Susur

Reads
529
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 11.NENEK ANEH



Pak Supir terus berusaha menyalakan mesin, tetapi malah mati total, badan mobil pun seketika merosot turun lagi ke bawah.

Braaak!

Bamper belakang membentur sesuatu. Semua merasakan goncangan cukup keras. Terutama penumpang pada bangku belakang.

"Allahu akbar!"

"Aduh!"

"Ada apa, Pir?!"

Masing-masing penumpang terbangun dari tidur, memekik kaget, terutama para perempuan. Sebagian ada yang mengalami benturan. Seorang balita yang sedang pulas di pangkuan sang ibu sontak menangis keras.

"Maaf bapak, ibu, perjalanan kita sedikit terganggu. Sebentar, biar kami periksa dahulu,' jawab Pak Supir, sembari membuka pintu mobil.

"Coba kau periksa ke belakang! Aku akan periksa mesin," titah lelaki itu pada keneknya. Situasi yang gelap membuatnya tak bisa melihat keadaan di belakang mobil lewat spion.

"Siap, Bos!" sahut si kenek, sembari gegas meraih senter serta sebuah mandau dari bawah dash board. Sekedar untuk berjaga-jaga.

Beberapa penumpang ikut turun dari mobil. Total ada dua belas penumpang yang berada dalam mobil jenis mini bus itu. Tujuh laki-laki termasuk Supir, tiga perempuan, serta dua anak kecil yaitu Mamat dan seorang balita perempuan berusia dua tahun.

Suasana sekitar sangat gelap. Tidak ada satu pun lampu penerang jalan. Sebuah senter besar dinyalakan oleh si kenek. Dia lalu menyorotkan cahaya senter ke badan belakang mobil. Mobil seolah sudah membentur sesuatu. Anehnya dia tidak menemukan apapun di sana. Aneh. Kening lelaki paruh baya bertubuh kurus itu bertaut heran.

Cahaya senter lalu disorotkannya lagi ke sudut-sudut gelap. Siapa tahu tadi itu binatang yang lewat. Babi hutan, beruang, macan atau hewan lain. Mereka kini sudah berada di kawasan hutan lindung. Hal yang biasa jika berjumpa hewan liar saat melewati tempat itu.

Sepanjang sisi jalan yang tampak hanya pohon-pohon besar, serta semak belukar. Tidak terlihat lagi rumah penduduk ataupun warung. Jalanan yang dilalui tidak lagi berlapis aspal, hanya berupa jalan kerikil yang bergelombang.

"Tadi itu apa, ya, Pak? Kayaknya kita membentur sesuatu," ujar salah satu penumpang laki-laki.

"Saya juga tahu. Mungkin binatang," jawab kenek, sembari berjalan mendekati supir yang sudah berdiri menghadap kap mobil.

"Tidak ada apa-apa di belakang, Bos," ujar si kenek pada sang supir.

"Binatang lewat kali, ya?" sahutnya.

"Bisa jadi."

Ali dan Ipan ikut berdiri di luar bersama penumpang lelaki yang lain. Tersisa perempuan dan anak kecil dalam mobil. Lima belas menit berlalu, mesin masih belum berhasil dihidupkan. Pak Supir terlihat mulai gusar.

"Kau pernah lewat sini, Li?" tanya Ipan, menyelipkan sebatang rokok ke sela bibir, lalu menyulut dengan pematik api.

"Pernah, tapi sudah lama," jawab Ali serak.

Sebelum abah dan mamak Ali bercerai, setiap lebaran mereka sekeluarga mudik ke rumah ninik. Dia masih sangat hapal jalan menuju ke sana. Saat itu adalah puncak kebahagiaan dalam hidup Ali, sebelum kemudian kedua orang itu memutuskan untuk berpisah.

