BAB 36. WAJAH DI BASKOM
Ingin rasanya mencari-cari alasan agar bisa menyusup ke area tambang itu. Mencari informasi tentang kapan Jaya Herlambang datang ke sana. Tapi, kalau Tambi sampai tahu pasti akan marah.
Gadis itu mendesah resah. Sama sekali dirinya belum paham, kalau cara yang ditawarkan Tambi untuk mengh4bisi nyawa lawan bukanlah cara biasa, tetapi dengan cara halus, yaitu 'santet.'
Membunuh tanpa menyentuh.
Tubuh remajanya yang kian semampai jongkok di balik rimbun tumbuhan perdu. Mengamati sebuah ruang berdinding kaca, berjarak puluhan meter darinya. Tempat dua orang petugas keamanan sedang duduk berjaga.
Gegas Dara merunduk, ketika serombongan orang berseragam lengkap dengan helm safety melewati jalan di hadapan. Mereka adalah para pekerja yang akan menuju proyek tambang.
"Sampai kapan aku harus menunggu?" Dara mendengkus kesal. "Ayolah Jaya, cepatlah datang! Pisauku tak sabar menunggumu."
Bola mata gadis itu kemudian membulat menyaksikan seorang lelaki berbadan tinggi besar melangkah lebar melewati pos keamanan. Tampak Adaw dengan dandanan khas suku pedalaman yang akan pergi berburu, lengkap dengan semua senjata yang melekat pada tubuhnya. Dara juga melihat burung gagak hitam sedang membuntuti Adaw, terbang dari dahan ke dahan.
Lelaki yang tak pernah tersenyum itu berjalan menuju hutan di belakang area camp. Saat melewati dua orang petugas keamanan, dia menyapa mereka tanpa kata. Hanya dengan tatapan serta mengangkat tinggi satu telapak tangan. Tampaknya kedua petugas sudah biasa melihat kehadiran Adaw. Meski membawa senjata, mereka sudah tahu jika Adaw hanyalah penduduk setempat yang kebetulan numpang lewat. Bukan orang berbahaya.
Sekilas Dara melihat Adaw melempar sebuah benda kecil ke sudut bangunan. Entah benda apa, tidak begitu jelas, kemudian berlalu begitu saja.
Baru saja Dara akan beranjak pergi, sebuah mobil Jip berwarna hijau, dengan ban besar bergerak pelan keluar dari dalam area camp. Jantung Dara seketika berdegup keras. Orang-orang dalam mobil, Dara masih mengenali mereka.
Mereka para pengawal Jaya Herlambang yang berjaga saat pemb4ntaian di sumur minyak. Si Pipi Codet tampak duduk paling depan. Dialah yang membuat Dara nyaris kehilangan nyaw4.
Napas Dara memburu, bola mata bening itu kini memerah berapi-api. 'Si Codet itu harus m4ti! Mereka semua harus m4ti!' pekiknya dalam hati.
Tatapan penuh dendam mengiringi laju mobil Jip hijau hingga menghilang ke belokan jalan. Perlahan tanpa suara kedua kaki Dara surut mundur, memasuki hutan.
"Kaaakk, kaaakk ...." Burung gagak hitam milik Tambi terbang tinggi lalu hinggap ke atas atap bangunan. Dia sudah mendapat kode dari Adaw untuk mengawasi tempat itu. Menunggu kemunculan orang yang bernama Jaya Herlambang.
****
Malam ini purnama di langit terlihat bulat sempurna. Sudah tengah malam, Dara belum bisa memejamkan mata. Hawa dalam bilik terasa lebih panas dari biasa. Jendela kayu berbentuk kupu dibiarkannya tetap terbuka. Memandangi langit yang kekuningan oleh bias cahaya bulan. Pikiran berkelana jauh ke mana-mana.
"Dara, kau belum tidur?" Wajah Tambi menyembul dari balik tirai bilik.
"Belum, Tambi?" Dara menoleh.
"Ikuti Tambi sekarang!" titah perempuan tua itu.
Melihat Tambi yang bergegas pergi, Dara urung bertanya. Ditutup jendela terlebih dahulu sebelum menyusul langkah cepat Tambi. Di sana, Adaw sudah duduk bersila menunggu mereka. Sebuah ruangan khusus tempat Tambi biasa menerima orang yang datang berobat.
Rumah itu kerap kedatangan tamu. Tak jarang Dara melihat tamu Tambi berpenampilan necis layaknya orang kota. Dara cuma tahu, kalau Tambi seorang tabib yang pintar mengobati orang sakit, selain itu dia tak tahu apa-apa.
Kini Dara ikut duduk bersila di lantai bersama Adaw. Hati bertanya-tanya untuk apa Tambi mengajak ke ruangan itu. Namun, mulut terkunci menyaksikan raut serius dua orang yang bersamanya.
