BAB 21.BAYANGAN MENGINTIP
Semesta seakan marah pada kehadiran tiga anak kampung ke tempat itu. Teriakan petir serta sambaran kilat sambung menyambung mengiringi langkah mereka yang tertatih di bawah rinai hujan.
Tubuh-tubuh basah kuyup itu enggan berhenti, walau sekedar untuk berteduh. Semua bertekad segera sampai ke tujuan, meski angin terus saja menampar.
Jalan yang mereka lalui sekarang berlapis pecahan batu koral. Di kejauhan sana sudah terlihat Drilling Rig yang berdiri menjulang di atas sumur minyak, menara tinggi yang terlihat oleh Ali sebelumnya. Beberapa alat berat terparkir dengan posisi asal-asalan. Namun, tak terlihat aktifitas apa-apa.
Beberapa ratus meter dari situ ada bangunan lain berbentuk memanjang dengan deretan pintu dan jendela-jendela kaca. Sepertinya bangunan itulah tempat tinggal para pekerja tambang.
"Hahay, sampai jua kita akhirnya. Bentar lagi bisa numpang ngaso, numpang makan, numpang ngerokok, numpang ngutang, ngoahahaha ...." kelakar Ipan dengan napas ngos-ngosan.
"Selamat, Mat, kita sudah sampai." Ali menepuk bahu kecil di samping. Wajah sedikit meringis menahan perih. Patukan burung gagak tadi menyisakan cukup banyak luka gores pada punggung tangannya.
Mamat mengangguk cepat. Meski tubuh sudah kedinginan serta bibir membiru gemetar, senyum Mamat tampak sumringah. Akhirnya dia akan bertemu Abah.
"Kayaknya kita ada di bagian belakang. Musti jalan memutar, nyari pintu masuk." Ipan menunjuk jalan yang ada di samping bangunan.
Ali manggut-manggut. "Besar juga tempat ini, pasti banyak orang di dalam."
Setitik harapan mencuat dalam benak Ali, dia akan mendapat pekerjaan di tempat itu. Mencoba mengadu nasib, barangkali suatu hari bisa bertepuk dada pada mereka selalu meremehkan dirinya. Terutama keluarga Uwak.
Kini mereka bertiga sudah berdiri di hadapan gerbang yang terbuka. Suasana tetap terlihat sepi. Tidak ada yang lalu-lalang layaknya sebuah tempat kerja. Bangunan pos keamanan berbentuk kotak yang dibatasi dinding kaca, dalam kondisi kosong.
Melihat kepala Ipan meneleng, Mamat ikut meniru, memiringkan kepala. Keduanya berdiri bersisian seraya membaca tulisan pada sebuah flat berukuran besar yang terpasang miring, nyaris terlepas dari tembok.
"Pe-te Ja-ya A-ba-di." Mulut Ipan mengeja pelan.
"PT Jaya Abadi, iya benar, ini tempat kerja Abah ulun." Mata sipit si bocah seketika berbinar.
"Syukurlah, Mat. Kita tak salah alamat. Tapi, pada ke mana lah orang-orang di tempat ni?" Ali menggumam dengan kening saling bertaut heran, mata mencari-cari.
Beberapa mobil besar serta mobil truk milik kantor terparkir di sudut halaman. Rumput dibiarkan tumbuh liar menutupi sebagian lahan, yang sebelumnya berupa taman. Tempat itu tidak terawat.
Setengah berlari ketiganya melintasi halaman parkir, menuju sebuah bangunan bertuliskan 'Kantor'. Hujan masih setia membasahi bumi. Tiba di depan pintu teralis, mereka mengintip ke dalam. Hanya tampak selasar panjang nan lengang.
"Pada tidur semuakah orang-orang? Sementang hawa dingin. Brrr ....," celetuk Ipan, sembari menggigil memeluk tubuh kurusnya.
Satu tangan Ali coba mendorong teralis besi itu.
Krieeet ....
Bunyi derit panjang dari engsel yang sudah karatan.
"Tidak dikunci." Ali menoleh pada dua temannya, minta pendapat.
"Coba kau tengok ke dalam! Kelamaan di luar, bisa mati kedinginan kita," saran Ipan, sembari mengusap wajah basahnya, dari air yang terus menetes dari ujung poni.
Tangan Ali mendorong pintu lebih lebar, lalu melongokkan kepala ke dalam. "Assalamu' alaikum ...."
"Masuk aja, yuk, kita ganti baju di dalam." Ali mengendikan dagu, agar semua segera masuk.
"Assalamu' alaikum, permisi ...." Berulang kali pemuda berhidung bangir itu mengucap salam. Khawatir kedatangan mereka yang tak diundang membuat orang lain berprasangka buruk.
