Susur

Reads
502
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 18.SEDANG DIAWASI




Tubuh seekor anjing hutan dalam kondisi tercabik-cabik menghalangi jalan. Bangkai itu tampak masih baru. Darah beku di sekitarnya masih berwarna kemerahan. Bau amis bercampur busuk. Mamat memanjangkan leher, ingin ikut melihat kondisi di depan.

"Apa kau punya pikiran sama denganku, Pan?" tanya Ali.

"Maksudmu ini ulah orang besar itu lagi? Tapi, buat apa?" Ipan balik bertanya.

Mereka berdua sedang membicarakan lelaki misterius yang mencincang babi hutan tadi malam.

Bola mata Ipan lalu melebar. "Apa mungkin dia seiko? Siksa binatang cuma buat kesenangan, kayak di pilem-pilem. Hih, ngeri!"

"Kalau seiko, kenapa tak habisi kita sekalian?" tanya Ali lagi.

"Oho, jangan salah!" Ipan menggoyang jari telunjuk di depan wajah temannya, memasang mimik serius. "Orang seiko lebih suka membunuh korbannya pelan-pelan. Korban dijebak, dibuat ketakutan setengah mati, disiksa, lalu dibunuh satu per satu."

"Kau sedang menakut-nakutiku kah, Pan?" Ali menelan ludah cekat. Yang dikatakan Ipan barusan lumayan mengena.

"Biar aku tak takut sendirian. Kita takut sama-sama, heheh ...," ujarnya jujur, terkekeh cengengesan.

"Kita harus lebih waspada dari sekarang. Belatimu masih ada, kan?" Ali melirik ke pinggang Ipan.

"Siap!" jawab Ipan segera, menegakkan tubuh kerempengnya. Berlagak bak prajurit siap tempur. Tangan menyingkap kaos pada pinggang. terselip sebilah belati di situ.

"Hayuk, lanjut jalan! Sekarang Mamat jalan di tengah, kau di belakang, Pan." Ali mulai mengatur pasukan.

"Kenapa harus aku yang di belakang?" protes Ipan.

"Kau lupa alasan kita ada di sini untuk apa? Kalau Mamat sampai kenapa-napa, sia-sia kita sudah pergi sejauh ni. Atau kau yang mau jalan di depan?" tawar Ali.

Jalan setapak terkepung padang ilalang tinggi, tidak memungkinkan bagi mereka untuk berjalan bersisian.

"Hhh,  ya sudah!" Ipan menyisi, memberikan tempat pada Mamat.

Plak! Kepala bocah itu dikemplang.

"Awuh!" Mulut mungil Mamat mengaduh pelan.

"Capat jalanmu!" bentak Ipan.

Sambil menutupi hidung dan mulut, mereka berjalan berjingkat, melewati bangkai anjing yang sudah dirubung ribuan lalat. Kini jalan setapak masih terlihat lebih jelas, tampak mengarah pada sebuah bukit.

Matahari kian meninggi, cuaca dingin telah berubah hangat. Semua mulai merasakan lelah. Cacing-cacing dalam perut pun sudah berdemo. Hidung Ali  mengendus, saat indera penciumannya menangkap bau makanan yang dibakar.

"Bau singkong bakar. Apa kalian mencium juga?" Dia menoleh pada Mamat dan Ipan. Khawatir jika hidungnya sedang berhalusinasi karena terlalu lapar.

"Hum." Ipan dan Mamat serempak mengangguk. Mereka pun membaui aroma singkong bakar.

Kedua tangan Ali menyibak rumpun ilalang di sampingnya, mengikuti aroma sedap yang terbawa embusan angin. Mamat dan Ipan terus membuntuti dari belakang. Tampaklah sebuah kebun yang ditanami singkong dan jagung.

Kebun itu tak seberapa luas. Hanya berukuran lima puluh meter persegi. Tersembunyi di antara pohon-pohon yang mengelilingi. Tanaman jagung sudah memunculkan tongkol bunga. Singkong terlihat tumbuh subur. Semua tampak terawat dengan baik.

Di tengah kebun, berdiri sebuah pondok kecil yang terkesan dibuat asal-asalan, hanya berupa tiang dari batang pohon diatapi daun kelapa. Kepulan asap membuat mereka yakin, jika tidak salah arah.

"Uhuk, uhuk, uhuk!" Suara orang sedang terbatuk-batuk dari balik pondok, kadang terdengar saling bercakap.

"Permisi," sapa Ali, yang sudah berdiri di hadapan mereka.

Tampak keterkejutan pada wajah kedua orang paruh baya itu. Satu lelaki, satu perempuan. Ekspresi mereka seakan sedang melihat hantu di siang bolong.

Pada sudut pondok, tumpukan singkong terlihat menggunung. Sepertinya mereka baru saja selesai panen. Depannya ada sebuah tungku perapian. Beberapa batang singkong sedang dibakar juga ada sebuah ceret kecil penuh jelaga, corongnya mulai mengepulkan asap tipis. Parang, cangkul, harit, serta perkakas pertanian lain berserakan tak jauh dari situ.

"Maaf kalau kami sudah mengganggu. Kami betiga ni, lagi dalam perjalanan ke camp pekerja tambang," ucap Ali lagi, berusaha seramah mungkin.

