BAB 28. CEPAT SEMBUNYI
"Wajib nah, kukira kau sudah jadi jumbi. Aduh!" Kedua tangan Ipan berusaha melindungi kepala dari sasaran kerikil.
"Hentikan! Ampun!" pinta Ipan, sambil tersengal-sengal.
"Aku tak akan berhenti, sampai bajuku kering di badan," geram Ali. Menyebalkan sekali saat cuaca dingin, serta situasi genting, Ipan malah membuat sekujur tubuhnya basah kuyup.
"Tadi kau tapak mukaku, tapi aku tak membalas." Ipan berusaha melunakkan hati si kawan.
"Tak membalas kau bilang?! Lalu ini apa namanya, hah?!" Ali mengibaskan rambut yang masih meneteskan air. Dia benar-benar naik pitam.
"Tolong, tolong! Siapapun tolong aku!" Lamat-lamat terdengar teriakan meminta tolong.
Kedua remaja itu sontak terdiam, menajamkan pendengaran. Napas mereka tampak tersengal.
"Mirip suara Dara," gumam Ipan, dengan dahi berkerut.
"Suaranya dari arah sana," timpal Ali, sembari melangkah terburu.
Ipan mengembuskan napas lega melihat sisa kerikil dibuang Ali begitu saja ke tanah. Dia memungut sebuah kerikil, lalu sempat-sempatnya melempar ke atas pohon. Seekor monyet ekor panjang menjerit oleh keisengan Ipan. Sambil terkikik geli pemuda itu berlari kecil menyusul Ali.
Tak terlalu jauh mereka berjalan, tampak seorang lelaki berdiri di bawah pohon mengkudu. Ada perempuan yang sedang ketakutan di atas pohon.
"Kau benar, Pan, itu si Dara," desis Ali, setelah mengamati beberapa saat.
"Pergi kamu, jangan ganggu aku!" bentak Dara, lalu menimpuk orang di bawah dengan buah mengkudu.
Bukannya menjauh, lelaki itu semakin berani. Dia mulai menaiki pohon. Dara yang ketakutan berusaha memanjat lebih tinggi lagi.
"Hey, siapa kau?! Beraninya sama perempuan!" bentak Ali, sembari mendekat.
"Kemari kau, satu lawan satu!" timpal Ipan, menyibak kaos. Lupa kalau bangun tidur dia dan Ali langsung kabur dari camp. "Tarung babanam!" umpatnya pelan. Belati yang biasa selalu diselipkan di pinggang ternyata tertinggal.
"Ali, Ipan, hati-hati dia berbahaya!" tukas Dara.
"Tenang, Dara, serahkan pada kami!" Ipan menepuk Dada. "Hajar, Li!" ujarnya kemudian pada Ali.
Sebuah ranting tergeletak di rerumputan, Ali memungutnya, lalu melangkah maju.
"Jangan gegabah, dia bukan seperti yang kalian pikir! Dia bukan manusia," ucap Dara setengah berteriak.
Orang di bawah pohon pelan memutar tubuh. Kini Ali dan Ipan bisa melihat wajah yang rusak penuh luka. Salah satu bola mata hampir keluar. Baju lusuh yang melekat pada perawakan tinggi besar itu tampak sudah menahun.
"Khoahh, kheegzz...." Suara merintih keluar dari mulutnya.
Sontak kedua kaki Ali mundur teratur, begitu pun Ipan yang berdiri tak jauh darinya. Orang berwajah pucat itu kini berbalik arah, tidak lagi tertarik pada Dara, tetapi melangkah pelan mendekati Ali dan Ipan.
"Tahunya jombi jua," cicit Ipan.
"Menurutmu dengan cara apa dia bisa dilumpuhkan?" Ali memasang kuda-kuda. Menyilangkan ranting layaknya sebuah senjata.
"Otaknya! Kalau dipelem, cara membunuh zombi kepalanya harus ditusuk," jawab Ipan cepat.
"Aku tak mau bunuh orang. Cukup melumpuhkannya saja."
"Ah, persetan! Kalau bukan mereka yang mati, kita yang bakal mati. Lagi pula mereka sudah bukan manusia lagi."
Ali mengangguk setuju pada ucapan Ipan yang terakhir. Mau tak mau dia harus percaya pada ucapan Ipan. Ranting panjang di genggaman Ali berubah menjadi senjata. Mahir berlatih bela diri pada seorang jagoan kampung, gerakan Ali tampak gesit dan meyakinkan.
"Awas, hati-hati!" seru Dara lagi. Dia sudah bisa turun dari pohon.
"Kau liat Mamat, Ra?" tanya Ipan, seraya mendekati Dara.
"Ceritanya panjang. Ayo kita bantu Ali!" sahut Dara. Matanya menatap tegang pada Ali yang sedang berusaha melumpuhkan lawan.
"Tak perlu. Dia bisa sendiri." Ipan mengibaskan tangan.
Ranting di tangan Ali mengeluarkan bunyi saat bergerak cepat, mengibas udara. "Hyaaahh!" Pemuda itu berteriak nyaring sembari memukul lawannya bertubi-tubi.
Sebuah ranting bisa menjadi senjata mematikan. Ali memukul telak titik-titik kelemahan lawan. Tak butuh waktu lama, tubuh ringkih itu tersungkur ke tanah tanpa butuh bantuan Ipan.
