BAB 30. PERTUKARAN
Api ungun menyala. Bunyinya gemeretak saat memakan ujung-ujung ranting kering. Cahayanya menerangi sekaligus menghangatkan seisi goa. Goa tempat tinggal kelompok Punan Siau berkaki merah. Suku mereka suka menyalakan api unggun dalam goa, agar tetap hangat dan nyaman untuk anak-anaknya.
Di sudut goa, beberapa pasang mata lugu bekedip-kedip memperhatikan dua sosok tinggi kurus yang meringkuk dalam kondisi terikat. Bocah-bocah Punan Siau berwajah polos, duduk mengelilingi tubuh kedua pemuda itu tanpa mengucap sepatah kata.
Tubuh Ali dan Ipan kaku, tak bergerak, akibat racun dari sumpit milik Punan Siau. Sudah seharian penuh mereka ada di dalam goa. Dari lubang telinga serta hidung keduanya tampak rembesan darah yang telah mengering. Sepertinya mereka tidak akan selamat.
Langit cerah di atas Perbukitan Meratus perlahan mulai temaram. Di depan goa, orang-orang dewasa Punan sibuk mempersiapkan makan malam. Daging buruan berupa menjangan terpanggang di atas bara api yang menyala.
Mereka kemudian sigap berdiri, ketika melihat seseorang dari kejauhan. Seorang laki-laki berbadan tinggi besar datang mendekat. Tubuhnya sarat akan bawaan. Di punggung memanggul seekor menjangan, sedang satu tangan menyeret bangkai babi hutan gemuk berukuran besar. Lelaki itu pun berpenampilan sama dengan para Punan, hanya saja kakinya tidak berwarna merah. Dia adalah Adaw, anak lelaki dari Tambi Balau. Orang yang dihindari Ali dan Ipan.
Dari gestur yang terlihat akrab, tampaknya Adaw sudah mengenal baik suku Punan Siau. Dia kini sedang berhadapan dengan Kepala Suku Punan Siau. Lelaki tua bertubuh kurus, bermata sipit, dengan garis wajah tegas tanpa senyuman.
Bugk!
Tubuh menjangan gemuk pada bahunya dilempar Adaw ke atas tanah. Berdampingan dengan babi hutan yang juga dibawanya.
Adaw lalu menepuk-nepuk perut kedua hewan hingga berbunyi. Memberitahu kalau menjangan serta babi hutan itu gemuk, segar, serta dagingnya lebih banyak dari punya mereka. Dia kemudian menunjuk lurus ke arah goa. Kepala suku mengelus dagu, mempertimbangkan tawaran Adaw. Punan lain ikut menepuk perut babi hutan hingga berbunyi.
Tak berselang lama, keluar dua orang lelaki Punan dari mulut goa. Menyeret kayu berisi tubuh kurus dan pucat dua lelaki muda. Kepala suku berbicara beberapa patah kata sambil menepuk dada berotot Adaw. Adaw hanya manggut-manggut. Kedua orang itu sedang melakukan transaksi.
Papan berisi Ipan dan Ali lalu diseret sendirian oleh Adaw dengan melilitkan tali pada kedua bahunya. Dia lalu meninggalkan tempat tinggal suku Punan Siau, diiringi tatapan Kepala Suku serta Punan lainnya.
Transaksi berhasil. Adaw sudah menukar dua hewan buruan dengan dua tubuh kurus. Kepala suku Punan Siau setuju kalau hewan buruan Adaw lebih banyak dagingnya. Cukup untuk persediaaan makanan kelompok mereka beberapa hari. Tubuh Ali dan Ipan lebih banyak tulangnya, baunya pun sama sekali tidak enak.
****
Seorang pemuda jangkung berdiri mematung memandangi rumah mungil di hadapannya. Dia masih bisa mengenali bangunan cat putih dengan atap sirap, juga bunga Gladiol jingga yang tumbuh bergerombol pada sudut halaman. Dalam hati terbersit tanya, kenapa bisa berada di tempat itu lagi.
