BAB.17.SADIS
Srreeekk... srreeekk ....
Bunyinya datang dari arah hutan, kemudian terdengar semakin mendekat memasuki jalan setapak desa. Dalam kesunyian malam, terdengar jelas di antara derik jangkrik serta angin yang bersiul-siul.
Ipan berbaring gelisah. Tubuh kurusnya menegang, sembari menajamkan pendengaran. Berbeda dengan Ali dan Mamat yang telah tertidur lelap, dia kesulitan memejamkan mata. Penampakan laki-laki besar di seberang jalan dan tiba-tiba menghilang, terus saja membayang. Tatapan dingin itu membuat Ipan bergidik ngeri.
"Hantukah?" gumamnya pada diri sendiri.
Semakin ke sini bunyi benda yang sedang diseret tambah mendekat, lalu berhenti tepat di depan pekarangan rumah.
Dub! Dub! Dub!
Degub jantung Ipan seketika berpacu. Keringat dingin kini membasahi kulit.
"Li, bangun, ada orang," desisnya.
Satu kaki Ipan mencoba menendang ke arah Ali, yang tidur saling memunggungi dengannya. Namun, tendangan hanya mengenai tas yang berada di antara kaki mereka. Ali tak terusik sama sekali, begitu pula Mamat. Perjalanan jauh yang sangat melelahkan membuat mereka berdua tenggelam jauh ke alam mimpi. Sial bagi Ipan karena posisi tubuhnya tepat menghadap ke arah jalan.
"Li, kau tidur apa pingsan? Lakas, bangun!" bisik Ipan lagi dengan suara tertahan.
Sekuat hati Ipan meredakan gemuruh jantung, tubuh yang berada dalam gulungan sarung gemetar. Dia sangat yakin ada seseorang yang sedang berdiri di depan sana. Orang yang tadi menyeret-nyeret sesuatu. Entah dia manusia atau bukan.
Detik demi detik berlalu. Bunyi menakutkan itu sudah tidak terdengar lagi. Tersisa bunyi napas sendiri. Mungkinkah orang itu sudah pergi? Ipan terus membatin.
Melawan rasa takut, dia coba beranikan diri mengintip dari sela kain sarung yang menutupi kepala. Jantung Ipan sontak berkedut-kedut.
"Humpf...." dia menahan napas tegang, keringat dingin kian mengucur deras.
'I-itu kan orang yang tadi! Mau apa dia?' desah Ipan dalam hati.
Tubuh tinggi kekar itu kini sudah berdiri tegak menghadap ke rumah, beberapa puluh meter dari teras tempat mereka berada. Masih dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
Penampilan penuh aksesoris layaknya lelaki suku pedalaman. Ikat kepala merah yang khas melengkapi penampilannya. Tonjolan otot bisep pada dada serta lengan yang dilukis tatto tampak mengkilap oleh keringat.
Netra Ipan kemudian terfokus pada tali tambang yang mengait pada bahu, serta tersambung dalam genggaman tangan kokoh itu.
Ada sesuatu terikat pada ujung tali, terongok di atas tanah. Rupanya benda itu yang sedari tadi diseret-seret. Ipan belum bisa melihat dengan jelas berupa apa. Dalam hati berdoa, semoga dia tidak melihat mereka bertiga yang berkemul dalam selimut.
Berkelahi hal biasa buat Ipan. Tapi, kalau harus berhadapan dengan tubuh kekar lengkap dengan senjata panah dan mandau begitu, tentu saja nyalinya langsung ciut. Logika Ipan masih sehat.
Srekk ... srreeekk ....
Lelaki besar itu kemudian berjalan memasuki pekarangan rumah, sambil terus menyeret barang bawaannya. Bau amis darah mulai menguar tajam, saat dia semakin mendekat. Bola mata Ipan membulat sempurna mengawasi benda yang sedang diseret tampak berlumuran darah.
"Tarung babanam!" Spontan Ipan menjerit keras, sambil tubuh melompat menindih Ali yang ada di belakang.
"Ganggu orang tidur saja," Ali mendorongnya kesal. Ipan langsung beringsut ke sudut teras, dengan muka pucat pasi.
"Waluh bejarang!" Giliran Ali terhenyak, begitu dia sadar akan kehadiran orang lain di situ.
Lelaki besar berotot kini sudah berdiri tegap dekat api unggun, yang nyalanya mulai mengecil. Tanpa berkata-kata, mata kelam itu menatap Ali dan Ipan bergantian.
"Si-siapa pian? Apa ini rumah pian? Numpang istirahatat bolehkah, Mang?" tutur Ali sedikit terbata, kedua tangan tergesa menggulung sarung pada pinggang.
Si lelaki besar masih diam mematung. Dalam jarak dekat rautnya semakin jelas. Kulit gelap berkeringat, garis rahang serta dahi yang tegas, menambah kesan garang.
Pelan Ali bangkit dari duduk, khawatir akan mendapat serangan tiba-tiba. Benda yang sedari tadi diseret-seret ternyata seekor babi hutan berukuran besar. Sebilah anak panah masih menancap pada perut hewan itu.
