BAB 39. DI BAWAH POHON KARIWAYA
"Jadi Serigala itu yang meminta kalian membunuhku?!" Dara mendengkus, mengibaskan dagunya dari tangan kasar Bonang.
"Widih, kalau lagi galak begini, tambah cantik. Sayang banget kalau langsung dieksekusi," celetuk Hendra, melirik ke Bonang dengan tatapan penuh arti. Teman-temannya terkekeh, tahu ke mana arah pembicaraan Hendra.
"Rambutnya wangi." Wahyu mendekatkan wajahn ke Dara.
"Cuihh!!" Dara spontan meludahi muka lelaki beristeri dua itu.
"Sebentar lagi kau tak akan bisa meludah." Wahyu tersenyum sinis.
Bonang mengelus rahang. Ide Hendra tiba-tiba membangkitkan hasrat lelaki berkulit gelap itu. Sementara Jaya Herlambang masih meminta mereka terus berjaga di kawasan tambang. Artinya dia dan anak buahnya bakal lama tak bertemu perempuan. Di camp tambang cuma ada isteri-isteri para karyawan yang ikut tinggal dengan suaminya.
Sorot mata penuh birahi dari lelaki di sekelilingnya, membuat Dara bergidik ketakutan. Tubuh gadis usia belasan itu terus meronta dan memaki. Meski sadar tak akan mampu lepas dari mereka.
Bonang melepas dan melempar asal jaket, lalu mulai menarik gasper pada pinggang. Anak buahnya terbahak-bahak senang melihat bos mereka bersiap untuk pesta. Mereka semua pun akan kebagian gula. Tapi, tentu saja setelah Bonang selesai.
"Mau ke mana kamu, Dion?" tegur Asep, melihat salah satu teman mereka yang bernama Dion, melangkah menjauh.
"Jaga-jaga ke depan. Takutnya ada orang lewat." Dion beralasan.
"Lagi puasa kamu?" kelakar Asep. Dion hanya tertawa kecil.
Sebenarnya Dion tidak tega. Seorang gadis seumuran adik perempuannya, harus digilir laki-laki dewasa. Jika disuruh memilih, Dion lebih suka langsung membunuh dari pada menyiksa seperti itu.
Dion melangkah lebar sembari menyelipkan sebatang rokok ke sudut mulut. Menyalakan tergesa dengan sebuah pematik api. Berusaha mengalihkan perhatian dari jeritan pilu di belakang sana. Khawatir dia pun tak mampu menahan hasrat sendiri, jika terus ikut menyaksikan aksi Bonang.
"Jangan! Kumohon kasihani aku!"
Masih terdengar jelas di telinga Dion betapa gadis itu mengiba. Nada suaranya kini terdengar menyayat hati. Air mata Dara mengalir deras.
"Bunuh, tolong bunuh saja aku!" pinta Dara disela isak tangis.
"Apa perlu mulutnya disumpal dulu, Bos?" tawar Hendra dengan jahatnya.
"Biarkan dia menjerit! Aku suka jeritannya. Hehehe ..." Sambil cengengesan, tanpa malu-malu, Bonang mulai melakukan aksi bejat, ditengah tatapan anak buahnya yang menelan ludah tak sabar.
"Aku bersumpah akan membalas perlakuan kalian!" Meski tak mungkin selamat, tubuh Dara terus menggeliat berontak dengan tenaga yang tersisa.
"Jahahahaha ... jahahahaha!" Kompak mereka menertawakan ucapan Dara. Kalimat yang keluar dari mulut gadis itu hanyalah pepesan kosong belaka.
"Anak-anak perempuan kalian harus merasakan hancur sepertiku!" Napas Dara memburu, bola mata berkilat-kilat, menatap liar wajah-wajah mesum.
"Jahahahaha ... jahahahaha ...!" Tawa manusia iblis di sekitarnya kembali berderai.
"Biarpun aku mati, tak akan kubiarkan kalian hidup tenang. Aku akan datang menghantui kalian semua!"
Tawa Bonang dan kronconya semakin nyaring, setiap mendengar gadis itu merutuk. Air liur mereka bercipratan. Tak percaya gadis yang sedang teraniaya itu, suatu saat mampu melakukan pembalasan.
"Ngoceh lah terus sesuka hatimu! Mumpung masih bisa napas." Hendra terpingkal-pingkal. Sesekali tangannya liar menjamah.
