BAB 16.LELAKI MISTERIUS
Sambil mengunyah biskuit, netra Ali berpendar pada sekeliling. Rumah tempat mereka sedang beristirahat sekarang merupakan rumah terakhir. Sama seperti rumah lain, ada sebuah bangunan mungil berukuran sekitar satu kali dua meter, dengan empat tiang penyangga yang cukup tinggi. Pada dindingnya terdapat ukiran khas. Beberapa patung kayu Sapundu berbentuk manusia terpancang kokoh di bagian depan.
Sandung, Ali ingat betul nama dan fungsi bangunan mungil itu. Semasa kecil, kakek pernah mengajak Ali berkunjung ke rumah seorang sahabat, di sebuah perkampungan suku Dayak.
Bulu kuduk Ali seketika berdiri begitu sadar jika tempat mereka akan bermalam dekat dengan tulang belulang orang yang sudah mati. Tapi, jika tak ada pilihan lagi, apa boleh buat. Andai Ipan tahu, mungkin bakal terkencing-kencing ketakutan, Ali membatin.
Seekor burung gagak hitam terbang rendah, kemudian hinggap dan bertengger pada salah satu patung kayu. Sayapnya mengepak sembari bersuara serak, seolah ingin memberitahukan tentang sesuatu.
"Berisik amat tuh burung. Coba kau usir dia, Mat!" titah Ipan pada si bocah.
"Diusir?" tanya Mamat bingung.
"Iya, lekas kau usir. Suaranya bikin sakit telingaku." Ipan menepuk-nepuk telinga.
Dengan patuh Mamat beranjak dari teras, mendekati sandung.
"Hussh, husyaaah ...." Mamat bersuara, seraya mengibas-ngibaskan kedua tangan. Berusaha menakuti burung agar menjauh.
Tapi, burung gagak hitam itu tidak bergeming dari sana. Suara seraknya masih berkuak-kuak nyaring, kepala meneleng menantang Mamat.
"Burungnya tak mau pergi, Kak,"
"Coba kau lempar pakai batu!" ujar Ipan seenaknya. Dia sendiri duduk santai menghabiskan sisa roti.
Wajah Mamat langsung memelas. Mana tega dia melempari tubuh kecil burung dengan batu? Kasihan kalau sampai terluka. Kata Ninik menyakiti hewan itu perbuatan dosa.
"Mungkin ini memang kandang burung, Kak!" Mamat berusaha membuat alasan, supaya Ipan berhenti menyuruhnya mengusir burung gagak.
"Mamat betul, itu kandangnya. Kenapa harus diusir?" Ali mengikat lagi tali sepatu yang tadi sempat dilepas.
"Beh, kandang burung macam peti mati. Burung gagak pula yang dipiara!" protes Ipan memelototi Ali.
"Kalau kau mau protes, sama orang yang punya kandang, sana! Bukan sama aku." Ali memonyongkan bibir.
Ipan menoleh pada Mamat. "Kalau begitu, kau suruh burung tu jangan berisik, Mat! Bilang kalau suaranya tak enak!"
"Memangnya si Mamat bisa bahasa burung?" Ali geleng-geleng kepala, tak habis pikir.
Ipan cengengesan, menikmati mimik wajah Mamat yang semakin memelas, menyedihkan.
"Kau sama Mamat tunggulah di sini! Langit sudah hampir gelap. Kita tak mungkin lagi melanjutkan perjalanan. Tak tahu medan macam apa yang ada di depan sana." Ali beranjak dari teras rumah, meraih sisa rokok yang tergeletak di sudut teras. Abu pada sudutnya tampak sudah memanjang.
"Kau sendiri mau kemana?" Kedua kening Ipan bertaut.
"Selagi masih terang, aku mau cari kayu bakar buat bikin api unggun," ucapnya, menghisap sisa rokok.
"Begitu?" Ipan manggut-manggut. "Ya sudah, sana, cari kayu yang banyak!"
****
Malam merangkak pelan.
Kabut dingin menggulung Desa Muara Bukit yang lengang.
Di sudut desa, halaman sebuah rumah tampak terang benderang oleh nyala api unggun. Tempat Mamat dan dua pemuda kampung saat ini sedang menghabiskan malam.
Wuuusshh....
Gempuran angin kencang kian membuat hawa bertambah dingin.
Brrrr .... tubuh Ipan seketika bergidik.