"Grookh-grokh ... nguik-nguik ...." Mulut babi hutan tiba-tiba mengeluarkan bunyi. Lehernya bergerak-gerak. Ternyata belum benar-benar mati.
Mulut lelaki besar menggeram, lalu satu tangannya gegas meraih mandau bersurai pada pinggang, mata sambil memelototi Ali.
"Ampun, Mang, kita tak bakal lama. Besok pagi kita pergi dari sini. Suer, dah." Ali mengangkat jari telunjuk serta jari tengah, dengan raut meringis.
Srrokk!
Mandau tetap ditarik dari dalam sarung.
"Mati kita! Matiii!!!" teriak Ipan. Membayangkan akan bernasib sama dengan tubuh babi.
Mendengar keributan Mamat terbangun. Tangan mengucek mata yang masih mengantuk.
Crassh! Crassh!
"Kyaaaaaa!" Ketiganya serempak menjerit ngeri, menyaksikan kesadisan lelaki besar itu.
Mandau disabet-sabetkan tanpa ampun ke tubuh babi hutan yang sudah tidak berdaya. Darah muncrat mengenai wajah dan tubuh si lelaki besar. Seluruh isi perut babi seketika memburai keluar, berceceran.
Puas membuat tiga anak kampung sport jantung, sampai terjengkit-jengkit, Mandau dikembalikan lagi masuk ke dalam sarung.
Srokk!
Tanpa sepatah kata, lelaki besar itu melangkah lebar meninggalkan mereka.
"Tarung babanam!" umpat Ipan terengah, bersandar pada dinding dengan lutut terasa lemas.Tubuh kurus kerempeng itu kemudian menggelosor ke lantai.
Ali memandangi bangkai babi yang ditinggalkan begitu saja. "Apalah maksud menaruh binatang buruannya di sini? Dicincang-cincang pula perutnya."
"Minta kau bikinkan babi guling kali, Li," sahut Ipan asal.
"Waluh bejarang!" rutuk Ali.
"Dia orang yang kulihat di seberang jalan. Aku tak bedusta kan?! Aku tak behalusinasi, kan?!" ujar Ipan dengan nada tinggi.
"Sepertinya orang tu sedang mengancam kita, Li. Dia ...." Ipan terus mecerocos panik, bak petasan.
Pipi Ali mengembung menahan mual. Dia tak bisa mencerna kalimat-kalimat cepat Ipan. Isi perut babi yang berserakan di atas tanah menebar aroma tak sedap.
"Hoeeekhh ...." Ali melompat turun dari teras, belari tergesa ke semak-semak.
****
Kabut memudar, seiring hadirnya semburat jingga dari ufuk timur. Menghalau gelap perlahan-lahan.
Tiga anak kampung kembali melanjutkan pertualangan, menapaki jalan keluar dari Desa Muara Bukit. Meninggalkan teras rumah panggung beserta bangkai babi di halaman. Namun, kondisi bangkai kini sudah tertutup rapat dengan dedaunan kering serta sampah lain. Mereka bertiga sengaja menutupnya selagi menunggu malam berganti pagi.
"Nguuung, nguuung ...."
Satu per satu lalat sebesar jempol terbang mendekat. Hinggap, lalu mencari celah masuk di antara sampah-sampah yang menutupi bangkai. Semakin lama jumlah mereka semakin banyak. Bunyi dengung kian ramai terdengar.
Laki-laki bertubuh besar yang mencincang-cincang perut babi tadi malam cukup membuat shock ketiganya. Setelah pergi tanpa kata, orang itu tak kembali lagi. Padahal Ali dan Ipan sudah tak berani melanjutkan tidur. Begitu warna langit mulai terang mereka tergesa meninggalkan tempat itu.
Cuaca sejuk pagi mengiringi langkah-langkah terseok akibat kurang tidur. Tampak ceceran darah pada jalan yang mereka lalui.
"Cari sarapan di mana kita? Hutan semua begini. Mana rokok tinggal sebiji pula," Ipan menghela napas lesu, sembari berdecak.
"Ternyata percuma duit banyak kalau tak ada orang yang jual makanan," timpal Ali. Matanya sambil melihat-lihat ke atas pohon. Barangkali ada buah hutan buat mengganjal perut.
Mamat yang berjalan paling belakang meringis, mendengar pembicaraan kedua pemuda itu. Gara-gara mengantarnya, mereka mengalami banyak hal tak menyenangkan. Bekal makanan dalam tas Mamat sejak tadi malam sudah habis tak tersisa.
Jalan setapak berpagar ilalang setinggi dada, sekarang terasa menanjak naik. Ketiganya berjalan beriringan dipimpin Ali paling depan.
"Waluh bejarang, sadiiis!" umpat Ali, mendadak menghentikan langkah.
"Ada apa?" Ipan ikut berhenti.
"Kau lihatlah ke depan!" Ali geleng-geleng kepala.
"Tarung babanam!" Ipan kontan ikut mengumpat. Diapun sudah melihat pemandangan mengerikan, beberapa langkah di depan sana.
__________________________________
Other Stories
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...