Susur

Reads
526
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 41.PARANG HITAM



Titik api serupa obor menyala di beberapa sudut goa, menerangi ruang dingin itu. Sosok mengerikan tadi menghilang, berganti dengan seorang perempuan cantik bergaun hitam yang berdiri di hadapan Dara. Kulit wajah itu pucat seputih kapas, rambut hitamnya yang lebat panjang hingga menyapu tanah. Dia memiliki mata yang hitam pekat. Meski bibir merahnya tersenyum, tetapi terlihat menakutkan.

"Ini rupa asliku ratusan tahun yang lalu. Dulu orang-orang menyebutku si iblis Parang Hitam. Kau tak perlu takut, aku tidak akan menelanmu ... khiiihihihihiiy ...." Suara tawanya tetap mengerikan.

Dara hanya bisa menelan ludah. Tak sanggup berkata apa-apa. Tubuhnya dingin dan gemetar. Kedua tangan menyilang berusaha melindungi tubuhnya.

"Dengarlah baik-baik! Aku akan membuatmu menjadi makhluk yang sangat kuat. Kau bisa dengan mudah menghancurkan orang-orang yang kau benci. Apakah kau percaya padaku, Dara?" tanyanya, menatap lekat seolah ingin membaca seluruh isi otak Dara, yang kemudian mengangguk pelan.

'Jadi benar yang pernah dikatakan Tambi, kalau manusia bisa minta apa saja pada Iblis. Dan aku sekarang sedang berhadapan dengan Iblis itu," Dara membatin, sembari tak berkedip menatap makhluk di hadapan. Berusaha mengatasi rasa takut.

"Sebelum kau menjadi pengikutku, kau harus mengakui sesuatu. Kau bersedia?" Kepala iblis perempuan itu meneleng-neleng.

Dara kembali mengangguk.

"Kau percaya pada Tuhan, Dara?"

Tuhan? Dara tertegun mendengar satu kata itu. Sudah lama Dara melupakanNya, atau sebaliknya, Tuhanlah yang sudah melupakan dirinya. Lagi pula di Rumah Panti pelajaran agama seperti sengaja dihilangkan. Sholat dan mengaji pun tak diajarkan. Tuhan hanyalah sebuah simbol. Agama hanyalah pelengkap status tanpa arti.

"Kenapa kau tampak ragu menjawabnya? Kherrrh ...." Satu kening iblis wanita itu naik, mulut menggeram pelan.

Dara diam tak bergeming. Saat ini dia sangat kecewa pada Tuhan. Satu persatu keluarganya mati mengenaskan. Setelahnya harus hidup sebatang kara, kesengsaraannya bertambah dengan digilir para lelaki laknat keparat itu.

"Ketika kau teraniaya, ketika kau kesakitan, apakah pernah Tuhanmu datang menolongmu?" Dagu perempuan pucat itu terangkat, kedua tangannya dilipat ke dada, menunggu jawaban gadis yang duduk meringkuk.

Dara menggeleng, tanpa sadar air matanya menggenang, menganak sungai. Sejak kecil kesedihan menimpanya terus-menerus. Setelah kedua orang tuanya tewas saat gempa, dia dan Arum sempat hidup terlunta di jalanan. Seringkali mereka kelaparan. Setelah dibawa ke rumah panti, malah harus berpisah karena Arum diadopsi oleh Jaya Herlambang.

Bagi Dara hidupnya seperti jalan yang dipenuhi duri tajam. Dia terus kesakitan setiap melangkah maju melewatinya. Dan sekarang dirinya sudah berdarah-darah.

"Tuhan menjauhiku, sebelum aku mendekatiNya," ucap gadis itu tergugu.

"Khiiihihihiiiy ... kau benar, Dara. Dia tak menyukaimu. Tuhan tak mau menolongmu saat kau membutuhkanNya ...," tambah makhluk itu, sambil terkikik melengking, dengan kepala mendongak.

Dara mengangguk. Tuhan tak pernah datang saat dirinya kesulitan. Tuhan membiarkannya merasakan penghinaan dan rasa sakit. Tuhan tak peduli pada Dara.

"Kini akulah yang datang menolongmu, Dara. Bukan Tuhanmu. Telah kubangkitkan kembali tubuhmu yang hampir mati. Akulah yang akan mendampingimu untuk membalas dendam, sampai kau puas. Sesaat lagi sebagian kekuatanku akan berpindah padamu." Muya kemudian mengangkat tinggi kedua tangannya. "Katakanlah dengan lantang, Dara! Kalau kau tak butuh Tuhan."

"Aku ... tak butuh Tuhan." Bagai terhipnotis Dara ikut mengangkat tinggi kedua tangannya, menuruti kata-kata si iblis perempuan. Suaranya datar dengan tatapan yang kosong.

Tarrr!

Bunyi petir memecah langit. Cahaya terang kilat membelah angkasa.

"Katakanlah lagi, Tuhan bukan penolongmu!"

"Tuhan bukan penolongku!" Nada suara Dara semakin meninggi.

Tarrr!

Petir kian menggeram marah. Pohon Kariwaya di atas mereka mulai bergetar. Angin bertiup bergemuruh.

"Katakan lagi! Iblis adalah penolongmu!"

"Iblis penolongku!" Suara Dara semakin lantang, diiringi gelegar petir yang terus menyahut pengakuan Dara.

"Kau adalah pengikut iblis!"

"AKU ADALAH PENGIKUT IBLIIISSS!!!" Suara Dara tiba-tiba menggelegar nyaring menyaingi bunyi petir di langit. Tubuhnya tampak memancarkan cahaya merah menyala-nyala.

Wuuuzzzzhhh....

