BAB 32. MISTERI MULAI TERUNGKAP
Pematik api padam. Sekitar Ipan kembali temaram.
Pletak!
Buku jari milik Tambi Balau mendarat keras ke batok kepala berambut ikal, hingga teriakannya berhenti. Ipan mengigil ketakutan mengetahui sedang berhadapan dengan perempuan tua tukang santet, serta Adaw anak lelakinya yang kata Dara sudah gila itu.
"Jangan berisik! Teriakanmu bisa mengundang kedatangan Parang Hitam!" bentak Tambi Balau melotot-lotot. Ipan seketika mengkerut bak krupuk disiram air.
Siapa lagi Parang Hitam? Hantu kah? Ipan membatin.
Meski tak tahu siapa yang dimaksud oleh Tambi Balau dengan Parang Hitam, Ipan patuh mengunci mulut. Jangan sampai dijitak lagi. Buku jari perempuan tua itu sangat keras, telinga sampai berdenging. Penglihatan Ipan kini sudah bisa menyesuaikan dengan kegelapan. Bergidik Ipan saat Adaw balas melirik padanya. Lelaki besar itu diam tanpa kata.
Tambi Balau kemudian mendekati peti kayu lain di sebelah Ipan. Dia mengembuskan napas lega, melihat tubuh Ali sudah menggeliat. Tak sia-sia dia dan Adaw, siang malam mengobati keduanya dari racun sumpit Punan Siau yang sangat mematikan.
Mereka sengaja dibawa keluar dari gubuk. Ritual terakhir pengobatan harus dilakukan di bawah bintang-bintang malam. Kedua pemuda diobati dengan beberapa macam minyak mistik warisan dari para leluhur.
"Heh, kau!" Tambi Balau menoleh pada Ipan yang masih tak berani bergerak. "Lekas kau bangunkan kawanmu! Malam ini juga kita harus bergerak cepat!" lugasnya.
"Siapa?" tanya Ipan, bingung.
"Kawanmu yang sedikit lebih sehat dari kau itu," sahut Tambi Balau, seraya melangkah menjauh menuju gubuk.
Takut-takut Ipan keluar dari peti kayu tempatnya berbaring. Baru mengerti, yang dimaksud Tambi tadi. Dia melihat Ali yang belum sadar penuh di peti lain. Bingung Ipan dengan perlakuan Tambi Balau dan Adaw. Mereka tidak sejahat yang dia pikir. Ipan kini bisa mengingat kejadian terakhir, ketika beberapa orang Punan Siau melesatkan sumpit kepada dia dan Ali.
"Li, Ali. Bangun, Li! Tak jadi kita disate sama orang Punan," bisik Ipan menepuk-nepuk pipi tirus kawannya.
"Hmm..." Ali pelan membuka mata, mengerjap-ngerjap, tangan meraba muka Ipan. "Kau kah itu, Pan?" tanyanya setengah percaya.
"Hu' um. Ini Ipan. Lekas bangun! Kita ada di tempat Tambi Balau." Ipan berbisik lagi di telinganya.
"Tak jadi mati kah kita?"
"Kita masih hidup. Coba saja kau raba jantungmu!"
Ali menurut, memegangi dada kiri. Masih terasa deguban.
"Hmm, grrr...." Adaw menggeram.
Dihentakkan Adaw tumbak besi ke tanah.
"Lekas kau bangun! Nanti kita diamuk orang besar tu. Lihat dia membawa tumbak," desak Ipan ketakutan.
"Kepalaku masih pening, Pan." Ali memegangi kepala.
"Kau peganganlah padaku!" tawar Ipan. Padahal tubuhnya sendiri pun masih melayang-layang.
Mereka berdua berjalan sempoyongan menuju gubuk, meninggalkan dua buah peti tua tempat tadi terbaring. Adaw mengawal di belakang sambil sesekali menggeram dan menghentakkan tumbak. Dua pemuda itu terpaksa melajukan kaki. Tambi Balau sudah menunggu di depan pintu gubuk yang terbuka. Dari kejauhan gubuk Rumbia itu tampak terang oleh nyala lampu minyak.
Angin pegunungan Meratus bertiup sepoy. Batang-batang ilalang menari oleh tiupan angin. Dua buah peti tua masih terongok di atas padang rumput luas.
Tak, tak! Klotak! Krossakk!
Tiba-tiba kedua peti bergerak sendiri. Ipan dan Ali tidak pernah tahu, kalau tempat mereka tadi terbaring adalah Raung kosong, bekas tempat penyimpanan mayat.
