BAB 33. TEMPAT PALING TERKUTUK
Dua pemuda itu langsung mengkerut dibentak Tambi Balau sebegitunya. Masing-masing menundukkan kepala sambil saling sikut. Menahan rasa penasaran mereka tentang apa yang terjadi pada Dara. Gadis itu masih bersama mereka sewaktu sembunyi dari kelompok Punan Siau.
Ipan mendekatkan mulut ke telinga Ali, lalu berbisik,"Menurut kau, Dara selamat atau tidak?"
"Maksud kau?" Dahi Ali mengkerut.
"Dara sudah disantap orang kaki merah tu."
"GRrrrh...." Adaw menggeram, memamerkan gigi geliginya. Dua pemuda kampung ini memang susah diatur.
"Uhum!" Tambi berdehem keras. "Sudah siapkah mendengarkan?! Kita sedang dikejar waktu."
"Sudah." Ipan dan Ali kompak menyahut.
"Panggil saja aku Tambi!" pintanya, sambil merubah posisi. Duduk mencangklong di lantai, dengan satu lutut ditekuk ke atas. Sebelah pipi tampak mengembung penuh sirih. Tubuh kurusnya hanya mengenakan kaus kutang lusuh dipadu kain tapih selutut.
"Bersyukurlah kalian berdua sudah selamat dari racun buatan Punan Siau. Tak semua orang bisa selamat dari racun sumpit mereka. Tak melulu berhasil penawar racun yang kubuat." Tambi Balau menatap Ipan dan Ali bergantian.
"Jadi Tambi yang sudah menolong kami?" tanya Ali, menatap takjub. Begitupun dengan Ipan.
"Hum." Perempuan tua itu mengangguk sekilas.
Tadinya Ali sempat berburuk sangka, kalau Tambi Balau melakukan sesuatu yang jahat kepada dia juga Ipan. Nyatanya semua yang dilakukan Tambi Balau pada mereka hanya untuk proses pengobatan. Meski pun caranya di luar nalar.
"Tebakku Si Besar itu yang sudah mengambil kita dari orang Punan. Badannya kayak Rembo, Li. Jago bekelahi pasti dia," bisiknya, sembari melihat ke Adaw. Namun, ruang yang sempit serta suasana yang senyap, membuat bisikannya terdengar jelas oleh semua.
"Si Besar itu namanya Adaw," sahut Tambi Balau dengan kedua kening naik. Ipan seketika salah tingkah menggaruk-garuk kepala.
"Dia anak lelakiku satu-satunya. Tak perlu pakai kelahi dia mengambil kau dua dari orang Punan berkaki merah tu. Adaw sejak lama berkawan baik dengan mereka."
"Ohh." Mulut Ipan membulat.
Ternyata benar, si lelaki besarlah yang telah berjasa menyelamatkan keduanya dari para Punan. Tapi, Ipan dan Ali merasa segan mengucapkan terima kasih padanya. Mereka hanya memandangi wajah Adaw yang tak pernah ramah.
Suasana hening beberapa saat. Wajah keriput Tambi Balau tambah mengkerut. Dia tampak sedang berpikir, mengingat-ingat apa saja yang perlu dia sampaikan pada kedua lelaki muda itu.
"Aku terpaksa menyuruh Adaw mengambil Mamat diam-diam malam itu dari mess tambang, tanpa kalian sadari," ucapnya kemudian.
"Mamat yang tidur bersama kalian malam tu, bukanlah lagi Mamat yang sebenarnya. Aku sudah menukarnya dengan sosok lain. Untung saja dia terlambat menyadarinya." Tambi Balau berhenti bicara, meraih sebuah kaleng yang pinggirannya sudah berkarat, lalu mengucurkan cairan merah dari mulutnya.
Siapa gerangan orang yang sedang dibicarakan oleh Tambi Balau? Ali dan Ipan saling menoleh dengan tatapan penuh tanya. Namun, tak ada lagi berani lagi menyela perempuan tua itu dengan pertanyaan.
Tercenung Ali, mengingat-ingat kejadian saat malam terakhir mereka di camp pekerja tambang. Dia dan Ipan saat itu sedang bersantai di teras, bertengkar tak jelas, lalu Dara datang menengahi. Kedatangan peti mati berhantu membuat mereka ketakutan. Saat masuk ke dalam kamar, Mamat terlihat sudah tidur nyenyak.
