Susur

Reads
500
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 31. RASANYA MATI




Benar, dia Tambi Balau. Ninik santet berambut panjang abu-abu yang mengenakan ikat kepala merah dan selalu memakai gelang manik-manik. Ali memang tak salah lihat. Bola matanya melebar menyadari sedang berhadapan dengan sosok berbahaya.

Hati Ali bertanya-tanya, bagaimana bisa dia sudah berada di situ. Siapa yang sudah membawanya ke sana?

Kedua kening hitam pemuda itu mengernyit, berusaha mengingat-ingat apa yang sudah terjadi sebelumnya. Namun, kepalanya terasa kosong, tak mampu mengingat apa pun. Ali kini mulai gelisah.

Tambi Balau berdiri membungkuk di hadapannya, sambil lanjut membaca mantra dengan suara serak terengah-engah. Sekarang malah semakin menggila. Tubuh kecil mungil Tambi Balau mulai membuat gerakan aneh. Leher mengangguk-angguk, pantat digoyang-goyang. Mengingatkan Ali pada itik betina di musim kawin.

Dada pemuda itu turun naik, napas memburu. Ingin melompat kabur dari sana, tetapi nyatanya seluruh tubuh Ali kaku tidak mampu bergerak. Begitu pun mulutnya. Jangankan mengucap sepatah kata, mengeluarkan suara pun sulit. Layaknya dibius.

"Kheeer... gheeek!" Ada suara tak jelas dari sudut ruangan.

Dia berusaha keras memutar pupil, melihat lewat ekor mata. Ternyata bukan cuma dirinya yang ada dalam ruang tertutup itu. Di sudut sana tampak tubuh kurus terkapar beralas selembar tikar pandan, dengan kondisi tak sadar. Itu Ipan.

Mencengangkan bagi Ali, Ipan terlihat bersinbah d4r4h. Sesaat kemudian tubuh kerempeng itu berkelojotan, kejang-kejang persis cacing kepanasan. Mata Ipan terbalik hingga berwarna putih. Keadaannya sangat menyedihkan. Apa yang sudah dilakukan perempuan tua itu pada Ipan?

Gubrakk! Gubrakk! Jedar!!!

Bunyi berisik akibat tubuh Ipan membentur dinding dan lantai. Terbanting-banting sendiri tanpa sebab. Ruang tempat mereka berada sampai bergetar. Menyaksikan itu hati Ali terasa mengecil. Dia hanya bisa  menahan napas, tak sanggup melihat penderitaan Ipan. Sekaratkah kau, Pan? rintih Ali dalam hati.

Sihir apa yang sedang Tambi Balau berikan pada mereka berdua? Bermacam sumpah serapah tak mampu terlontar. Dada Ali terasa ingin meledak menahan amarah.

Sebentar lagi mungkin hidup mereka berdua akan berakhir di tangan perempuan tua itu. Tak ada harapan untuk selamat.

Udara dalam ruangan terasa sesak oleh kepulan asap panas pedupaan. Pupil Ali bergerak liar, mencari jalan untuk keluar. Berandai-andai dirinya bisa berontak dari ninik sihir di hadapan.

Tempat yang mengurung mereka bukanlah bangunan kokoh. Dinding maupun atapnya hanya terbuat dari daun rumbia yang dijalin rapat. Cahaya matahari menerobos dari celah lubang-lubang kecil pada atap, membuat garis lurus ke atas lantai yang hanya terbuat dari tanah. Andai bisa bergerak, mudah sekali menerjang dinding  itu. Ali menyesali ketidakberdayaannya.

"Kaaakk,kaaakk...!" Entah dari arah mana datangnya, tiba-tiba seekor burung gagak hitam muncul mengepakkan sayap, lalu hinggap ke bahu kurus Tambi Balau. Hewan kecil itu berkauk-kauk membisikkan sebuah berita penting kepada sang majikan.

"Hemm, hemm...." Dengan mulut terkatup rapat, Tambi Balau mengangguk-angguk paham. Seolah sedang berbincang dengan seorang kawan akrab.

Makhluk apa gerangan, seekor burung bisa membisiki manusia? Gagak jadi-jadian, kah? Ali mendelik pada si burung. Gagak hitam sialan itulah yang pernah mematuki tangan Ali hingga berdarah. Sampai sekarang pun bekas paruhnya masih membekas.

Pintu terbuka lebar. Adaw, si lelaki besar melangkah masuk, membawakan sebuah baskom dari seng, berisi cairan merah kental berbau amis. Manik kelam miliknya saling beradu tajam dengan mata Ali. Wajah keras Adaw seperti biasa, dingin tanpa ekspresi.

Orang aneh! umpat Ali dalam hati. Tak sekalipun Ali pernah menyaksikan dia bicara. Sepertinya laki-laki besar itu memang bisu.