Deru mesin motor yang sangat familiar di telinga, memaksa leher Ali menoleh ke belakang. Sebuah motor matic berhenti di depan halaman rumah.
Tiiin ... tiiin!
Lelaki gagah berseragam khaki, yang duduk di atas motor membunyikan klakson, seraya tersenyum lebar.
Brakk!
Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Seorang bocah lelaki bertubuh gempal dengan pipi yang gembul kemerahan menghambur keluar dari rumah, diiringi seorang perempuan.
"Abah datang!" Si bocah melompat-lompat girang mengetahui kedatangan seorang ayah yang selalu ditunggunya setiap penghujung minggu. Itu Ali saat berumur empat tahun.
"Lakas, naik, Nak! Kita keliling naik motor," ajak sang abah. Ingin menyenangkan hati putera semata wayang yang sudah dia tinggal selama satu minggu.
"Abah tak istirahat dulu kah?" tawar perempuan yang berdiri di belakang Ali. Dia Sarah -- mamak Ali.
"Mau bawa Ali keliling dahulu sebentar, tak akan lama;" sahut Halidi lembut, seraya menatap penuh rindu, membuat pipi Sarah bersemu kemerahan.
Halidi -- abah Ali bekerja sebagai ASN di kota sebelah, berjarak tiga jam dari rumah mereka. Terpaksa dia berpisah dengan anak dan isteri karena harus pindah tugas.
Kedua kaki mungil Ali gegas naik ke bagian depan motor, melambaikan tangan pada mamak. Sarah membalas lambaian tangan buah hatinya. Motor matic hitam itu melaju pelan, lalu menghilang di belokan jalan. Ali yang berdiri di halaman, kemudian melihat raut wajah mamak berubah sedih. Seakan ada beban berat yang dia simpan.
Sudah beberapa kali Sarah coba menawarkan diri untuk ikut pindah bersama Halidi. Namun, entah kenapa ada saja alasan sang suami. Sedang mengurus proses kepindahan-lah, sudah terlanjur membeli rumah-lah dan alasan lainnya. Selalu ada alasan.
Suasana di hadapan Ali tiba-tiba berubah, ataukah dirinya yang berpindah tempat? Ali tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Dia sekarang melihat Ali kecil tengah menangis sambil berjalan membuntuti mamak. Perempuan cantik itu berjalan tergesa keluar dari rumah ninik, membawa sebuah tas besar.
"Mamak mau ke mana? Ali ikut, Mak! Ali jangan ditinggal, Mak!" Ali kecil memohon-mohon, berurai air mata.
Sarah sama sekali tak menoleh. Mata dan pipi perempuan itu pun terlihat basah. Dia kemudian naik ke atas boncengan motor yang telah menunggu, tanpa peduli pada bocah kecil yang terus memanggil.
"Mamak, Mamak ..!" Serak sudah suara Ali. Namun, Sarah seolah tak mendengar. Hatinya sudah terlanjur sakit. Motor yang membawa Sarah melaju, meninggalkan Ali kecil yang masih mengejar.
Uwak pun tampak berlari mengejar Ali, menangkap tubuh mungil itu, lalu membawanya pulang ke rumah peninggalan ninik. Ali kecil meronta keras dalam dekapan Uwak. Dia tak mengerti kenapa mamak dan abah meninggalkannya. Apa salah Ali?
Kejadian hari itu tak akan pernah bisa Ali lupakan. Hari di mana Ali dicampakkan oleh dua orang yang paling dia sayangi.
Semua tanda tanya Sarah sudah terjawab. Halidi diam-diam sudah menikah lagi di kota tempat tugasnya. Pantas saja lelaki itu menolak mentah-mentah kemauan Sarah untuk ikut pindah. Sarah kecewa dan sakit hati. Dia memutuskan untuk pergi.