Jika anak kecil yang tidur malam itu bukan Mamat, lalu makhluk apa?
Ngeri Ali memikirkan kemampuan yang dimiliki Tambi Balau. Perempuan tua itu sepertinya orang sakti. Suku pedalaman Borneo memang tak lepas dari segala hal berbau mistis. Kemampuan mereka diwariskan turun temurun dari para leluhur.
"Mamat sudah memberitahuku tentang tujuan kalian ke mari. Kau dua mengantarkan Mamat mencari abahnya yang kerja jadi kuli tambang. Tapi, tempat ini sekarang sudah dikuasai iblis Parang Hitam. Aku sangat menyesalkan kedatangan kau betiga." Tambi menghela napas panjang.
"Cuiiih!" Mulut keriput itu kembali mengucurkan air liur berwarna merah darah ke dalam kaleng. Hasil akhir dari proses menginang daun sirih dan kawan-kawannya. Dua pemuda sontak melempar pandangan ke arah lain. Geli.
"Macam-macam cara aku dan Adaw buat, supaya kau betiga tak sampai masuk ke sana. Tapi nyatanya sampai juga ke sana. Hhh ...." Tambi Balau menghempaskan napas, sembari geleng-geleng kepala.
Ali dan Ipan sama melongok. Masih lekat pada ingatan keduanya, bagaimana Tambi Balau mengejar-ngejar mereka sewaktu dalam perjalanan menuju tempat itu. Adaw yang melesatkan anak panah dari atas pohon. Rupanya Tambi dan anaknya sedang berusaha menahan kepergian mereka ke sana. Namun, cara kedua orang itu malah membuat mereka bertiga ketakutan.
"Ketahuilah! Tempat ini sudah berubah menjadi tempat paling terkutuk. Hampir semua penghuninya sudah mati sia-sia. Ini semua salahku, akulah yang sudah ceroboh, hingga semua ini terjadi." Tambi Balau menepuk-nepuk keras dadanya, dengan air muka penuh penyesalan.
"Uhuhuhuhuuu ...." Orang tua itu tiba-tiba terisak, menyeka sudut mata dengan ujung kain. Adaw berpindah duduk ke sampingnya. Mengusap bahu ringkih sang ibu.
"Tempat terkutuk?" Ipan menggumam pelan. Dia membenarkan dalam hati apa yang barusan dikatakan Tambi Balau.
Baru di tempat ini Ipan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, ada manusia zombie di alam nyata. Ipan semakin penasaran dengan semua misteri yang belum terungkap. Ditolehnya lagi Ali. Kawannya itu menunduk diam menekuri lantai. Entah apa yang sedang dipikirkan.
Pelan tapi pasti tangan Ipan bergerilya, menuju pisang rebus dalam piring seng. Mumpung Adaw melihat ke arah lain. Perutnya dari tadi perih menahan lapar.
"Dengarlah baik-baik, aku akan menceritakan semuanya. Jangan lagi disela! Aku ni sudah tua, disela terus, aku bisa lupa yang ingin kukatakan." Tambi mengetuk-ngetuk dahinya. Dua pemuda di depannya hanya manggut-manggut.
Mata cekung Tambi Balau menerawang jauh, melanjutkan ceritanya yang belum rampung. "Hari itu, Adaw pulang dari berburu di hutan ...."
Nyanyian jangkrik terdengar ramai di antara bunyi arus sungai yang membelah lembah perbukitan Meratus. Langit senja diwarnai semburat jingga yang berpendar di ufuk Barat. Burung-burung kecil mengepakkan sayap kembali ke sarangnya.
Badan tinggi besar Adaw bergerak gesit menuruni undakan ke sungai, dengan napas tersengal. Keringat membasahi wajahnya. Punggung Adaw memanggul seekor menjangan lumayan besar, hasil dari berburu hari itu. Menjangan akan dibersihkannya terlebih dahulu ke sungai, sebelum dibawa pulang.
Langkah Adaw kemudian berhenti, saat tanpa sengaja netranya tertumpu pada satu sosok mengapung dekat bebatuan. Posisi tubuh itu yang tengah menelungkup. Beberapa saat kepala Adaw meneleng, mengamati.
Mayat?
Other Stories
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...
Teka-teki Surat Merah
Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...