BAB 25. RAUNG
Tubuh ceking Ipan sampai terjungkal jatuh ke lantai, saat kakinya tak sengaja tersandung meja.
"Ipan, kamu kenapa?" Tergesa Dara mendekat, lalu jongkok di sampingnya, sambil memegangi lilin.
"A-ada han-hantu." Ipan tergeragap, gegas dia bangkit dengan wajah pucat.
"Hantu? Mana ada hantu?" Mulut Dara membulat.
"Di- disana, di bawah papan." Suara Ipan terdengar sangat gugup. Kakinya beringsut mundur menuju pintu.
Dara mengarahkan cahaya lilin ke tempat yang ditunjuk Ipan. "Nggak ada, tikus kali yang kamu lihat."
"Ta-tapi...."
"Namanya juga gudang makanan, biasa banyak tikus di sini," ujar Dara dengan santainya, seraya menutup kembali pintu gudang.
Ipan hanya bisa menelan ludah cekat, menyeka pelipis yang tiba-tiba basah. Malu juga ketahuan betapa penakut dirinya. Berusaha untuk percaya bahwa penglihatannya memang salah karena cahaya dalam gudang sangat sedikit.
"Nih, lihat, aku nemu barang yang kamu mau." Dara tersenyum lebar, sembari memperlihatkan satu slop rokok.
"Siapa yang teriak-teriak, macam orang mau beranak?" Ali akhirnya muncul. Teriakan Ipan terdengar hingga ruang makan.
Dara terkikik geli mendengar ucapan Ali. "Hihi, Ipan katanya lihat hantu di gudang," sahut gadis itu.
Kedua kening Ali naik, tatapan meledek. "Hantu apa, Pan? Suster ngesot, Suster keramas, Suster gepeng?"
"Bukan apa-apa kok. Itu cuma tikus bersarang di bawah gudang," terang Dara.
"Ini buat kalian berdua, semoga masih bisa digunakan. Tapi, tolong ngerokoknya di luar, ya, jangan di dalam! Aku mau ke kamar kecil dulu," ucap Dara lagi, menyerahkan benda dari tangannya pada Ipan, lalu berlari kecil meninggalkan mereka.
Sepeninggal Dara pipi Ali mengembung, menahan tawa.
"Bikin malu saja kau, malu sama gondrongmu, hahaha..." Tawa Ali kemudian meledak.
"Tertawalah terus, kau tak bakal kubagi rokok." Ipan mendengkus, memeluk slop rokok.
"Bagilah, Sanak!"
"Huh, tak mau."
"Bagi!"
Klotak... klotak....
Terdengar lagi bunyi berisik dari dalam gudang. Air muka Ipan berubah tegang. Sebenarnya dia masih sangsi jika makhluk di dalam sana benar-benar tikus.
"Hiiiy...." Pemuda berambut ikal sebahu itu berlari terbirit meninggalkan Ali.
"Dasar jorok, jangan kau jepit di ketek, warik!" teriak Ali melihat Ipan meletakkan slop rokok di antara ketiaknya.
****
Malam ini wajah langit kelam tanpa senyum rembulan, tanpa kedipan bintang. Rintik gerimis masih berjatuhan. Awan tipis bergerak perlahan mengikuti tiupan angin.
Bertemu candu nikotin lagi, Ipan dan Ali menikmati malam di teras. Padang rumput di hadapan mereka menebar aroma segar petricor.
"Kasihan si Mamat ya, Pan. Kupikir sampai sini Mamat bisa langsung ketemu abahnya. Ternyata tak semudah itu." Ali berdecak pelan, menghisap dalam-dalam benda yang terselip di antara sela jari.
"Hum." Ipan mengangguk sekilas. "Aku masih kepikiran sama si Dara. Betah-betahnya dia di sini." Gumpalan asap putih bergulung-gulung keluar dari bibir tebal Ipan yang kehitaman.
"Kau sendiri kemarin pingin tinggal seminggu lagi.'
