Susur

Reads
530
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 22.MAKHLUK BERSAYAP



Pemuda itu membuang napas gusar. Tampaknya perjalanan mereka harus berujung kecewa. Entah bagaimana caranya menjelaskan pada Mamat. Dia merasa kasihan pada bocah itu. Camp pekerja tambang sudah lama ditinggalkan. Entah sudah berpindah ke tempat lain, entah sengaja ditutup karena alasan tertentu. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi.

"Li, sudah ketemu orang kau?" Tepukan Ipan pada bahu, cukup membuat Ali terkesiap.

"Zonk!" sahutnya singkat.

"Maksudmu tak ada orang di dalam sini?" Leher Ipan berputar menatap sekeliling.

"Mungkin sedang libur." Ali mencoba berharap.

"Terus abah si Mamat, musti kita cari ke mana lagi?" Raut Ipan langsung redup, khayalan bisa mengeruk untung dari lelaki itu seketika ambyar.

Ali hanya mengendikkan bahu, lalu menggeleng lesu.

"Abah ..."

Suara tergugu bocah di belakang punggung mereka. Mamat sudah mendengar pembicaraan tadi.

"Sabar, Mat, kita tunggu sampai besok. Siapa tahu besok orang-orang sudah masuk kerja lagi." Ali berusaha menghibur bocah itu, meski hatinya sendiri merasa ragu.

"Gagal dah dapat duit," keluh Ipan, sembari mengepalkan tinju pada tembok.

"Tapi, aku punya satu kabar baik buat kau berdua," sela Ali, tersenyum tipis menatap bangunan di seberang mereka. Mata tertuju pada deretan panel surya yang terpasang pada bagian atap.

"Apa maksud kau?"

"Tempat ini ada listriknya."

Ipan mencebik. "Mana mungkin?"

"Coba kau perhatikan!" Ali menunjuk pada benda yang dia maksud.

"Nyiru kah?" Ipan menelengkan kepala. Di matanya benda yang ditunjuk Ali lebih mirip tempat untuk menjemur ikan asin.

"Bukan, itu talenan," jawab Ali asal.

"Tarung babanam, lalu apa hubungannya sama listrik?!" Suara Ipan meninggi.

"Kau lihat saja nanti, hehe..." Ali hanya terkekeh. Percuma menjelaskan pada Ipan.


Awan kelabu menjadikan langit senja tampak murung. Rinai air langit masih berjatuhan membasahi rerumputan. Berpayung tangan masing-masing, pasukan anak kampung menerobos hujan, menuju bangunan tempat tinggal pekerja tambang.

TAAARRR!

Bunyi petir menggelegar memekakkan telinga.

Mamat sontak terkesiap saat menyaksikan bayangan makhluk berwarna hitam di atas bangunan. Makhluk berukuran raksasa dengan kedua sayap lebar, serupa sosok monster berwujud kelelawar. Bocah itu sempat melangkah mundur. Namun, saat cahaya kilat kembali menyambar, sosok mengerikan itu seketika lenyap.

Tok tok tok!

Ali mengetuk salah satu daun pintu, sambil mengucap salam.

"Assalamu' alaikum, permisi ...."

Ipan pun melakukan hal yang sama pada pintu lainnya. Mengetuk dan mengucapkan salam. Tapi, hingga semua pintu diketuk, tak satupun yang terbuka. Tidak tampak tanda kehidupan.

"Musti apa lagi kita? Sebentar lagi gelap." Ipan menatap putus asa pada kawannya.

"Apa boleh buat, kita masuk saja bila tidak terkunci," sahut Ali, lehernya sendiri sibuk menoleh-noleh, mencari sesuatu.

Tersenyum simpul Ali, begitu dia melihat saklar yang menempel pada tembok.

Klik!

Tombol saklar segera ditekan.

Lampu-lampu di sepanjang selasar kini menyala terang. Pemuda itu bernapas lega, ternyata masih berfungsi dengan baik.

"Kakak, di sini ada dapur," teriak Mamat dari pojok sana.

"Hah, dapur?" Kepala Ipan menjulur dari pintu yang baru dimasukinya.

Kedua pemuda segera menghambur mendekati Mamat.

"Wuih, mantap!" Ipan melangkah memasuki pintu di samping Mamat. "Kayaknya alat masak lengkap," ujarnya lagi girang, mendekati meja tempat memasak.