Abah Ali diam-diam sudah menikah dan Mamak Ali tak terima. Pengkhianatan dibalas dengan pengkhianatan. Rumah yang dulu begitu sejuk berubah jadi neraka. Suara teriakan, piring yang dilempar, serta pintu dibanting menjadi pemandangan setiap hari. Sampai ketuk palu perceraian mengakhiri segalanya. Lepas itu keduanya seakan lupa kalau ada satu hati yang harus tetap dijaga. Hati anak semata wayang mereka.

"Kok, ada bau-bau busuk, ya?" celetuk seorang penumpang.

"Tak usah dibahas, Mas! Kita lagi ada di tengah hutan sekarang, pamali." Bapak tua berpeci putih mengingatkan.

"Owh iya, lupa ulun Pak Haji." Orang tadi segera menutup mulut sendiri. Merasa sudah keceplosan.

Bau busuk semakin menguar tajam. Mereka saling menatap satu sama lain. Lolongan panjang anjing hutan dari kejauhan, semakin membuat suasana terasa mencekam.

"Li, bulu tangan kau merinding jua kah?" bisik Ipan ke telinga Ali.

"Sudah dari tadi merinding. Kali mereka pingin rokokmu. Ngerokok tak bagi-bagi," sahut Ali asal, sembari mengedarkan pandangan pada sekeliling.

"Ah, yang benar kau, Li?" Muka Ipan menegang.

"Teserah kalau tak percaya," dengkus Ali, meninggalkan Ipan, lalu bergabung bersama Pak supir yang masih sibuk memeriksa mesin.

"Bikin parno saja si Ali." Ipan menggumam. Gegas dia melempar dan menginjak sisa batang rokok hingga padam.

Sementara itu dalam mobil, tubuh Mamat masih meringkuk. Terjaga sebentar saat mobil terasa berguncang dan berhenti, kemudian memejamkan mata lagi. Sweater tebal milik Ipan membuat bocah itu merasa lebih nyaman dan hangat, meskipun kedodoran pada tubuh kecilnya.

Tok! Tok! Tok!

Bunyi ketukan pada kaca mobil mengusik kenyamanan Mamat. Malas-malasan membuka lagi kelopak mata yang berat. Mengira jika yang mengetuk kaca tadi Ipan atau Ali.

Di luar sangat gelap. Ditajamkan Mamat pandangannya pada orang yang berada di balik kaca mobil. Lalu mendapati satu wajah keriput nenek-nenek sedang tersenyum menyeringai, memperlihatkan gigi yang kehitaman. Rambut putih nenek itu tampak tergerai semrawut. Terlihat menakutkan. Dia bukan salah satu penumpang dalam mobil. Mamat tahu itu.

'Minta, minta ....' Tanpa suara si nenek membuat gerakan mulut. Sambil kedua tangan menadah.

Sejenak Mamat tertegun. Memikirkan maksud si nenek. Dia mau minta apa?

Brumm ... bruumm ....

Mesin mobil terdengar sudah menderum lagi.

"Alhamdulillah ...." Seorang perempuan paruh baya berkerudung merah, melongokkan kepala ke luar kaca mobil. "Sudah bisa jalan kah mobilnya?" celetuknya.

"Tolong dibantu dorong, bapak-bapak!" teriak kenek.

Para lelaki mulai bekerja sama mendorong mobil dari belakang. Bunyi mesin kembali menggelegar nyaring. Penumpang yang ada di luar satu per satu kembali masuk ke dalam mobil.

Mata Mamat masih terpaku pada si nenek. M mmobil kini sudah melaju. Ajaibnya, si nenek tetap bisa mengetuk-ngetuk kaca mobil di samping Mamat.

Lekas Mamat membuang pandangan ke arah lain. Kedua tangan yang terasa dingin saling meremas. Teringat pesan dari Ninik Rahma, agar dia pura-pura tidak melihat, jika bertemu mereka. Kerap kali Mamat kesulitan membedakan mana yang manusia, mana yang bukan. Seperti nenek bergigi hitam yang sekarang sedang melayang-layang mengikuti laju mobil.


______________________________



Other Stories
Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Menantimu

“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...

2r

Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...

Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

Cicak Di Dinding ( Halusinada )

Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...

Download Titik & Koma