Susur

Reads
505
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 42. RUANG MEETING



Sejak saat itu, Dara tak kunjung kembali ke Desa Muara Bukit. Bersama warga desa Tambi dan Adaw sudah mencoba mencarinya ke hutan-hutan sekitar. Tapi nihil, Dara lenyap tanpa jejak.

Sampai suatu hari, salah satu warga desa datang tergopoh, membawakan kabar pada Tambi Balau, kalau mess pekerja tambang yang tak jauh dari perkampungan mereka, telah mengalami kejadian aneh. Orang-orang di sana banyak yang menghilang secara misterius.

Tambi Balau pun curiga jika hilangnya Dara ada sangkut pautnya dengan kejadian itu. Nalurinya mengatakan, Dara masih ada di suatu tempat. Perempuan tua itu kemudian menggelar sebuah ritual untuk meminta bantuan para leluhurnya.

Saat ritual berlangsung, Tambi dikejutkan dengan satu kekuatan besar yang berusaha menyelubungi keberadaan Dara. Tak seperti biasa, Tambi tak bisa melihat gadis itu dengan mata batinnya. Sebagai seorang yang memiliki kemampuan supranatural, Tambi bisa mengetahui siapa pemilik kekuatan hitam yang mampu menutupi penglihatannya, yaitu Iblis penghuni Bukit Paing, hutan Kariwaya yang ada di bagian Utara belantara Bukit Meratus.

Habislah sudah. Tambi Balau sangat terpukul menghadapi kenyataan itu. Dia tak mengerti, kenapa Dara bisa berurusan dengan salah satu makhluk paling terkutuk di muka bumi.

Hutan Kariwaya cukup jauh dari Desa Muara Bukit. Tak mungkin Dara sanggup menempuh perjalanan ke Bukit Paing, hanya dengan berjalan kaki. Tambi, Adaw beserta warga pun tak sampai sana sewaktu melakukan pencarian. Sepanjang hari Tambi terus bersedih menyesali semua. Tampaknya akan sulit bisa membawa pulang Dara kembali.

Iblis Parang Hitam terus menghasut hati gadis yang penuh dendam. Harus lebih banyak jiwa yang dikorbankan, agar Dara semakin tak terkalahkan. Butuh kekuatan yang lebih besar untuk menghancurkan ratusan jin milik Ki Braja, dukun sakti yang menjadi tameng Jaya Herlambang.

Setiap malam tiba, Dara yang sudah berubah wujud menjadi manusia setengah iblis, mendatangi mess pekerja tambang. Hinggap ke atap bangunannya, sambil mencuri dengar tentang Jaya Herlambang. Ingin tahu kapan lelaki itu akan datang ke sana. Namun, yang ditunggu tak kunjung datang.

Dara tentu kesal, dia lalu mengintai siapapun yang sedang bernasib sial, untuk dihisap darahnya, lalu disembunyikan jasadnya. Jasad-jasad yang suatu saat akan berguna. Parang Hitam punya rencana besar bisa membangkitkan kembali pasukannya yang masih terpenjara di dasar hutan Kariwaya, menggunakan jasad-jasad itu.

Sadar dengan bahaya yang mengancam, sebelum Maghrib para penghuni mess sudah mengunci pintu-pintu kamar mereka. Tidak ada lagi yang berani keluar saat malam hari. Juga tidak ada lagi orang yang berani berjaga di pintu gerbang tempat itu.

Siapa pun yang berada di luar, besok paginya akan tinggal nama, termasuk para satpam dan body guard berbadan besar yang baru dikirimkan oleh Jaya Herlambang. Dara telah berhasil menebar teror ketakutan. Di tengah malam tawa melengkingnya kadang bisa terdengar penghuni yang ada dalam kamar.

Suasana malam sangat mencekam. Tak satupun yang berani ke toilet meski kebelet. Mereka lebih memilih menahan buang air. Sebagian nekat membawa ember ke kamar. Apa pun dilakukan, yang penting tak perlu ke luar.

Puncaknya, sore itu mendekati petang. Salah satu karyawan senior menggelar rapat di ruang meeting kantor mereka. Semua pekerja dikumpulkan, termasuk para kuli.

Melihat korban yang terus bertambah, harus segera diambil sikap tegas. Tidak mungkin lagi tambang dipertahankan. Pekerja sudah banyak yang berkurang karena menghilang secara misterius. Keamanan tak lagi kondusif.

