Susur

Reads
495
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 20.JANGAN KE SANA



Saat lapar sudah maksimal, singkong dan ikan bakar tanpa bumbu luar biasa nikmat. Masing-masing terlihat begitu lahap menghabiskan makanannya.

"Bagi pang ikannya, Li!" protes Ipan. Ikan bakar terakhir berukuran paling besar sengaja dijauhkan Ali dari jangkauannya.

"Kau pikir aku tak lihat tadi kau sudah makan banyak? Minggir, bagianmu sudah habis!" ketus Ali, mendorong dada tipis Ipan.

"Warik!" maki Ipan kesal.

Gegas pemuda berambut ikal sebahu itu meraup sampah duri ikan yang menggunung. Dia bermaksud melemparkannya ke arah Ali.

Plukk!

"Eits, tidak kena, hehe...." Ali gesit berkelit.

Segenggam duri ikan sukses lewat di samping wajah Ali, lalu mengenai orang yang sudah lama memerhatikan mereka. Mata Ipan sontak membelalak.

"Han-han-hantuuu!" Ipan menjerit sejadi-jadinya, sembari menunjuk lurus ke belakang Ali.

Ali kontan menoleh. "Kyyaaaa!" Dia pun tak kalah nyaring berteriak, lantaran kaget pada penampakan nenek yang menakutkan.

Perempuan tua itu gegas melangkah keluar dari semak. Mengibas rambut yang kotor oleh ulah Ipan, lalu berjalan gagah mendekati ketiga anak kampung. Penampilan si nenek terlihat nyentrik dengan ikat kepala merah serta berbagai aksesoris yang melekat pada tubuh. Mata kalung berbentuk patung kayu, serta gelang manik-manik pada kedua lengan dan kaki, lebih mirip jimat.

"Kalian akan celaka! Kalian akan celaka!" cetusnya dengan suara serak.

Sambil terus mendekat, mulut keriput si nenek komat-kamit mengucapkan kalimat aneh seperti sedang membacakan mantra. Bola mata mendelik sambil tangannya membuat gerakan tak biasa.

"Cuih, cuih, cuih!" Dia lalu menyemburkan ludah ke arah ketiga anak kampung, yang beringsut ketakutan.

"Lari, capat lari!" Ali memberi aba-aba, pada dua temannya.

Didorong Ali tubuh Ipan dan Mamat yang menatap takjub. Semuanya kemudian pontang-panting lari meninggalkan si nenek.

"Ninik santet kayaknya, Li. Dia mantra-mantrain kita," ujar Ipan tersengal sambil berlari.

"Bisa jadi," sahut Ali tak kalah tersengal.

Semua berlarian mengikuti arah jalan setapak. Sesekali Ali berpaling ke belakang. Nenek itu masih membuntuti, jalannya sangat cepat mirip orang berlari. Masih dengan mulut komat-kamit.

"Lari lebih kencang, dia masih ada di belakang, lari!" teriak Ali panik.

Dekat sebuah pohon besar Ipan sudah tidak kuat. Dia menghentikan laju kaki, mengatur napas yang putus-putus.

"Hufh, istirahat di sini dulu! Dadaku sesak," pinta Ipan, memegangi dada.

Ali mengangguk setuju. Ketiganya sama terengah-engah, bersandar pada pokok pohon. Ternyata nenek itu bukan makhluk halus, tetapi manusia biasa, Mamat membatin. Manusia jauh lebih berbahaya dari lelembut. Mulai sekarang Mamat harus belajar lebih banyak cara membedakan keduanya.

Dalam hati Ali kagum pada Mamat. Bocah kecil itu tak pernah sekali pun mengeluh lelah. Dia jauh lebih tegar dari Ipan yang cemen. Tubuh Mamat memang kecil, tetapi larinya tak kalah kencang dari Ali dan Ipan.

"Kita sudah dekat ke tujuan." Ali menatap ke kejauhan.

"Tahu dari mana?" Ipan menoleh padanya.

"Lihat itu!" Ali menunjuk ke bangunan tinggi yang sudah bisa dilihat dari tempat mereka berada.

Zapp ....

Sebuah benda tiba-tiba melesat dan menancap pada pohon, hanya beberapa senti dari kepala Ipan.

"Huwaaah! Panaaah!" Ipan seketika panik.

Zapp ... zapp ... zapp ....

Tak hanya satu, beberapa anak panah terus berdatangan. Mereka kini dihujani dengan anak panah. Ipan terus berteriak histeris.

"Tiarap, bungul' ay!" rutuk Ali pada temannya itu. Dia dan Mamat sudah dalam posisi tiarap.

Semua tiarap di atas tanah. Pupil Ali mengikuti arah datangnya anak panah itu. Seorang lelaki berbadan besar terlihat duduk santai di atas sebuah dahan pohon tinggi. Tangannya memegang busur, membidikkan anak panah ke arah mereka. Dia orang yang mencincang babi hutan tadi malam.

"Waluh bajarang, ternyata dia!" Ali melotot geram. Lelaki besar itu telah memperlakukan mereka bertiga layaknya hewan buruan.

"Kita harus segera keluar dari sini. Bergerak sambil merayap. Cepat!" Ali memberi perintah pada pasukannya.

"Bhuhuhu, masih hidupkah lagi pulang dari sini? Mamak doakan Ipan, Mak." Dengan tubuh gemetaran, Ipan melata di atas tanah. Nyaris saja panah itu mengenai kepalanya.

Mamat tampak gesit bergerak. Dia sudah berada jauh di depan Ali dan Ipan. Ilalang tinggi kini sudah menutupi tubuh mereka dari incaran panah lelaki besar itu.

"Jangan berhenti! Terus merayap! Merayap lebih jauh kawan-kawan!" Ali terus memberi aba-aba dari belakang.

