BAB 23. GADIS DI DAPUR
Desir angin terasa dingin, tetapi tubuh Ali malah bersimbahkan peluh. Bulir-bulir keringat sebiji jagung membasahi pelipisnya. Dingin kian merayap tatkala makhluk itu kian menghapus jarak. Bau busuk bangkai tercium. Suara dengkus napas serta cicitan panjangnya berhasil membuat seluruh bulu kuduk berdiri.
Sial!
Benak Ali mengumpat diri sendiri yang seolah mati rasa, tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sedang apa kau?!" tegur seseorang dari depan pintu. Ali tak bergeming.
"Alimukdin Falah bin Halidi Imron!" Kali ini nama panjang Ali disebut lengkap, dengan nada membentak.
Degh!
Spontan leher Ali berputar ke pintu, lalu mendapati wajah sembab Ipan dengan rambut ikal awut-awutan, tengah menatap gusar di sana. Sambil menelan ludah, AliĀ menoleh ke samping. Makhluk itu sudah lenyap tak berbekas.
"Angin kencang banar, pintu kau biarkan menganga. Dingin tauk!" bentak Ipan, lalu mulut berkecimus.
"A-apa?" sahut Ali sedikit terbata.
"Tarung babanam, kau mau masuk atau tetap di luar? Pintunya mau kututup!"
****
Pagi.
Cuaca sudah jauh lebih hangat. Cahaya matahari berlimpah. Tampak kesibukan di halaman depan. Tali jemuran membentang dari sudut ke sudut. Semua terlihat menjemur pakaian masing-masing, yang kemarin basah karena hujan.
"Kupikir tak apa, kita barang seminggu di sini. Sayang bangat makanan banyak ditinggal," ujar Ipan, mengibas-ngibas pakaiannya sebelum di gantung pada tali.
"Betah kau rupanya. Firasatku ada sesuatu yang tak beres di sini." Mata Ali menyipit menahan silau cahaya matahari.
"Tak beres apanya?" Bibir Ipan ikut mengerucut, saat memeras cucian.
"Kau tak merasa heran, kah? Tempat ini tak jauh beda dengan Desa Muara Bukit. Sama-sama ditinggalkan penghuninya. Pasti ada alasan kenapa orang-orang sampai pergi. Lagi pula tujuan utama kita hanya mencari abah Mamat." Ali berasumsi.
"Mau cari ke mana lagi? Sudah jauh kita kemari, batang hidungnya pun tak ketemu."
"Nanti sambil kita pikir di perjalanan. Siang, pas baju-baju sudah pada kering, kita langsung berangkat," tegas Ali.
Enggan Ali menceritakan tentang makhluk hitam bersayap yang dilihatnya tadi malam. Itu adalah salah satu alasan mereka harus segera pergi. Tempat itu menyimpan misteri menakutkan.
"Ya, sudah." Ipan mengendikan bahu.
"Bajumu sudah kau jemur semua, Mat?" tegur Ali, melihat Mamat duduk jongkok di rerumputan.
"Sudah, Kak," sahut Mamat tanpa menoleh. Bocah itu sedang asyik memerhatikan capung-capung kecil yang terbang menjelajah padang rumput. Tangannya berusaha menangkap salah satu serangga itu.
Ali melangkah menaiki undakan menuju selasar. Kembali ke kamar, berniat tidur lagi barang sebentar.
Klontang!
Bunyi benda jatuh dari dalam dapur.
"Kucing?" gumamnya, mengernyit.
Melihat ke arah halaman, Ipan dan Mamat masih sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Berjingkat-jingkat Ali mendekat ke pintu dapur. Daun pintunya sedikit terbuka, seperti ada seseorang yang baru masuk ke dalam. Tanpa menimbulkan suara dia kemudian mengendap masuk.
Sebuah spatula tampak tergeletak di lantai dapur. Sepertinya benda itu yang barusan terjatuh. Mata Ali menyapu sekeliling. Kosong, tidak ada siapa-siapa. Tapi, dia tak percaya begitu saja. Lalu melangkah tanpa suara ke arah ruang makan yang berdampingan dengan dapur. Beberapa detik Ali berdiri diam, seraya menatap tajam ke satu titik.
"Keluar!" bentaknya, mengawasi sepasang kaki tersembunyi di bawah meja makan.
