Susur

Reads
481
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 37. PARANG MAYA




"Itu dia, orang yang bernama Jaya Herlambang!" desis Dara.

"Hum, baiklah." Tambi Balau mengangguk. Kali ini benar-benar suara Tambi, bukan lagi suara gahar laki-laki.

Penampakan wajah Jaya dalam air baskom terlihat timbul- tenggelam. Tubuh Tambi kembali bergetar.

"Apakah kau ingin orang ini m4ti sekarang?!" Suara Tambi berubah lagi.

"Hah?!" Dara terhenyak. Apakah pertanyaan barusan ditujukan untuknya?

Rasa takut kembali mendera gadis itu, mendengar perubahan suara Tambi. Makhluk apa gerangan yang sedang bersemayam dalam tubuh Tambi saat ini? Hantuk kah?

"Jawab!"

"I-i-iya, a-aku ingin dia m4ti!" sahut Dara tersengal, menahan tubuh yang gemetaran.

"Hum." Tambi mengangguk keras.

Cahaya dalam baskom lalu meredup. Wajah Jaya Herlambang ikut melebur, berganti dengan golakan kecil air. Adaw bangkit dari duduk, menyalakan kembali lampu minyak di atas meja. Ruangan yang gelap kembali terang.

Tambi sebenarnya tahu, Dara kerap pergi diam-diam dari rumah ke area tambang untuk mencari kabar orang tua angkatnya yang jahat. Tambi khawatir Dara akan nekat melakukan tindakan bodoh. Dia sudah terlanjur sayang pada gadis itu, layaknya anak sendiri.

Maka, malam ini Tambi akan mengirimkan santet Parang Maya untuk membalaskan sakit hati Dara, agar gadis itu berhenti membahayakan dirinya sendiri. Sebuah tindakan ceroboh, yang suatu saat akan disesali oleh seorang Tambi Balau.

"Kau adalah saksi hidup kejahatan mereka. Sangat berbahaya kalau sampai mereka menemukanmu baik-baik saja. Jangan pernah lagi kau ke sana, Dara!"

Tambi sudah seringkali mengingatkan setiap memergoki Dara pulang dari mengintip ke camp tambang. Namun, tampaknya gadis itu terlampau keras kepala.

Tangan Tambi meraih sebatang kembang mayang segar dari rendaman air baskom. Media itulah yang akan menjadi senjata jarak jauh. Kembang mayang akan berfungsi layaknya sebuah senjata tak kasat mata. Serangan Parang Maya tidak kenal ampun. Benda haus d4rah itu tak akan berhenti sampai mendapatkan korbannya.

Suara jampi-jampi Tambi yang serupa syair kembali mendengung memenuhi ruangan. Hawa terasa panas, keringat mulai membasahi tubuh ketiganya.

Dengan mata terpejam, Tambi menyabet-nyabetkan kembang mayang ke atas air yang tampak masih bergolak. Dara tercengang menyaksikan kembang mayang dalam genggaman Tambi tiba-tiba lenyap begitu saja. Sesaat kemudian suasana menjadi hening dan mencekam. Hanya terdengar tiupan lirih angin pegunungan. Binatang malam yang biasanya berisik seolah bungkam, ikut merasakan ketegangan.

"Bunguuul!" pekikan keras Tambi Balau yang tiba-tiba, membuat Dara dan Adaw terjengkang kaget.

"Ada apa, Tambi?" cicit Dara, setengah terisak. Berbeda dengan Adaw yang terlihat masih tenang, memperbaiki posisi duduknya lagi.

Dalam penerawangan Tambi, ada makhluk besar hitam dan berbulu dengan mata menyala, berusaha menghalangi kedatangan Parang Maya dalam rumah Jaya Herlambang. Ternyata orang kaya itu bukan hanya dilindungi oleh banyak pengawal, makhluk lelembut pun menjaganya.

Parang Maya tak kasat mata terbang berputar-putar dalam kamar Jaya Herlambang. Setiap akan menuju tubuh lelaki itu, makhluk besar berbulu hitam selalu menghalangi.

"Aaargh!" Lolongan kesakitan terdengar memilukan.

Parang Maya sudah salah sasaran.