Ipan menggeleng. "Kalau bisa sekarang, aku mau pulang sekarang."
"Jadi kau sudah rindu rumah?" Terselip nada iri dalam suara Ali.
"Rindu rumah apa rindu mamak?" ledek Ali lagi, setelah Ipan tak jua menjawab pertanyaannya.
Di mata Ali, Ipan sangat beruntung. Meski sejak kecil kehilangan ayah, pemuda itu tak kekurangan kasih sayang. Iri Ali tiap melihat Ipan dijewer mamaknya gara-gara ketahuan mencuri atau berjudi. Iri tiap sepasukan kakak Ipan lengkap dengan paman juga sepupunya datang ke tempat mangkal mereka hanya untuk menyeret Ipan yang merajuk tak mau pulang.
Sepenting itukah Ipan bagi mereka? Ipan yang jauh dari kata ganteng, pemalas, dekil, menyebalkan....
"Kenapa kau liat aku macam tu?" protes Ipan, ditatap Ali sebegitunya.
"Siapa jua yang liat kau?" sangkal Ali, tersadar.
"Tatapanmu macam orang nagih hutang!"
"Hehe...." Ali cuma terkekeh, lalu menghela napas dalam, dengan sorot mata menerawang.
Ironis jika ingat tentang diri sendiri. Berbanding terbalik dengan Ipan, Ali harus merasakan pahitnya hidup sebatang kara. Tersisih di tengah keluarga. Tumbuh dalam kesepian. Tak akan ada yang merasa kehilangan, walau dia tak pulang.
"Mana henponmu?" Ipan menanyakan ponsel Ali.
"Buat apa?"
"Telpon mamak."
"Apa kubilang, kau kangen mamak." Senyum Ali mengembang. Satu tangan merogoh ke kantong belakang celana.
"Berisik, buruan pinjam!" Ipan tak suka senyum meledek yang ditujukan Ali padanya.
"Kau coba saja, dari tadi tak ada sinyal. Tapi, pulsanya cukup buat telepon." Ali menyodorkan ponsel jadul yang sudah lusuh.
Ujung jempol Ipan menekan nomer kontak pada keyboard ponsel. Sambil membayangkan perempuan bertubuh gempal itu sekarang sedang bersantai di depan televisi, menonton sinetron kejar tayang kesukaannya. Tiba-tiba saja Ipan rindu suara cempreng mamak.
"Payah, tak tesambung-sambung. Kentang bangat henponmu ni!" rutuk Ipan kesal, setelah berkali-kali panggilannya ke mamak tak tersambung.
"Bukan masalah henpon tapi sinyal memang tak ada. Ini tempat terpencil, Pan." Ali masih berusaha sabar.
"Tarung babanam, karena henponmu kentang tak mampu menangkap sinyal."
"Biar kentang yang penting punya. Dari pada kau, tak punya tapi belagu," balas Ali, berusaha merebut kembali benda miliknya dari tangan Ipan. Tapi, Ipan tak langsung menyerahkan benda itu.
"Ambil, nih, ambil!" Ipan melempar asal ponsel, hingga jatuh ke lantai teras yang basah oleh tempias hujan. Mata Ali dibuat melotot berang oleh ulahnya.
"Terkutuk! Kelahikah kita, Pan?!" Ali berkacak pinggang.
"Siapa takut?!" Ipan mengangkat dagu, tanpa rasa bersalah.
"Ni anak sekali-sekali harus dihajar sampai gempor,"'geram Ali, menggulung kaos. Memperlihatkan otot-otot liat pada lengan atasnya.
Bugk!
Kepalan tinju Ali menghantam pipi tirus Ipan, tanpa perlawanan berarti.
"Aargh!" Ipan menjerit kesakitan, "Culas, kau pukul orang yang belum siap."
"Banyak cingcong, balas kalau bisa!"
"Baiklah kalau begitu. Bersiaplah menerima pembalasanku!" Kaki dan tangan Ipan membuat gerakan kuda-kuda siap menyerang.
