Susur

Reads
525
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 38 PERINTAH TUAN



Dara menelan ludah gugup. Tubuhnya berputar, mencoba mencari celah agar bisa terlepas dari pagar betis yang mereka buat.

"Mari sini, Cah Ayu!" Si Jangkung mengedipkan sebelah mata. Senyumnya melet-melet menyebalkan.

"Jangan mendekat! Pergi kalian semua!" hardik Dara gemetar, seraya menepis lengan-lengan kokoh yang berusaha memeganginya.

"Hehehe, percuma melawan."

Salah satu dari mereka memegangi Dara dari belakang, mengunci gerakan gadis itu.

"Lepaskan, tolong, hhmf!" Dara tak mampu lagi melanjutkan teriakan untuk meminta tolong. Mulutnya sudah dibekap kuat.

Gadis itu ketakutan setengah mati, kaki dan tangannya terus meronta. Menyesal kenapa dia tak sembunyi saja tadi mendengar bunyi deru mesin mobil mendekat. Dara sempat berpikir kalau mobil yang datang itu orang dari kota yang ingin berobat ke rumah Tambi. Sama sekali tak menyangka, kalau yang datang ternyata pasukan Si Codet.

Bugk!

Hantaman keras pada tengkuk, seketika melumpuhkan kesadarannya.

Dara pingsan.

Gerak cepat, tubuh gadis yang telah lunglai dibopong masuk ke dalam mobil. Si pengemudi bergegas tancap gas. Mesin mobil menderu nyaring menerobos ilalang tinggi yang menutupi jalan setapak.

Dara dalam bahaya besar.

Mobil Jip hijau terus memacu kian jauh memasuki rapatnya hutan belantara. Badan mobil kadang berguncang karena jalan yang terjal dan bergelombang, di kiri kanan kini tampak pohon-pohon tua Kariwaya. Akarnya tumbuh melingkar-lingkar. Dahannya menjuntai hingga ke tanah. Batangnya berlumut kehijauan. Sisi Utara belantara perbukitan Meratus yang gelap itu tak terjamah manusia. Ditakuti penduduk setempat karena keangkerannya.

Si Codet aslinya bernama Bonang. Dia biasa dipanggil dengan sebutan 'Bos' oleh anak buahnya. Seorang mantan tentara yang pernah dipecat dari kesatuan akibat terlibat tindak kriminal. Selain sebagai body guard, Bonang juga tangan kanan Jaya Herlambang. Menyiks4 dan membvnvh orang hal biasa baginya. Siapa pun yang berani mengusik bisnis milik Jaya Herlambang, siap dilibas hingga jera.

Sejak sepekan yang lalu, Jaya Herlambang meminta Bonang mencari keberadaan gadis bernama Dara, yang pernah kabur dari ritual.

"Tapi, dia sudah m4ti, Pak. Saya yakin sudah menemb4k perutnya waktu itu," kilah Bonang saat menghadap Jaya Herlambang hari itu.

Rasanya mustahil kalau gadis yang dimaksud sang Tuan selamat dari maut. Luk4 temb4k menembus perut, pasti gadis yang bernama Dara sudah tewas kehabisan d4rah, pikir Bonang. Dengan mata kepala sendiri, dia menyaksikan tubuh mungil yang bersimbah d4rah jatuh membentur batu-batu besar di sungai, lalu hanyut terbawa arus air.

"Mana mayatnya kalau dia sudah m4ti?" Suara Jaya Herlambang terdengar penuh penekanan. "Segera temukan gadis itu di perkampungan sekitar tambang! Habisi dia tanpa jejak!"

"Siap, Pak!" sahut Bonang cepat, meski hatinya sendiri sebenarnya ragu. Masa iya, masih hidup. Berbulan-bulan telah lewat, kenapa baru sekarang Pak Jaya mencari gadis itu lagi? Bonang membatin dengan kening bertaut heran.

Serangan santet Parang Maya yang datang malam sebelumnya, membuat pengusaha tambang itu belingsatan. Di datanginya Ki Braja, dukun sekaligus guru spiritual tempat dia ngilmu pesugihan. Dukun itu juga yang meminjamkan beberapa jin peliharaan untuk menjaga rumah Jaya Herlambang.

Sebuah tindakan terburu Tambi Balau yang telah mengirimkan santet Parang Maya, tanpa menyelidiki kekuatan lawan, ternyata malah memancing masalah yang lebih besar.

Parang Maya kiriman Tambi yang sedang haus d4rah, tak mau berhenti sebelum mendapatkan korban. Untuk melindungi tuannya, jin piaraan di rumah Jaya Herlambang mengarahkan Parang Maya kepada orang lain. Bukan isteri atau pun anak dari Jaya Herlambang. Namun, seseorang yang tak tahu apa-apa. Malam itu, seorang perempuan paruh baya meregang nyawa saat tertidur lelap di kamar pembantu.

