Susur

Reads
504
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 27. NAFSU MEMBUNUH




Hup! Tubuh Ali melompat turun dari jendela. Kedua kakinya mendarat mulus di atas semak yang tebal.

Pyaaar!

Sekali lagi kaca jendela yang ada di samping pintu pecah. Orang-orang itu tambah beringas, berusaha menjejalkan wajah ke antara retakkan kaca yang menganga lebar. Mulut mereka terus merintih lapar. Sementara Ipan masih menjerit-jerit panik melihat daun pintu di hadapannya mulai goyah.

"Loncat bungul, ay!" seru Ali dari bawah jendela.

Hingga pintu benar-benar anbruk, Ipan baru tersadar. Kakinya yang gemetar ternyata masih kuat berlari ke arah jendela, diiringi orang-orang berwajah pucat yang telah berhasil menerobos masuk.

Bugk!

Tubuh kerempeng Ipan menimpa rumput tebal.

"Lekas sembunyi, Pan!" tegur Ali yang sudah jongkok di balik belukar tinggi.

Mata Ipan seketika membelalak, mengawasi sekitar. "Astaga, mereka ada di mana-mana. Dari mana saja datangnya orang-orang ini? Kemarin kita kesulitan nemu manusia. Sekalinya ada, malah ketemu macam ini," desis Ipan dengan suara tertahan.

Sekitar bangunan camp kini terlihat ramai oleh banyak orang yang berjalan terseok layaknya sedang mabuk. Ada laki-laki, ada yang perempuan. Penampilan mereka terlihat lusuh dan kotor.

"Makin ke sini tempat ini tambah menakutkan." Ali menyugar kasar rambut cepaknya.

Setengah percaya dengan semua yang mereka lihat. Kepala masih keleyengan, rasanya seperti sedang bermimpi. Ali lalu mengepalkan tangan, setelah itu melakukan gerakan tak terduga.

Plakk!

"Argh!" Ipan memegangi rahang kesakitan, sambil memelototi kawan di sampingnya. "Apa maksud kau main g*mpar sembarangan, hah?! Kelahikah kita, Alimukdin?!"

"Sakit, Pan?" tanya Ali dengan wajah polos. "Tak perlu kelahi. Aku hanya ngetes, ini mimpi atau nyata."

"Nyaman, bungulay!" jawab Ipan satir, bibir mewek.

"Berarti ini memang nyata." Netra Ali menatap nanar muka gusar Ipan yang penuh komedo.

"Harusnya kau pukul wajahmu sendiri, bukan wajah orang lain!" protes Ipan, mengusap-usap rahang. Tamp*ran Ali cukup keras.

"Pssst, diam!" Ali memberi kode agar mereka berhenti bicara.

Seorang lelaki bertubuh tambun sedang berjalan terpincang-pincang dekat tempat mereka sembunyi. Hanya terhalang rumpun beluntas yang rimbun. Meskipun pupil itu terlihat tidak fokus, tetapi sepertinya dia bisa mencium keberadaan Ipan dan Ali. Terbukti dia berhenti melangkah dan sekarang mengendus-endus.

Suara berisik dari arah belakang membuat Ali dan Ipan spontan menoleh. Orang-orang pucat yang sudah berhasil masuk ke dalam kamar, kini sedang berdesakan di depan jendela. Untungnya posisi jendela cukup tinggi.

Bugk!

Seorang perempuan berdaster compang-camping terjatuh dari jendela oleh dorongan yang lain. Posisi, tubuhnya terbalik dengan leher tertekuk. Dengan posisi demikian harusnya tulang leher itu patah. Tapi, dia terlihat baik-baik saja, hanya kesulitan untuk bangun.

"Khaaahh, kheerrgzz... " Keluar suara tak jelas dari mulutnya yang mengeluarkan cairan hitam. Satu rol rambut berwarna merah masih menempel pada kepala perempuan itu. Ipan dan Ali menatap tegang, terkesima.

Bugk!