Adaw mendekatkan baskom ke depan wajah ibunya. Tambi Balau kembali merapalkan mantra-manta. Sesekali mulut yang keriput itu menyemburkan air liur ke dalam isi waskom.

Di pojokan ruang, tubuh Ipan yang memerah d4r4h sudah berhenti bergerak, diam kaku tak bersuara. Mungkin Ipan sudah m4ti, tebak Ali. Sebentar lagi giliran aku menyusulmu, Pan. Dipejamkannya mata, menunggu pasrah pada apapun yang terjadi.

Tak apa mati, tak ada jua yang menangisiku. Selamat tinggal dunia, selamat tinggal mamak-abah, ujarnya pilu tanpa terucap. Ada hangat yang merembes pada kedua sudut mata Ali.

Byuuur!

Cairan merah dan amis dalam baskom diguyurkan Tambi Balau ke sekujur tubuh Ali. Mata pemuda yang tadi terpejam seketika melotot merah, merasakan panas dan s4kit luar biasa.

"Kyaaaaaa!" Spontan mulut Ali menjerit keras dan panjang. Padahal tadinya menggerakkan bibir pun dia tak mampu. Seluruh tubuhnya kini basah oleh d4r4h segar. Sementara Tambi Balau kembali heboh mengucap mantra serta menari-nari dengan gerakan lebih cepat.

Tubuh jangkung Ali bergetar hebat merasakan panas dan sakit melebihi ambang batas. Seolah dirinya sedang direbus dalam air mendidih. Kedua bola mata Ali sampai berubah putih. Beberapa lama dia berkelojotan kejang.

Bruagk! Brugk! Jedar!

Sama halnya yang terjadi pada Ipan, tubuh Ali pun menggelepar-gelepar tak terkendali, terbanting-banting keras membentur dinding dan lantai. Seakan ada seseorang yang sedang menganiayanya.

"Kaaakk, kaaakk....!" Gagak hitam terbang sambil berkauk-kauk mengitari tubuh pemuda itu.

****

Beginikah rasanya mati?

Berada dalam kegelapan,  menatap langit malam bertaburan bintang. Tubuh terasa melayang di angkasa luas. Damai dan tenang.

Manik mata Ipan menatap nanar pemandangan yang terhampar luas di hadapannya. Bulan sabit berwarna kuning pucat, tampak digelanyuti awan tipis.

Sepi.

Hanya terdengar siulan lembut angin malam.

Lalu ke mana malaikat Munkar? Bukankah seharusnya saat ini dia didatangi malaikat berwajah menakutkan, bersenjata palu godam itu? Ditanyai dan diminta pertanggung jawaban tentang perangai buruk selama hidup di dunia. Jika tak mampu menjawab pertanyaannya maka palu godam akan dipukulkan ke kepala manusia hingga hancur, kemudian dikembalikan lagi pada bentuk semula. Begitu terus hingga saatnya hari pembalasan.

"Ah, ternyata semua bohong. Mana? Tak ada apa pun," gumam Ipan, mencebik.

Kedua sudut bibirnya lalu tertarik ke atas, membentuk lengkungan. "Enak ternyata mati."

Senyum Ipan semakin lama semakin lebar. Kening naik turun, rautnya terlihat sangat konyol.

"Hihihi, haaahahahaha ..!" Dia terbahak lepas.

"Husst, diam kau! Dasar bungul!" Bentakan sebuah suara serak, sontak membuat Ipan terhenyak kaget.

"Malaikat Munkar?!"

"Malaikat Munkar kepalamu!"

Ipan menelan ludah cekat. Kalau bukan malaikat Munkar lalu siapa?

"Kalau sudah mati, sudah kena siksa kubur kau!" celetuk suara itu lagi, seolah membaca pikiran Ipan.

"Belum mati kah aku?" desis Ipan, takut-takut.

Tangan meraba dada. Degub jantung masih berdetak. Hidung lalu mengendus kedua lengan. Terasa licin, lengket serta berbau aneh. Sesaat diamatinya suasana sekitar, tampak gelap berkabut. Sekeliling tubuh dibatasi dinding papan yang lembab, berbau lumut.

"Tempat apa ini? Kenapa gelap sekali? Kau siapa?" cecar Ipan.

Tesss ....

Sebuah pematik api menyala, menerangi. Dua raut wajah kemudian terlihat jelas. Wajah milik Tambi Balau serta anak lelakinya Adaw. Mereka duduk jongkok berdampingan tepat di sisi Ipan.

"Kyyaaaaaa!" Ipan menjerit kaget, melihat penampakan ibu dan anaknya itu.





Other Stories
Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Buah Mangga

buah mangga enak rasanya ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Download Titik & Koma