BAB 40. BUKAN MANUSIA
Hewan-hewan bersayap yang tadi hanya diam menempel pada dahan, kini beterbangan hilir mudik sambil mencicit.
Darah segar Dara masih mengucur membasahi daun-daun kering di bawah tubuhnya, lalu terus meluncur mendekati akar-akar pohon Kariwaya. Merembes masuk ke sela rongga yang ada di bawahnya.
"Khaaahh ...." Terdengar suara desisan panjang. Seolah cairan amis itu telah memberinya sebuah kekuatan.
Sreeekk ... srreeekk ....
Tubuh Dara tiba-tiba terlihat bergerak ke arah pokok pohon di dekatnya. Bukan bergerak sendiri, tetapi ada satu kekuatan tak kasat mata, yang sengaja menyeretnya masuk ke sela-sela akar besar pohon Kariwaya yang berbentuk melingkar. Sementara kilat di langit menyambar menerangi sekitar, diiringi bunyi petir yang menyalak, menggelegar.
Energi tak kasat mata itu terus membawanya masuk ke bawah rongga akar pohon yang di dalamnya lebih mirip sebuah goa. Suasana di dalam gelap gulita, sunyi mencekam. Sesekali terdengar cicit kelelawar yang menghuni langit-langit goa, serta bunyi tetesan air hujan yang merembes berjatuhan.
Hingga siang berganti malam, langit Pegunungan Meratus diselimuti awan hitam. Angin kencang bergemuruh riuh. Hujan deras tak kunjung berhenti.
Di rumahnya, Tambi Balau menghela napas gelisah. Berdiri terpaku menatap kosong ke luar jendela rumah. Batang-batang ilalang tampak rebah tertimpa guyuran hujan. Adaw maupun Dara tak juga kembali ke rumah.
"Pada ke mana dua anak itu?" gumamnya pelan.
Adaw tak pulang, sudah biasa bagi Tambi. Anak lelakinya tahan pergi berhari-hari hanya untuk berburu ke hutan-hutan yang jauh dari Desa Muara Bukit. Tapi, Dara? Beberapa hari terakhir, gadis itu memang tak suka diam. Ada saja alasannya untuk keluar rumah. Mungkinkah dia sedang terjebak hujan di suatu tempat?
Malam itu, deru air hujan terdengar hingga ke dalam gua yang terbentuk dari akar-akar besar pohon Kariwaya. Suhu udara semakin dingin.
"Khhrrrh ...." Suara geraman yang aneh dalam kegelapan, tempat Dara kini berada.
"Takdir telah membawamu datang ke sarangku," ucapnya lirih dan serak.
Dialah Parang Hitam, Iblis haus darah yang telah ratusan tahun bersemayam di pohon besar Kariwaya, Bukit Paing. Menunggu saatnya dia bisa bangkit kembali oleh darah anak manusia yang memendam dendam.
Cahaya kuning kemerahan muncul perlahan menerangi sekitar tubuh kaku Dara si gadis malang. Saat ini dia berada pada detik-detik terakhir kehidupan. Di antara hidup dan mati. Masih tersisa deguban jantung yang sangat lemah. Dendam yang teramat besar membuat jiwa yang marah tak rela melepaskan raganya.
Minyak Bintang yang pernah diberikan Tambi Balau untuk mengobati luka dalam Dara, berpengaruh besar pada tubuh ringkihnya. Dara masih bisa bertahan dengan tulang leher yang sudah patah.
Perlahan tubuh polos gadis belia itu terangkat naik ke atas, lalu melayang ke udara. Cahaya kuning kemerahan semakin berpendar terang melingkupinya. Embusan angin berputar-putar mengelilingi, membuat rambut sebahu bergelombangnya riap-riapan. Hawa hangat menyusup masuk lewat pori-pori kulit, menembus pembuluh darah. Degub jantung Dara kini mulai teratur, memompa semakin kuat.
Setelah beberapa lama melayang di udara, tubuh Dara terhempas kembali ke tanah. Cahaya kuning kemerahan semakin redup lalu menghilang, kemudian kembali hening dan gelap.
Kreekk ....
Bunyi tulang leher yang berputar kembali ke asal.
"Heeerghk!" Keluar suara mengerang dari mulut gadis itu, seiring dengan tubuhnya yang tersentak bangun.
Kelopak mata Dara sontak membelalak lebar, menatap ke langit-langit. Dia merasa seperti terbangun dari tidur yang dalam. Hanya kesuraman yang tampak di sekelilingnya.
"Aku di mana?" gumamnya, pada diri sendiri. Napasnya tersengal.
"Ciiiaakk ... ciiikkk ...." Pertanyaan Dara dijawab cicitan kelelawar yang menggantung pada langit-langit goa.
"Bunyi apa itu?" desisnya ketakutan.
"Dingin ...." Dara menggigil, memeluk diri sendiri, lalu menemukan tubuhnya tidak tertutup sehelai benang pun. Terbaring di atas tanah yang dingin dan basah. Bau lumut serta bau kotoran kelelawar membaur jadi satu.
Gadis itu kini ingat, jika telah melewati peristiwa buruk dan menjijikan. Wajah para lelaki busuk itu kemudian satu persatu berseliweran dalam kepalanya. Tawa terbahak mereka saat menjamahnya, membuat Dara merasa muak.