Meskipun tak ada perintah dari pimpinan, dia menyarankan agar semua pekerja segera pulang ke tempat asal masing-masing, sebelum mereka ikut menjadi korban. Bertahan di tempat itu, sama halnya bertaruh nyawa. Dia pun berjanji akan bernegosiasi pada Jaya Herlambang tentang nasib pekerjaan mereka selanjutnya, begitu kembali ke kantor pusat. Kalaupun dipecat itu sudah menjadi resiko.

"Bagi yang tetap ingin tinggal di sini, saya tidak akan memaksa. Cobalah berpikir jernih! Rejeki bisa dicari, tapi nyawa tak bisa diganti," ucap lelaki paruh baya berambut jarang itu di depan meja podium.

Suara gumam peserta rapat sontak mendengung dalam ruangan meeting. Ada yang langsung setuju, dan tak sabar ingin segera pergi dari tempat itu. Ada yang ragu, karena khawatir kehilangan pekerjaan. Ada yang kebingungan, hanya menyimak dengan mulut membulat. Ada pula yang malah menangis, putus asa. Mereka semua sadar jika ada bahaya yang sedang mengintai.

Sedang serunya mereka saling interupsi mengeluarkan pendapat, dari luar terdengar bunyi angin ribut. Cuaca sore itu sangat mendung. Namun, semua yang ada dalam ruang meeting tak menghiraukannya. Mereka masih sibuk mengeluarkan unek-unek masing-masing.

"Besok pagi yang mau ikut kembali ke kota, bisa ikut mobil kantor. Kita berangkat sama-sama. Semoga kekacauan ini bisa cepat teratasi," tambah lelaki di podium lagi.

Derai air berjatuhan menimpa atap. Bunyi gemuruh angin bersama datangnya hujan lebat membuat suasana semakin berisik. Sayup terdengar jeritan-jeritan perempuan dari arah bangunan mess yang terpisah ratusan meter dengan bangunan kantor. Dipikir mereka hanya isteri-isteri para kuli yang sedang mengejar cucian di jemuran.

Saking kencangnya angin di luar menembus masuk lewat celah ventilasi, hingga hawa dingin terasa sampai ke dalam ruangan.

Gradakk ... gradakk ... gradakk gradaaakk ....

Atap yang terbuat dari aluminium itu berbunyi nyaring, terangkat-angkat, seakan hendak berlepasan oleh gempuran keras angin. Ruangan pun terasa bergetar. Sontak semua yang ada mendongak ke langit-langit. Jerit para perempuan di luar sudah tak terdengar lagi, hanya bunyi gemuruh air berpadu riuhnya angin kencang.

"Puting beliung kah di luar?!" celetuk salah satu kuli yang duduk di barisan bangku belakang, menatap daun pintu yang tampak bergerak.

"Angin tutus!" cetus yang lain.

"Bubar ... angin tutuuus ... bubaaar ....!" teriak salah seorang kuli dengan paniknya.

Terprovokasi, dengan teriakan temannya, sebagian dari mereka lari menghambur ke arah pintu, saling mendahului ingin keluar. Namun, begitu pintu terbuka ....

Wuuuzzzhhh .....

Tiupan angin yang sangat kuat menyerbu dari luar. Orang-orang yang sudah berdiri di ambang pintu, seketika mundur sempoyongan. Mata semua orang dalam ruang rapat pun serentak membelalak ketakutan.

Satu sosok tinggi besar dan hitam dengan penampakan layaknya monster mengerikan, melangkah perlahan tapi pasti melewati pintu. Mata kelamnya menyisir seluruh orang yang ada di situ.

Brakk!!

Daun pintu dibelakangnya tiba-tiba sudah tertutup sendiri dengan keras. Semakin wajah semua orang menjadi pucat pasi. Mereka kini terperangkap.

"Han-han-hantuuu!!!"

"Setaaaaaaan!!!"

Semua berlarian menghindar, sambil menjerit-jerit ketakutan.

"Khiiikhihihihiiiy ...." Dara sangat menikmati raut ketakutan pada wajah-wajah itu. Dia terus melangkah maju.

Terlalu fokus dengan rapat, orang-orang lupa, kalau sudah masuk waktu Maghrib. Langit mendung yang berwarna hitam pekat layaknya sudah malam. Saat gelap adalah waktunya Iblis haus darah mencari mangsa. Dara pun sempat mendengar isi rapat mereka tentang rencana akan kembali ke kota, meninggalkan area tambang. Dara tak suka dengan rencana itu.

Malam itu Dara yang telah menyatu dengan iblis Parang Hitam membabi buta, membantai semuanya sampai habis tak tersisa. Ruang meeting dibuatnya porak-poranda. Meja dan bangku terbang berjumpalitan.





Other Stories
Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Cinta Satu Paket

Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...

Download Titik & Koma