BAB 26. MAYAT HIDUP
"Raung sebenarnya peti mati biasa. Kerabat mereka yang mati akan dimasukkan ke dalam raung lalu digantung di pohon besar, sampai tubuhnya menjadi tulang. Setelah jadi tulang baru disimpan dalam Sandung." Dara, mencoba menjelaskan.
"Sandung? Apa pula Sandung?" Ipan semakin tak mengerti.
"Kau masih ingat bangunan kecil yang ada dekat rumah, sewaktu kita di Desa Muara Bukit? Itu namanya Sandung, tempat menyimpan tulang leluhur suku Dayak," sahut Ali.
"Warik, kau dan Mamat bilang itu kandang burung," geram Ipan. Ingin sekali menjitak kepala Ali yang tepat berada di bawah dagunya, merasa sudah dibohongi.
"Raung yang mencari manusia seperti ini sebab semasa hidup punya ajian. Karena tak ada yang mau meneruskan ajiannya, Raung tetap dibiarkan dalam hutan tak terurus. Makanya gentayangan mencari mangsa, dia tidak benar-benar mati," papar Dara lagi. Tampaknya dia tahu banyak tentang benda horor itu.
"Dara betul. Kakekku pernah bilang Raung memangsa daging manusia karena berharap bisa hidup lagi," timpal Ali.
Ipan mundur dari depan jendela, mengacak-acak rambut sendiri. Pertanda dia sudah mulai panik. Menyesal Ipan sudah datang ke tempat itu. "Lalu kita musti apa?" tanyanya.
"Siap-siap melawan kalau makhluk itu menyerang. Kau sama aku gantian jaga pintu sampai pagi," jawab Ali, tanpa mengalihkan pandangan dari jendela. Raung kini terlihat diam tak bergerak.
"Aku juga akan berjaga," timpal Dara.
"Tak perlu, cukup aku dan Ipan. Kau sebaiknya tidur. Jika butuh bantuan kami akan membangunkan kamu."
"Baik." Dara mengangguk.
Mendengar bisik-bisik ketiga remaja itu, Mamat terjaga dari tidur. Hanya sebentar, lalu tubuh mungilnya menggulung lagi dalam selimut. Dara terlihat naik ke atas tempat tidur.
Gluduk! Gluduk!
Peti kayu di luar tiba-tiba berdiri. Tutupnya sedikit tersingkap. Dari kaca jendela, Ali terus mengawasi.
"Pan, cepat kemari, lihat sini!" Ali memberi kode tangan agar Ipan mendekat lagi ke jendela.
"Jadi, malam ini kerjaan kita mengintip hantu kah?!" tanya Ipan setengah terisak. Kedua telapak tangan sudah sedingin es.
"Psstt, jangan keras-keras!" sentak Ali.
Klak!
Penutup Raung bagian bawah semakin merenggang. Tampak satu tungkai berwarna kehitaman menjejak ke tanah. Tubuh Ipan kian menggigil menyaksikan itu. Satu lagi lengan kurus keluar mencuat sembari berusaha menggapai sisa puntung rokok yang masih menyala di lantai selasar.
"Dia mau rokokmu, Pan," bisik Ali, menepuk muka Ipan di belakangnya.
Plak!
Kaki serta lengan yang tadi keluar dari dalam Raung masuk kembali ke dalam cangkangnya. Menutup rapat, kemudian benda persegi itu bergerak mundur menjauh.
Krrossakk , krrossakk ....
Raung bergerak di atas hamparan tebal semak halaman.
"Mana, katamu Raung makan daging manusia? Kenapa malah ngincer rokok bekas, hah?" Ipan menyeka keringat dingin sebesar biji jagung pada dahinya.
"Jangan terkecoh! Dia sedang berusaha mengalihkan perhatian kita. Lihat saja, Raung itu masih tak mau pergi dari sini. Dia menunggu kita keluar," tukas Ali.
Benar yang dikatakan Ali, peti mati itu masih ada di sana. Diam tak bergerak, sembunyi di antara semak belukar tinggi.
Sementara itu, dalam kegelapan ruang bahan makanan, jari-jari pucat kembali mencuat dari sela papan lantai. Sesuatu yang Ipan lihat sebelumnya bukanlah tikus, tetapi makhluk-makhluk yang telah lama tersembunyi dalam ruang bawah tanah, di bawah gudang.
Klotak, klotakk....
Papan terus terdorong hingga akhirnya terbuka. Tangan-tangan pucat kini mulai menjangkau, berusaha mencari pegangan untuk keluar dari sana, disertai suara erangan tak jelas.
****
Kening Ali mengernyit menahan pusing. Kepalanya terasa berat, pun dengan kelopak mata yang seolah diganduli sesuatu. Pandangan kabur. Bumi sekeliling seakan tak henti berputar.
