Susur

Reads
508
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 24. JARI-JARI PUCAT



"Tambi Balau... dia seorang pemuja ilmu hitam. Dialah penyebab perginya orang-orang dari tempat ini. Dia juga yang telah membuat Desa Muara Bukit menjadi kampung mati," ucap Dara dengan nada penuh penekanan.

Ali menoleh ke Ipan. "Benarkan, ada yang tak beres," desisnya.

"Jadi karena orang itu tempat ini sepi kaya kuburan? Kau sendiri tidak takutkah, Dara?" Sepasang kening Ipan bertaut heran menatap Dara. Tak habis pikir seorang gadis masih mau tinggal sendirian di tempat seperti itu.

"Sudah kubilang aku tak punya pilihan. Kalaupun harus mati seperti yang lain aku pasrah." Dara membuang napas pelan.

Gadis itu lalu mulai bercerita kenapa dia sampai berada di tempat itu. Seorang pekerja tambang telah menemukan Dara di sungai dalam kondisi terluka parah. Dia lalu ditampung dan dirawat hingga sembuh. Tak lama kemudian para pekerja mulai mendapat teror santet dari Tambi Balau. Satu per satu orang menderita sakit aneh, hingga banyak yang mati. Mereka yang tersisa memutuskan untuk segera pergi dari sana.

"Seperti apa ciri-ciri orang yang bernama Tambi Balau? Seram amat kayaknya." Ipan bergidik.

"Dia seorang perempuan tua yang selalu memakai ikat kepala merah. Rambutnya sudah putih dan panjang sekali. Lekas lah sembunyi jika bertemu dengannya, kalau tidak kalian bisa celaka." terang Dara dengan kedua sudut mata berkerut.

"Jadi..." Ali saling tatap dengan Ipan. "Ninik-ninik yang mengejar kita kemarin Tambi Balau, Pan!"

"Kalian sudah bertemu Tambi Balau? Di mana?" Bola mata Dara membulat.

"Di perjalanan, saat menuju kemari," jawab Ali cepat.

"Bahaya, dia akan kembali mengincar tempat ini. Apalagi ada..." Dara menghentikan kalimat, lalu menoleh pada Mamat yang sedang lahap menghabiskan sup.

"Apalagi, apa?!" desak Ipan, penasaran.

"Apalagi ada anak kecil." Dara menurunkan volume suara, khawatir kata-katanya membuat Mamat ketakutan.

"Kenapa dengan anak kecil?" Suara Ali ikut turun.

"Anak kecil sasaran utama ilmu santetnya." Suara Dara lebih mirip orang yang sedang berbisik.

"Tarung babanam, jadi benar ninik itu dukun santet!" Ipan memukul meja.

"Nanti siang kami bertiga akan pergi. Kami harus segera menemukan abah Mamat," sela Ali.

"Kenapa buru-buru? Tinggallah lebih lama! Sudah lama aku tak punya teman bicara. Aku senang bisa bertemu kalian." Dara menatap penuh harap.

****


Jari-jari gadis itu sedang membuka lembaran file dari salah satu rak kabinet. Sepasang matanya yang lentik tampak fokus pada tulisan di kertas.

"Ketemu!" Satu lembar file ditarik Dara keluar dari dalam rak, lalu membacanya. "Nama Marzuki Aswan, hmm ...." Dia lanjut mengeja tulisan dalam hati.

Ali, Ipan dan Mamat menatap lekat pada gadis itu. Menunggu dengan sabar informasi selanjutnya. Menurut Dara semua data pekerja bisa ditemukan dalam ruangan itu. Salah satu ruang yang ada di kantor. Dia sengaja mengajak ketiganya ke sana.

"Di sini ada keterangan kalau Pak Marzuki sudah dirumahkan, sewaktu ada pengurangan karyawan beberapa tahun yang lalu. Alamat tempat tinggalnya ada di sini. Itupun kalau benar dia orang yang sedang kalian cari." Dara lalu menyodorkan lembaran file pada Ali.

"Ada fotonya, Mat." Ali menunjuk foto yang ada pada file pada Mamat. "Benar ini abahmu?" ujarnya lagi.

Bibir Mamat mengatup rapat. Tak tahu harus berkata apa. Mamat sudah lupa rupa ayahnya sendiri. Bocah itu kemudian menggeleng pelan. "Mamat tak tahu, kata Ninik muka abah mirip Mamat. Nama abah Marzuki Aswan."

"Rambut kelimis, mata tenggelam, hidung bebaya ada. Apalagi yang tak mirip? Tak salah lagi, itu abahmu!" Ipan berkecimus.

"Kalau begitu, kau catat alamatnya!" titah Ali. Gegas Mamat mengambil buku dan pensil dari dalam tas punggung.