"Masuklah, banyak yang ingin kubicarakan pada kau berdua!" ucap Tambi Balau, begitu keduanya sudah mendekati muara pintu.
Perempuan tua itu gegas berpaling, melangkah mendahului. rambut panjang sepinggang berwana abu-abu dikibasnya ke belakang. Gerakannya tegas, tak ada lembut-lembutnya.
Memasuki gubuk mata lebih leluasa memandang. Sebuah lampu minyak menempel pada dinding menerangi seisi ruangan. Satu langkah dari depan pintu, Ipan dan Ali berhenti berjalan. Saling tatap, lalu sama-sama membelalakkan mata.
"Kyyaaaaaa!" Keduanya serempak histeris.
Baru saja menyadari, sama-sama dalam kondisi tel4nj4ng bulat.
****
Tirai yang terbuat dari kain jarik ditutup kembali. Tambi Balau hanya ingin memperlihatkan kondisi Mamat dalam bilik yang ada di gubuknya. Mamat pun ternyata ada di tempat yang sama, sedang tidur dengan nyaman.
Kedua pemuda kampung itu saling menatap penuh tanya. Dari perlakuan pada Mamat, juga pada mereka berdua, tampaknya Tambi Balau bukanlah orang jahat seperti yang pernah dikatakan oleh Dara.
"Kenapa Mamat dibawa kemari?" Ali tak sabar ingin tahu, apa yang diinginkan perempuan tua itu dari mereka.
"Aku akan menjelaskan semua. Aku yakin kalian belum mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi," sahut Tambi Balau, sebelum lengan kurus keriput itu meraih selembar sirih dari sebuah bakul kecil.
"Sudah lewat tengah malam. Paham aku kalau kau dua masih butuh istirahat. Aku pun sebenarnya lelah. Tapi, kita tak punya banyak waktu. Duduklah senyaman kalian. Adaw sedang membuatkan minuman untuk kau dua," tambahnya lagi, seraya mengatur posisi, duduk bersila.
Tanpa banyak protes kedua orang tamu ikut duduk di atas selembar tikar pandan. Masing-masing telah memakai sarung kurung yang diikatkan ke bahu. Mata kuyu mereka memerhatikan gerak-gerik Tambi Balau sedang meracik sirih.
Potongan kecil buah pinang dipadukan secuil gambir serta kapur sirih dengan telaten ditata ke atas sehelai daun sirih, kemudian digulung dan dilipat hingga kecil, lalu disumpal ke dalam mulutnya sendiri.
"Aku khawatir tak ada kesempatan lagi untuk kita bicara." Sambil mengunyah sirihnya Tambi Balau menjelaskan. Raut perempuan tua itu kini terlihat gundah.
Lelaki besar datang dari luar dengan membawa sebuah nampan. Gelas-gelas seng berisi kopi hitam mengepulkan uap panas, disorong ke depan Ipan dan Ali. Juga sebuah piring penuh pisang rebus. Adaw kini lebih terlihat sebagai anak yang patuh pada sang ibu.
Sesaat suasana hening. Ipan merasakan ketegangan karena Adaw duduk tepat di sampingnya. Terbayang wajah bengis lelaki besar itu saat mencincang babi hidup-hidup.
"Dia tak bisu," celetukan Tambi Balau membuat Ipan terkesiap.
"Dia memang tak suka bicara. Tak perlu kau risau!" terangnya lagi, sembari memindai raut tegang Ipan.
Lengan bertatto Adaw mencomot sebuah pisang rebus lalu mengupas dan memakannya dengan lahap. Tak peduli pada dua pemuda yang mencuri-curi pandang ke arahnya.
"Sekarang dengarlah baik-baik! Aku akan bercerita tentang gadis yang sudah berjumpa dengan kalian."
"Dara?" sela Ipan dan Ali kompak.
"Hum, benar, namanya Dara." Tambi Balau mengangguk.
"Kenapa dengan Dara?" Sekarang Ipan yang tak sabar ingin tahu.
"Di mana dia sekarang?!" Ali pun tak kalah penasaran.
"Apa dia juga disumpit orang Punan?!
Begitu antusias mereka ingin tahu tentang nasib Dara.
Brakk!
Tambi Balau menggebrak lantai.
"Jangan kau sela aku bicara!" bentaknya, dengan mulut yang telah belepotan cairan merah.
Other Stories
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
DIARY SUPERHERO
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...