Wuuuzzzzz....
Angin menerobos masuk lewat jendela yang terbuka lebar. Tirai serta kain yang ada dalam ruangan dibuat berkibaran.
"Bangun, bangun, bangunlah!" Ada yang berbisik di telinga Ali.
Pemuda itu lalu menyaksikan mulut keriput sedang komat-kamit di depan wajahnya. Tapi, asap pekat menyamarkan pandangan. Ali menggelengkan kepala, berusaha menepis rasa pusing yang terus menyerang.
"Bangun, bangun, lekas banguuun! Cuih! Cuih!" Mulut yang keriput itu menyembur-nyemburkan ludah ke wajah Ali.
Brakk!
Daun jendela terbanting keras oleh tiupan angin kencang.
Ali terkesiap bangun. Kedua tangannya memegangi kepala yang berdenyut. Ternyata tadi itu hanya sekedar mimpi, dia membatin.
"Apa yang sudah terjadi?!" gumam Ali, menatap sekeliling kamar dengan mata memicing.
Malam telah berlalu. Di luar sana warna langit tampak benderang. Angin dingin berembus dari jendela kamar yang terbuka. Ipan masih terbaring di lantai dengan posisi tak karuan. Dara dan Mamat tak tampak.
"Ssshh..." Mulut Ipan mendesis. Dia mulai terbangun.
"Kenapa kepalaku pening, macam minum oplosan segalon," keluh Ipan, sembari mengerjap-ngerjapkan kelopak mata. Sekarang dia sudah duduk, tetapi kesulitan untuk berdiri. Tubuhnya terasa melayang.
"Kita sama-sama ketiduran, Pan." Ali mencoba bangkit, meski oleng. "Ke mana ya, si Mamat sama Dara?"
"Coba kau cari ke dapur!" sahut Ipan, sembari memijit pelipis, berusaha mengusir rasa pusing.
Ali menelan ludah cekat, saat berdiri di depan pintu. Dia kini menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi. Daun pintu kamar dalam kondisi tertutup rapat. Plang pintu masih terpasang dengan baik. Dara dan Mamat tidak keluar lewat pintu itu. Leher Ali lalu berputar ke arah jendela yang terbuka.
"Masa iya, mereka keluar lewat jendela?" gumamnya, mengernyit.
Dagh! Dagh! Dagh!
Daun pintu tiba-tiba bergetar, digedor dari luar.
"Itu Dara, ngajak sarapan pagi," ujar Ipan sok tahu. Tubuhnya tampak masih sempoyongan.
Ali tak serta merta percaya, apalagi ketika netranya memerhatikan lubang angin di bawah pintu. Bayangan dari situ terlihat mencurigakan. Ada bayangan kaki yang sedang berdiri di luar. Begitupun pada kaca jendela di samping pintu. Bayangan lebih dari satu orang, ada banyak orang. Daun pintu terus digedor-gedor dari luar.
"Aku kepingin ngopi. Buruan buka pintunya!" Ipan berusaha mendorong tubuh Ali dari depan pintu.
"Sebentar, ada yang tak beres." Ali menyingkap tirai jendela dengan hati-hati.
"Kyyaaaaaa!" Keduanya serempak berteriak histeris.
Tampak wajah-wajah pucat dengan tatapan kosong. Salah satu dari orang itu menempelkan muka ke kaca jendela, berusaha melihat isi kamar. Penampilannya sangat lusuh, dengan luka koyak pada pipi. Gegas tirai ditutup Ali lagi.
"Siapa mereka? Muka mereka aneh," desis Ipan.
"Sepertinya sudah terjadi sesuatu, tanpa kita berdua tahu. Dara sama Mamat mungkin sudah keluar lewat jendela." Ali menunjuk jendela terbuka yang mengarah ke halaman belakang.
"Tapi kenapa tidak membangunkan kita?"
"Mungkin kita berdua sulit dibangunkan. Kita tidur terlalu nyenyak, Pan."
"Kenapa bisa begini?" Ipan bersandar pada dinding, mengacak-acak rambut sendiri. Bangun tidur sudah harus sport jantung.
Ali bergegas menuju jendela yang terbuka itu. Melihat situasi di luar. Matanya menemukan jejak-jejak kaki di bawah jendela. Kemungkinan itu bekas kaki Dara dan Mamat. Semoga mereka baik-baik saja, batinnya.
Pyaaar!
Kaca jendela di samping pintu pecah. Beberapa pasang lengan langsung menggapai-gapai berusaha masuk. Mulut mereka mengeluarkan suara aneh, mirip erangan.
"Tarung babanam, orang-orang ni kayak jombi!" seru Ipan.
"Kau benar. Maka itu cepatlah lompat keluar jendela! Kalau tidak, kita bisa jadi santapan mereka," sahut Ali.
Other Stories
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...