"Kita dobrak saja pintu rumah ini, Li? Biar bisa numpang tidur di dalam. Dingin bangat. Lututku sudah beku," saran Ipan. Kedua tangan meremas sudut sarung. Giginya terdengar gemerutuk menahan dingin.
Dia dan Ali masih terjaga, duduk di teras menghadapi nyala api unggun. Ternyata hangat dari api tak banyak membantu menghalau hawa dingin.
"Gila kau! Mau pulang tak bawa kepala, hah? Ini kampung suku pedalaman. Jangan berani macam-macam! Kalau masih sayang nyawa, jangan ganggu milik mereka." Ali menatap tajam.
Ipan berdecak kecewa, sarannya tidak mendapat dukungan. Tumben jiwa bengal Ali terkendali, padahal tubuhnya pun tak kalah menggigil dari Ipan. Rasanya seperti berada di dalam frezzer. Mulut mereka mengeluarkan uap setiap kali bicara.
"Lihat, si Mamat sudah tidur!" Ali mengendikkan dagu ke arah bocah, yang sudah meringkuk bak udang bungkuk dalam sarung kurung.
"Kenapa memang?" tanya Ipan tak mengerti.
"Kau peluk saja tubuh Mamat biar hangatan dikit, atau kalau mau lebih hangat, tidurlah kau di atas api unggun!" ledek Ali terkekeh.
"Buat apa pelukan sama Mamat? Mamat kekecilan kurang hangat, mending pelukan sama kau, Li." Ipan merentangkan kedua tangan, tersenyum nakal.
"Najis! Coba saja kalau kau berani!" maki Ali sengit, telapak kakinya terangkat tinggi ke arah muka Ipan.
Terkikik senang Ipan berhasil membuat Ali mual. Dia lalu mendekat ke api unggun dengan sarung tetap membungkus tubuh hingga kepala. Dingin terasa sangat menyiksa. Duduk jongkok, kedua telapak tangan Ipan di hadapkan ke arah nyala api, lalu saling menggosok. Berulang kali dia melakukan itu, agar lebih hangat. Ali sudah terkantuk-kantuk, duduk bersandar pada tiang teras.
Degh!
Mata Ipan melebar, mulut membulat. Tiba-tiba dia melihat seorang lelaki bertubuh besar berdiri tegak di seberang jalan. Pendar cahaya api unggun menerangi penampakannya.
Orang itu berpenampilan layaknya seorang pemburu. Tubuh tinggi kekar, bertelanjang dada. Kepala diikat kain merah. Pada pundak tersandang busur beserta anak panah, sedang di pinggang terselip sebilah mandau besar. Dia sedang menatap lurus pada Ipan, dengan raut dingin tanpa ekspresi.
Tubuh Ipan mundur teratur dari api unggun. "Li, ada orang di seberang jalan," desisnya, menarik sarung Ali.
"Mana?" Mata Ali yang hampir terpejam sontak melebar, mencari-cari ke seberang jalan.
Bak tersapu embusan angin, sosok lelaki yang dilihat Ipan kini sudah menghilang.
"Ah, kau mehayal." Ali berdecak.
"Wajib nah, tadi ada, Li. Mataku masih normal. Orangnya tinggi besar, bediri di seberang jalan melihat ke kita. Mukanya seram." Ipan berusaha meyakinkan.
Ali mengendikkan bahu. Kelopak matanya sudah sangat berat.
"Hantu kah, Li, yang kulihat tadi? Kita pergi dari sini, yuk!" Ipan merasakan bulu-bulu tubuh yang meremang.
"Kabur ke mana? Di luar hutan semua," gumam Ali pelan, sambil menguap lebar.
Tanpa mempedulikan wajah pucat Ipan, Ali mengatur posisi tidur di sebelah Mamat. Berbaring menekuk tubuh layaknya udang, sarung ditarik menutup seluruh kepala.
Ipan terburu menyusul. Ikut berbaring merapat, menggulung tubuh ke dalam sarungnya.
Burung gagak hitam masih setia bertengger di atas patung kayu. Sepasang matanya yang tajam kadang tampak menyala-nyala kemerahan. Malam kian bergulir berteman deraian kabut, bersama kepakan sayap-sayap kelelawar.
Sreeekk ... sreeekk ... sreeekk ....
Terdengar bunyi sesuatu sedang diseret di atas tanah. Sesuatu yang berlumuran darah.
________________________________
Other Stories
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...
Blek Metal
Dahlia selalu dibanding-bandingkan dengan sepupunya karena terlalu urakan dan suka musik m ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...