BAB 15.KAMPUNG MATI
Ipan menjerit sembari menunjuk ke arah jendela. Tapi, tak juga dia beranjak dari situ. Saking takutnya kedua lutut Ipan terasa lemas dan gemetar.
Satu tengkorak manusia terlihat di depan jendela yang terbuka. Sangat mengerikan. Sedikit rambut berwarna putih masih menempel pada sebagian kepalanya. Dari mulut tengkorak itu terlihat lelehan cairan berwarna merah. Teriakan keras Ipan, mengundang Ali dan Mamat gegas berlarian mendekat.
"Ada apa, Pan?" tanya Ali kebingungan.
"Tengkorak manusia seram bangat, mulutnya masih bedarah-darah," ucapnya setengah terisak, menunjuk lurus ke depan.
"Cuihh! Cuiiihh!"
Makhluk yang dikira tengkorak tiba-tiba meludahi Ipan. Kontan wajah pemuda itu mengerucut. Diseka dan ditatap ngeri telapak tangan yang kini belepotan cairan merah berbau aneh.
"Huwaaah, daraaah, daraaah! Tengkorak bisa meludaaah!" Lagi-lagi Ipan memekik heboh.
Satu wajah lain kemudian muncul dalam jendela. Kali ini sesosok kakek-kakek dengan tubuh tak kalah kurus kering, layaknya tulang dibalut selembar kulit. Sepasang bola mata yang cekung nyaris tenggelam, serupa tengkorak.
"Pergi, lekas pergi, jangan ganggu kami!" ucap serak lelaki tua itu.
"Bungulnya si Ipan! Ini kaik sama ninik, bukan tengkorak," desis Ali. Ditarik gemas rambut ikal milik kawannya.
Ipan menelan ludah cekat, memasang tampang polos, lalu berkata, "Ta-tapi, kenapa mulut ninik tu sampai bedarah?" gumamnya, seraya mengamati mulut ompong keriput milik perempuan tua yang tampak sedang mengunyah sesuatu.
"Cuih, cuihh!" Kembali dia meludah ke arah Ipan. Kesal sekali tampaknya sudah dikatai tengkorak.
Brakk!
Daun jendela lalu ditutup dengan keras.
Pletak!
Giliran buku jari Ali melayang ke kepala orang di samping.
"Aduh!" Ipan mengusap bekas jitakan.
"Dasar Aluh Bohay! Kau tak pernah kah liat orang menginang? Macam bukan orang kampung saja kau ni, Pan."
Ali semakin geram. Hampir saja jantung copot gara-gara teriakan Ipan. Ingin rasanya mengajak duel saat itu juga. Namun, situasi sedang tidak memungkinkan.
"Kaik, Ninik, kami minta maaf. Bolehkah kita bicara barang sebentar? Bisakah bukakan pintu!" pinta Ali, sambil mengetuk jendela yang sudah tertutup.
Sepi, tidak ada sahutan. Ditunggu beberapa saat pintu tak juga terbuka. Ali menghela napas kecewa. Ipan meringis bersalah.
"Kacau semua gara-gara kau!" Rambut ikal Ipan kembali jadi sasaran kekesalan Ali.
"Arkh, sakit!" Ipan berontak, balas memukul Ali.
Penghuni rumah itu enggan berinteraksi dengan orang asing. Mereka bertiga terpaksa beranjak dari sana, lalu melanjutkan langkah, menyusuri jalan setapak desa yang berbatu. Berharap akan bertemu orang lagi.
"Tempat ini macam kampung mati. Kayaknya sudah lama ditinggalkan orang," celetuk Ipan, sambil terus berjalan.
"Jangan-jangan penghuninya cuma Kaik sama Ninik tadi. Gara-gara kau bikin ulah, kita tak bisa numpang istirahat di rumah mereka." Ali mendengkus.
"Iya, iya, terus saja salahkan aku." Bola mata Ipan berotasi.
Bangunan-bangunan kayu yang mereka lewati tampak kumuh tak terawat. Tidak terlihat tanda-tanda kehidupan. Kondisi rumah ada yang sudah miring, nyaris roboh. Dinding berupa papan terlihat banyak yang lapuk. Teras terlihat kotor oleh debu, pecahan kayu, daun kering, serta sampah lain.
Beberapa rumah bahkan hanya tersisa puing. Atap daun rumbia serta papan kayu yang telah lepas berserakan menutup sebagian jalan, seakan tempat itu pernah diamuk badai.
Dirogoh Ali ponsel dari saku jaket, lalu menghela napas gusar. Kondisi benda pipih itu sekarang sudah lowbat. Dalam hati dia mengeluh jika tempat yang mereka datangi ternyata sangat terpencil, sampai listrik pun tak ada. Ponsel jadul miliknya tidak akan berguna di tempat itu. Padahal Ali sudah bela-bela'i menebusnya kembali dari counter ponsel.
Langkah Mamat sedikit tertinggal dari dua pemuda jangkung di depan. Sweater kedodoran cukup memperlambat gerakkannya. Sesekali Mamat harus membenahi kerah yang melorot ke bahu.
Ada sesuatu yang mengganggu pikiran bocah lelaki itu. Sedari mereka memasuki Desa Muara Bukit. Ipan dan Ali sama-sama mengatakan bahwa mereka tak menemukan penghuni desa. Tapi, Mamat mengalami hal sebaliknya. Dia menyaksikan ada banyak orang dengan tatapan hampa ada di sana.
