudah dibungkus Adaw dengan selimut. Mirip bayi yang dibedong. Ipan dan Ali mengulum senyum. Adaw ternyata berjiwa kebapakan.
"Lekaslah bawa mereka, Daw! Ambil jalan pintas paling dekat menuju sungai!" Tambi membukakan pintu gubuk untuk mereka keluar.
"Tambi ..., bagaimana kalau dia mengejar jukung kami? Aku tak bisa mengayuh cepat, bhuhuhuu ..." Ipan mulai mewek ketakutan.
"Jangan pikirkan apapun! Kayulah terus! Dia akan melewatiku sebelum bisa mengejar kalian. Kalian harus membawa Mamat pergi jauh dari sini!"
"Ayolah, Pan! Tak usah cemen kau!" Ali menonjok pelan perut kawannya.
Dari halaman rumahnya, Tambi melepas kepergian mereka menuju sungai, yang tak jauh dari gubuk daun rumbia itu. Hanya saja, jalan yang dilalui cukup curam.
Adaw berjalan di depan memanggul Mamat pada pundaknya. Di belakangnya Ipan dan Ali membuntuti. Mereka melangkah dalam kegelapan malam, hanya dengan membawa sebuah lampu minyak yang dipegangi Ali. Muka Ipan masih tetap mewek.
Tambi yang tertinggal sendirian masih berdiri mematung di halaman gubuknya. Matanya terpejam, kepala tengadah ke langit. Tubuh kecil Tambi tampak tegap menantang tiupan angin yang mulai berembus kencang. Rambut panjang yang putih berkibaran bersama batang ilalang yang tumbuh tinggi menutupi halaman.
Klontang-klontang... klontang-klontang....
Bunyi kaleng-kaleng bekas dari kejauhan yang saling beradu.
Other Stories
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...