Suami isteri itu saling menatap tegang. Seolah sedang berkomunikasi lewat mata. Sapaan Ali tidak mendapat sambutan hangat dari mereka.

"Paman, Acil, kami ni bukan orang jahat. Kalau boleh, kami numpang istirahat barang sebentar. Kebetulan semua belum pada sarapan. Di jalan tak ketemu warung, hehe ...." Lelaki muda itu memasang wajah polos.

"Langsung bilang saja, kalau kita minta singkong bakar, Li! Tak usah bertele-tele bicaramu!" bisik Ipan tak sabar. Dibalas dengan tonjokan sikut ke perutnya.

"Apa boleh beli singkong bakarnya, Paman?" Ali merogoh dompet pada saku belakang celana.

"Ambil saja sesuka hati kalian! Ta-tapi tolong, jangan bilang kalau kalian pernah bertemu kami di sini," ujar lelaki paruh baya itu tergagap, sambil berdiri. Diikuti isterinya yang berpegangan erat pada baju si suami. Tampak jelas gurat ketakutan pada wajah mereka.

"Jangan bilang sama siapa maksudnya, Paman?" sela Ipan, heran.

Alih-alih menjawab pertanyaan Ipan, kedua orang itu malah beringsut menjauh, tergesa meninggalkan pondok.

"Mau kemana, Paman-Acil? Ini uang buat bayar singkong!" Ali mengejar mereka, seraya mengulurkan selembar uang.

"Tak usah. Singkongnya buat kalian saja." Tangan Ali ditepis kasar.

Suami isteri itu lalu terbirit-birit berlari meninggalkan Ali. Punggung mereka kemudian menghilang ke balik pepohonan.

"Aneh. Kenapa mereka bersikap begitu? Ada apa dengan tempat ini?" gumam Ali, nanar matanya menyapu sekeliling.

"Sudah boleh dimakankah singkongnya, ni?" teriak Ipan nyaring dari depan pondok. Dia duduk jongkok sambil mengupas kulit singkong yang menghitam.

Kedua kaki Ali berlari kecil kembali ke pondok. Sikap dua orang yang baru ditemui menambah daftar keanehan tempat yang mereka kunjungi. Pasti ada sesuatu di balik ini semua. Entah itu apa. Ali sudah tak peduli, meski rasa takut sempat membuatnya gentar. Mereka sudah hampir sampai ke tujuan. Tidak mungkin untuk kembali.

"Makanlah sampai kenyang! Biar kuat jalan jauh. Nanti sebagian kita bawa buat bekal di jalan." Tangan Ali membolak balik singkong di atas bara api. "Ayo, Mat, bakar sendiri singkongmu!" ujarnya pada Mamat, yang sedang memandangi Ipan makan.

"Hum." Mamat mengangguk kecil.

"Mamat takut keracunan. Dia mau liat kita makan dulu. Kalau kita masih pada hidup habis makan, baru dia ikutan makan," ucap Ipan, meniup-niup singkong, sambil melahapnya rakus.

"Benar begitu, Mat?" Satu kening Ali naik, melirik Mamat.

Mamat menggeleng, sembari memamerkan senyum manisnya.

"Warik, lalu kenapa dari tadi kau cuma liat-liat? Cepat kau makan!" bentak Ipan.

****

"Wuuuhuuu...! Indahnya dunia ini!" seru Ipan nyaring, membentangkan kedua lengan lebar-lebar dengan kepala mendongak.

Dia sedang  berdiri pada sebuah batu besar, berlatar mata air yang mengucur deras dari sela tebing.

Di tengah perjalanan, mereka menemukan sebuah mata air, serta telaga kecil berair jernih. Kesempatan itu digunakan ketiganya untuk membersihkan tubuh sekaligus bermain air. Bukan Ipan kalau tak bertingkah konyol. Dia berjoget dan bernyanyi di atas batu, bak artis dangdut yang sedang konser. Tubuh kurus kerempeng itu basah kuyup, hanya mengenakan sempak.

"Jangan kau contoh orang macam tu, Mat!" ujar Ali, pada bocah kecil di dekatnya, lalu menenggelamkan seluruh tubuh menyelami air.

Mamat tertawa kecil melihat kelakuan Ipan yang kocak. Tak pernah kehabisan gaya, sekarang dia menirukan gaya-gaya ninja dalam sebuah film kartun.

"Ninja Konoha, Uzumaki Naruto. Jurus Seribu Bayangaaan ....," ujarnya dengan suara dibuat-buat. Saat ini hati Ipan sedang senang.

Byyuuurr!

Wajah Ali tiba-tiba menyembul, keluar dari dalam air. Satu lengan mengacung tinggi. Seekor ikan gurame berukuran besar, tampak menggelepar di ujung belatinya.

"Aluh Bohay!" teriaknya ke arah Ipan.

"Hore, Kakak dapat ikan!" Mamat bertepuk tangan senang, melihat ikan yang baru Ali dapat.

Semua sedang bersenang-senang. Tidak ada yang menyadari jika sepasang mata sedang mengawasi. Mata seekor burung bangau hitam yang selalu membututi kemana pun mereka pergi.




Catatan kaki :

Seiko = plesetan dari kata psikopat

_______________________________________






Other Stories
Mewarnai Bawah Laut

ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...

Just Open Your Heart

Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Haura

Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Download Titik & Koma