"Kenapa kepalanya tak kau hancurkan?" tanya Ipan, meringis ngeri melihat tubuh lelaki pucat itu masih menggeliat seperti cacing.
"Dia sudah tidak bisa menyerang kita lagi," sahut Ali. Masih ada perasaan tidak tega di hatinya.
"Tapi, otak jombi harus dihancur supaya tidak berbahaya lagi. Tusuk kepalanya!"
"Jombi, jombi! Belum tentu yang kita hadapi sekarang sama seperti jombi dalam pelem," sental Ali.
"Sudahlah, kita harus cepat pergi sini, ayo!" desak Dara, menggamit kedua temannya.
****
"Menjelang subuh aku terbangun. Kulihat Mamat sudah tidak ada dalam kamar. Jendela kamar sudah terbuka." Dara mulai bercerita.
Ketiga remaja itu sudah berada di tempat lain, dekat aliran sungai. Ipan dan Dara duduk menghadap ke sungai, bernaung pada pohon yang rindang. Tak jauh dari keduanya Ali sibuk menjemur baju dan celana yang masih basah di atas sebuah batu besar. Selagi cahaya matahari sedang melimpah. Hanya celana sempak yang masih melekat pada tubuh kurus berotot itu.
"Jadi, kau pun tak melihat Mamat?" tanya Ipan lesu.
Dara menggeleng pelan. "Tapi, aku sempat melihat seseorang berdiri di luar jendela. Sepertinya orang itu yang sudah membawa Mamat."
"Siapa?!" Ipan dan Ali kompak menyahut.
"Kau mengenal orang itu, Ra?" sambar Ipan.
"Namanya Adaw, dia anak lelaki Tambi Balau. Aku sudah berusaha membuntutinya, tetapi malah bertemu orang-orang aneh. Entah dari mana datangnya. Tiba-tiba saja mereka ada di luar."
"Anak Tambi Balau, ninik santet itu maksudmu? Seperti apa orangnya?" Ali mendekat, tetapi tetap menjaga jarak dari Dara. Duduk di balik sebuah batu besar, menyembunyikan sebagian tubuhnya. Tahu diri kalau kondisinya yang nyaris telanjang akan membuat Dara jengah.
"Badannya tinggi besar. Penampilannya seperti pemburu," jawab Dara.
"Apa?!" Lagi-lagi Ipan dan Ali kompak bersuara. Mereka lalu saling beradu netra. Tampaknya masing-masing punya pikiran sama, kalau orang yang dimaksud oleh Dara adalah laki-laki besar yang menyeret babi hutan di Desa Muara Bukit.
"Kenapa? Kalian pernah berjumpa dengannya?" Kedua kening Dara serentak naik menatap Ipan, tapi tak berani menoleh ke Ali.
"Waktu itu kami di Desa Muara Bukit..." Ipan kemudian menceritakan semua pengalaman mereka sewaktu berjumpa laki-laki berbadan besar di desa Muara Bukit, serta perjalanan selama menuju camp.
"Iya, betul. Seperti itu memang ciri-ciri Adaw," imbuh Dara usai Ipan bercerita. "Dia anak lelaki Tambi Balau. Beruntung sekali kalian bisa selamat darinya. Kalian tahu, orang itu sepertinya sudah gila."
Dara menghela napas sejenak. "Aku sangat khawatir sama nasib Mamat. Kalian harus menemukannya!"
"Apa kau tahu, di mana tempat tinggal anak Tambi Balau itu?" tanya Ali.
"Dia tinggal bersama ibunya. Kata orang-orang, gubuk mereka dekat puncak bukit. Aku tak tahu pasti bukit yang mana, banyak bukit di sini."
Ali melirik Ipan yang tampak gusar mengacak-acak rambut sendiri. Kebiasaanya jika sedang frustasi. Pasti karena khawatir tidak bisa menemukan Mamat.
"Tenang, Pan, aku pasti bantu kau cari Mamat. Kalau perlu semua bukit yang ada dalam hutan ini kita obok-obok," hibur Ali.
"Jadi kalian sempat bertemu dua orang di kebun singkong? Kupikir tak tersisa orang lagi di tempat ini, selain Tambi balau dan anaknya itu." Dara mengalihkan pembicaraan. Dia menyimak dengan baik cerita Ipan tadi.
"Hum." Ipan mengiyakan.
"Tapi, anehnya mereka seperti ketakutan bertemu kami," tambah Ali.
"Ketakutan, kenapa?" Kening Dara bertaut.
"Bapak itu meminta kami tidak memberitahu siapa pun kalau bertemu mereka. Aneh, kan?" ujar Ali lagi.
"Begitu kata mereka?" Ekspresi wajah Dara berubah pias. Diam sesaat. seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Psst, ada orang menuju ke sini!" Pendengaran Ali menangkap bunyi langkah kaki serta gumaman orang dari arah hutan.
"Iya betul, lekas kita sembunyi!" cicit Dara.
"Bajuku."
"Biar saja dulu!" Ipan menarik lengan Ali.
Ketiganya bersembunyi ke balik sebuah pohon besar. Hanya selang beberapa detik muncul serombongan orang yang membuat mata mereka tercengang.
Other Stories
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Balada Cinta Kamaliah
Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...