Masalah besar kini menghadang Dara. Jaya Herlambang sudah mengetahui jika ada seseorang yang sedang menginginkan nyawanya. Ki Braja, dukun pelindung lelaki itu tak tinggal diam. Untuk sementara waktu, murid sekaligus ATM berjalannya dilarang Ki Braja menjejakkan kaki ke Kalimantan. Dia memastikan ada sebuah kekuatan hitam yang sedang menunggu kedatangan Jaya Herlambang di sana.

Jin-jin pencuri dengar milik si dukun telah membawakan kabar untuk Ki Braja, bahwa semua ada hubungannya dengan seorang gadis calon tumbal yang berhasil kabur. Kecurigaan Jaya Herlambang mengarah pada satu nama yaitu Dara. Satu-satunya gadis yang berhasil melarikan diri. Kemungkinan besar Dara masih hidup.

Bibir tebal kehitaman milik Bonang tersenyum miring, menatap tubuh gadis yang tergolek pingsan di bangku belakang mobil, diapit dua orang anak buahnya. Diperhatikan lagi layar ponsel pada genggamannya. Tampak foto wajah ayu khas gadis peranakan Jawa, berkulit sawo matang dengan rambut hitam bergelombang tergerai. Foto yang sengaja dikirimkan Jaya Herlambang ke handphone Bonang, agar dia mudah mengenali Dara.

Tak salah lagi, gadis yang bersama mereka sekarang ini adalah Dara, gadis yang kabur dan tertemb4k itu.

"Hebat kamu, ya. Ternyata kamu masih hidup;" gumamnya seraya berdecak heran. "Mau balas dendam sama Pak Jaya pula, sekarang?" Sebelah kening Bonang naik, meremehkan.

Mobil Jeep yang membawa mereka terus bergerak menuju lereng sebuah bukit. Bukit yang dinamai penduduk setempat dengan sebutan 'Bukit Paing' artinya Bukit Kelelawar. Sesuai namanya Bukit Paing dihuni oleh ribuan kelelawar hitam.

"Stop, berhenti di sini!" Bonang mengangkat satu telapak tangan, pada pengemudi di sampingnya, leher menoleh-noleh. Memastikan tempat itu benar-benar sepi.

Mobil pun berhenti. Keempat anak buah Bonang ikut celingukan. Rimbunnya pepohonan membuat suasana di tempat itu lebih gelap. Jerit serangga hutan terdengar saling bersahutan. Bau khas kotoran kelelawar terbawa embusan angin.

"Hawanya kok rada beda, ya?" celetuk Hendra, si Jangkung, mengusap tengkuk yang tiba-tiba dingin. Saat matanya berpendar ke atas, tampak tubuh-tubuh kelelawar yang menggantung pada dahan pohon, dengan posisi terbalik.

"Mau diapain ni cewek, Bos?" tanya Dion, yang sedari tadi menyetir mobil. Dion berusia paling muda dari yang lain.

"Turunkan dia dari mobil!"

Bonang membuka pintu mobil, melompat turun lebih dahulu.
Pupil lelaki berkulit gelap itu menyapu sekeliling. Tak tampak apa pun selain pohon-pohon besar. Dia terkekeh senang. Sementara anak buahnya memindahkan tubuh Dara keluar dari mobil. Menunggu perintah Bonang selanjutnya.

"Ummh...." Mulut mungil Dara mengerang. Tengkuknya terasa sakit. Dara mulai siuman, tubuhnya menggeliat, dahi berkerut berusaha mengumpulkan kesadaran.

"Bos, dia sudah sadar, Bos," cetus Wahyu, yang memegangi Dara.

"Kalau begitu, eksekusi sekarang juga!" Bonang mendelik.

"Dibvnvh maksud, Bos?" Si Jangkung Hendra setengah percaya dengan pendengarannya sendiri.

Degh!

'Dibvnvh?' Telinga Dara sudah bisa menangkap jelas suara di sekitarnya. Kelopak mata memicing, mengamati dua laki-laki yang sedang memeganginya di kiri dan kanan. Mereka meletakkan tubuh Dara di atas tumpukan dedaunan kering.

Keempat anak buah Bonang saling tatap. Mereka pikir, Bonang akan mengajak bersenang-senang lebih dahulu. Apalagi gadis belia itu sangat menarik, penasaran ingin menjamahnya.

"Kali ini jangan sampai gagal, pastikan kalau dia benar-benar m4ti!" ujar Bonang lantang.

Mata Dara yang tadi memicing, kini melotot geram pada laki-laki di depannya. "Biadab kalian! Tak cukup kalian semua menghancurkan hidupku, hah?"

"Jahahaha ...!" Bonang sontak tertawa terbahak dengan mulut lebar, tampak gigi-geligi yang kekuningan. "Maaf, Manis, kami hanya menjalankan perintah Tuan kami."

"Perintah siapa?! Apa untungnya kalian membvnvhku?!" Sorot mata Dara tajam berkilat-kilat.

Bonang kemudian jongkok, meraih dagu lancipnya. "Kamu pikir Pak Jaya tak tahu rencanamu, heh? Bilang padaku, siapa nama dukun yang membantumu menyerang Pak Jaya!"





Other Stories
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Bukan Cinta Sempurna

Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...

Download Titik & Koma