Susur

Reads
516
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 14.TENGKORAK DI JENDELA




"Aku tak begitu jelas mendengar suaramu, Sanak. Mungkin sinyal sedang tak bagus. Masih banyak kelotok lain. Siapa tahu ada yang mau mengantar kalian ke sana."

"Omong kosong! Kau kira kami tak mampu bayar, hah?!" Satu tangan Ali menyambar kerah baju orang di hadapan, tangan lain mengepal.

"Bukan begitu, Sanak!" jawabnya dengan raut pucat pasi, sembari sigap memegangi kepalan tinju Ali.

"Jangan bekelahi di sini, Ding! Sabar, Ding!" Pemilik warung kontan dibuat panik.

Beberapa orang yang baru selesai makan tampak ketakutan, tergesa mereka keluar meninggalkan tempat itu.

"Apa liat-liat?! Kau mau bela dia kah?! Mau main keroyok?! Aku tak takut." tantang Ali, pada teman pemilik kelotok.

"Sabar, Mas, aku ndak ikutan," sahutnya gugup, beringsut ke sudut warung. Padahal tubuh jauh lebih besar dari Ali.

Gaya arogan pemuda berambut cepak itu berhasil membuat nyali lawan mengkerut. Melihat lebam-lebam pada wajah Ali. Semakin meyakinkan kalau dia tukang berkelahi.

Alasan tak jelas pemilik kelotok bagi Ali sangat menjengkelkan. Pikirnya orang itu menolak setelah melihat penampilan dirinya yang kucel. Mungkin tidak percaya kalau tampang miskin seperti Ali punya cukup uang untuk membayar sewa kapal.

"Ada masalah apa?" tanya Ipan, yang sudah kembali dari bermain-main ke tempat pengamen.

"Orang ni tiba-tiba saja tidak mau mengantarkan kita, Pan. Dia buat-buat alasan," sahut Ali.

"Owh, macam tu kah?" Ipan manggut-manggut sembari mendekat, lalu menyibak kaos ke atas. Sesuatu yang terselip di pinggang bisa terlihat jelas. "Kau mau ini?" tanyanya dengan dagu terangkat, kening turun-naik.

Dua pemuda di hadapan tampak garang dan tak main-main. Pemilik kelotok menelan ludah cekat, melihat gagang belati di pinggang Ipan.

"A-anu, Sanak! Baiklah, aku akan antar kalian. Tapi, jangan apa-apakan aku, Sanak." Kedua telapak tangannya diangkat, posisi menyerah, terpaksa mengikuti aturan mereka.

"Kapan kita berangkat?!" bentak Ali lagi. Kerah baju si motoris kelotok akhirnya dilepaskan sembari disentak dari cengkraman.

"Teserah, Sanak."

****

Sungai dengan arus deras itu meliuk-liuk, laksana seekor Anakonda raksasa, yang membelah belantara tropis Borneo. Gemuruh arus air berpadu dengan nyanyian binatang penghuni bantaran sungai.

Monyet-monyet ekor panjang terlihat melompat dari satu pohon ke pohon lain. Tubuh ular melilit pada cabang dahan yang menjorok ke tengah sungai, kepalanya menjulur ke bawah. Kodok sedang cemberut di atas sebuah batu besar. Kupu-kupu bersayap indah tampak beterbangan.

Lukisan nan eksotik tengah disuguhkan alam bagi beberapa pasang mata yang berada di atas kelotok. Perahu mesin itu tengah melaju melawan derasnya arus sungai. Percikan air kadang mengenai tubuh mereka.

Semua yang dilihat sepanjang perjalanan menyusur sungai pedalaman Borneo, menjadi pengalaman baru bagi Mamat. Meski raut bocah itu terlihat lelah, dia tampak bersemangat. Bibirnya kadang membuat garis senyum, kadang membulat terkagum-kagum.

"Itu Kampung Muara Bukit, dihuni penduduk suku asli," terang pengemudi kelotok dengan suara nyaring. Tangannya menunjuk lurus ke depan.

Jauh di depan sana, mulai terlihat bukit-bukit kecil, juga beberapa rumah kayu berbentuk panggung. Ada sebuah dermaga kecil berupa titian yang menjorok ke sungai. Bagian depan, terdapat sebuah plang kayu dengan cat yang sudah mengelupas, bertuliskan; ' Selamat datang di Desa Muara Bukit.'

Kelotok terus merapat ke dermaga.

"Bisa kau beritahu kami, arah menuju camp pekerja tambang?" tanya Ali, sebelum menyusul Ipan dan Mamat yang sudah lebih dahulu melompat keluar.