Satu orang lagi jatuh menimpa tubuh si perempuan dan sepertinya yang lainpun akan menyusul jatuh.

"Khhh...." Laki-laki pucat bertubuh tambun mulai menyibak rumpun bunga beluntas, tempat sembunyi Ali dan Ipan.

"Jangan bengong, Pan, lariii!" teriak Ali, sembari melompat lebih dahulu, keluar dari persembunyian, disusul oleh Ipan.

Mereka terpaksa melewati beberapa orang lainnya. Ali sempat melayangkan tendangan pada satu orang yang menghalangi, hingga terjerembab ke tanah, tetapi kemudian berusaha bangkit lagi. Ali dan Ipan kini menjadi pusat perhatian. Semua kompak memburu kedua pemuda itu.

Keduanya terus berlarian memasuki area hutan. Tanpa alas kaki memacu tungkai kesetanan. Sesekali Ipan mengomel, saat tak sengaja kakinya terinjak semak berduri. Untungnya cuaca pagi masih sejuk, rerumputan pun masih basah oleh embun.

"Mamat, Daraaa!" Mereka meneriakkan nama dua temannya sambil terus berlari.

Semakin masuk ke dalam hutan, jalan kian naik turun karena kontur alam yang berbukit-bukit. Beberapa kali Ipan meminta Ali agar berhenti untuk istirahat, napasnya hampir habis, tetapi Ali tak menggubrisnya.

Dekat sebuah sungai kecil dengan bebatuan sepanjang tepiannya, akhirnya Ali menghentikan laju kaki. Manusia-manusia pucat sudah tidak lagi terlihat.

"Ya, Tuhan. Tolong kami ya, Tuhan!" Ipan menjatuhkan punggung ke atas rerumputan.

Napas Ipan megap-megap, mata menatap langit biru yang dihiasi domba-domba putih. Meski jarang sholat, dirinya tetap percaya pada pertolongan Tuhan.

Ipan sadar jika dia tergolong hamba yang tidak tulus beribadah. Lima waktu hanya saat bulan puasa, sebab selama sebulan itu, Julak rutin membagikan uang saku untuk anak yatim termasuk Ipan.

Satu sisi hati Ipan merasa tak pantas berhadapan dengan Sang Pencipta. Malu pada kelakuan bengalnya yang suka berkubang dosa. Tak mau Ipan jadi manusia munafik, rajin sholat namun dosa tetap dijalankan. Mabuk, judi, dan mencuri sukar sekali Ipan berhenti melakukannya.

Gemericik air sungai menimpa bebatuan, seakan memanggil-manggil. Ali menggulung tinggi ujung celana jeans buluknya hingga sedikit di bawah lutut. Dia lalu melangkah masuk ke dalam air yang terlihat jernih. Mulut mendesis sesaat, ketika kulit merasakan dinginnya air. Kedua telapak tangan meraup setangkup air, lalu mereguknya tergesa.

"Kalau sampai Mamat hilang, apa yang musti kubilang sama Mamak? Belum tentu Mamak percaya ceritaku," gumam Ipan, seraya mendekati Ali yang duduk termangu di atas sebuah batu besar.


"Aku khawatir Mamat sama Dara sudah mati. Kayak di pelem ( film ) habis digigit mereka berubah jadi jombi pula," ujar Ipan lagi.

Penampilan orang-orang berkulit pucat yang muncul tiba-tiba di sekitar camp tambang seketika mengingatkan Ipan pada zombie. Sama-sama seperti mayat hidup.

Melihat Ali masih termangu, Ipan melepas kaosnya, menggulung celana tinggi-tinggi. Dia bermaksud ingin membersihkan tubuh ke sungai, sekalian minum.

Cyprass ... cyprass ....

Kedua kaki pemuda itu masuk ke dalam air.

"Wariiik!" jeritnya seraya gegas naik lagi ke daratan. "Ali, kenapa kau tak bilang banyunya kayak es?!" Dicipratkan kesal air ke arah Ali.