****

Setiap dua minggu sekali, sebuah kapal kelotok milik pedagang kelontong, sandar di dermaga kecil Desa Muara Bukit. Kapal pedagang yang menjual berbagai sembako, juga barang kebutuhan lainnya untuk warga setempat. Dara senang sekali setiap diberi tugas oleh Tambi berbelanja. Lumayan untuk mengusir rasa jenuh. Di sana Dara bisa saling menyapa dengan warga desa yang lain.

Penghuni Desa Muara Bukit sudah mengenal Dara sebagai anak angkat Tambi Balau. Seorang perempuan tua yang mereka hormati. Pembawaan warga yang ramah membuat Dara merasa nyaman membaur dengan mereka.

Jumlah penduduk Desa Muara Bukit tak banyak, hanya ada puluhan keluarga. Sayangnya tak ada remaja seumuran yang bisa Dara jadikan teman. Anak kecil pun bisa dihitung jari. Kata Tambi, anak-anak yang beranjak remaja lebih memilih merantau ke kota untuk mencari pekerjaan ataupun sekolah. Pantas saja Dara lebih banyak melihat orang yang telah lanjut usia.

Beras, sabun cuci, gula pasir, kopi dan kebutuhan rumah lainnya memenuhi bakul purun yang dibawa Dara.Tambi juga memberinya uang jajan kalau-kalau Dara membeli sesuatu yang dia inginkan. Penghasilan Tambi dari mengobati orang sakit bisa terbilang cukup.

Bukan sekedar pintar mengobati, Dara pun kini tahu kalau Tambi orang sakti yang bisa melakukan hal-hal di luar nalar. Meskipun ritual santet malam itu gagal, salah sasaran. Parang Maya yang dikirim Tambi mengenai orang lain yang ada di rumah Jaya Herlambang. Entah siapa. Tapi, Dara senang menyadari kalau dirinya berada di tempat yang tepat, bersama orang sehebat Tambi. Harapannya besar, suatu saat bisa membalas dendam. Hanya menunggu waktu Jaya Herlambang lengah.

Setelah membayar semua belanjaan, Dara beranjak dari dermaga untuk pulang. Gadis itu berjalan membawa bakul belanjaan yang lumayan berat, melewati jalanan desa. Sesekali Dara saling sapa dengan warga yang berpapasan dengannya.

Rumah Tambi adalah bangunan terakhir, berada di ujung jalan desa. Berbatasan dengan hutan karet. Terpencil dari rumah lainnya. Dara sangat menyukai permandangan bukit-bukit kecil nan hijau serta hamparan padang ilalang yang mengelilingi rumah. Nyanyian serangga keririang yang sahut menyahut selalu terdengar.

Sesampai di rumah, suasana sepi. Tambi masih mencuci di sungai. Adaw seperti biasa pergi ke hutan untuk berburu. Usai menyimpan belanjaan, Dara keluar lagi dari rumah, dia ingin menyusul Tambi.

Menyusuri jalan setapak menuju sungai, tanpa disangka-sangka sebuah mobil muncul dari sebuah belokan. Mobil Jip berwarna hijau, berisi banyak lelaki bertubuh besar. Dara tak sempat berpikir apa-apa, ketika beberapa di antara mereka melompat turun lalu mengepung dirinya.

"Mau apa kalian?!" bentak Dara garang.

"Benar kata si Bos. Ini bukan gadis Dayak tapi gadis Jawa," celetuk salah satu dari mereka.

Dara menoleh pada yang bicara barusan. Lelaki bertubuh paling jangkung dari yang lain. Mata Dara seketika berapi, dia orang yang menahan tubuh Dara saat coba melarikan diri waktu itu.

"Heh, kenapa gitu amat ngeliatin aku?" tanyanya heran. Rupanya dia sudah lupa pada Dara.

Seorang lagi turun dari mobil. Si Pipi Codet, melenggang  santai mendekati Dara. Matanya menyipit memandangi Dara dari ujung kepala hingga kaki.

"Gadis Jawa, sepertinya aku mengenalimu," desisnya, tersenyum miring.

"Bawa dia ke mobil! Jangan sampai ada yang melihat!" titahnya kemudian pada yang lain.





Other Stories
Takdir Cinta

Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Free Mind

KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...

My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Bukan Cinta Sempurna

Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...

Download Titik & Koma