"Ada di balik bukit sana, Sanak." Tangannya menunjuk ke arah sebuah bukit. "Kalian bisa bertanya pada penduduk yang kalian temui," tambahnya. Gestur tubuh tampak tergesa. Sekilas ada raut ketakutan yang disembunyikan. Namun, tak sempat terbaca oleh Ali.

Ali manggut-manggut mengerti. "Makasih, Sanak."

"Maaf, kami tak bisa berlama-lama. Sebentar lagi langit gelap. Kami harus segera kembali," ujar pengemudi kelotok itu lagi. Sedangkan rekannya yang tak bisa bahasa pribumi, lebih banyak diam.

"Oh, baiklah." Ali menyodorkan beberapa lembar uang, sebelum kemudian melompat keluar dari kapal kelotok.

Bunyi berisik terdengar lagi, seiring kapal mesin itu bergerak menjauh. Ketiganya terlihat berjalan beriringan di atas titian menuju dermaga. Masing-masing menyandang sebuah tas punggung. Tubuh Mamat tampak makin mengecil di balik kaos lengan panjang yang kebesaran, meski sudah digulung.

"Hati-hati jalan kalian, jembatan ini banyak yang bolong." Ali mengingatkan dua temannya.

Netra Ali mengawasi beberapa papan jembatan yang terlepas. Badan jembatan pun ternyata sedikit miring. Tampak tak terawat. Mendengar itu, Ipan dan Mamat sontak memperlambat laju kaki mereka.

Begitu tiba di daratan, mereka disambut sebuah jukung tua, yang terongok dalam posisi menelungkup. Lalat-lalat besar terbang berseliweran, dengan bunyi mendengung yang khas. Bau busuk kini tercium tajam.

Beberapa puluh langkah berjalan ketiganya kompak menutupi mulut dan hidung. Tampak bangkai seekor anjing sudah mengering, di balik semak. Lalat-lalat besar tengah berpesta merubung. Mulut Ipan kontan menggembung menahan mual. Rupanya dari situlah sumber bau. Ketiganya serentak berlari kecil, berusaha terlepas dari udara busuk yang memuakkan.

Semakin dalam memasuki jalan setapak desa, mereka masih belum menemukan satupun penghuni.

"Sepi amat tempat ni. Kemana orang-orang?" celetuk Ipan terheran-heran, seraya memerhatikan sekeliling.

"Tempat terpencil, wajar sepi," sahut Ali, memperlebar langkahnya, memimpin berjalan di depan.

Pintu-pintu rumah panggung yang mereka lewati, semua tampak tertutup rapat. Tidak satupun manusia terlihat. Tampak pemandangan khas dari rumah-rumah itu. Pada setiap rumah ada bangunan lain berukuran mungil dengan hiasan patung kayu berbentuk manusia.

Bangunan kecil itu biasa disebut dengan Sandung, yaitu tempat untuk menyimpan tulang-belulang leluhur yang telah meninggal dunia.
Letak sandung tidak jauh dari tempat tinggal orang yang masih hidup, dengan tujuan keturunan yang tinggal di dekatnya tetap ingat pada para leluhur. Sandung wajib dijaga dan dirawat oleh keluarga.

"Cilaka! Aku tak liat tiang listrik. Bakal tak bisa nonton tipi kita." Tubuh Ipan berputar memindai sekitar. Kakinya lalu berhenti melangkah.

"Itu tak masalah, yang paling kita butuhkan sekarang warung. Tak adakah yang buka warung di tempat ni?" Ali meringis, menelan ludah cekat. Tenggorokan sudah terasa kering.

Langit di atas kepala mereka semakin redup. Melangkah sudah jauh memasuki tempat itu, tidak juga mereka menemukan penghuni desa.

"Bagaimana kalau kita ketuk saja pintu rumahnya?" saran Ipan.

Krieeet ... krieeet ....

Terdengar derit daun jendela yang tertiup angin.

Semua kontan menoleh ke arah bunyi berasal. Benar saja, tampak sebuah daun jendela terbuka pada salah satu rumah. Gegas Ipan melangkah lebih dahulu mendekati jendela itu. Berharap bisa menemukan penghuni rumah, sedangkan Ali dan Mamat memilih menunggu di pekarangan.

"Permisi, orangnya!" Suara Ipan yang cempreng memanggil, dari depan jendela.

"Kyaaaaaa! Teng-tengkoraaak!" Tiba-tiba pemuda itu menjerit histeris.



_________________________________



Other Stories
Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Bagaimana Jika Aku Bahagia

Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Download Titik & Koma