BAB 19.KEPINGAN PUZZLE
Krieeett... krieeett....
Tiupan angin membuat sebuah ayunan dari besi terus bergerak dan berderit.
Bunyi deritnya merambat sampai ke dalam sebuah ruang. Menyelipkan serangkum kenangan bagi seorang gadis yang sedang duduk termangu di depan sebuah cermin. Menatap paras ayu, berkulit hitam manis, khas gadis Jawa. Mulut mungil itu bersenandung pelan mengusir sepi. Namun, angannya sedang berkelana jauh ke tempat lain.
Deru angin di luar kini semakin terdengar riuh. Derit ayunan besi pun kian mengigit pilu, layaknya sebuah jerit kerinduan berbaur kepedihan.
"Daraaaaaa ..." Suara centil gadis kecil sedang memanggil namanya.
Suara itu menggema dalam kepala, menghantam dinding kalbu. Begitupun gelak tawa gadis kecil lain yang sedang bercanda. Dara lalu menoleh ke arah pintu.
Brakk!
Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras.
Wuuuuuuzzzzzz .....
Angin kencang dari luar seketika menggempur masuk, menerpa semua benda yang ada dalam ruangan. Rambut sebahu bergelombang milik Dara dibuat berkibar, berterbangan.
Seakan terpanggil, kedua tungkai jenjang itu bangkit dari depan cermin, melangkah pelan keluar dari pintu kamar. Manik hitamnya langsung tertuju ke sudut halaman yang telah ditumbuhi rumput liar. Pada benda usang yang masih berderit-derit dipermainkan oleh embusan angin. Sebuah bangku ayunan besi yang telah berkarat dimakan usia.
Kini dia berdiri di hadapan benda tua itu dengan tatapan nanar. Bunyi derit yang teratur berhasil menyeret ingatan ke dimensi waktu yang berbeda, kembali ke masa silam, ke tempat penuh kenangan manis masa kecilnya.
Dalam ruang imaji, perlahan, satu demi satu benda di sekeliling Dara berubah rupa dan warna. Layaknya kepingan puzle yang tersusun ulang.
Tiba-tiba di sekitarnya telah ramai oleh celoteh anak perempuan sedang asyik bermain. Tempat yang sebelumnya berupa tanah lapang dengan rumput liar setinggi lutut telah berubah menjadi halaman luas berlapis paving.
Beberapa wahana permainan anak terlihat di sana. Ayunan yang tadinya berkarat kini tampak lebih bagus dengan cat merah cerah, berlatar sebuah bangunan besar kokoh tingkat dua. Terpampang sebuah plang bertuliskan "Panti Asuhan Welas Asih.'
Ada puluhan anak yatim yang tinggal di sana, termasuk Dara. Panti Asuhan hanya menampung anak perempuan. Entah dengan alasan apa. Silih berganti anak-anak itu datang lalu pergi tak pernah kembali. Setiap Dara menanyakan hal itu pada ibu panti, jawabnya 'mereka sudah mendapat orang tua asuh.'
"Dara, ayo naik! Biar Mbak yang dorong," ucap Arum. Gadis itu sudah berdiri di samping ayunan. Bibir dan matanya tersenyum ceria. Kedua lengan memegangi tali besi, siap mendorong untuk Dara.
"Iya." Dara mengangguk senang, lalu gegas menaiki ayunan.
"Pegangan yang kuat!"
Ayunan mulai bergerak pelan.
"Dorong yang kencang Mbak Arum! Lebih kencang lagi, lebih kencang! Aaahahahaha!" Dara terbahak1 senang, merasakan sensasi seakan tubuhnya sedang melayang terbang layaknya seekor burung.
Hari itu Arum terlihat sangat cantik. Gaun putih selutut berbahan silk dengan aksen bunga pada bagian dada membuatnya bak peri dalam negeri dongeng. Bando kupu-kupu pada kepala berwarma putih, sepatu putih, semua yang dia kenakan serba putih.
"Pulang dari sini, aku diajak sama Pak Jaya jalan-jalan naik pesawat, Ra," ujarnya nyaring sambil terus mendorong ayunan.
Gadis itu memiliki garis wajah yang nyaris sama dengan Dara. Banyak yang bilang kalau mereka seperti saudara kembar, hanya saja tubuh Arum sudah jauh lebih jangkung.
"Wah asyik dong, Mbak. Nanti ceritain sama Dara, gimana rasanya naik pesawat!" sahut Dara riang.
"Iya, nanti kalau Mbak sudah kerja, sudah punya uang sendiri, Mbak pasti jemput kamu, Ra. Kita jalan-jalan naik pesawat," janji Arum. Seolah usianya jauh lebih tua. Padahal mereka hanya terpaut tiga tahun.
"Asyik, jalan-jalan naik pesawat sama Mbak Arum!" seru si adik girang.
Dara sama sekali tidak menyangka, kalau pertemuan mereka hari itu akan menjadi pertemuan yang terakhir.
Pertemuan dengan Arum adalah saat yang selalu Dara nantikan, meskipun itu hanya sebentar. Mereka hanya bisa bersua setiap akhir bulan, sesuai jadwal kunjungan pemilik yayasan ke Panti. Setiap bertemu ada saja buah tangan yang dibawakan Arum untuk menghiburnya, walau hanya sekedar permen atau sebatang cokelat.
Kakak beradik itu tinggal di Panti Asuhan Welas Asih, sejak masih balita. Kedua orang tua mereka telah tiada, setelah bencana gempa yang pernah meluluhlantakan seluruh isi kota. Bagi Dara, seorang Arum sangat berarti untuknya. Arum adalah pengganti sosok kedua orang tua, yang rupanya sudah samar di ingatan Dara.