Angin di luar bertiup semakin menggila, dahan-dahan pepohonan meliuk heboh. Bumi di bawah pohon Kariwaya bergetar hebat. Seakan sedang terjadi gempa.

Jeduaaarrr!

Bunyi yang sangat nyaring, ketika batang pohon Kariwaya raksasa yang berada di atas tiba-tiba terbelah dua. Asap tampak mengepul. Ratusan kelelawar penghuninya kocar-kacir beterbangan ke segala arah.

Seketika itu tubuh Dara mencuat keluar dari puncak pohon Kariwaya yang mengepulkan asap, lalu melayang tinggi ke langit nan gulita. Rambutnya yang sebahu tiba-tiba saja bertambah panjang semata kaki, berkibar-kibar tertiup embusan angin kencang. Mata bening gadis itu kini berubah merah menyala.

Dara sudah berubah menjadi manusia setengah iblis. Parang Hitam berhasil merasuk ke tubuhnya. Iblis itu butuh tubuh manusia untuk bisa bangkit kembali. Manusia yang tak lagi percaya pada kekuatan Tuhan.

"Khiiihihihhiiiy...." Dara kemudian melesat terbang ke langit, di tengah derai rintik hujan yang masih berjatuhan. Penampakannya kadang berubah layaknya kelelawar raksasa, dengan kedua sayap lebar yang mengembang.

Iblis Parang Hitam kini telah bebas dari belenggu yang pernah memenjaranya selama ratusan tahun di dasar pohon Kariwaya.

****


Di malam yang sama, Bonang terjaga dari tidurnya, dalam salah satu kamar mess. Bibir hitam tebal itu mendesis menahan kandung kencing yang terasa akan meledak. Terbirit-birit Bonang keluar dari kamar, menuju toilet umum yang ada di sudut bangunan.

Di luar hujan masih turun. Air mengucur dari atap sepanjang selasar yang dilalui Bonang. Suasana tampak sepi dari biasa.
Bunyi petir menggelegar di langit malam, yang benderang oleh sambaran cahaya kilat.

Dup!

Seluruh lampu tiba-tiba padam.

"Sialan!" umpat Bonang kesal. Dia sudah tak kuat lagi menahan kencing. Diurungkannya niat menuju ke toilet umum. Dipikir-pikir tak akan ada yang melihatnya buang air kecil sembarangan. Lelaki besar itu berdiri di sudut selasar, membuka resluiting celananya tergesa.

Belum lagi hajat terlaksana, Bonang merasakan anunya tiba-tiba sakit. Mungkin akibat terlalu lama menahan kencing pikirnya. Tapi, semakin Bonang mengedan kencing, dia semakin kesakitan. Di malam yang dingin itu, Bonang malah banjir keringat menahan perih yang amat sangat. Wajah yang biasa garang, tampak meringis.

Apa yang salah dengan dirinya?

Sejurus kemudian, tiba-tiba muncul sebuah penampakan perempuan bergaun hitam, yang berdiri di samping Bonang. Wajahnya menunduk, ditutupi rambut lebat yang sangat panjang hingga ke mata kaki. Satu tangan perempuan itu memegang milik Bonang.

"Heh, perempuan gila! Mau apa kau? Lepaskan anuku!" bentak Bonang melotot.

Tapi, anehnya body guard terkejam itu tak punya daya untuk melepaskan diri. Otot-otot besarnya seakan lemas. Dia hanya bisa berdiri kaku, memandangi cakar-cakar hitam dan panjang si perempuan, yang menancap dalam, hingga darah segar menetes-netes jatuh membasahi lantai selasar yang basah oleh tempias air hujan. Lantai kini tampak memerah oleh darah Bonang.

"Lepaskan! Tolong lepaskan! Sakit sekali! Aaarghh! Perempuan gila! Dari mana asalmu?! Kutembak kau! Aaargh!" jeritnya tertahan.

"Tol-tolooooooong!!" Bonang berteriak sejadi-jadinya.

Anehnya, tak seorang pun yang mendengar teriakan Bonang.

****

Esok paginya, seluruh penghuni mess dihebohkan dengan menghilangnya Bonang serta ceceran darah di sepanjang selasar. Banyak yang menyangkutkan hal itu dengan hewan buas beruang yang kadang berkeliaran di sekitar area tambang. Kemungkinan Bonang sedang apes bertemu dengan kawanan beruang yang sedang lapar.

Namun, teror tidak berhenti di situ. Untuk mengembalikan kekuatan iblisnya, Parang Hitam membutuhkan banyak nyawa. Satu persatu penghuni mess menghilang misterius, terutama semua body guard anak buah Bonang. Ketakutan menggerogoti semua penghuni.

Semakin banyak nyawa, maka iblis Parang Hitam akan semakin kuat.

Kabar teror yang menghantui salah satu tambang miliknya, sampai juga ke telinga Jaya Herlambang. Semakin lelaki itu tak berani menampakkan diri. Ki Braja mewanti-wantinya jika masalah yang mereka hadapi kini semakin besar. Nyawa Jaya Herlambang sedang terancam.

Puluhan body guard tangguh dikirim lagi untuk berjaga di area tambang, sekaligus mencari keberadaan para penghuni yang menghilang. Aparat kepolisian pun turun tangan untuk melakukan investigasi. Keamanan tambang diperketat. Sebagian orang berspekulasi jika mereka yang menghilang telah diculik makhluk halus, pasalnya tidak pernah ditemukan mayat atau pun jejak.

Dara semakin murka, mengetahui Jaya Herlambang tak juga muncul ke tempat itu. Sementara semakin hari, jiwanya semakin haus akan darah.





Other Stories
Don't Touch Me

Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...

Petualangan Di Negri Awan

seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Dear Zalina

Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...

Tersesat

Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...

Download Titik & Koma