Waktu terus berganti. Ali terpaksa menjalani hari-hari penuh kesepian. Menghitung detik, menit, jam, menunggu setiap waktu, dua orang itu akan kembali datang menjemputnya. Ali yakin abah dan mamak masih sayang pada dirinya.
Dua orang yang ditunggu kemudian bergantian muncul, menjenguk keadaan Ali. Hanya agar terlihat masih perduli. Abah maupun mamak tidak lagi datang sendirian. Masing-masing datang bersama keluarga baru mereka, bersama anak mereka dari pernikahan yang baru.
Keduanya berlakon seolah masih peduli pada Ali, membawakan makanan, baju serta mainan untuk anak mereka yang terbuang. Lepas itu, tanpa rasa bersalah, kembali pergi meninggalkan Ali kecil.
Kedatangan mereka yang alakadarnya, malah membuat dada Ali terasa sesak dan nyeri. Seakan ada belati yang menggores dalam. Luka yang tak akan pernah bisa terobati.
"Gumgum ... garugum ... tabilalak-lak-lak-lak ... tabarubut-but-but-but ... takusasay-say-say-say ...."
Lamat-lamat terdengar kalimat aneh berbisik di telinganya. Pandangan Ali mendadak kabur, kepala pusing berputar-putar.
Ngiiiiiiiing ....
Telinga Ali mendenging hebat. Tubuhnya lalu terasa terbang melayang entah ke mana.
"Gumgum ... garugum ... tabilalak-lak-lak-lak ... tabarubut-but-but-but ... takusasay-say-say-say-say ...."
Semakin lama kalimat aneh mirip mantra itu semakin jelas di pendengaran Ali. Kelopak matanya terasa sangat berat ketika mencoba membuka. Suara itu kian dekat dan nyata.
Kepulan asap mengaburkan pandangan. Samar tampak oleh Ali raut wajah tirus penuh keriput. Mulut bergigi hitam yang terus komat-kamit mengulang-ulang mantranya. Dia perempuan tua yang dikenal sebagai Tambi Balau.
Di sudut goa, beberapa pasang mata lugu bekedip-kedip memperhatikan dua sosok tinggi kurus yang meringkuk dalam kondisi terikat. Bocah-bocah Punan Siau berwajah polos, duduk mengelilingi tubuh kedua pemuda itu tanpa mengucap sepatah kata.
Tubuh Ali dan Ipan kaku, tak bergerak, akibat racun dari sumpit milik Punan Siau. Sudah seharian penuh mereka ada di dalam goa. Dari lubang telinga serta hidung keduanya tampak rembesan darah yang telah mengering. Sepertinya mereka tidak akan selamat.
Langit cerah di atas Perbukitan Meratus perlahan mulai temaram. Di depan goa, orang-orang dewasa Punan sibuk mempersiapkan makan malam. Daging buruan berupa menjangan terpanggang di atas bara api yang menyala.
Mereka kemudian sigap berdiri, ketika melihat seseorang dari kejauhan. Seorang laki-laki berbadan tinggi besar datang mendekat. Tubuhnya sarat akan bawaan. Di punggung memanggul seekor menjangan, sedang satu tangan menyeret bangkai babi hutan gemuk berukuran besar. Lelaki itu pun berpenampilan sama dengan para Punan, hanya saja kakinya tidak berwarna merah. Dia adalah Adaw, anak lelaki dari Tambi Balau. Orang yang dihindari Ali dan Ipan.
Dari gestur yang terlihat akrab, tampaknya Adaw sudah mengenal baik suku Punan Siau. Dia kini sedang berhadapan dengan Kepala Suku Punan Siau. Lelaki tua bertubuh kurus, bermata sipit, dengan garis wajah tegas tanpa senyuman.
Bugk!