Saat berusia sepuluh tahun, Arum diadopsi oleh pemilik yayasan yang menaungi Panti. Dia adalah orang yang bernama Jaya Herlambang. Salah satu orang terkaya dan terhormat di kota itu. Sedangkan Dara masih tetap bertahan tinggal di Panti. Belum ada yang berminat untuk mengadopsinya.
Tinggal terpisah dengan Arum adalah hal yang sangat berat bagi Dara. Namun, Arum selalu berpesan agar tak perlu bersedih. Semua itu hanya untuk sementara. Ada waktunya mereka akan berkumpul kembali. Arum berjanji akan segera menjemput Dara, setelah dia sudah bekerja serta punya banyak uang.
Setelah hari itu, Arum tak pernah lagi muncul ke Panti. Sekedar memberi kabar lewat telepon pun tidak pernah. Menurut ibu panti, kakaknya sudah tinggal di sebuah asrama sekolah puteri. Arum tidak diperkenankan meninggalkan asrama selama menjalani masa pendidikan. Entah pendidikan apa. Semua terdengar abu-abu bagi Dara. Dia harus merasakan deraan rindu yang terus tak berujung.
Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Sampai suatu hari Pak Jaya Herlambang yang kaya raya itu datang kembali menemui Ibu Panti. Dia menyatakan keinginan untuk mengadopsi Dara. Dara akan disekolahkan di tempat yang sama dengan Arum. Dia dan kakaknya bakal sering bertemu. Bak menemukan oase di tengah gurun, Dara menyambut kabar baik itu dengan suka cita.
Dikawal seorang supir pribadi, Dara terbang ke Kalimantan. Tempat yang sangat asing baginya. Sebelum dipertemukan dengan Arum, Pak Jaya mengundangnya untuk ikut hadir dalam sebuah jamuan makan, dengan dresscode serba putih. Kata si Supir, Pak Jaya sudah menunggu di tempat itu.
Bukannya berjumpa dengan hal yang menyenangkan, Dara malah dihadapkan dengan sebuah peristiwa berdarah. Dengan mata kepala sendiri, dia harus menyaksikan peristiwa pembantaian. Dara bisa menebak, kalau Arum telah bernasib sama dengan mereka, gadis-gadis yang sengaja diundang datang ke sana.
Lutut Dara kemudian luruh ke tanah, bersamaan kepingan puzle kenangan yang turut lenyap berjatuhan. Dirinya kembali berada di tempat lapang penuh rumput liar. Latar bangunan berupa Rumah Anak Yatim yang kokoh telah berganti dengan deretan pintu-pintu kamar nan kumuh.
Gadis itu lalu membaringkan tubuh ke atas rerumputan. Tak peduli pada goresan tajam semak liar serta kotornya tanah sekitar. Mata bening itu menatap kosong pada gumpalan awan putih yang bergerak perlahan. Ada bayangan wajah polos Arum sedang tersenyum di atas sana. Ingin sekali Dara meraih lalu memeluknya.
"Dara kangen, Mbak Arum.., Dara kangen," isaknya lirih berulang-ulang.
****
Di tempat lain, di waktu yang sama.
Mamat and the geng masih belum beranjak dari sisi telaga, tempat mereka barusan bermain air dan mandi. Ikan-ikan yang berhasil Ali tangkap sedang dibakar di atas bara api.
"Makannya barengan, Pan. Kalau semua ikan sudah matang semua. Jangan dicomoti terus! Aku sama Mamat bakal tak kebagian nanti." Ali memasang wajah gusar. Tak habis pikir punya teman macam Ipan. Kelakuannya persis anak kecil.
"Mumpung masih hangat. Kalau dingin kurang enak. Kau pun dari tadi sambil bakar, ikannya sambil dimakan." Ipan membela diri, sambil tak berhenti mencubit daging ikan yang baru selesai di bakar Ali.
"Kapan? Mau kulempari bara api ni ke mukamu?" Ali mendelik pada tangan Ipan yang masih beraksi. "Kau pikir cuma kau yang lapar?!"
"Dasar pelit! Ikan dapat gratisan juga." Bibir Ipan mencebik, kemudian memunggungi Ali.
Diam-diam dia menghabiskan sisa daging ikan yang berhasil disembunyikan.
"Kenapa kau tak bantu aku, bakar ikan? Aku bukan mamakmu, melayani kau makan,"' gerutu Ali, sambil mengipas-ngipas bara api agar terus menyala.
Ipan tetap tak bergeming dari posisinya. Mamat mendapat tugas mengupas kulit singkong bakar di atas selembar daun pisang, sebagai pengganti nasi. Lekas bocah kecil itu menundukkan wajah, saat tanpa sengaja matanya menemukan sosok perempuan tua di antara semak tinggi, di belakang Ali.
Nenek bertubuh mungil itu memiliki garis wajah tegas. Rambutnya yang putih panjang selutut, menipis bagian bawah. Dia sedang menatap tajam pada mereka bertiga. Ipan dan Ali sama sekali tak menyadari kehadiran si nenek, yang bak bunglon di antara semak.
Mamat belum bisa memastikan si nenek manusia atau bukan. Dia ragu memberitahu Ali dan Ipan. Dari penampakan terlihat menakutkan. Mata lamur itu sedang menatap liar, seolah ingin menelan mereka satu per satu.
________________________________
Other Stories
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...
People Like Us
Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
Final Call
Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...