"Kalau tahu, aku tak bakal turun," imbuhnya, memasang baju lagi.

Orang yang diajak bicara, diam tak bergeming. Tatapan Ali menerawang entah ke mana. Tidak terpengaruh sedikitpun pada ulah berisik Ipan.

"Ke mana lagi kita harus mencari Mamat? Aku tak mungkin bisa pulang tanpa si culun tu. Mamak bisa ngamuk tujuh hari tujuh malam."

Mulut Ipan terus mencerocos panjang, sambil membasuh wajah dengan gerakan cepat, agar tak terlalu merasakan dingin. Asalkan mata sembabnya tidak belekan lagi. Dalam hati berharap, apa yang dia pikirkan tidak benar-benar terjadi. Jangan sampai Mamat hilang dimakan zombie-zombie itu.

Ipan kemudian menyadari sesuatu, lalu memicingkan mata. Dia memerhatikan Ali yang masih membisu. Bicara sampai mulut berbusa-busa, Ali sama sekali tak merespon apa pun yang dia ucapkan. Ada apa dengan Ali? Diam dengan tatapan kosong persis sapi ompong. Mirip seperti ....

Astaga!

Jantung Ipan tiba-tiba berdebar tak keruan. Sikap diam Ali membuatnya parno. Teringat lagi pada adegan dalam film zombi. Manusia tertular virus zombie tidak hanya lewat gigitan. Virus itu bahkan bisa menginfeksi lewat air dan udara yang dihirup.

Apa jadinya jika Ali pun sekarang sedang dalam proses menjadi zombi?

Di situasi sekarang, siapapun harus diwaspadai!

"Li, Ali, kau kenapa?" Dicobanya memanggil berkali-kali. Namun, Ali tetap diam.

"Cilaka!" gumam Ipan, menelan ludah cekat.

Sebuah batu kali sebesar kepalan tangan dipungut Ipan. Rautnya terlihat ragu sebelum meletakkan batu itu kembali.

"Terlalu besar," cicit Ipan, pada diri sendiri. Tangannya memilah-milah lagi batu yang lain.

Pletak! Batu kerikil seukuran jempol melayang telak, mengenai pelipis Ali.

"Aaaaargh!" Ali berteriak panjang, terkejut bukan kepalang.

Byuuurr!

Tanpa sempat berpegangan, tubuh Ali oleng, langsung jatuh ke dalam air sungai dengan posisi menyakitkan.

"Apa yang kau lakukan?! Punya dendam apa kau padaku?! Lihat, bajuku sekarang basah semua! Puas kau?!" cecar Ali meledak-ledak, dengan mata melotot.

Ipan sudah berhasil membuat tekanan darah Ali melonjak naik. Di pagi yang dingin wajah  pemuda itu malah terlihat memerah, menahan amarah.

Ali sedang melamun tadi. Dia berpikir keras tentang masalah yang mereka hadapi. Memikirkan tentang dimana mereka bisa menemukan Mamat dan Dara. Bukan tertular virus zombie seperti yang disangkakan oleh Ipan.

Tubuh Ali membungkuk, kedua tangan bergerak cepat memunguti batu kerikil dari tepian sungai, menampungnya pada kaos basah yang melekat di badan. Rautnya terlihat sangat bernafsv. Nafsv untuk membunuh seseorang.

"Kukira kau pun sudah jadi jumbi kayak orang-orang itu. Salah sendiri dari tadi diam saja, dipanggil-panggil tak menyahut. Mukamu kayak orang banyak hutang, eh maksudku kayak orang sawan," elak Ipan, seraya bersiap menyelamatkan diri.

Tak berselang lama, keduanya terlihat berlarian lagi di jalan setapak di antara hamparan ilalang tinggi. Ipan berlari kencang dengan napas tersengal. Ali terus mengejar sambil melemparinya batu kerikil yang dikumpulkan tadi. Kepala berambut ikal sebahu itu menjadi sasaran paling menarik bagi Ali.






Other Stories
Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Romance Reloaded

Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Download Titik & Koma