Susur

Reads
519
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 10.DEMI ONGKOS



Pagi yang dingin, langit tampak kelabu.

Sepasang kaki mengenakan sepatu kusam berbahan kanvas sedang tertatih-tatih berjalan, menyusuri trotoar yang basah. Satu tangannya menenteng sebuah kresek hitam. Tak dipedulikan tatapan heran dari beberapa orang yang berpapasan dengannya. Melihat wajah lelaki muda itu tampak babak belur.

Tadi malam hujan turun sangat deras. Pagi ini pun gerimis tipis masih enggan beranjak. Membasahi tudung jaket Hoodie yang menutupi rambut cepak Ali. Di tengah hawa dingin dia terus melangkah menapaki trotoar. Lalu lintas jalan arteri terlihat lebih ramai menjelang pagi.

"Seratus ribu," ucap perempuan pemilik counter ponsel bekas pinggir jalan, yang didatangi Ali tadi malam.

Tangan yang gemuk membolak-balik sebuah benda pipih, berwarna abu-abu milik Ali. Mencebik bibir tebalnya melihat sudut layar sedikit retak.

Ali tersenyum kecut, mengusap wajah yang basah oleh air hujan. "Bisakah lebih tinggi, Cil? Buat ongkos jalan."

"Memang, kau mau berapa?" Dia bertanya, sembari meletakkan handphone penuh goresan itu ke atas etalase counter.

"Dua ratus."

"Beh, mana laku!" Mata sembab itu kontan mendelik.

"Masih untung aku mau beli, yang lain belum tentu mau. Barang buluk begini susah dijual lagi. Paling bisa buat kanibalan," cerocosnya lagi dengan mimik jutek.

Ali membuang napas kesal. Meskipun begitu dalam hati mengakui, jika perempuan pemilik counter benar. Benda itu sudah tak lagi bernilai.

"Kunaikin lima ribu. Gimana, mau? Kalau tak mau, kau jual ke tempat lain saja!" ujarnya lagi. Menggeser handphone ke arah Ali.

Di depan sebuah lorong sempit, Ali menghentikan laju kaki, beberapa saat dia terdiam. Diusap sudut bibir yang terasa perih, sembil mengumpat dalam hati. Memar kemerahan tampak jelas pada rahang serta punggung tangannya. Celana jeans biru pudar yang sobek pada kedua lutut, terlihat kotor oleh noda tanah.

Di sana, di ujung lorong sempit, ada dua orang yang sedang terbaring, meringkuk kedinginan beralaskan kardus bekas. Bernaung pada atap bangunan gudang yang menjorok ke samping. Layaknya manusia-manusia terlantar. Ali lalu melanjutkan langkah lagi memasuki lorong sempit itu. Tempat yang berada di antara dua bangunan gudang.

"Heh, bangun kau bedua, cepat makan!" Ali menghempaskan pantat. Kantung kresek diletakkan ke depan wajah Mamat yang masih terpejam.

Hidung mungil Mamat mengendus-endus. Aroma sedap yang sangat familiar terhidu. Nasi Kuning. Mata bocah itu lalu mengerjap beberapa kali, seraya menatap lekat pada wajah Ali yang lebam, sebelum kemudian bangun dan mengatur posisi duduk.

"Buat Mamat kah, Kak?" tanya Mamat pelan, ingin memastikan.

"Hum, kalau kau mau. Kalau tak mau tak mengapa," jawab Ali acuh, merogoh sehelai kaos dari dalam tas untuk mengganti bajunya yang basah.

"Makasih," ucap Mamat cepat.

Kresek hitam itu dibuka oleh Mamat.  Tampak tiga bungkusan bertulis 'haruan.' Menandakan bahwa lauk dalam bungkusan adalah ikan haruan. Selain itu ada air mineral dalam kemasan gelas plastik. Mata Mamat berbinar senang.

Tubuh Ipan menggeliat dalam sarung motif kotak. "Kemana kau tadi malam, Li?" tanyanya, menautkan kening, melihat Ali sudah merebahkan diri. Cuaca dingin membuat Ipan enggan beranjak dari pembaringan.

"Cari duit buat ongkos jalan. Kalian makanlah dahulu, satu jam lagi bangunkan aku, kita berangkat." Ali memunggungi Ipan. Enggan melayani banyak pertanyaan.

"Kau bisa beli sarapan buat kita? Dapat duit dari mana kau? Ngegarong?!" cecarnya, gegas duduk, menggulung ujung sarung ke pinggang.

Ali tak peduli dengan pertanyaan kawannya. Dipejamkan mata. Berusaha untuk tidur. Mengganti waktu istirahat tadi malam.

Cetakk!

"Awuh!" Mamat yang sudah asyik makan, kontan mengaduh kesakitan. Ipan seenaknya menjitak kepala bocah itu.

"Tak sopan kau, makanan enak diembat sendiri, tak tunggu orang lebih tua," omel Ipan, dengan wajah sembab serta rambut ikal sebahu yang acak-acakan.

"Ulun kira Kak Ipan masih mengantuk." Mamat membela diri.

Plakk!

Sekarang kepala Mamat yang dikemplang.

"Alasan saja kau!" bentak Ipan.