Berbeda dengan ruang sebelumnya, bagian dapur tampak lebih rapi. Panci, wajan serta alat masak lain tertata rapi tak jauh dari meja kompor.

"Tapi, percuma kalau tak punya bahan makanan," sahut Ali, sambil membuka sebuah lemari pendingin berukuran jumbo.

Uap dingin seketika menerpa wajah Ali. Bola matanya melebar begitu melihat isi lemari es. Daging beku yang telah berselimut salju memenuhi freezer. Rak pada bagian pintu terdapat banyak makanan dan minuman kaleng.

"Makan besar kita," desis Ipan, seraya mendorong tubuh Ali dari depan lemari es.

"Ada kornet, daging ayam, ikan kaleng, hehe..." Gesit tangan Ipan mengeluarkan beberapa bahan makanan.

"Liat dulu, siapa tahu sudah kadaluarsa," celetuk Ali.

"Masa bodo kadaluarsa, yang penting tak mati kelaparan."

Beberapa menit kemudian masing-masing sudah duduk menghadapi makanan. Ada sebuah ruang  yang bersebelahan dengan dapur. Di sana terdapat meja panjang dengan banyak kursi. Tempat para pekerja biasa makan bersama.

"Enak benar tinggal di sini, berasa jadi orang kaya," ujar Ipan, sambil melahap rakus sebuah paha ayam goreng.

"Kau berminat tinggal di sini?" Ali melirik padanya.

"Mau, kalau makanannya tak habis-habis," ucapnya dengan mulut penuh. Satu tangan lalu menjangkau sepotong ayam dari piring Mamat.

.

.

Malam telah larut. Suara dengkuran terdengar saling beradu nyaring dari dalam ruang yang berada paling pojok, dekat dapur. Tempat yang mereka pilih untuk beristirahat malam ini. Anak-anak itu sudah terlelap di atas tempat tidur masing-masing.

Ipan tidur di atas ranjang. Mulutnya menganga lebar, dengkurnya paling nyaring. Seekor nyamuk dengan perut kencang kemerahan bertengger manis di atas puncak hidung pemuda gondrong itu.

"Hommh, semuhanya tigha jutha," gumaman Ipan mirip orang yang sedang mabuk. Dia tengah terbawa mimpi bertemu abah Mamat. Memberitahu kalau lelaki itu harus membayar sebanyak tiga juta padanya.

Plakk!

Rasa gatal akibat gigitan nyamuk, membuat tangan Ipan refleks menepuk dahi sendiri. Tubuh nyamuk yang sedang kenyang pun remuk seketika, menyisakan noda merah pada hidung.

Di lantai, ada Mamat dan Ali yang meringkuk dalam selimut. Dua buah kasur dari kamar lain sudah mereka pindah ke kamar itu. Tidur bersama dalam satu ruang di tempat asing, akan terasa lebih aman.

Angin di luar bertiup sangat kencang. Berputar-putar mengitari bangunan. Gerimis tipis jatuh dalam kegelapan malam.

Krieeett... krieeett ....

Bunyi derit benda besi yang berkarat, setiap ditiup oleh angin.

Wuuuuuuzzzzz ....

Brakk!

Hembusan angin kencang membuat pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar.

Degh!

Ali sontak terjaga, mata yang mengantuk tampak kemerahan menatap ke luar. Angin dingin leluasa menggempur masuk ke dalam kamar berukuran cukup luas itu.

"Perasaan pintu sudah dikunci," sungutnya, menyugar kasar rambut. Selimut yang menutup tubuh lalu disibak.

Krieeett... krieeett....

Bunyi derit nyaring benda di luar, mengundang Ali untuk mencari asal suara.

"Bunyi apa itu, berisik bangat," gumamnya.

Batal mengunci pintu, Ali malah melangkah keluar. Netranya menemukan sebuah ayunan besi yang sedang bergerak oleh tiupan angin.

Syuuuhh ...

Bayangan hitam yang sangat besar berkelebat cepat di atas langit gerimis. Kedua sayap lebar mengepak tanpa suara. Seakan terhipnotis, Ali tiba-tiba merasakan tubuhnya kaku, tak mampu bergerak. Namun, dia masih bisa berdiri tegak.

Dari ekor mata, pemuda itu bisa melihat jika ada satu makhluk hitam bersayap yang mendarat dan sekarang berdiri tepat di sampingnya.











Other Stories
Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

Testing

testing ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Love Of The Death

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Download Titik & Koma