Sosok pertama yang Mamat lihat, seorang lelaki tua berwajah pucat, sedang berdiri mematung di atas jukung tua yang terbalik. Setelah memasuki jalan desa, Mamat kembali melihat sosok-sosok lain. Ada yang berdiri di depan pintu rumah, ada yang duduk di teras, juga beberapa orang berpapasan dengan mereka di jalanan.
Mamat membuang napas pelan. Mempertahankan agar hanya fokus pada langkah sendiri. Sebenarnya dia sudah terbiasa dengan situasi ini. Melihat sesuatu yang tidak bisa terlihat oleh mata manusia biasa. Namun, di tempat ini ada yang berbeda. Sangat terasa aura kesedihan. Semua yang tampak oleh Mamat berwajah murung.
Mamat kemudian teringat makanan pemberian beberapa penumpang mobil, sebelum mereka berpisah di jalan. Dia ingin membaginya untuk Ipan dan Ali. Sambil berjalan dia lepaskan sebelah tali tas punggung, membuka kantung tas bagian depan yang berisi permen dan cokelat.
Satu permen tanpa sengaja terjatuh ke tanah. Langkah Mamat pun tertahan. Ketika dia membungkuk untuk memungut, tanpa diduga ada satu tangan mungil lain yang mendahului. Mamat terpaku beberapa saat. Dari ekor mata dia bisa melihat, seorang anak perempuan sedang jongkok mengambil permen itu. Wajah yang sangat pucat dengan lingkaran hitam pada sekeliling mata.
"Mat, cepatlah sedikit jalanmu! Jangan sampai tertinggal jauh!" teriakan Ali dari depan sana membuat Mamat tersentak.
"Inggih!" sahutnya dengan suara nyaring.
Gegas Mamat berdiri, lalu berlari kecil menyusul dua lelaki muda itu, diiringi tatapan anak perempuan yang masih memegangi permen. Sempat netra Mamat menangkap beberapa pasang mata sedang mengintip mereka dari lubang angin sebuah rumah. Entah manusia, entah bukan, sebaiknya tak usah dicari tahu.
Kaki kurus Mamat berlari kencang. Dia cukup jauh tertinggal. Tubuh Ipan dan Ali sudah tampak mengecil di ujung jalan. Tungkai yang panjang membuat langkah mereka jauh lebih lebar darinya.
"Uh, capek. Kita istirahat dululah sebentar!" Ipan memasuki pekarangan luas sebuah rumah. Tanpa sungkan dihempaskan bokong serta punggungnya, meski lantai teras tampak berdebu.
"Kayaknya ini rumah terakhir, Pan," ucap Ali, mengeluarkan sebatang rokok, lalu menyulut dengan pematik api. Netra terus mengamati jalan setapak menuju keluar desa.
Jalan berbatu itu hampir tertutup oleh suburnya ilalang setinggi dada orang dewasa. Kontur jalan tampak mulai menanjak. Terdengar bunyi air dari aliran kali dari sisi bawah jalan.
Sebelah kiri jalan, berbaris rapat pohon karet yang menjulang tinggi. Sebelah kanan berupa bentangan padang savana luas. Memamerkan keindahan semburat sunset dari balik bukit-bukit kecil nun jauh di sana. Lingkaran besar berwarna jingga kemerahan sedang menghiasi langit senja. Batang-batang ilalang tampak menari mengikuti arah angin. Derik jangkrik terdengar ramai bersahutan.
"Kakak mau permen?" tawar Mamat pada Ipan, yang sudah leyeh-leyeh di lantai teras.
"Kau punya permen?" Mata Ipan berbinar menatap bocah kecil itu.
"Ada, ini," sahut Mamat seraya ikut duduk, menaruh semua permen dalam genggaman ke atas lantai teras.
"Roti sama gabin juga ada, Kak," ujar Mamat lagi, gegas membuka tas punggungnya.
"Jiah, tasmu kayak tas Dura Imun!" seru Ipan terkikik senang. Dia pikir isi tas Mamat hanya celengan dan botol air minum.
"Dikasih Acil waktu di motor," terang Mamat. Seorang ibu berkerudung merah serta perempuan muda berjaket hijau, memberikan sisa bekal makanan mereka untuk Mamat, lengkap dengan air mineral dalam kemasan.
"Pantas tasmu kelihatan berat." Ipan dengan antusias meraih sebungkus roti. Perutnya sudah lapar. "Li, capat kemari, Mamat punya makanan," teriaknya pada pemuda jangkung yang masih berdiri di tengah jalan, memantau keadaan.
"Kapan kau beli ini semua, Mat?" Ali mendekat.
"Dikasih Acil waktu di motor," terang Mamat lagi, sambil mengemut sebuah permen.
"Alhamdulillah, kau ini rejekinya bagus." Ali tersenyum simpul, menyimpan batang rokok yang masih menyala ke sudut teras, lalu mencomot sebungkus gabin.
"Apa rencana kita? Jalan lagi atau bemalam di sini?" Ipan bicara dengan mulut penuh roti.
Ali mengendikkan bahu, setengah putus asa. Mereka seperti dihadapkan dengan buah simalakama. Bermalam di perkampungan mati ini pasti tak mengenakkan. Langit masih terang saja aura tempat itu sudah terasa angker, apalagi kalau sudah gelap. Melanjutkan perjalanan pun sudah tidak memungkinkan.
__________________________________
Other Stories
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...