"Bisakah kau lebih cepat lagi?! Masa iya kau kalah sama Mamat?!" bentak Ali, pada pemuda di depan.

"Kau sendiri masih di belakang! Sikutku ngilu, merayap kayak tentara perang macam ni," balas Ipan, tak kalah sengit.

Ali mendengkus. Seraya merayap mendahului, sempat-sempatnya menarik rambut gondrong ikal milik si kawan.

"Tarung babanam, bhuhuhu ...." rutuk Ipan, setengah terisak. Dia kini tertinggal di belakang. Sikut dan lutut sudah nyeri tak karu-karuan.

Zapp ... zapp ... zapp ....

Anak panah masih berhamburan di atas kepala mereka.

.
.
.

Menara berwarna merah kini sudah terlihat jelas. Jalan setapak telah lewat. Berganti dengan jalan yang lebih lapang, mirip sebuah lapangan berumput. Mereka sudah hampir sampai ke tujuan.

"Sudah aman. Tak usah merayap lagi!" Ali bangkit berdiri, lalu menepuk-nepuk kedua tangan dan pakaian yang kotor oleh tanah dan debu.

Mereka bertiga sudah jauh dari lelaki besar. Netra sipit Mamat menyapu sekeliling. Di depan sana tampak kontur tanah yang menanjak. Tak ada penampakan sama sekali. Satu kuntilanak pun tak terlihat di pepohonan. Padahal banyak pohon beringin berukuran raksasa di sekeliling tempat itu. Aneh.

"Kenapa, Mat?" tanya Ali, melihat Mamat menoleh-noleh seperti mencari sesuatu.

"Hmm ...." Mamat hanya menggumam sambil menggeleng.

"Hayuk, jalan lagi ,kita hampir sampai." Ali menepuk bahu teman kecilnya. Kening pemuda itu kemudian mengernyit teringat pada sesuatu, lalu berpaling ke belakang.

"Inalillah, si Ipan sudah mati, Mat!" serunya nyaring.

Tubuh Ipan tiarap tak bergerak di belakang mereka.

"Capek, bungulay!" sahut Ipan sambil terus menggerutu. Ali sudah berhasil membuatnya merayap sejauh ratusan meter.

"Jangan buang waktu, kita harus terus bergerak! Orang seiko itu bisa saja sedang mengejar kita. Kita jalan, Mat! Biar Ipan jadi korban pertama." Ali menggamit Mamat.

"Tak setia kawan kau!" Gegas Ipan bangun, melihat Ali dan Mamat sudah melangkah pergi meninggalkannya.

Klontang... klontang....

Baru puluhan meter melangkah, tampak utas-utas tali membentang menghalangi jalan, layaknya sebuah pagar. Banyak kaleng bekas yang sepertinya sengaja di gantung pada tali-tali itu. Setiap angin bertiup, kaleng akan saling beradu, menimbulkan bunyi berisik berkelontang.

"Apa pula ini? Kurang kerjaan benar pasang beginian." Manik hitam Ali menelaah banyaknya bentangan panjang tali itu.

Ujung-ujung tali tampak disematkan pada pokok pohon yang ada pada sisi jalan. Ada puluhan utas tali yang terpasang dari bawah hingga setinggi dada.

"Kita potong pakai ini." Ipan mengeluarkan belati dari pinggang.

Seekor burung gagak hitam, tiba-tiba terbang cepat, lalu hinggap ke atas tali.

"Kaaakk, kaaakk ...." Hewan itu berkauk-kauk marah, mematuk tangan Ipan bermaksud memutus tali dengan belati.

Klontang... klontang....

Bunyi kaleng tambah berisik, karena ulah burung gagak yang tengah mengamuk di atasnya.

"Eh, burung kutilang, kenapa dia tiba-tiba ada di sini?" Ipan melompat mundur.

"Itu burung gagak, Kak," ralat Mamat.

Cetak!

Kepala si bocah dijitak hingga meringis kesakitan.

"Macam kau lebih pintar dariku." Ipan, mencebik.

"Gagak jadi-jadian, kah?" Ali menatap curiga pada hewan kecil yang masih berkauk-kauk, dengan mata marah itu.

"Jangan pernah kau lewati tali itu!" Satu suara serak sangat mengejutkan.

"Kyyaaaa!!" Trio anak kampung serempak menjerit kaget dibuatnya.

Tiba-tiba saja, nenek berambut panjang sudah berdiri tak jauh dari mereka. Tampaknya perempuan tua itu punya kemampuan menghilang. Bisa berpindah tempat hanya sekedipan mata.

Sambil berteriak, Ali merebut belati dari tangan Ipan, membabi-buta memutuskan tali-tali yang berlapis. Tak peduli lagi Ali pada burung gagak yang mematuki tangannya hingga berdarah. Begitu jalan terbuka, mereka langsung lari berhamburan.

"Kembali kalian! Jangan ke sana!" Si nenek meneriaki. Namun ketiganya terus berlari bak ketapel, saling mendahului.

Angin bertiup kencang dari arah berlawanan. Seakan ingin mengembalikan tubuh anak-anak kampung ke tempat si nenek berada. Susah payah mereka berlari melawan arus angin. Tubuh kecil Mamat hampir terbawa terbang. Namun, dengan sigap Ali memegangi bajunya yang kedodoran.

TARRR! TARRR!

Petir menggelegar. Kilat menyala membelah langit.

Alam mendadak gelap. Gumpalan awan hitam berputar-putar di atas kepala mereka. Tetesan air mulai berjatuhan. Semakin lama berubah menjadi guyuran hujan yang sangat deras.





Other Stories
Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Gadis Loak & Dua Pelita

SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...

Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Download Titik & Koma