"Kalian semua akan menyesaaaal..." Dara terus meracau. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
Jeritan panjang Dara terdengar melengking dalam hutan nan sepi. Kelelawar-kelelawar yang tengah tidur siang terusik hingga beterbangan. Di tempatnya Dion menahan napas tegang, lalu gegas menghisap dalam rokoknya sambil memejamkan mata. Menepis rasa bersalah yang mengumpal. Nurani keempat body guard Jaya Herlambang telah mati.
Wuuusshh....
Angin tiba-tiba berembus begitu kencang. Langit yang tadinya biru cerah mendadak hitam kelam. Dahan-dahan pohon gemerasak meliuk-liuk. Dedaunan kering yang terongok di atas tanah beterbangan berputar terbawa angin.
Dion menengadah ke langit, lalu mengalihkan pandangan pada jam tangan digital pada pergelangan tangannya. Sudah lebih dua jam berlalu. Rasanya tak mungkin empat orang itu masih belum puas. Asyik sekali rupanya mereka, hingga butuh waktu berjam-jam.
Gulungan awan hitam mulai turun. Sebentar lagi pasti akan hujan deras. Dia harus mengingatkan kawan-kawannya. Gegas dilempar sisa puntung rokok yang masih menyala ke tanah, menginjak dengan ujung sepatu hingga padam. Kedua tungkai panjangnya setengah berlari mendatangi tempat kawan-kawan sedang berpesta. Tetes-tetes air hujan mulai berjatuhan.
"Woy, hujan, woy!" teriak Dion. Menatap sekilas ke bawah pohon Kariwaya besar.
Merinding Dion memperhatikan pohon raksasa itu. Batangnya sebesar sepuluh pelukan orang dewasa. Akar-akar membentuk lingkaran mirip goa. Saking tinggi pohon itu, tak tampak puncaknya. Hanya dahan-dahan menjuntai yang rimbun oleh daun. Lumut tampak menghijau menutup sebagian pokok pohon.
Brakk!
Dibuka Dion pintu mobil, lalu segera masuk, menghidupkan mesin.
"Kelewatan mereka!" gumam Dion, menggelengkan kepala.
Sengaja bunyi mesin mobil dibuat Dion nyaring, agar kekhusukan empat orang itu terganggu.
"Dion, kamu dipanggil sama Bos, tuh." Tergopoh Asep mendekat ke pintu mobil, memasang gasper tergesa. Tubuh lelaki itu telah basah oleh keringat.
"Halah, nggak liat apa udah hujan begini? Tinggalin aja tu cewek, dah! Aku nggak minat," sahut Dion gusar.
Tarrr! Tarrr!
Gelegar petir sahut-menyahut memekakkan telinga. Angin kian kencang berembus. Hawa dingin menyergap. Asep segera ikut masuk ke dalam mobil. Dia malas ikut mengeksekusi gadis yang baru saja dicicipi.
Byurrr!
Hujan mengguyur deras.
"Cepatlah!" desak Bonang, pada dua anak buah yang tampak ragu.
"Sepertinya sudah tidak bernapas, Bos. Nadinya tidak teraba lagi," ujar Wahyu, menempelkan jari pada pergelangan lengan Dara.
"Pastikan dia benar-benar mati!" Bonang berdecak tak sabar sembari maju, mendekati tubuh Dara yang sudah pucat layaknya mayat.
Tampaknya harus dirinya sendiri yang menghabisi hidup gadis itu. Eksekusi kali ini tidak boleh gagal. Kalau tidak, Jaya Herlambang bakalan murka.
Sepasang tangan kekar berurat milik Bonang, mencengkram kuat leher jenjang Dara. Melotot-lotot bola mata lelaki itu, mengerahkan segenap tenaga. Wahyu dan Hendra menatap ngeri, menyaksikan kekejaman Bos mereka.
Krekk!
Bunyi tulang leher yang patah. Bonang menghela napas puas.
Di bawah guyuran hujan, ketiganya kemudian menghambur masuk ke dalam mobil yang meraung-raung. Meninggalkan Dara terongok layaknya sampah.
Kondisi gadis itu sangat mengenaskan. Terkulai dengan tulang leher yang patah. Darah segar mengucur dari sela paha, membasahi daun-daun kering di bawah tubuhnya.
Nyawa Dara telah di ujung napas.
Langit kian menggelap. Hujan semakin deras. Tetes-tetes air yang merembes dari sela rimbun dedaunan berjatuhan ke tubuh yang membeku. Bayangan-bayangan hitam kelelawar berkelebat mondar-mandir.
Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...