"Keluar atau kau kutarik paksa?!" ancam Ali lagi.
Pemilik kaki tak bergeming. Ali tak punya pilihan.
"Aaawh, lepaskan!" Orang itu berontak saat Ali menyeret keluar tubuhnya dari bawah meja.
"Kau?!" Seketika Ali terperangah begitu tahu dia seorang perempuan muda. Wajahnya manis dengan tubuh semampai, rambut bergelombang, diekor kuda.
"Siapa kau? Mau apa kau sembunyi di situ?" tanya Ali, sambil terus mencengkram kedua pegelangan tangan si gadis.
"Argh, sakit! Lepaskan! Ini tempat tinggalku," ketusnya, mendelik tajam.
"Kau tinggal di sini?" Gegas Ali melonggarkan cengkraman tangan.
"Yah, ini tempat tinggalku!" lugasnya setengah berteriak, menarik kasar lengan dari pegangan Ali. Kedua kaki jenjang itu mundur, berusaha menjaga jarak.
"Lalu, kenapa harus sembunyi?" tanya Ali, heran.
"Kalian membuatku takut."
"Kami bukan orang jahat. Kami datang hanya untuk mencari orang tua kawan kami. Maaf sebelumnya, aku dan kawan-kawan sudah lancang masuk tanpa permisi." Tubuh jangkung Ali sedikit merunduk, berusaha mensejajarkan mata mereka, meski si gadis tak mau balas menatapnya.
"Aku tidak bisa percaya begitu saja apa katamu. Apa buktinya kalau kalian bukan orang jahat?" Mata si gadis menyipit sinis.
Ali menggendikkan bahu. "Menurutmu aku harus bagaimana, biar kau percaya?"
Si gadis mendengkus. "Entahlah. Hidup di tempat terasing seperti ini, aku harus waspada pada siapa pun."
"Maaf kalau sudah membuatmu takut. Namaku Ali, boleh tahu siapa namamu?" Ali menyodorkan tangan, mengajak bersalaman. Tapi, gadis itu diam tak bergeming.
"Siapa perempuan itu, Li?" Ipan tiba-tiba sudah berdiri tak jauh dari mereka. Mulutnya membulat heran menatap gadis cantik di depan Ali, begitu pun Mamat. Suara ribut-ribut dari dalam dapur, membuat keduanya ingin tahu apa yang sedang terjadi.
****
Siang, di meja makan.
Dara selesai memasak. Ali, Ipan dan Mamat duduk manis mengelilingi meja. Dara akhirnya melunak pada ketiga tamu tak diundang itu.
"Aku tak punya pilihan, selain tetap bertahan di tempat ini. Tidak ada tempat pulang untukku." Dara menghela napas. Ada gurat kesedihan pada wajah lembutnya.
Tangan yang langsing tampak cekatan menyendok makanan dari panci ke dalam tiga buah mangkok. Sup kacang merah, nasi dan kornet sapi sudah siap disantap. Aroma sedap masakan menguar. Ipan menelan ludah ingin segera mencicipi.
"Silahkan! Maaf, hanya bisa menyuguhkan ini. Semua serba kaleng." Mangkok berisi sup dibagi Dara ke depan meja masing-masing.
"Hmm, ini enak sekali, Ra. Makasih sudah masak buat kita, jadi ngerepotin," cetus Ali, seraya mencicipi sup kacang merahnya.
"Hum, sama-sama. Kalau sedang bosan makanan kaleng, kadang aku nekat berburu ke hutan, menembak burung." Kini senyum gadis itu terlihat lebih tulus.
"Berburu burung? Wah, hebat kau, Ra," puji Ipan terkagum-kagum.
"Iya." Gadis itu mengangguk. "Manusia kalau sudah terjepit mau tak mau apa pun dilakukan. Hal yang yang sebelumnya tak bisa menjadi bisa. Cepat atau lambat persediaan makanan di gudang pasti akan habis, aku harus belajar mencari makanan di luar," terangnya, seraya menyelipkan anak rambut pada telinga.
"Tapi, satu hal yang harus dihindari di tempat ini. Jangan sampai kau bertemu Tambi Balau," lanjutnya lagi.
"Tambi Balau? Siapa dia?" tanya Ali, menghentikan suapan.
______________________________________
Other Stories
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihanĀ datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Kuntilanak Gaul
Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...