"Jurus seribu bayangan, hiyaaah!" Ipan menerjang tubuh Ali, hingga keduanya jatuh bergulingan di atas selasar yang basah.
Baku hantam pun terjadi, sambil mulut berisik saling memaki.
"Siti!"
"Leha!"
"Diang Melepuh!"
"Aluh Bohay!"
"Astaga, kalian pada ngapain, sih? Sudah larut malam, belum pada tidur." Dara berdiri beberapa langkah dari mereka. Geleng-geleng kepala, tak habis pikir melihat kelakuan konyol dua pemuda itu.
"Ini, si Ali ngajak latihan gulat, hehe," jawab Ipan sekenanya.
Bugk!
Ali berhasil menjatuhkan Ipan yang tadi menduduki perutnya. Sekarang posisi terbalik. Ipan tiarap dengan Ali memiting satu lengannya.
"Iya, yang kalah harus mencuci baju sebulan penuh," timpal Ali.
"Kapan kita sepakat begitu?!" tanya Ipan, seraya meringis menahan sakit.
"Ssstt, diam! Coba pasang telinga kalian!" Dara berbisik, meletakkan jari telunjuk ke depan mulut. Kode agar keduanya segera berhenti berisik.
Krrossakk, krrossakk....
Bunyi semak yang tersibak kini terdengar jelas. Ipan dan Ali kontan terdiam.
Ketiganya saling menatap tegang. Lalu sama-sama menoleh ke arah rumput liar yang tumbuh subur di halaman. Di sana, beberapa puluh meter dari mereka tampak sesuatu yang bergerak kian mendekat.
"Apa itu?" desis Ipan, melebarkan mata.
"Itu Raung," bisik Dara hampir tak terdengar.
"Raung?" Ali langsung paham pada benda yang disebut Dara. Seketika dia menelan ludah gugup.
Benda berbentuk persegi panjang, terbuat dari kayu itu terus bergerak maju, sambil sesekali berhenti. Seolah ada seseorang yang sedang menyeretnya dengan susah payah. Saat kilat menyala menerangi langit malam, penampakannya semakin jelas. Sisi-sisinya sudah berlumut. Pada bagian atas tampak pahatan berupa ukiran. Benda yang terlihat sudah sangat tua.
"Raung yang sedang mencari mangsa," ucap Dara mendelik ngeri.
"Sebaiknya kita cepat masuk!" saran Ali.
"Hum." Dara mengangguk cepat.
"Raung itu apa?" tanya Ipan. Heran, kenapa cuma dia yang tidak tahu tentang Raung?
"Peti mati," jawab Ali singkat.
"Peti mati, kenapa bisa bergerak?" Mulut Ipan membulat. Namun, dia tak lagi banyak bertanya, setelah melihat Ali dan Dara berlarian masuk ke dalam.
Brak!
Pintu segera ditutup setelah semua sudah masuk ke dalam ruangan. Tanpa banyak bicara Ali memasang plang pada pintu. Rautnya tampak serius, begitu juga Dara. Jantung Ipan semakin berdegup cepat menyaksikan raut tegang kedua orang itu. Setahu Ipan, Ali nyalinya besar. Sangat jarang dia bersikap seperti sekarang. Astaga, tempat ini semakin menakutkan.
"Matikan lampu, cepat!" titah Ali pada Ipan.
Klik!
Tangan panjang Ipan gesit menekan saklar lampu. Suasana dalam kamar kini temaram.
"Aku pernah bertemu benda itu sewaktu berburu ke hutan. Dan baru kali ini Raung bisa sampai ke sini." Dara bersandar pada dinding, dengan napas memburu.
"Dia tahu ada manusia di sini," bisik Ali, sambil mengintip lewat tirai jendela, dengan dagu Ipan di atas kepalanya.
Benda yang mereka sebut Raung masih terseok-seok mendekati selasar, tempat mereka tadi duduk bersantai.
Other Stories
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...
Puzzle
Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...