Mamat dan Ipan langsung sibuk berganti pakaian dekat sebuah bangku panjang. Keduanya sudah tak tahan dengan dingin yang menggigit hingga tulang.
Mulut pemuda berambut ikal sebahu itu berdecak kesal, seraya memilah baju. Air hujan berhasil merembes masuk ke tas punggung miliknya, membuat basah sebagian benda yang ada di dalam.
"Psst, Mat, Bajumu pada basah jua kah?" tanyanya pada Mamat, yang tampak sudah selesai berganti pakaian.
"Ada yang basah, ada yang masih kering. Kakak mau pinjam punya Mamat kah?" Dengan polosnya bocah kecil itu menyodorkan selembar kaosnya yang masih bersih.
"Hum." Ipan lekas mengangguk, gesit menyambar benda di tangan Mamat.
Gerak cepat kaos mungil itu diusapkan pada wajah, rambut, dada, kedua belah ketiak, dan terakhir ke hidung Mamat. Dia terkikik puas mendapati ekspresi muka si bocah yang semaput, tersedak-sedak oleh ulah isengnya.
"Heh, nanti kau bilang sama abahmu, bajuku yang kau pakai sampai lecek tu harus diganti."
"Hum." Si bocah mengangguk setuju.
"Ganti sepuluh kali lipat," tegas Ipan lagi.
"Sepuluh?" Jari-jari kecil Mamat mengembang. Menatap kesepuluh jarinya sendiri. Betapa banyaknya jumlah sepuluh kali lipat yang diajukan oleh Ipan. Mamat khawatir Abah tak punya cukup uang untuk mengganti.
"Terus bilang juga, kau sudah ngutang duit mamakku buat ongkos jalan ke mari, itu juga harus diganti." Ipan tersenyum licik membayangkan akan membawa uang banyak pulang dari situ. Nama mamak pun dibawa-bawa. Padahal ibunya tulus ikhlas ingin membantu Mamat yang malang.
Cetak!
Buku jari Ipan mendarat tanpa perasaan. Mamat mendesis mengusap dahi.
"Jangan bengong saja kau! Jawab iya! Enak saja kau tak mau ganti," bentaknya melotot.
"Iya, Kak." Si bocah meringis. Apa boleh buat, Mamat tak punya pilihan untuk menolak permintaan Ipan.
Sementara itu seorang pemuda berjiwa pemimpin sedang sibuk sendiri. Raut wajahnya begitu serius, saat menapaki lorong memanjang menuju ke bagian dalam bangunan. Meninggalkan dua orang kawan di belakang. Tak peduli pada tubuh kuyupnya sendiri. Tangan sesekali mengusap air yang masih menetes ke wajah, menghalangi pandangan. Dia sedang memastikan tempat itu aman.
Tungkai terbalut jeans belel itu lanjut melangkah kian masuk ke dalam ruang asing. Ali punya firasat buruk, sesuatu telah terjadi di tempat yang mereka datangi. Bisa terlihat dari kondisinya yang tidak terawat. Lantai dan dinding tampak berdebu, poster-poster tentang keselamatan kerja pada tembok terpasang asal, sebagian sudah sobek tak karuan.
Pada sisi kiri selasar, tampak beberapa ruang yang pintunya tertutup rapat. Satu per satu pintu dibuka Ali dengan hati-hati.
"Ruang meeting." Dia membaca pelan tulisan dengan huruf timbul pada salah satu pintu, lalu membukanya.
Klakk!
Krieeet ....
Seperti pintu lainnya, sedikit lengket, berderit nyaring saat terbuka. Pertanda ruangan sudah lama tidak digunakan. Kedua kelopak mata Ali sontak melebar saat situasi dalam ruang itu terpampang dengan jelas.
Meja serta bangku-bangku dalam ruang pertemuan itu tampak berjumpalitan saling tindih, sebagian terlihat patah tak berbentuk. Kertas-kertas serta pecahan beling berserak di mana-mana. Terdapat banyak noda hitam kecoklatan pada lantai serta dinding ruangan. Seolah pernah terjadi perkelahian sengit di sana.
"Seperti noda darah yang sudah sangat lama mengering. Apa yang pernah terjadi di tempat ini?" gumam Ali. Dahinya berkerut mengamati bercak-bercak noda itu.
Gegas pintu itu ditutup Ali lagi.
Matanya terus mengedar ke sekeliling, lalu terpaku pada bangunan memanjang di seberang kantor, terpisah halaman luas penuh rumput liar.
Mata Ali menyipit mengawasi salah satu jendela di sana. Di antara kucuran air hujan yang berjatuhan dari atap bangunan, terlihat sesosok bayangan sedang mengintip dari balik tirai. Saat diamati lagi, bayangan itu tiba-tiba menghilang.
Ali lalu menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin mungkin penglihatannya salah, akibat terlalu berharap menemukan orang.
Other Stories
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...