Tubuh menjangan gemuk pada bahunya dilempar Adaw ke atas tanah. Berdampingan dengan babi hutan yang juga dibawanya.
Adaw lalu menepuk-nepuk perut kedua hewan hingga berbunyi. Memberitahu kalau menjangan serta babi hutan itu gemuk, segar, serta dagingnya lebih banyak dari punya mereka. Dia kemudian menunjuk lurus ke arah goa. Kepala suku mengelus dagu, mempertimbangkan tawaran Adaw. Punan lain ikut menepuk perut babi hutan hingga berbunyi.
Tak berselang lama, keluar dua orang lelaki Punan dari mulut goa. Menyeret kayu berisi tubuh kurus dan pucat dua lelaki muda. Kepala suku berbicara beberapa patah kata sambil menepuk dada berotot Adaw. Adaw hanya manggut-manggut. Kedua orang itu sedang melakukan transaksi.
Papan berisi Ipan dan Ali lalu diseret sendirian oleh Adaw dengan melilitkan tali pada kedua bahunya. Dia lalu meninggalkan tempat tinggal suku Punan Siau, diiringi tatapan Kepala Suku serta Punan lainnya.
Transaksi berhasil. Adaw sudah menukar dua hewan buruan dengan dua tubuh kurus. Kepala suku Punan Siau setuju kalau hewan buruan Adaw lebih banyak dagingnya. Cukup untuk persediaaan makanan kelompok mereka beberapa hari. Tubuh Ali dan Ipan lebih banyak tulangnya, baunya pun sama sekali tidak enak.
****
Seorang pemuda jangkung berdiri mematung memandangi rumah mungil di hadapannya. Dia masih bisa mengenali bangunan cat putih dengan atap sirap, juga bunga Gladiol jingga yang tumbuh bergerombol pada sudut halaman. Dalam hati terbersit tanya, kenapa bisa berada di tempat itu lagi.
Deru mesin motor yang sangat familiar di telinga, memaksa leher Ali menoleh ke belakang. Sebuah motor matic berhenti di depan halaman rumah.
Tiiin ... tiiin!
Lelaki gagah berseragam khaki, yang duduk di atas motor membunyikan klakson, seraya tersenyum lebar.
Brakk!
Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Seorang bocah lelaki bertubuh gempal dengan pipi yang gembul kemerahan menghambur keluar dari rumah, diiringi seorang perempuan.
"Abah datang!" Si bocah melompat-lompat girang mengetahui kedatangan seorang ayah yang selalu ditunggunya setiap penghujung minggu. Itu Ali saat berumur empat tahun.
"Lakas, naik, Nak! Kita keliling naik motor," ajak sang abah. Ingin menyenangkan hati putera semata wayang yang sudah dia tinggal selama satu minggu.
"Abah tak istirahat dulu kah?" tawar perempuan yang berdiri di belakang Ali. Dia Sarah -- mamak Ali.
"Mau bawa Ali keliling dahulu sebentar, tak akan lama;" sahut Halidi lembut, seraya menatap penuh rindu, membuat pipi Sarah bersemu kemerahan.
Halidi -- abah Ali bekerja sebagai ASN di kota sebelah, berjarak tiga jam dari rumah mereka. Terpaksa dia berpisah dengan anak dan isteri karena harus pindah tugas.
Kedua kaki mungil Ali gegas naik ke bagian depan motor, melambaikan tangan pada mamak. Sarah membalas lambaian tangan buah hatinya. Motor matic hitam itu melaju pelan, lalu menghilang di belokan jalan. Ali yang berdiri di halaman, kemudian melihat raut wajah mamak berubah sedih. Seakan ada beban berat yang dia simpan.
Sudah beberapa kali Sarah coba menawarkan diri untuk ikut pindah bersama Halidi. Namun, entah kenapa ada saja alasan sang suami. Sedang mengurus proses kepindahan-lah, sudah terlanjur membeli rumah-lah dan alasan lainnya. Selalu ada alasan.