Bocah kecil itu tak lagi mengaduh. Mencoba membiasakan diri dengan sikap kasar Ipan. Toh, pemuda begajulan itu sudah mau berbaik hati mengantarkan dia mencari abah. Tak mengapa kalau sekali-sekali dikemplang, pikir Mamat.

"Warik, tak bisa diamkah kau, Pan?! Ribut saja mulutmu. Aku mau tidur," bentak Ali geram, sambil menarik rambut Ipan sekilas.

Ipan tak berani membantah. Khawatir Ali akan berubah pikiran, tak jadi membagi nasi kuning untuknya. Cuaca dingin begini perut Ipan terasa melilit. Lekas dia bergeser duduk lebih jauh dari Ali.

Dia dan Mamat duduk diam bersisian, menikmati sarapan pagi, di atas lembar-lembar kardus bekas yang dijadikan lantai. Sesekali Ipan mencuri pandang pada kawannya. Mulut Ali mulai mengeluarkan dengkuran halus.

Sambil mengunyah, Ipan memikirkan kata-kata Ali, bahwa mereka akan berangkat hari ini. Artinya Ali sudah dapat uang buat naik angkutan umum.

Tengah malam tadi, ketika terjaga dari tidur, Ipan tidak menemukan Ali. Pikirnya Ali sedang pergi buang hajat ke kali. Sedangkan di luar hujan turun sangat deras. Ternyata kawannya itu pergi untuk mencari uang. Mungkinkah uang hasil dari menjual handphone?

Kemarin, seharian penuh mereka mencari mobil tumpangan gratis. Tapi, tak ada satupun orang yang sudi berbelas kasihan, pada anak-anak kampung yang miskin. Waktu akan banyak terbuang percuma. Hal itulah yang membuat Ali diam-diam pergi ke luar sendirian, meninggalkan Ipan dan Mamat yang sudah berlabuh ke alam mimpi.

Awalnya Ali hanya berencana menjual handphone. Tapi, beberapa counter yang didatangi selalu memberi harga kelewat murah. Sebuah ide lain muncul begitu saja, saat dia akan menyeberangi jalanan sepi di bawah rintik hujan. Bersamaan itu pula sebuah mobil sedan mewah meluncur cepat ke arah Ali.

Sengaja Ali menabrakkan diri demi uang. Untunglah bela diri yang pernah dipelajari membuat tubuh pemuda itu mampu bergerak gesit. Tabrakan hanya membuat tubuh kurus berotot itu cedera, tak sampai kehilangan nyawa.

Mobil yang menabrak berhenti. Seorang lelaki paruh baya, keluar terburu dari pintu mobil. Dari penampilan yang necis, terlihat jelas dia orang kaya. Namun, orang itu hanya berdiri mematung menatap tubuh Ali yang terkapar.

"Kau masih hidup kah, Nak?" tanyanya takut-takut, mengusap keringat dingin pada dahi.

Melihat tubuh Ali masih bergerak, barulah dia berani mendekat. Ali dipapah masuk ke dalam mobil, kemudian dibawa ke sebuah klinik kesehatan.

Saat orang yang menabrak memberikan kompensasi berupa sejumlah uang, Ali tidak menolak. Nominal yang cukup besar. Tapi, dengan satu syarat, masalah tidak diperpanjang. Sejak awal Ali sudah bisa menebak ini. Mereka, orang kaya, lebih suka menyelesaikan segala hal dengan uang.

****

Malam.

Sebuah mobil angkutan umum colt L300 melintasi jalan lintas provinsi yang membelah hutan pegunungan meratus. Jalan sempit, naik turun, serta penuh tikungan tajam. Kondisi gelap dengan kiri kanan jurang menghadang. Pengemudi harus memiliki skill mumpuni.

Mamat bersama Ali serta Ipan berada di bangku penumpang pada barisan paling belakang. Bocah itu sudah tertidur nyenyak dekat jendela. Tubuh mungilnya tenggelam dalam sweater tebal lengan panjang milik Ipan. Ali yang memakaikan sweater itu untuknya, meski Ipan tak ikhlas. Tidak tega Ali melihat si bocah kedinginan.

Cuaca dingin menggigit hingga ke tulang. Hujan kadang turun, kadang reda. Wifer kaca depan terus bergerak ke kiri dan kanan menyapu kabut air yang menghalangi pandangan. Sorot lampu mobil menembus kegelapan jalan. Setiap berpapasan dengan mobil lain, pengemudi harus menyisi, mengurangi kecepatan karena jalan tidak seberapa lebar.

Malam semakin larut. Jam pada dashboard mobil telah menunjuk pukul dua dini hari. Musik dangdut koplo sengaja diputar cukup keras oleh Pak Supir, sebagai pengusir rasa kantuk. Satu per satu penumpang mulai tumbang tertidur, termasuk Mamat serta dua pemuda di sampingnya. Hujan telah reda. Tersisa tiupan angin malam yang kencang. Jalanan sepi menggigit. Lolongan panjang anjing hutan terdengar dari kejauhan.

Drurrruut ... druuuduuutt ....

Tiba-tiba mobil mogok tepat di atas tanjakan.




Other Stories
Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Mendua

Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Reuni

Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...

Akibat Salah Gaul

Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...

Download Titik & Koma