"Kalian mau berangkat sekarang?" Dara menatap sendu ketiganya bergantian.

"Iya. Terima kasih atas semua bantuanmu. Kalau kau mau, kau bisa ikut bersama kami," ajak Ali.

Dara tersenyum sembari menggeleng. "Aku di sini saja, tak perlu khawatir. Hati-hatilah kalian di jalan!"

"Makasih, kau hati-hati juga." Ipan mengacungkan kedua jempol.

"Terimakasih, kakak." Mamat melambaikan tangan.

Ketiganya melangkah beriringan keluar dari halaman. Baru puluhan meter mereka berjalan, angin tiba-tiba bertiup kencang. Langit yang tadinya terang benderang berangsur mendung.

"Apa-apaan ini?!" omel Ipan menunjuki langit.

"Huss, kau sedang omelin siapa?!" tegur Ali.

Tarrr!

Gelegar petir mengejutkan.

Byuurr!

Hujan turun lebat. Kontan ketiga anak kampung pontang-panting berbalik arah. Dara terkikik geli melihat tingkah ketiga teman barunya.


Hingga siang berganti malam, hujan tak kunjung berhenti. Cuaca sangat buruk. Rencana berangkat hari itu pun terpaksa ditunda.

"Kalau tiap hari begini, bisa-bisa kita gagal terus berangkat," celetuk Ipan, mengintip keluar dari tirai jendela.

Pepohonan tampak merunduk-runduk oleh gempuran air langit. Kilat dan petir terus menyambar. Tidak ada tanda kalau hujan akan berhenti. Deru angin terdengar hingga ke dalam ruangan mereka berada.

Semua sedang berkumpul di ruang makan, duduk menghadapi meja. Dara sudah membuat minuman cokelat serta pancake untuk mereka.

"Jadi ngerepotin." Ali tersenyum sungkan.

"Ah, biasa saja. Mamat mau tambah kuenya?" tawar Dara pada Mamat. Bocah itu menggeleng malu-malu.

"Cukup, Ra, Si Mamat perutnya kecil." Ipan mendekat ke Mamat, mengelus sayang kepala si bocah. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan. Mamat dibuat terheran-heran.

"Modus!" umpat Ali dalam hati.

"Atau mau tambah minuman?" Sepasang kening Dara naik.

"Kalau ada sih, kita lagi pada butuh rokok," ucap Ipan ragu, sedikit tersipu.

"Kamu ngerokok? Masih muda sudah ngerokok?!"

Bola matanya membulat setengah percaya, menatap Ipan dan Ali bergantian. Dara yakin usia kedua pemuda itu tak jauh beda dengannya.

"Hehe, iya kita berdua ini ngerokok." Ipan garuk-garuk kepala, salah tingkah. Ali hanya tersenyum miring.

"Sebentar, aku coba lihat ke gudang," Dara beranjak dari bangku.

"Aku temenin ya, Ra!" Mulai beraksi si Ipan. Ali memutar bola mata jengah, menyadari tingkah kawannya.

"Boleh, ayo!" Dara berjalan lebih dahulu.

Ipan menjulurkan lidah, sembari mengacungkan tinju ke udara sebelum gegas menyusul langkah Dara menuju gudang.

"Waluh bajarang!"
.
.

"Bola lampu di gudang sudah lama padam," terang Dara, sembari menyalakan pemantik api, lalu membakar sumbu lilin di pegangannya.

Tezz....

Lilin kini menyala terang.

Krieeett ....

Daun pintu berderit nyaring saat dibuka oleh gadis itu.

Dia kemudian melangkah masuk, dibuntuti Ipan di belakang. Cahaya kekuningan lilin menerangi ruangan luas dengan banyak lemari menempel pada tembok. Hawa di dalam terasa singup. Dara berjalan ke salah satu sudut gudang. Ipan yang tertinggal di belakang terkagum-kagum melihat banyaknya bahan makanan. Karung beras serta tepung masih terlihat menumpuk.

Klotak, klotak ....

Terdengar bunyi berisik.

Spontan Ipan menoleh ke sumber datangnya bunyi. Mata memicing menajamkan pandangan. Suasana sekitar sedikit redup, karena lilin dibawa Dara ke sudut lain. Dalam keremangan Ipan bisa melihat sebuah papan pada lantai gudang bergerak. Papan berbentuk persegi serupa jendela itu seakan sedang didorong dari arah bawah.

Klotak, klotak....

Berbunyi lagi dan tiba-tiba mencuat jari-jari pucat dari sela papan.

"Huwaaaahh, hantuuu!!" Ipan berteriak sejadi-jadinya.





Other Stories
Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Perpustakaan Berdarah

Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Kucing Emas

Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...

Download Titik & Koma