"Bangsaaat!" Teriaknya geram. Disusul isak tangis yang menyayat-nyayat.
Dara tak mengerti kenapa dia masih hidup. Bukankah Si Codet sangat bernafsu untuk membunuhnya? Dan sekarang dirinya berada di tempat remang dan dingin yang menakutkan. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Mungkinkah mereka melempar tubuhnya ke jurang yang dalam, hingga semua terlihat gelap?
Gadis itu kemudian terisak, menangisi nasib yang begitu getir. Berbaring meringkuk, memeluk kedua lutut. Dipejamkannya mata, membayangkan wajah Arum yang sedang menatapnya sedih.
"Mbak Arum ... mereka semua jahat, Mbak. Aku benci mereka, uuhuhuhuuu ...." Dara tersedu-sedu.
"Dara lebih baik mati saja, Mbak. Dara nggak sanggup kalau hidup begini." Gadis itu terus terisak, seraya mengoceh seolah sedang mengadu pada kakak perempuannya.
"Tapi, Dara nggak mau mati dengan tenang seperti Mbak Arum. Dara ingin jadi hantu yang menakutkan. Mengejar mereka semua. Membunuh mereka satu persatu ...."
"Dara bersumpah akan membalas mereka semua, Mbak. Dara tidak akan membiarkan hidup mereka tenang ...."
"Dara mau jadi hantuuu ....!" ujarnya setengah menjerit.
Wuuusshhh....
Terpaan angin dingin yang menerobos masuk ke mulut goa, seketika membuat tubuh Dara menggigil.
"Dara ...." Suara lirih menyebut namanya, terdengar menggema di langit-langit goa.
"Si-siapa itu?" cicit Dara tercekat, menyusut sisa air mata. Tubuhnya mencoba beringsut mundur, bertumpu dengan kedua sikut. Netra menelisik kegelapan.
"Kau harus membalas mereka, Dara! Orang-orang yang sudah berbuat jahat padamu."
"Siapa kamu? Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Dara panik. Ternyata ada orang lain selain dirinya di tempat itu.
"Aku yang membawamu ke sini, kau berada di tempatku. Akulah yang akan membantumu, Dara. Bukankah kau ingin menuntut balas pada ayah angkatmu yang licik itu? Juga orang-orang yang tega menodai kamu?" tambahnya lagi.
Dara terperangah. "Dari mana kamu tahu semuanya? Kau pun tahu namaku."
"Khihihihiiiy ...!" Suara tawanya terdengar mengerikan. "Aku tahu semuanya, Dara ...."
"Apa aku mengenalmu?"
"Sebentar lagi kau akan mengenalku. Kau butuh kekuatan besar jika ingin membalas mereka. Mintalah padaku! Maka, aku akan memberikan kekuatan itu ...."
"Apakah kau orang sakti seperti Tambi Balau?" Bola mata Dara memicing, berusaha menembus kegelapan.
"Jauh lebih sakti dari perempuan tua itu ...."
"Benarkah? Aku pasti akan membalas mereka. Mereka harus merasakan sakit, sesakit-sakitnya sebelum mereka mati. Bukan hanya mereka, tapi anak-anak perempuan mereka." Kedua tangan Dara meremas geram rambutnya sendiri. Geram dan marah pada semua yang terjadi. Tidak akan ada kata ampun bagi orang-orang yang pernah menyakitinya.
"Hmm ... bagus!"
"Tapi ... siapa kamu? Bisakah aku melihatmu? Kenapa tempatmu ini sangat gelap?"
"Pejamkan matamu jika kau ingin melihatku!"
Meski tak habis pikir, Dara segera menurut memejamkan matanya. Dalam keadaan terpejam, samar Dara bisa melihat sesosok bayangan besar berdiri di hadapannya dengan kedua sayap lebar yang membentang. Tubuh Dara menegang, jantung kontan berdegub cepat. Semakin lama penampakan sosok samar itu semakin jelas.
Bahu itu sangat lebar. Tangan panjang menjuntai dengan bentuk aneh lebih mirip sepasang sayap. Seluruh tubuhnya hitam penuh bulu. Rambut panjang dan kaku seperti ijuk menutupi sebagian wajahnya. Kedua telinga panjang yang runcing menyembul tegak di antara rambut lebih mirip tanduk. Wajahnya penuh benjolan. Lubang hidungnya yang besar, tampak kembang kempis mengeluarkan bunyi dengkus yang nyaring. Matanya menyala merah.
Makhluk mengerikan itu lalu tersenyum menyeringai pada Dara, memperlihatkan gigi-gigi taring yang panjang. Menyeramkan!
"Huwaaahh! Kau bukan manusia! Huwaaahh!" Dara menjerit-jerit histeris, membuka matanya lagi. Tak kuat melihat penampakan makhluk itu.
"Kau benar, aku bukan manusia. Aku adalah Iblis, Khiiihihihiiiy ...."
Iblis?
Tubuh Dara semakin menggigil. Dia terus beringsut mundur hingga punggungnya membentur dinding goa.
Other Stories
Dentistry Melody
Stella hanya ingin mewujudkan mimpinya menjadi dokter gigi, bermain biola, dan bersama Ron ...
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...