Suasana di hadapan Ali tiba-tiba berubah, ataukah dirinya yang berpindah tempat? Ali tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Dia sekarang melihat Ali kecil tengah menangis sambil berjalan membuntuti mamak. Perempuan cantik itu berjalan tergesa keluar dari rumah ninik, membawa sebuah tas besar.
"Mamak mau ke mana? Ali ikut, Mak! Ali jangan ditinggal, Mak!" Ali kecil memohon-mohon, berurai air mata.
Sarah sama sekali tak menoleh. Mata dan pipi perempuan itu pun terlihat basah. Dia kemudian naik ke atas boncengan motor yang telah menunggu, tanpa peduli pada bocah kecil yang terus memanggil.
"Mamak, Mamak ..!" Serak sudah suara Ali. Namun, Sarah seolah tak mendengar. Hatinya sudah terlanjur sakit. Motor yang membawa Sarah melaju, meninggalkan Ali kecil yang masih mengejar.
Uwak pun tampak berlari mengejar Ali, menangkap tubuh mungil itu, lalu membawanya pulang ke rumah peninggalan ninik. Ali kecil meronta keras dalam dekapan Uwak. Dia tak mengerti kenapa mamak dan abah meninggalkannya. Apa salah Ali?
Kejadian hari itu tak akan pernah bisa Ali lupakan. Hari di mana Ali dicampakkan oleh dua orang yang paling dia sayangi.
Semua tanda tanya Sarah sudah terjawab. Halidi diam-diam sudah menikah lagi di kota tempat tugasnya. Pantas saja lelaki itu menolak mentah-mentah kemauan Sarah untuk ikut pindah. Sarah kecewa dan sakit hati. Dia memutuskan untuk pergi.
Waktu terus berganti. Ali terpaksa menjalani hari-hari penuh kesepian. Menghitung detik, menit, jam, menunggu setiap waktu, dua orang itu akan kembali datang menjemputnya. Ali yakin abah dan mamak masih sayang pada dirinya.
Dua orang yang ditunggu kemudian bergantian muncul, menjenguk keadaan Ali. Hanya agar terlihat masih perduli. Abah maupun mamak tidak lagi datang sendirian. Masing-masing datang bersama keluarga baru mereka, bersama anak mereka dari pernikahan yang baru.
Keduanya berlakon seolah masih peduli pada Ali, membawakan makanan, baju serta mainan untuk anak mereka yang terbuang. Lepas itu, tanpa rasa bersalah, kembali pergi meninggalkan Ali kecil.
Kedatangan mereka yang alakadarnya, malah membuat dada Ali terasa sesak dan nyeri. Seakan ada belati yang menggores dalam. Luka yang tak akan pernah bisa terobati.
"Gumgum ... garugum ... tabilalak-lak-lak-lak ... tabarubut-but-but-but ... takusasay-say-say-say ...."
Lamat-lamat terdengar kalimat aneh berbisik di telinganya. Pandangan Ali mendadak kabur, kepala pusing berputar-putar.
Ngiiiiiiiing ....
Telinga Ali mendenging hebat. Tubuhnya lalu terasa terbang melayang entah ke mana.
"Gumgum ... garugum ... tabilalak-lak-lak-lak ... tabarubut-but-but-but ... takusasay-say-say-say-say ...."
Semakin lama kalimat aneh mirip mantra itu semakin jelas di pendengaran Ali. Kelopak matanya terasa sangat berat ketika mencoba membuka. Suara itu kian dekat dan nyata.
Kepulan asap mengaburkan pandangan. Samar tampak oleh Ali raut wajah tirus penuh keriput. Mulut bergigi hitam yang terus komat-kamit mengulang-ulang mantranya. Dia perempuan tua yang dikenal sebagai Tambi Balau.
Other Stories
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Awan Favorit Mamah
Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...