Ruangan yang berisi benda-benda aneh. Ada beberapa patung terbuat dari kayu ulin terpajang di sudut, botol-botol kaca berisi cairan bermacam warna di atas sebuah meja mungil, asap mengepul dari pedupaan, ada pula sebuah baskom besar penuh air. Aroma wangi yang aneh pun terhidu.
Ruangan penuh asap dupa itu hanya diterangi sebuah lampu minyak kecil. Jendela sengaja dibiarkan terbuka lebar. Cahaya bulan purnama leluasa masuk ke dalam. Tambi kemudian duduk di antara Dara dan Adaw, tanpa banyak kata memejamkan matanya. Mereka bertiga duduk menghadapi sebuah baskom besar penuh air.
Mulut Tambi Balau mulai komat-kamit mengucap kalimat yang asing di telinga Dara. Kedua telapak tangannya saling menggosok, lalu ditempelkan ke puncak kepala gadis itu.
"Fuhh! Fuhh!" Tanpa permisi Tambi meniup kuat kedua belah mata Dara bergantian. Sontak dia memejamkan mata, merasakan perih.
"Buka matamu!" lugas Tambi.
"Mata Dara perih, Tambi." Dara semakin kuat memejamkan mata.
"Buka!" Suara Tambi setengah membentak.
"Ba-baik."
Mengejap-ngerjap, walau masih terasa perih Dara memaksa kelopak matanya untuk terbuka.
Wuuuuusshhh....
Angin dari luar meniup kencang ke dalam ruangan. Dara merasakan gugup. Tapi, dua orang yang bersamanya tampak begitu tenang. Tambi kemudian mengambil kedua tangan Dara, mengusap-usap telapak tangannya cukup lama. Seolah ingin menyerap sesuatu yang melekat di sana. Dara hanya bisa diam menurut, tubuhnya kini terasa dingin.
Kembali Tambi merapal mantra dengan mata terpejam rapat, seraya mengaduk air dalam baskom dengan kedua tangannya. Tubuh kecil Tambi kemudian bergetar beberapa saat, lalu diam mematung. Dara menahan napas tegang, merasakan seluruh bulu kuduk tiba-tiba saja berdiri. Diliriknya Adaw yang seperti biasa tanpa ekspresi.
Bret!
Lampu minyak padam.
Krieeet, krieeett....
Bunyi daun jendela yang dipermainkan oleh angin. Tubuh Dara mengkerut ketakutan. Ruang tempat mereka berada kini hanya diterangi cahaya bulan.
"Tambi!" bisik Dara tertahan. Suasana ruang terasa horor saat ini.
Punggung Dara tersentak mundur ketika secercah cahaya sekonyong-konyong berpendar dari dalam air baskom di hadapan mereka. Air itu bergolak beberapa saat sebelum kemudian tenang kembali. Bak sebuah layar televisi satu per satu muncul wajah pada permukaan air.
"Perhatikanlah baik-baik! Kau tunjuk mana orang yang bernama Jaya Herlambang!" ujar Tambi Balau dengan suara yang berbeda.
Dara menelan ludah, merasakan ketegangan menyadari jika Tambi yang berada di samping adalah orang yang berbeda. Suara Tambi kini berubah besar seperti suara laki-laki.
"Dara!" seru Tambi.
"Ba-baik," jawab Dara tergagap.
Satu persatu wajah bermunculan silih berganti di permukaan air itu. Wajah orang-orang yang Dara temui saat peristiwa berd4rah. Dara menyipit, berusaha untuk fokus, sambil menahan debaran kencang di dadanya. Antara ketakutan dan kekaguman membaur menjadi satu. Kemampuan Tambi berada di luar akal sehat.
Tampaklah wajah garang laki-laki berkulit gelap dengan codet pada pipinya. "Dia, dia orangnya!" Suara Dara bergetar, menunjuk ke air.
"Orang itukah yang bernama Jaya Herlambang?"
"Bu-bukan. Tapi, dia yang menemb4kku waktu itu. Aku ingin dia juga m4ti!"
"Fokuslah pada satu orang saja!" Suara besar Tambi meninggi.
"Ba-baik!" sahut Dara takut-takut.
Wajah di baskom berganti lagi, timbul dan tenggelam. Mengernyit kening Dara saat muncul raut keriput lelaki kurus berjanggut putih. Ingat betul Dara bagaimana orang itu menari-nari layaknya kesurupan.
"Dukun gila!" umpat Dara tanpa sadar.
"Uhum!" Adaw berdeham.
Seorang lelaki paruh baya dengan wajah angkuh kini terpampang pada permukaan air baskom. Rahang Dara seketika mengeras.
Other Stories
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...