Susur

Reads
496
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 29. SALIMBADA



Bunyi dedaunan serta langkah kaki terdengar semakin mendekat. Puluhan lelaki berpenampilan nyaris telan jang layaknya suku pedalaman, muncul di antara rimbunnya pohon.

Gerakan mereka sangat cepat, setengah berlari. Sebagian tampak berlompatan dari dahan ke dahan. Dua orang berjalan memanggul hasil buruan berupa menjangan. Ada yang unik dari tubuh orang-orang itu, yaitu kaki yang berwarna merah.

"Punan Siau," gumam Ali. Dia dapat menebak siapa orang-orang yang baru datang. Suku Punan Siau adalah suku tertua yang mendiami hutan Borneo. Mereka terkenal pemalu, tetapi tidak menyukai orang asing.

"Punan Siau, siapa mereka?" Ciut nyali Ipan, menyaksikan tatapan nyalang salah seorang yang bersenjatakan sumpit.

"Mereka suku terasing berkaki merah. Sepertinya sedang berburu. Jangan sampai kita yang menjadi buruannya! Mereka kanibal," desis Ali lagi.

Mendengar itu Ipan merasakan tubuhnya mendadak dingin. Ternyata manusia kanibal benar-benar ada. Sial sekali, baru saja lepas dari manusia zombie, sekarang malah berjumpa serombongan kanibal. Semoga saja para Punan itu tidak menemukan mereka bertiga.

Warna merah pada kaki membuat suku Punan Siau mudah dikenali oleh suku lain. Mereka sengaja mewarnai kakinya untuk menakut-nakuti musuh. Punan Siau tak akan suka bertemu orang asing. Jika ingin selamat, jangan pernah mereka melihatmu karena mereka tidak akan segan membvnvh.

Tubuh Ali dan Ipan semakin beringsut masuk ke dalam semak, ketika seorang Punan turun mendekati anak sungai yang ada di belakang pohon gayam. Dia kemudian memanggil teman-temannya yang lain untuk istirahat dan minum.

"Waluh bajarang, mereka melihat bajuku yang dijemur." Ali menatap cemas dua potong pakaiannya.

Salah seorang Punan berusia muda, melihat pakaian Ali yang berada di atas batu. Manik mata yang tajam itu menyapu sekeliling. Dia lalu memungut baju Ali, memberitahu Punan yang lain. Mereka semua kemudian terlihat kasak-kusuk sambil memelototi kaos serta jeans buluk itu. Seakan baju Ali benda yang sangat menjijikkan.

"Terkutuk!" Ali mengumpat pelan. Bahkan suku primitif pun tahu kalau baju miliknya sudah buluk, menyedihkan.

"Kau jago kelahi. Kenapa tak lawan saja mereka kayak zombie-zombie tadi? Ambil kembali bajumu!" celetuk Ipan, setengah meledek.

"Busukkah biji matamu? Jumlah mereka tak sebanding sama kita. Sumpit mereka tu beracun. Sekali tiup, pindah alam kita."

"Hegkh!" Ipan memegangi lehernya.

Tanpa disadari dua pemuda itu, dalam semak tempat mereka sembunyi sedang bersarang sekoloni semut Salimbada. Jenis semut besar dengan gigitan yang sangat kuat, setara gigitan lebah. Semut-semut itu tengah merayap pelan pada punggung kaki keduanya. Gerakan tiba-tiba akan merangsang gigitan luar biasa menyiksa.

Keringat dingin Ipan bercucuran, saat seorang Punan mengendus dan menyibak semak-semak dengan sebuah tumbak panjang. Tampaknya dia curiga ada manusia lain di tempat itu. Sementara Punan lain sibuk minum dan membasuh tubuh di sungai.

"Kalau tetangkap, kita bakal mati kah, Li? Jadi sate kah kita, Li?" Ipan mulai terisak membayangkan dia akan mati muda. Teringat wajah Mamak. Belum sempat Ipan membuat mamak bangga. Belum kesampaian pula cintanya pada Amah, si kembang desa.

"Psstt, jangan berisik!" bentak Ali.

Seorang Punan paling tua memanggil-manggil dari arah hutan. Mengajak kelompoknya untuk segera kembali. Punan yang sedang menyibak semak bergegas menyusul kawan-kawannya. Langkah mereka tampak semakin menjauh.

Ipan dan Ali mengembuskan napas lega. Ketegangan kini sudah berlalu. Kaki mereka sudah kesemutan akibat terlalu lama jongkok, dengan leher ditekuk. Namun, tiba-tiba terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"SA-LIM-BADAAAAAA!!!" teriakan Ipan menggelegar bak petir, memecah keheningan hutan, mengguncang dunia.

Puluhan ekor semut salimbada kompak menggigiti kakinya. Kulit kaki Ipan terasa disulut oleh banyak bara api.

Kedua telapak tangan Ali sigap membekap mulut kawannya yang naif itu. Dia sendiri pun merasakan gigitan puluhan semut besar pada jari-jari kaki. Tapi, yang dilakukan Ali percuma. Teriakan Ipan sudah terlanjur didengar oleh para Punan berkaki merah. Beberapa moncong sumpit kini sudah mengarah ke arah mereka.

Zzaap! Zzaap!

Masing-masing pemuda itu mendapat hadiah sebuah jarum sumpit. Hanya butuh beberapa detik, pandangan keduanya seketika mengabur. Lalu terkulai lemas tak sadarkan diri.

Layaknya hewan buruan. Kaki serta tangan Ali dan Ipan diikat menggantung pada batang kayu, sebelum dibawa pergi para Punan itu. Anehnya, Dara tiba-tiba menghilang. Ipan dan Ali belum sempat menyadari, kalau gadis itu sudah tidak berada di antara mereka.





Other Stories
Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Kesempurnaan Cintamu

Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...

Chronicles Of The Lost Heart

Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...

Testing

testing ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Download Titik & Koma